Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
190: Penjelasan Petunjuk


__ADS_3

Keesokan harinya, saat matahari masih belum menampakkan wujudnya di ufuk timur, Zhu San dan Bian Chi telah berada di alun-alun Sekte Kuil Lonceng Dewa.


Di tengah alun-alun yang dikelilingi oleh ratusan biksu itu, terlihat Zhu San dan Biksu Thio San sedang berbincang sejenak. Sesaat kemudian keduanya bersiap untuk berlatih tanding.


Sebagaimana permintaan Fu Kuan, Biksu Thio San menyerang Zhu San dengan Jurus Tangan Seribu yang menjadi julukannya di dunia Persilatan kekaisaran Qing.


Zhu San dengan menggunakan jurus Tinten Siba, menghadapi serangan kuat dan cepat dari Biksu Thio San. Pertukaran serangan pun terjadi dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat dan kuat.


Awalnya pertukaran serangan berlangsung imbang, namun lebih dari lima puluh kali pertukaran serangan, Zhu San mulai terdesak. Apalagi saat Tangan Biksu Thio San terlihat datang dari berbagai arah.


Zhu San benar-benar kewalahan, saat menyadari bahwa dirinya terkepung oleh puluhan serangan tapak dari berbagai arah yang merupakan gerakan pamungkas dari Jurus Tangan Seribu.


BUGH


Sebuah serangan tapak yang mengenai punggungnya, membuat Zhu San terpental dan terlepas dari kepungan serangan itu. Saat itulah Ia menyadari jika Biksu Thio San, telah berdiri di dekatnya sesaat sebelum Ia terpental.


“Bagaimana bisa!?” Mata Zhu San pun membelalak lebar.


“Lalu Siapa yang bertarung deng… ?” Zhu San terdiam, saat menyadari bahwa tangan yang menyerang dirinya adalah bayangan dari energi tenaga dalam dari Biksu Thio San.


“Jurus yang hebat. Aku terpaksa harus menggunakan qi ku untuk menghadapimu.” Biksu Thio San berkata seraya memegang bahu Zhu San.


Awalnya Biksu Thio San ingin mengobati luka dalam Zhu San, namun Ia terkejut saat mengetahui Zhu San tidak terluka sama sekali, walau tadi telah memuntahkan darah.


“Kau memiliki Zirah Gaib Pelindung dalam tubuhmu? Luar Biasa.” Biksu Thio San berkata dengan rasa kagum kepada Zhu San.


“Tapi Zirah Yinyang ini tidak berfungsi dengan baik dari serangan anda Sesepuh. Apakah karena Energi qi itu hingga membuat Aku harus terluka dalam?” Tanya Zhu San.

__ADS_1


Biksu Thio San tersenyum. “Benar … Jika Kau memiliki qi dan mengalirkan ke dalam zirah itu, seranganku tadi tidak akan berarti padamu, qi jauh lebih kuat dari tenaga dalam.”


Zhu San lalu berlutut dan memohon bimbingan agar dirinya bisa membentuk energi qi. Biksu Thio San pun lalu mengajak Zhu San dan Bian Chi untuk menuju sebuah tempat.


Ketiganya melayang di udara, Biksu Peng Hao kagum dengan kemampuan Zhu San dan Bian Chi saat melayang di udara. Karena Ia belum bisa melayang stabil, seperti yang Zhu San dan Bian Chi lakukan.


Ketiganya berhenti di sebuah air terjun yang besar. Biksu Thio San memberi arahan kepada Bian Chi dan Zhu San tentang bagaimana cara mengubah Tenaga dalam mereka menjadi energi qi.


Dalam sehari, dengan arahan dan bimbingan dari Biksu Sepuh itu, Zhu San dan Bian Chi berhasil membentuk sebuah kristal qi. Hal yang membuat Biksu Thio San takjub saat Ia mengetahui hal tersebut.


“Luar biasa, Aku membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu untuk membentuk satu buah Kristal qi, tapi kalian membuatnya hanya dalam satu hari saja. Ini benar-benar luar biasa.”


Zhu San dan Bian Chi terdiam mengetahui hal tersebut. Lalu Zhu San mengatakan bahwa Ia ingin meminta petunjuk tentang sebuah tulisan yang terdapat di dalam Kitab Lima Elemen.


“Mohon petunjuknya Sesepuh Thio, karena hal ini, Kami tidak bisa mempelajari jurus terkuat yang dapat mengalahkan Dewi Kematian kelak.” Zhu San berkata seraya menyodorkan Kitab yang Ia keluarkan dari Cincin Jiwanya.


Mata Biksu itu melotot lebar, saat Zhu San memunculkan Kitab Lima Elemen seolah dari ruang hampa.


Biksu Thio San lalu membaca Kita Lima Elemen dari awal hingga akhir. Ia pun menemukan tulisan dalam bentuk bahasa Sanskerta yang Ia pahami.


“Jadi ini yang kalian tidak pahami petunjuknya? Baiklah akan kubacakan untuk kalian. Dengarkan baik-baik.”


“Jurus Tipuan Naga Angin adalah kumpulkan tenaga dalam atau qi ke dalam tenggorokan, lalu bentuk tujuh cincin energi dari energi elemen angin dengan meniupkannya. Cincin itu berfungsi untuk mengikat Pedang Elemen Tanah di tangan kiri dengan Energi Elemen Api pada Pedang Yang di tangan kanan untuk membentuk Jurus Amarah Suci Yang.”


Biksu Thio San berhenti sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya.


“Bentuk Pedang dari Energi Elemen Air di tangan kiri, satukan dengan Energi Elemen Es pada Pedang Yin di tangan kanan. Ikat dengan Jurus Tipuan Naga Angin. Itulah Jurus Amarah Suci Yin.”

__ADS_1


Biksu Thio San terdiam dan dari raut wajahnya, terlihat rasa takjub dengan jurus yang baru saja Ia ketahui dengan menterjemahkan bahasa Sanskerta yang berada di sampul akhir Kitab Lima Elemen itu.


“Jurus yang luar biasa!” Biksu Thio San berkata sambil menatap Zhu San dan Bian Chi. “Apakah Kalian telah memahami petunjuknya?”


“Sudah sesepuh, terimakasih atas pencerahan yang telah Sesepuh berikan.” Zhu San dan Bian Chi mengucapkan terimakasih dengan kedua tangan bersatu di depan dada mereka.


Biksu Thio kemudian mengembalikan Kitab Lima Elemen kepada Zhu San yang segera menyimpannya di dalam Cincin Jiwa. Saat itulah Biksu Thio San teringat akan salinan dari Kitab yang Ia miliki, Kitab Energi Alam.


“Berlatihlah di tempat ini, kurasa dalam dua bulan ke depan kalian bisa mengumpulkan energi qi lebih besar dari yang ku miliki saat ini.” Biksu Thio kembali memberi arahan.


“Mohon maaf Sesepuh, Kami akan berlatih di Alam Jiwa yang memiliki dimensi waktu yang berbeda dengan dunia ini. Satu hari di alam ini, sama dengan tujuh hari di Alam Jiwa.” Jawab Zhu San.


“Alam Jiwa? Ah Aku tidak mengerti tentang hal itu. Itu akan lebih bagus lagi jika kalian bisa mengumpulkan lebih banyak qi di sana. Sebaiknya kalian pelajari juga Kitab ini.” Biksu Thio San mengambil salinan Kitab Energi Alam.


Salinan Kitab itu Ia terima dari Gurunya saat Ia masih menjadi murid di Kuil Lonceng Abadi di Kekaisaran Wei. Kitab Aslinya saat ini berada di Kuil Lonceng Abadi yang akan dikunjungi oleh Qiu Lan, Sang Dewi Kematian.


“Pelajarilah Kitab ini, mungkin akan berguna untuk kalian berdua kedepannya nanti. Setelah selesai mempelajarinya. Kembalikanlah kepadaku lagi.”


Zhu San pun menerima kitab tersebut dan menyimpannya di dalam Cincin Jiwa. Lalu Ia berpamitan kepada Biksu Thio San dan bersiap untuk membuka Gerbang Dimensi Alam Jiwa.


Biksu Thio San sangat takjub melihat gumpalan awan hitam yang tiba-tiba menggumpal di angkasa dan membentuk sebuah terowongan dengan percikan petir berada di sekelilingnya.


Setelah Zhu San dan Bian Chi menghilang ke dalam terowongan dimensi itu, gumpalan awan hitam itu pun kembali menyebar dan menyebar di langit pegunungan itu.


Biksu Thio San pun kembali ke pondok kecil dengan benak yang dipenuhi ketakjuban akan apa yang baru saja Ia lihat.


Entah apa sebabnya, saat hendak bermeditasi, Biksu Thio San merasakan firasat buruk menyelimuti dirinya.

__ADS_1


“Apakah yang akan terjadi? Firasat buruk tentang apa ini?” Tanya Biksu Thio San dalam Benaknya.


******


__ADS_2