
Di sebuah pondok kecil, dimana tempat Biksu Thio San biasa berada untuk bermeditasi, terlihat Zhu San dan Bian Chi yang duduk berhadapan dengan biksu pemimpin Sekte Kuil Lonceng Dewa itu.
“Baguslah jika Saudara Fu Kuan baik-baik saja, Aku senang mendengarnya.” Sosok Biksu Thio San tersenyum setelah mendengar jawaban Zhu San, saat biksu berusia seratus tahun lebih itu, bertanya kabar tentang Fu Kuan.
Ia pun segera asik membaca surat dari Fu Kuan yang baru saja Zhu San serahkan kepadanya. Dahinya mengerut, lalu menatap Zhu San dan Bian Chi sejenak sebelum melanjutkan membaca surat itu.
Ia pun tersenyum lebar setelah selesai membaca surat yang Fu Kuan kirimkan. Raut wajahnya terlihat gembira saat kembali menatap Zhu San dan Bian Chi.
“Jurus Tinten Siba, Aku akan mengujinya sesuai dengan permintaan dari gurumu dengan jurus Tangan Seribu milikku. Tapi bolehkan aku memeriksa pergelangan tangan kalian terlebih dahulu?” Tanya Biksu Thio San.
Walau benaknya dipenuhi pertanyaan, Zhu San mengulurkan tangan kanannya. Mata biksu Thio San terpejam sambil memegang pergelangan tangan Zhu San.
Beberapa saat kemudian Biksu Thio San melepaskan tangan Zhu San dan lalu Ia berganti dengan tangan kanan Bian Chi.
Wajah Biksu Jagoan Nomor Satu Aliran Putih Kekaisaran Qing itu, tersenyum tipis saat menyadari bahwa sesuatu masih menyumbat satu titik syaraf di tubuh keduanya.
“Tenaga dalam kalian sangat besar dan kuat, namun sepertinya kalian tidak menyadari, jika satu titik syaraf kalian tersumbat dan menghalangi tiga hingga empat puluh persen dari kekuatan kalian yang sebenarnya.”
Zhu San dan Bian Chi menunjukan wajah yang terkejut. Keduanya tidak merasa ada yang salah dengan syaraf di tubuh mereka. Lalu Zhu San pun bertanya kepada Biksu Sepuh itu.
“Apakah ini diakibatkan dari luar tubuh ataukah dari dalam tubuh Sesepuh Thio?” Tanya Zhu San dengan wajah keheranan.
“Itu karena sesuatu yang berasal dari dalam tubuh kalian sendiri. Apakah kalian pernah bermeditasi dalam waktu yang sangat lama?” Tanya Biksu Thio San.
Zhu San membenarkannya, lalu menceritakan apa yang mereka berdua lakukan selama delapan bulan di Alam Jiwa saat menyerap energi Lima Inti Elemen Murni berdasar petunjuk dari Kitab Elemen.
“Jika begitu benar dugaanku. Pantas saja kalian berdua memiliki Akar Roh di usia semuda ini. Kalian benar-benar manusia pilihan langit. Aku bersyukur bisa bertemu dan membantu kalian berdua.”
“Akar Roh? Benda apakah itu SesepuhThio?” Tanya Zhu San keheranan. Biksu Thio San tersenyum lalu menjelaskan tentang apa itu Akar Roh.
__ADS_1
Akar Roh adalah sesuatu yang berada di dalam tubuh untuk membedakan antara yang fana dan abadi. Sesuatu yang bisa dibentuk dengan latihan keras selama puluhan tahun dengan metode khusus.
Dengan memiliki Akar Roh, seseorang dapat hidup jauh lebih lama dari rata-rata umur manusia pada umumnya. Bahkan bisa mencapai usia hingga ratusan tahun dan terlihat muda.
Seseorang yang memiliki Akar Roh, dapat membentuk sebuah energi maha dahsyat yang disebut dengan qi yang berbentuk kristal. Energi qi ini, jauh lebih murni dari energi tenaga dalam.
Karena telah menyerap Energi dari Lima Inti Elemen, tanpa Zhu San dan Bian Chi sadari, dalam tubuh mereka berdua terbentuk akar roh. Sehingga kini keduanya bisa membentuk energi qi tersebut.
“Sesepuh Thio, sehebat apakah energi qi itu?” Tanya Zhu San penasaran.
Biksu Thio San tersenyum, lalu Ia mengibaskan telapak tangannya ke arah sebuah tebing, yang tak jauh dari pondoknya.
WUUSH BLAAR
Suara menggelegar terdengar saat energi tak kasat mata, menghantam tebing itu dengan sangat kuat. Tebing itu hancur dan tanahnya longsor membuat lubang yang menganga lebar.
“Sesepuh Thio … Anda telah memiliki energi qi itu bukan?” Tanya Zhu San penasaran.
“Benar, itu setelah aku berlatih selama lebih dari tiga puluh tahun untuk membentuk Akar Roh dalam tubuhku dan membentuk sekitar lima puluh Kristal qi selama tiga puluh tahun terakhir.”
“Apa!? Butuh waktu selama itu?” Wajah Zhu San dan Bian Chi terlihat lesu setelah keduanya mendengar keterangan Biksu Thio San.
“Tapi bagi kalian berdua, aku rasa hal itu akan berbeda. Itu karena keistimewaan tubuh yang kalian miliki. Dan juga kalian telah memiliki Akar Roh yang terbentuk saat menyerap energi Lima Inti Elemen.” Jawab Biksu Thio San.
Wajah Zhu San dan Bian Chi kembali terlihat cerah ketika mendengar perkataan itu, keduanya seketika bersujud dari duduknya.
“Sesepuh Thio San, mohon petunjuk dan bimbingan dari sesepuh. Agar Kami bisa menjadi lebih kuat lagi untuk melindungi dunia dari kekejaman Dewi Kematian.” Zhu San berkata dalam sujudnya.
Biksu Thio San terdiam sejenak sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang. Ia menata Zhu San dan Bian Chi yang telah bangkit dari sujud mereka.
__ADS_1
“Kalian berdua memiliki tujuan yang mulia, tak ada alasan bagiku untuk menolak apa yang kalian minta. Namun Aku minta maaf tidak bisa menjadikan kalian berdua sebagai muridku. Aku hanya akan memberi petunjuk dan bimbingan yang kalian perlukan saja.”
Perkataan Biksu itu disambut Zhu San dan Bian Chi dengan senyum lebar. Mereka sangat berterimakasih dengan kesediaan Sang Biksu.
Biksu Thio San lalu menjelaskan karena hari sebentar lagi menjadi malam, Ia akan mulai memberikan petunjuk itu di keesokan harinya.
Namun sebelum itu, Biksu Thio San meminta Bian Chi untuk menjauhi tempat tersebut dan menuju ke sebuah pondok cukup besar yang terpisah dan berada di atas sebuah tebing.
Pondok itu adalah tempat yang diperuntukkan bagi setiap tamu Sekte Kuil Lonceng Dewa untuk bermalam. Setelah menjelaskan apa tujuannya meminta hal itu kepada Bian Chi, Isteri Zhu San itu pun melangkah menuju pondok tersebut.
“San’er … sesuatu yang menyumbat titik syaraf kalian adalah energi yang tercipta dari hasrat hidup yang timbul saat kalian menyerap Energi Inti Lima Elemen. Hasrat yang kalian tahan dan tidak kalian lepaskan dalam waktu yang cukup lama. Berdirilah! Akan kubuka titik syaraf itu dan pelajari caranya agar bisa kau terapkan kepada isterimu.”
Zhu San dan Biksu Thio San lalu berdiri, Biksu Thio San pun menjelaskan kepada Zhu San seraya memperagakannya.
Ujung jari telunjuk Biksu Sepuh itu, terlihat memancarkan cahaya putih yang cukup terang. Lalu ia menotok dua tempat di bagian bawah pusar Zhu San dengan cepat.
Tubuh Zhu San seketika bergetar, keringat pun keluar dari pori-pori di tubuhnya, seiring dengan mengalirnya energi dari bagian yang tertotok tersebut ke arah seluruh tubuhnya.
Mata Zhu San melotot memandangi kedua telapak tangannya yang terasa penuh oleh energi murni itu. Zhu San pun membungkuk mengucapkan terimakasih kepada Biksu Sepuh itu.
Karena hari telah mulai gelap, Biksu Thio San pamit dan mempersilakan Zhu San untuk beristirahat ke tempat peristirahatan yang telah disediakan.
Setelah tubuh Biksu Thio San menghilang di balik sebuah bangunan, Zhu San lalu melesat ke pondok yang letaknya terpisah itu. Ia pun menjelaskan semuanya dan dibalas pertanyaan beruntun dari sang isteri.
“Benarkah begitu?” Tanya Bian Chi dengan tatapan curiga. “Kalau aku yang berhasrat bagaimana? Apakah Kau boleh menolaknya?” Tanya Bian Chi penasaran.
“Kalau Kau berhasrat, mana bisa aku menolaknya sedang aku ingin kau selalu berhasrat setiap harinya. Hahahaha.” Jawab Zhu San sambil menghindari cubitan Isterinya.
******
__ADS_1