
Dalam hatinya Zhu San berteriak senang karena bisa melakukan perjalanan bersama dengan Bian Chi untuk waktu yang lumayan lama.
“Berapa lama perjalanan menuju Kota Baixan jika dengan berkuda?” Lin Mi kembali bertanya kepada Zhu San saat mereka tak jauh lagi dari gerbang Timur Kota Wuchang.
“Jika menaiki kuda akan memerlukan waktu sehari penuh Sesepuh.”
“Baiklah Jika begitu kita mencari kuda terlebih dahulu. Yan’er carilah informasi dimana kita bisa membeli empat ekor kuda!”
Setelah beberapa waktu, Ju Yan kembali dengan membawa empat ekor kuda bersama dua orang yang sepertinya adalah penjual kuda tersebut.
Mereka akhirnya meninggalkan Kota Wuchang dengan menunggangi kuda. Zhu San berada di depan dari kelompok kecil tersebut sebagai penunjuk jalan.
Zhu San yang pernah mengawal rombongan paman Mu Dao kembali ke kota Baixan, segera mengambil jalan ke kanan saat mereka telah beberapa jam menunggangi kuda.
Saat tiba di depan hutan, dimana beberapa bulan lalu Zhu San di serang oleh kelompok bertopeng, Zhu San segera melambatkan kudanya.
“Ada apa, kenapa kau melambatkan kudamu?” Lin Mi yang belum sepenuhnya percaya kepada Zhu San, segera saja bertanya dengan tatapan curiga.
“Hutan kecil di depan ini, terkenal berbahaya sering terjadi perampokan.” Zhu San berkata dengan raut wajah yang ketakutan.
Hal itu tentu saja membuat Bian Chi yang sudah mengetahui kekuatan Zhu San, mendengus kesal.
“Huh .. Pemuda jelek ini semakin keliatan jelek saat dia berpura-pura ketakutan.”
“Ah … kenapa Aku bisa mendengar suara hinaanmu dalam pikiranku?”
“Eh …”
Bian Chi yang berkata dalam benaknya, terkejut saat mendengar suara Zhu San di dalam pikirannya.
Demikian juga halnya dengan Zhu San. Apa yang terjadi itu, membuat keduanya sontak saling menoleh dan berpandangan dengan wajah yang keheranan.
Apa yang dilakukan kedua orang itu membuat Lin Mi heran, Ia yang berada diantara keduanya, memandang Bian Chi dan Zhu San secara bergantian.
“Ada apa Guru?”
Ju Yang yang berada di belakang mereka bertiga, segera mendekatkan kudanya.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa, anak muda ini tampaknya ketakutan karena hutan kecil di depan kita ini adalah hutan yang berbahaya dan sering terjadi perampokan. Yan’er … Kau sekarang yang berada di depan. Hati-hatilah.”
Ju Yan segera mengangguk dan membawa kuda yang Ia tunggangi berjalan lebih dulu. Lin Mi pun segera memerintahkan Zhu San dan Bian Chi untuk mengikutinya. Sedangkan Ia sendiri kini berada di barisan belakang.
“Tolong jangan katakan pada Nenekmu jika Akulah calon Suamimu yang telah ditakdirkan langit dan sedang kalian cari saat ini.”
Zhu San berkata demikian dalam benaknya. Bian Chi yang mendengar hal tersebut dalam kepalanya, hanya mendengus kesal.
“Kau pikir Aku akan mengatakannya sekarang? Aku hanya ingin tahu sejauh mana Kau mampu menutupi identitas dirimu, untuk itulah Aku diam saja sejak dari rumah makan tadi.”
“Sepertinya kita benar-benar berjodoh, Kau begitu memahami keinginanku. Hahahaha.”
Zhu San tersenyum sendiri saat berbincang melalui pikiran mereka berdua, Zhu San dan juga Bian Chi, memahami cara berkomunikasi melalui pikiran itu, secara tidak sengaja.
Hal itu membuat keduanya bisa berbincang tanpa didengar dan diketahui oleh orang lain. Saat mereka mulai memasuki hutan kecil itu. Zhu San pun menghentikan pembicaraan mereka.
“Mengapa Kau diam? Apakah hutan ini begitu menakutkan bagi orang seperti kita?”
Bian Chi yang heran, berkata kepada Zhu San melalui pikirannya.
“Oh begitu … Kalau begitu Aku akan memperingatkan Yan Gege ..”
Bian Chi segera memacu kudanya dan melewati Zhu San begitu saja. Apa yang dilakukan oleh Bian Chi selanjutnya membuat Zhu San merasakan perasaan aneh saat di Rumah makan tadi, muncul kembali di dalam hatinya.
“Yan Gege … Waspadalah!” Bian Chi segera berada di samping Ju Yan dan berkata dengan suara yang terdengar manja. Ju Yan hanya menganggukkan kepalanya.
Keduanya berjalan beriringan untuk melintasi hutan kecil tersebut. Tak berapa lama mereka pun telah berada di ujung hutan kecil itu. Dengan perasaan lega, Lin Mi segera meminta Zhu San untuk kembali memimpin di depan.
Zhu San pun menuruti kemauan Guru Bian Chi itu. Ia memacu kudanya lebih cepat dan melewati kedua murid Nenek Lin Mi.
“Kau begitu perhatian sekali kepada Sutemu. Sepertinya Kau menyukai Dia ya...?”
Zhu San berkata demikian saat Ia melewati Bian Chi. Dan Ia merasa kesal mendengar Bin Chi mengejeknya.
“Eh kalau Iya kenapa? Dia sangat tampan, tidak sepertimu. Kau Cemburu ya? Hehehe lucu sekali…”
“Cemburu? … Tidak, Aku hanya bertanya saja. Aku lebih percaya pada takdir langit bahwa Kau akan menikah dan menjadi isteriku. Buat Apa aku cemburu hahahaha..”
__ADS_1
Kini Bian Chi yang menjadi kesal mendengar Zhu San selalu berkata, tentang takdir langit akan pernikahan mereka.
Mereka berempat memacu kudanya masing- masing dengan kecepatan penuhnya. Hal itu karena mereka mengetahui dari Zhu San bahwa perjalanan masih beberapa jam lagi selepas melewati hutan kecil itu.
Tanpa di diketahui oleh Ju Yan maupun Lin Mi, Mo Heng yang adalah Zhu San yang mereka cari, tengah berdebat dengan Bian Chi. Tentu saja itu dilakukan dalam pikiran mereka berdua.
“Kau ingin menentang takdir langit dan tidak mau menikah denganku?” Zhu San tersenyum tipis saat mendengar suara Bian Chi di dalam kepalanya dan terdengar sedang kesal.
“Tentu saja! Apa kata dunia nanti jika gadis secantik Aku menikahi pemuda sangat jelek dan pendek sepertimu.”
Bian Chi sepertinya sudah benar-benar marah kepada Zhu San. Namun Zhu San justru tertawa senang mengetahui hal itu.
“Kau Ingin tahu dunia akan berkata apa? Ketahuilah Dunia akan berkata: Hai Mo Heng selamat ya Walau wajahmu sangat jelek, tapi Kau memiliki isteri secantik bidadari surga. Hahahaha…”
“Kau !!! …” Bian Chi berteriak dalam pikirannya karena kesal mendengar Zhu San selalu berkata tentang pernikahan dan suami isteri.
Bian Chi kali ini hanya diam saja. Merasa Zhu San benar-benar telah keterlaluan.
Seharusnya Zhu San mengetahui jika Ia saat ini sangatlah sedih, ketika mengetahui akan menikah dengan pemuda yang berwajah sangat jelek sepertinya.
“Kenapa Kau diam saja? Apakah Kau marah padaku?”
Zhu San kembali bertanya untuk ketiga kalinya, karena tidak mendengar jawaban dari Bian Chi setelah dua kali bertanya kepadanya.
Zhu San segera menoleh ke belakang untuk melihat wajah Bian Chi, dan Ia tersenyum saat melihat wajah gadis itu, terlihat jauh lebih cantik saat Ia sedang marah seperti ini.
“Kau sangat cantik sekali jika sedang marah. Maafkan Aku jika setelah menikah nanti, akan sering membuatmu marah demi melihat wajah cantikmu seperti yang sekarang ini.”
Zhu San kembali berkata kepada Bian Chi dengan nada suara yang terdengar serius.
Walau kesal, Bian Chi tak bisa menutupi, jika ada rasa bahagia di hatinya saat mendengar Zhu San berkata seperti itu.
Lin Mi yang melihat Zhu San menoleh kepada Bian Chi, segera saja menjadi waspada. Ia sedari tadi diam saja dan terus mengamati Zhu San dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
*****
Jangan Lupa Likenya ya...
__ADS_1