
Kota Shangyu yang merupakan Ibukota Kekaisaran, berada tepat di tengah-tengah wilayah kekaisaran Liu yang dikelilingi oleh tujuh Kota Besar.
Ada empat jalan utama yang bisa di tempuh untuk menuju kota Shangyu. Setiap jalan utama, nantinya akan terbagi menjadi dua atau tiga jalan lagi.
Setidaknya akan ada delapan jalan yang akan dilewati oleh para peserta turnamen, untuk kembali ke sektenya masing-masing.
Aliansi Aliran Hitam pun membagi kelompok mereka menjadi delapan kelompok. Setiap Kelompok akan dipimpin oleh seorang ketua Sekte atau Tetua yang memiliki kemampuan yang tinggi.
Sesuai rencana yang telah disiapkan oleh Sun Li dalam pertemuan mereka, kini delapan kelompok tersebut, telah berada di posisi masing-masing.
Mereka baru saja selesai mempersiapkan segala sesuatunya, berkait dengan rencana untuk menangkap para ketua Sekte itu.
Setiap kelompok setidaknya beranggotakan dua hingga tiga puluh orang. Dan lima diantaranya memiliki kemampuan tinggi.
Sementara Dewa Tapak Api Luo San dan Pedang Siluman Qing Jun, keduanya tetap berada di ibukota, mengamati situasi dan berita terbaru yang mereka terima.
Dan mereka berdua, baru saja menerima berita yang mengejutkan. Berita tentang kemunculan Fu Kuan di arena turnamen beladiri walau masih sebatas suaranya saja.
Kemunculan Fu Kuan yang diberitakan telah tewas sebelumnya, membuat dahi Luo San menjadi berkerut, firasat buruk pun segera menghimpit benaknya.
Sosok yang berjuluk Pendekar Pedang Bintang dan dikenal juga sebagai Pendekar Tinju Besi itu, bukanlah sosok yang mudah untuk dijatuhkan.
Setidaknya butuh dua hingga tiga orang yang berkemampuan setara dengan dirinya, untuk mengalahkan Jagoan Nomor Satu Aliran Putih itu.
Senyum Dewa Tapak Api Luo San, seketika mengembang saat Ia telah selesai membaca sebuah surat yang dibawa oleh seorang anggota Sekte Tombak Emas.
“Kenapa Kau tersenyum senang?” Qing Jun menatap heran ke arah sahabatnya itu. Ia lalu menangkap surat yang dilemparkan Luo San padanya.
“Mereka telah berada disini? Baguslah, kita tak perlu takut lagi pada tua bangka Fu Kuan itu.”
Pedang Siluman Qing Jun berkata dengan penuh semangat setelah Ia selesai membaca surat tersebut.
Dua orang yang barus saja tiba adalah dua orang jagoan yang memiliki kemampuan tinggi dan berasal dari Kekaisaran Wei.
Namun begitu, di wilayah mereka sendiri di Kekaisaran Wei, nama keduanya tidaklah begitu ditakuti.
Mengingat Dunia Persilatan Kekaisaran Wei, memiliki banyak jagoan yang jauh lebih hebat dari mereka berdua.
“Ayo kita temui mereka berdua.”
Luo San mengajak Qing Jun keluar dari ruangan untuk bertemu dengan dua teman mereka saat dulu mereka berkelana berdua ke wilayah Kekaisaran Wei.
__ADS_1
***
Sementara acara turnamen beladiri telah mencapai puncaknya. Babak Final pun, sebentar lagi akan segera dimulai.
Pertarungan pertama di Babak Final ini akan memperebutkan Juara tiga dan Empat.
Peserta yang bertarung adalah Xie Han melawan Gao Yan. Dan keduanya kini baru saja saling memberi hormat, sesaat setelah gong berbunyi.
Gao Yan yang memang memiliki rasa tak biasa kepada Qin Yu, sangat bersemangat saat bertarung melawan Xie Han.
Serangan cepat dan kuat, Gao Yan lakukan sejak pertarungan baru dimulai hingga beberapa puluh jurus kemudian.
Xie Han yang bertarung hati-hati dan terlihat jauh lebih tenang tanpa ambisi, mulai berhasil mengungguli Gao Yan yang serangannya terbilang ganas itu.
Walau tidak ada permusuhan diantara keduanya, namun Gao Yan terus menyerang Xie Han bagai harimau kehilangan anaknya.
Sorak sorai penonton semakin riuh, saat keduanya bertarung dengan gerakan yang semakin cepat dan kuat.
“Bodoh! … Dia tidak bisa mengendalikan perasaannya dan menjadi ceroboh karena ingin menunjukan dirinya hebat di depan gadis yang Ia sukai … Konyol sekali.”
Fu Kuan berkata demikian dalam benaknya setelah melihat apa yang Gao Yan lakukan.
Sebagai pendiri Sekte Pedang Bintang, Ia sangat kecewa melihat ketenangan jiwa kurang dilatih oleh Gao Yan.
Akhirnya Ia menjadi terdesak oleh serangan Xie Han yang tiba-tiba meningkat, baik dari kecepatan maupun kekuatan serangannya.
Belasan jurus Gao Yan masih bisa bertahan dari serangan cepat Xie Han.
Namun saat memasuki tiga puluh jurus, Jubah Gao Yan, sobek terkena tebasan pedang Xie Han.
Hal itu membuat Gao Yan sangat marah, Ia pun menyerang Xie Han secara brutal. Dahi Zhu San mengerut kesal melihat kebodohan yang dilakukan oleh Gao Yan.
Walau bagaimanapun, dirinya secara tidak langsung memiliki ikatan terhadap sekte Pedang Bintang.
Dan melihat murid dari sekte yang didirikan oleh gurunya itu berlaku bodoh, tentu saja ia merasa kesal.
Namun tanpa Zhu San sadari, kekesalan di hatinya itu, lebih karena rasa asing yang menyeruak dalam hatinya, saat mengetahui sikap Gao Yan terhadap Qin Yu.
BUGGH !!!
Suara keras terdengar dari tendangan Xie Han yang mendarat dengan cukup telak di punggung Gao Yan.
__ADS_1
Hal itu membuat tubuhnya terjengkang, keluar dari arena pertandingan dengan posisi jatuh yang cukup buruk.
Kemarahan dan rasa malu berbaur menjadi satu di dalam benak Gao Yan. Ia yang ingin terlihat hebat di depan Qin Yu, kini harus terlihat seperti pecundang.
Rasa marahnya kepada Xie Han berubah menjadi rasa dendam yang kelak di suatu hari nanti, membuatnya harus tewas di tangan paman gurunya, Zhu San.
Ia pun melangkah kembali ke arena dengan rasa malas dan malu.
Namun Ia tak ingin terlihat liar dan mendendam kepada Gao Yan, sehingga Ia tersenyum saat saling memberi hormat.
Dengan demikian, Biksu Fanzeng pun mengumumkan jika Xia Han menjadi juara ketiga dan Gao Yan menjadi juara ke empat.
Suara penonton menjadi riuh saat dua gadis dengan kecantikan bagai seorang Dewi itu, berjalan memasuki arena turnamen.
Zhu San tiba-tiba merasakan firasat buruk saat menyadari sesuatu pada keduanya. Namun Ia menjadi tenang setelah teringat jika sang Guru berada di dekatnya.
“Semoga saja mereka bisa mengendalikan diri dan kekuatan tersembunyi mereka, jika tidak, ini akan menjadi sesuatu yang akan berakibat fatal bagi keduanya.”
Zhu San berkata demikian dalam benaknya seraya melirik kedua orang Kakek bertampang aneh, yang berada di sisi belakang sebelah kiri dari tempat Ia duduk.
Sama hal nya dengan Zhu San, Fu Kuan dan Lin Kai pun berpikir hal yang sama.
Hal itu karena mereka mengetahui bahwa baik Qin Yu maupun Liu Ling, belum mampu sepenuhnya untuk mengendalikan kekuatan besar yang mereka miliki.
Fu Kuan pun mengalihkan pandangannya dari Zhu San, melihat ke arah Qin Rui. Dan ia pun menemukan wajah Nenek yang masih gadis terlihat resah.
Mungkin Qin Rui juga menyadari hal itu, sehingga saat ini, wajahnya terlihat gelisah saat Qin Yu dan Liu Ling mulai bertukar serangan.
“Sudahlah … Jangan menatapnya terus seperti itu, Lihatlah Ia mulai gelisah karena tatapan cintamu itu.”
Lin Kai berkata sambil menahan tawanya. Ia bertambah senang saat melihat Wajah Fu Kuan menjadi kesal.
“Bisakah kau serius sedikit saja dalam situasi yang berbahaya ini.” Fu Kuan berkata sedikit membentak Lin Kai.
“Tenang saja, jika memang hal itu terjadi, ada bocah tampan murid kita yang akan mengurus gadis-gadis cantik itu.”
Lin Kai terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Bukankah hanya dia saja yang bisa mengatasinya jika hal itu benar-benar terjadi? Eh jangan-jangan Kau berniat menolong cucu nenek itu untuk menarik simpatinya ya? Boleh juga strategi cintamu itu.”
Fu Kuan hampir saja memukul Lin Kai jika saja tidak terjadi teriakan panik dan kesakitan dari para penonton.
__ADS_1
Semua mata membelalak lebar saat melihat apa yang terjadi, bahkan biksu Fanzeng pun tidak sempat dan tak mampu untuk menghentikan pertarungan yang baru saja berlangsung beberapa puluh jurus itu.
******