
Kedatangan Qiu Lan bersama dua pengawal pribadinya Yue Bing dan Ying Yu, disambut tatapan membunuh dari Raja dan Ratu Siluman beserta puluhan Siluman Buaya lainnya.
“Siapa Kalian?! Dan apa tujuan Kalian mendatangi Hutan Rawa Buaya ini?!” Ratu Siluman Buaya yang merasakan aura mencekam memancar kuat dari tubuh Qiu Lan, segera bertanya dengan suara keras.
Yue Bing dan Yue Yin merasa jerih melihat wujud kedua siluman itu, hanya Qiu Lan yang tetap tenang dan menjawab dengan santainya pertanyaan Ratu Siluman Buaya itu.
“Aku Qiu Lan … Aku kesini ingin mengambil benda milikku yang berada di dalam sana.” Sambil berkata jari telunjuk Qiu Lan menunjuk ke sebuah batu besar berjarak lima puluh meter, yang berada di tengah-tengah rawa.
“Lancang! Itu adalah Tempat Suci Kami. Hanya aku dan Isteriku yang boleh memasuki tempat itu! Manusia seperti kalian terlarang menginjak Tempat Suci itu!” Bentak Raja Siluman Buaya.
Ia lalu memerintahkan anak buahnya agar menyerang Qiu Lan dan kedua pengawalnya. Puluhan Siluman Buaya penghuni Hutan Rawa Buaya itu, segera bergerak.
Namun Qiu Lan segera melesat lebih dulu dan membunuh satu persatu siluman buaya hingga hanya menyisakan Raja dan Ratu Siluman saja.
Kedua Siluman yang tersisa itu, jatuh terduduk dengan wajah yang pucat, saat melihat Qiu Lan melangkah mendekati mereka berdua.
Melihat betapa tingginya kemampuan Qiu Lan, serta keduanya kini tidak memiliki Zirah Mustika Yinyang lagi, membuat mereka pasrah menerima kematian.
“Ampuni kami yang telah menyinggung anda, mohon tidak membunuh kami, anak-anak kami masih kecil semua.” Ratu Siluman berkata dengan tubuh gemetar. Aura Kematian dari Qiu Lan begitu kuat mencekam.
Qiu Lan mengalihkan pandangan ke arah rawa, Ia melihat banyak anak-anak buaya sedang menangisi orang tua mereka yang telah tewas.
Entah kenapa Qiu Lan terenyuh hatinya melihat hal itu. Ia teringat akan kematian ayahnya di masa kini. Sebuah keputusan yang terasa aneh bagi Dua Bunga Kematian, terdengar dari mulut Qiu Lan.
“Aku akan mengampuni kalian. Tapi jangan halangi aku untuk mengambil benda milikku yang ada di tempat itu.”
Qiu Lan segera melesat ke tengah rawa setelah melihat dua siluman buaya itu menganggukkan kepala mereka.
Sesampainya di Tempat Suci para siluman buaya itu, degup jantung Qiu Lan berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia segera melangkah mendekati sebuah Peti Hitam yang terletak di atas batu setinggi dua meter itu.
__ADS_1
Saat akan menyentuhnya, Tubuh Qiu Lan terpental dengan wajah yang terkejut. Setelah berhasil menguasai diri, akhirnya Ia melesat ke udara dan segera mengerahkan lima puluh persen tenaga dalamnya.
BLAAAR!!
Suara menggelegar segera terdengar saat Qiu Lan melepaskan energi dari tapak tangannya. Energi berwarna merah kehitaman, segera menghantam Peti Hitam sepanjang satu meter itu dengan kuat.
Suara menggelegar timbul karena benturan energi dari tapak dengan energi yang menyegel Peti Hitam yang akhirnya membuat peti itu, dapat disentuh Qiu Lan sesaat kemudian.
Mata Kaisar Hun itu, seketika berbinar saat melihat Zirah Kristal Dewa yang dapat melindungi pemiliknya dari serangan energi maupun senjata pusaka sekalipun. Hanya dua senjata yang mampu menembusnya, sepasang Pedang Yinyang.
Cahaya Ungu kehitaman segera memendar dari zirah, saat tangan Qiu Lan menyentuhnya. Qiu Lan merasakan energi memasuki tubuhnya dan menghilang seiring dengan hilangnya zirah dari pandangan matanya.
Qiu Lan yang mulanya tertawa senang karena telah mendapatkan Zirah Kristal Dewa, segera terdiam saat teringat tentang manusia bertubuh Yinyang sejati yang telah membunuhnya di masa seribu tahun lalu.
“Dengan Kekuatan Zirah Kristal Dewa ini, tak ada lagi yang bisa mengalahkan aku selain dua orang bertubuh Yinyang sejati itu. Aku harus segera mencari siapa dan dimana mereka berada saat ini.”
Ia sudah sangat ingin memainkan Kecapi Iblis Pencabut Nyawa yang Ia simpan di dalam Cincin Jiwanya itu.
Kecapi itu memiliki kekuatan membunuh maha dahsyat dengan energi suara yang keluar saat memetik dawainya dengan menggunakan tenaga dalam.
Qiu Lan melesat meninggalkan Hutan Rawa Buaya dengan Zirah Kristal Dewa yang telah menyatu dengan tubuhnya. Meninggalkan Raja dan Ratu Siluman yang berlutut sedih, melihat kematian puluhan anak buahnya.
***
Saat hal tragis menimpa Siluman Buaya, Zhu San dan Bian Chi sedang dalam meditasinya. Telah satu minggu mereka berdua menyerap Energi Inti Angin yang terdapat di Awan Suci.
Namun baru seperempat bagian saja dari keseluruhan Energi Inti Angin yang berhasil di serap oleh mereka, selama kurun waktu satu minggu dalam hitungan waktu di Alam Jiwa.
Setelah satu bulan atau empat hari dalam hitungan waktu dunia manusia, barulah mereka berdua berhasil menyerap seluruh Energi Inti Angin yang di tandai hilangnya Awan Suci.
__ADS_1
Namun saat gumpalan Awan Suci terakhir akan
Menghilang, sebuah cahaya memendar sangat terang. Dan dua buah kristal melayang di antara kedua tangan mereka yang bersatu.
Merasakan aliran energi yang tidak dirasakan lagi oleh mereka, keduanya segera membuka mata secara bersamaan. Senyum keduanya segera terkembang, mendapati dua buah kristal bening, berada di depan mereka.
Zhu San dan Bian Chi masing-masing meraih satu kristal dan menelannya. Lalu keduanya memejamkan mata dan bermeditasi dan satu jam kemudian, tubuh keduanya memancarkan cahaya terang dalam beberapa detik.
Zhu San dan Bian Chi masih memejamkan mata. Saat merasakan tubuhnya menjadi ringan dan sangat segar, tanpa merasakan lapar walau sudah satu bulan mereka tidak makan dan minum.
Selain itu, keduanya merasa terjadi sedikit perubahan pada tubuh mereka. Zhu San merasakan otot-otot tubuhnya menjadi lebih kuat dan membesar. Dadanya pun terlihat semakin bidang.
Hal yang sama juga dialami oleh Bian Chi. Terutama Ia merasakan dua bagian tubuhnya sedikit membesar dari sebelumnya, bagian itu adalah dada dan pinggulnya.
“Chi’er … Kita telah berhasil menyerap Energi Inti Angin. Aku merasakan tubuhku semakin kuat.” Zhu San berkata kepada isterinya melalui telepati mereka.
“Iya Chan Gege … Selain itu aku juga merasakan beberapa bagian tubuhku semakin membesar juga.”Bian Chi tercekat saat teringat kenakalan Sang Suami.
Zhu San sontak membuka matanya dan Ia menemukan kebenaran dari kata-kata Bian Chi setelah melihat apa yang ada di hadapannya.
Dengan Cepat Bian Chi mengeluarkan gaun dari dalam Cincin Jiwanya dan Ia segera melesat ke balik sebuah batu besar untuk memakainya.
Zhu San pun segera mengenakan jubahnya setelah mengeluarkannya dari Cincin Jiwa, dengan wajah yang cemberut kesal.
“Huh dilihat aja ga boleh! Dasar pelit! Lihat saja nanti kalau sudah waktunya tiba.”
Zhu San menggerutu dengan senyum lebar di bibirnya. Yang perlu Ia lakukan saat ini hanya bersabar. Menunggu rasa malu sang isteri, menghilang dengan sendirinya.
*****
__ADS_1