
Di tempat yang berbeda sejauh ratusan kilometer dari Kota Xiangqing.
Di sebuah Hutan di wilayah utara Benua Awan Hitam yang berada dalam kekuasaan Kekaisaran Cong He, sedang terjadi perbincangan serius antara Penyihir Labamba dan Labimbi dengan Tiga Roh Iblis Sejati.
“Begitu rupanya, sebelum Penyihir Agung tewas oleh Sepasang Dewa Tak dikenal, dia sempat menyelamatkan kalian ke Dunia Atas ini dengan sihirnya.”
Satu dari Tiga Iblis Sejati berkata setelah mendapat jawaban dari Labamba, tentang pertanyaan bagaimana mereka masih hidup dan bisa berada di Dunia Atas ini.
“Benar Tuanku, tapi sayangnya kami kehilangan senjata terkuat kami, Cermin Pelebur Sukma. Itulah sebabnya kami tidak berani keluar dari Alam sihir kami ini.” Labimbi yang kini unjuk bicara.
Wajah kedua penyihir kuno tersebut terlihat heran ketika mendapati senyuman Qiu Lan dan Ratu Siluman Rubah.
“Kami menemukan Cermin Sakti Pelebur sukma itu, tapi Kau harus bersedia menempatkan Roh Kami bertiga ke dalam cermin itu, agar roh Kami bisa tetap terjaga hidupnya.”
Wajah Kedua Penyihir Kuno itu, seketika berubah menjadi bahagia. Mereka tidak peduli dengan syarat yang diberikan oleh ketiga Inti Roh Iblis Sejati itu.
Namun wajah mereka kembali berubah setelah mendengar ucapan salah satu dari Tiga Iblis Sejati itu.
“Setelah kau menyegel kami di dalam cermin itu, kau harus menyerahkan Cermin Pelebur Sukma kepada Dewi Kegelapan Qiu Lan ini. Bagaimana apakah Kau setuju?”
Pertanyaan dari Roh Iblis Sejati, membuat keduanya diam dan saling berpandangan sejenak.
“Kami bisa saja memberikan cermin itu padanya, tapi apakah dia akan mampu menggunakannya? Selain itu, bagaimana kami bisa keluar dari Alam Sihir dan menjadi penguasa Dunia Atas jika tidak memiliki cermin Mustika itu?”
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat kemudian. Keheningan terpecahkan oleh ucapan Qiu Lan yang merasa sangat kesal. Demikian juga halnya dengan Ratu Siluman Rubah Putih yang memiliki cermin itu.
“Bagaimana kalau aku bisa menggunakan cermin itu? Apakah kalian berdua keberatan memberikan cermin itu kepadaku?” Tanya Qiu Lan.
“Tunggu dulu! Aku yang memiliki cermin Sakti itu saat ini, mengapa Aku harus menyerahkannya kepadamu?!” Ucapan Ratu Siluman Rubah Putih membuat Qiu Lan menjadi marah.
“Buakannya Kau sudah berjanji untuk memberikan cermin itu padaku?! Mengapa sekarang Kau menarik kembali ucapanmu!?”
__ADS_1
Lalu terjadilah perdebatan diantara keduanya, namun keduanya terdiam saat Iblis sejati membentak mereka.
“Diamlah kalian berdua manusia bodoh! Saat ini yang terpenting adalah membunuh manusia yang akan menjadi dewa itu sebelum kekuatannya meningkat lagi!”
“Menjadi Dewa?!”
Pertanyaan dari Labamba dan Labimbi dengan suara yang bergetar itu, membuat keduanya menjadi pusat perhatian ketiga Iblis Sejati, Qiu Lan dan Ratu Siluman Rubah Putih.
“Kenapa suara Kalian berdua seperti orang yang ketakutan?!” Pertanyaan Qiu Lan membuat Kedua Penyihir Kuno berusia lebih dari tiga ribu tahun itu menelan ludahnya.
“Aku sudah curiga jika Sepasang Suami isteri yang membunuh murid ketiga kami, Cui Hong dan Labuda adalah Sepasang Dewa Tak dikenal itu. Walau Kekuatan yang mereka tunjukkan saat ini belum sebesar kekuatan yang pernah kami lihat saat Ia membunuh Penyihir Agung.”
Tentu saja Qiu Lan tidak mempercayai hal itu saat Ketiga Roh Iblis Sejati mengatakan kemungkinan besar mereka berdua memang kedua Dewa misterius itu.
“Itu tidak mungkin, Pria itu bernama Zhu San yang merupakan putera dari seorang Bangsawan Besar dan ternama Di dunia Bawah. Sedang isterinya adalah Puteri Kaisar Qing.”
Pernyataan dengan suara keras dari Qiu Lan membuat ketiga Iblis Sejati dan Kedua Penyihir Kuno tertegun. Suasana menjadi Hening hingga akhirnya kedua penyihir Kuno itu salin memandang satu sama lain.
“Benar … Sepasang Dewa Tak dikenal itu adalah mereka berdua yang dijemput ke masa lalu untuk membunuh Penyihir Agung karena hanya manusia bertubuh Yinyang Sejati lah yang bisa membunuh Guru kami itu.”
Tentu saja pernyataan Labamba itu tidak bisa Qiu lan terima, namun perkataan Roh Iblis Sejati berikutnya membuat Qiu Lan terdiam bingung.
“Jika itu benar, maka mereka berdua juga orang yang telah membuat Pedang Tujuh Warna dari Batu Ruang Dimensi yaitu Batu Tujuh Warna.” Kini suara Roh Iblis Sejati itu yang bergetar.
Terbayang dalam benak mereka, peristiwa tiga ribu tahun lalu. Peristiwa yang membuat mereka menjadi seperti saat ini.
“Mungkinkah batu seperti ini bisa ditempa menjadi sebuah pedang?” Qiu Lan bertanya yang membuat Semua orang terkejut dan memandangnya.
Senyum lebar segera mengembang di wajah Labamba dan Labimbi saat keduanya saling berpandangan setelah memastikan Batu Tujuh Warna itu adalah Asli.
“Ambisi Kita untuk menguasai Dunia Atas ini akan segera terwujud.” Kata Labamba dengan suara yang penuh kebahagiaan.
__ADS_1
***
Ketua Gong Fei yang melihat kedatangan Zhu San segera menghampiri Pelindung Sekte Pedang Suci itu.
Setelah memberi hormatnya, ketua Gong Fei segera menyampaikan berita bahwa mereka di tunggu oleh Huang Yun dan Kaisar Qiang Kun di Gerbang utara Kota Xiangqing.
Mereka pun segera melayang ke arah gerbang utara yang berada satu kilometer di sebelah timur laut dari tempat mereka berada saat ini.
Puluhan orang melayang dengan kecepatan biasa ke arah gerbang Utara ibukota Xiangqing. Mereka disambut dengan senyum lebar oleh Kaisar Xiang Lu.
Sementara Huang Yun, menatap ke arah Zhu San yang sempat ia rasakan memiliki kekuatan besar yang sedang disembunyikan.
Setelah saling memberi Hormat dan salam, Kaisar Xiang Lu lalu menyerahkan jabatan Panglima Perang kepada Long Niu sebagai bentuk rasa hormat dan terimakasihnya atas bantuan yang diberikan.
“Yang Mulia Kaisar, Anda terlalu sungkan. Aku tidak memiliki kecakapan dalam memimpin Perang sebesar ini. Tapi Muridku San’er ini Bisa menjadi orang yang tepat untuk menjadi Panglima Perang jika Anda berkenan.”
Semua mata Memandang Ke arah Zhu San yang segera memberi hormatnya kepada Kaisar Xiang Lu.
“Aku sudah mendengar tentangmu San’er dan Aku sangat menghormati Gurumu. Maka dengan ini terimalah Lencana Giok ini Sebagai Tanda jika Kau adalah Panglima Perang Kekaisaran Xiang saat ini.”
Kaisar Xiang Lu berkata demikian setelah Ia mendapat anggukan dari Huang Yun sebagai tanda persetujuan akan perkataan Long Niu yang menginginkan Zhu San sebagai Panglima Perang mereka.
Zhu San pun menerima Lencana Giok itu dengan cepat karena tiba-tiba mereka mendapat serangan tak terduga yaitu berupa Ribuan Anak Panah yang dilepaskan oleh pasukan pemanah Musuh.
“Licik Sekali Cong He Ini! “ Kaisar Xian Lu mengutuk keras saat melihat ribuan anak panah melesat ke arah mereka.
Semua Orang Akan bergerak untuk membuat perisai energi demi melindungi Sang Kaisar. Namun langkah mereka terhenti saat melihat Zhu San sudah berada di depan Ribuan Anak panah itu.
Apa yang dilakukan Zhu San berikutnya membuat mata semua orang melotot lebar melihatnya.
------------------------O-------------------------
__ADS_1