Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
322: Kekuatan Pedang Yinyang II


__ADS_3

“Detik-detik kemunculan dewa baru semakin dekat. Kalau tidak salah hari ini bukan hal itu akan terjadi?”


Pertanyaan dari Dewa Naga, mengusik perhatian Dewa Yao Chan yang sedang menyaksikan pertarungan Zhu San dan Bian Chi melawan ketiga Makhluk kuno itu dengan mata dewa mereka.


“Kalau tidak salah memang hari ini ketiganya akan menembus tingkat pendekar Dewa Abadi. Kita lihat nanti, apakah darahnya akan menetes di bilah pedang mereka atau tidak. Jika tidak, sepertinya bukan hari ini hal itu terjadi.”


“Apakah dulu saat kau menjemputnya Ia telah memiliki kekuatan Pendekar Dewa Abadi?” tanya Dewa Naga yang terlihat kebingungan mendengar ucapan Dewa Yao Chan.


“Tentu saja sudah. Jika tidak salah, mereka baru memasuki Pendekar Dewa Abadi tahap Awal.” Jawab Dewa Beristeri tujuh itu.


Dewa Naga mengangguk-anggukkan kepalanya, Ia tidak begitu memahami apa yang dulu terjadi berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Yao Chan yang telah melintasi Dimensi waktu yang berbeda hingga ribuan tahun.


“Aku berharap mereka akan berhasil menembus tingkat tertinggi itu hari ini, jika tidak maka akan terjadi sesuatu yang berbeda yang akan berakibat pada seluruh dimensi waktu dan kejadiannya.”


Dewa Naga terlihat kebingungan akan ucapan Yao Chan. Namun Ia tersenyum setelah memahami apa maksudnya. Perhatiannya keduanya pun teralihkan kembali ke pertarungan Zhu San dan Bian Chi.


***


Dengan gerakan yang luar biasa cepat, Laluba yang sedari tadi sudah sangat geram, segera melesatkan serangan dari kedua tapak tangannya yang diselimuti energi berwarna hijau.


Dari kedua telapak tangannya, menderu cahaya hijau yang bergulung-gulung bagai angin tornado, semakin jauh darinya semakin angin tornado itu membesar.


Di Luar dugaan Laluba mau pun kedua rekannya, serangan hebat darinya yang bisa meratakan sebuah kota itu, tidak mampu meledakkan ratusan pisau berwarna merah dan putih kebiruan itu.


Belasan pisau energi masih melesat menembus pusara energi berbentuk angin tornado berwarna hijau dan melesat cepat menyerang Laluba.


Laluba berteriak kaget, Ia berhasil menghindari belasan pisau energi lawan. Namun sebuah pisau masih berhasil menggores betis kakinya yang terlihat jenjang untuk ukuran seorang petarung itu.


Teriakan terkejut itu karena tiba-tiba Ia merasakan sensasi panas dan dingin yang sangat kuat, merayap memasuki aliran darahnya dengan cepat.


CRAAASHHH


Dengan Pedang Energi yang Ia buat, Laluba memotong kaki kanannya sebelum kedua energi aneh yang membuat betisnya beku itu, menyerang seluruh tubuhnya.

__ADS_1


GOAAARRRGHHHHH


Laluba berteriak keras seraya mengerahkan kekuatan penuhnya , Ia segera membuat kakinya perlahan muncul kembali diiringi tatapan terkejut Lahula dan Laduta akan apa yang baru saja Ia lakukan.


“Hanya tergores pisau saja, Laluba terpaksa memotong kakinya? Apakah Pisau energi itu beracun?” Lahula bertanya kepada Laduta yang merupakan sosok terkuat diantara mereka bertiga.


“Bukan, itu adalah kekuatan pedang yang berada di tangan mereka. Kita harus segera mengakhiri pertarungan ini, terlalu berbahaya bagi kita membiarkan mereka berdua tetap hidup. Kita kerahkan kekuatan penuh kita, senjata di tangan mereka, bukan senjata biasa.”


Laduta yang sedari tadi mengamati dengan wajah dingin, kini rautnya sedikit berubah saat mendapati kenyataan Pendekar Dewa Sejati bisa melukai seorang Pendekar Dewa Abadi seperti Laluba.


Hal yang memungkinkan hal itu terjadi adalah senjata pusaka yang mereka gunakan. Untuk itulah, dalam benaknya Laduta sedang merencanakan untuk merebut kedua pusaka kedua lawannya.


Udara tiba-tiba saja terasa menjadi lebih berat, saat Lahula dan Laduta mengeluarkan kekuatan penuh mereka, tanah bergetar seolah gempa bumi sedang terjadi.


“Mengapa Kalian mengerahkan kekuatan penuh menghadapi Pendekar Dewa Sejati seperti mereka?” Tanya Laluba keheranan, saat Ia telah berada di dekat Lahula dan Laduta.


“Bodoh! Apakah Kau tidak menyadari kekuatan kedua Senjata mereka?!” Laduta membentak Laluba karena tidak menyadari kekuatan Pedang Yin dan Pedang Yang.


Laduta menghilang dari tempatnya setelah membuat Laluba tertegun dengan ucapannya. Sedetik kemudian, Lahula menyusulnya Laduta yang akan merebut Pedang Yin dan Pedang Yang.


Tangan Laduta bergerak cepat ke arah tangan Zhu San yang memegang Pedang Yang. Zhu San tentu saja segera menghindar, namun gerakan susulan dari Laduta datang lebih cepat.


PLAK


Tangan Zhu San berhasil dipukul oleh Laduta sehingga terasa kebas, genggaman pada gagang pedang, nyaris saja terlepas.


Menyadari lawan ingin merebut senjatanya, Zhu San lebih banyak menggunakan tangan kiri untuk bertarung secara langsung dengan Laduta.


Pertukaran serangan diantara keduanya, terjadi dengan cepat dan sulit diikuti oleh mata Long Niu sekalipun. Hanya Lian Li yang masih bisa mengikutinya walau Ia sedikit kesulitan.


Sementara Bian Chi terlihat kewalahan menghadapi Lahula yang menyerangnya dengan brutal. Kuku tajam dari ketiga jari tangan Lahula telah merobek beberapa gaun di bagian punggung dan perut Bian Chi.


Walau begitu, sejauh ini Bian Chi masih berhasil mempertahankan Pedang Yin agar tidak tersebut oleh Lahula.

__ADS_1


Dalam sebuah kesempatan Bian Chi berhasil menyarangkan tendangan kuat ke arah perut Lahula. Namun Alangkah terkejutnya Bian Chi, karena serangan itu tidak membuat lawannya terluka.


Berbeda dengan Lahula yang tubuhnya terpental satu meter akibat tendangan Bian Chi tadi. Ia sedikit terkejut akan apa yang terjadi pada tubuhnya.


Walau tidak merasakan sakit, namun Lahula merasakan hawa dingin merayap masuk ke dalam aliran tubuhnya. Ia terdiam dan sedetik kemudian, hawa dingin itu berhasil dinetralkan oleh kekuatan panas dari tubuhnya.


Dengan kesal Ia menatap ke arah Bian Chi dan menghilang dari pandangan Isteri Zhu San itu karena bergerak cepat dan telah berada di belakangnya.


BUK BUUK


AARRRGGGHHH


Dua pukulan bersarang telak di punggung Bian Chi, membuatnya menjerit keras seiring dengan tubuhnya yang terpental hingga belasan meter dengan mulut menyembur darah segar.


Darah yang tersembur itu mengenai bilah Pedang Yin dan terjadi sesuatu yang mengejutkan Bian Chi sendiri.


Sementara Zhu San yang mendengar teriakan Bian Chi, konsentrasinya teralihkan. Hal itu membuat celah pertahanannya terbuka.


DUAGH


AARGGGHH


Tendangan kuat dari Laduta bersarang telak di perut Zhu San. Hal itu membuat tubuhnya terpental hingga lebih dari dua puluh meter dengan mulut yang menyemburkan darah segar.


Zirah Yang di dalam tubuh Zhu San memang berhasil melindungi kulitnya dari goresan kuku ketiga jari kaki Laduta yang memiliki racun mematikan itu.


Namun serangan dengan kekuatan energi di tingkat pendekar Dewa Abadi itu hanya berhasil diredam efeknya sebanyak lima puluh persen saja.


Tanpa Zhu San sadari, darahnya yang tersembur cukup banyak itu sebagian mengenai bilah Pedang Yang dan menghilang terserap oleh kekuatan yang tiba-tiba mengejutkan Zhu San.


Baik Zhu San maupun Bian Chi, kebingungan dengan apa yang sedang terjadi pada kedua pedang pusaka itu.


Pedang di tangan mereka, tiba-tiba menyerap seluruh energi qi di dalam tubuh keduanya hingga membuat keduanya seketika menjadi lemas dengan wajah yang panik karena gagal melepaskan genggaman pada gagang pedang.

__ADS_1


-------------------------0-------------------------------


__ADS_2