
“Gadis sombong! Berani sekali Kau meminta barang milik muridku dengan cara seperti itu!” Sosok Nenek yang mengenakan gaun biru itu, datang dengan melayang perlahan di udara.
Qiu Lan yang sudah marah, tidak menanggapi perkataan si nenek. Tanpa berbasa-basi lagi, Ia menyerang si Nenek dengan sangat cepat.
Tendangannya ke arah kepala Nenek yang berjuluk Dewi Selendang Maut itu, berhasil dihindari dengan raut wajah sang nenek yang sedikit terkejut itu.
Ia merasakan angin dari tendangan itu, mendorong tubuhnya cukup kuat, memaksa dirinya untuk mengambil jarak dengan Qiu Lan.
“Siapa Kau sebenarnya? Siapa gurumu?” Dewi Selendang Maut bertanya karena Ia sangat heran dengan kemampuan yang ditunjukkan oleh Qiu Lan.
“Apakah penting bagimu mengetahui siapa Aku?” Qiu Lan menjawab dengan ketusnya. Rasa marah membuatnya kembali menyerang ke arah sang nenek.
Dewi Selendang Maut menjadi waspada, walau sebagai jagoan Nomor Tiga Aliran Netral di Kekaisaran Wei, Ia tidak ingin gegabah dalam menghadapi Qiu Lan.
Qiu Lan datang dengan serangan tapaknya, Tapak Dewi Kematian. Serangan tapaknya yang memiliki Aura Kematian itu, segera berjibaku dengan ujung selendang dari Sang Nenek.
Cui Hong yang marah, menelan ludahnya saat melihat kecepatan dan kekuatan yang dimiliki oleh Qiu Lan. Namun begitu Ia bertekad akan membantu guru isterinya, jika nanti ia terdesak.
Qiu Lan semakin mendekati Dewi Selendang maut yang masih terus menyerang dengan dua selendangnya. Raut wajahnya terlihat heran melihat gadis belasan tahun, mampu menahan serangannya.
Pertarungan keduanya semakin seru dan dahsyat. Dewi Selendang Maut mengerahkan tujuh puluh persen kekuatannya, ketika Qiu Lan telah berada satu meter dengannya.
Tubuh Nenek itu terpental, ketika beradu tapak dengan Qiu Lan. Matanya melotot lebar, tak menduga bahwa Ia akan terpental oleh seorang gadis yang masih belia.
Qiu Lan menatap Nenek itu dengan pandangan yang meremehkan sebelum Ia berkata padanya. “Cepat serahkan Cincin itu! Atau Aku tak akan mengampunimu lagi!”
“Lancang mulutmu!” Cui Hong tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia melesat setelah mencabut pedang pusakanya. Melihat Lawan yang memiliki kemampuan tinggi, Cui Hong segera menggunakan jurus terkuatnya.
Jurus Pedang Bayangan membuat pedang di tangan Cui Hong seolah menjadi lima buah. Ia menyerang Qiu Lan dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang Ia miliki.
Awalnya Qiu Lan tidak terdesak, Ia berusaha menghindari tusukan dan tebasan pedang dari lawannya.
__ADS_1
Merasa kesal diserang dengan gencar, Qiu Lan segera mengalirkan energi ke Zirah Kristal Dewa yang baru Ia dapatkan kembali itu.
TRANG TRANG
Cui Hong terkejut ketika mendapati pedangnya seolah menghantam baja yang sangat kuat, saat Ia menebas leher Qiu Lan yang terlihat tidak sempat menghindari serangannya. Rasa terkejutnya itu membuat Ia menjadi lengah.
DUUAAGHH!!
Dengan sangat kerasnya, Qiu Lan menendang dagu Cui Hong dari arah bawah. Tubuh Ketua Sekte Pedang Bayangan itu terpental ke atas dengan kesadaran yang menipis.
Saat itulah, Qiu Lan melesat sangat cepat ke atas dan dengan tapaknya kanannya Ia menghantam kepala Cui Hong.
PRAAK!!
Kepala Cui Hong pecah, tubuhnya jatuh ke tanah tanpa memiliki nyawa lagi. Hal itu membuat Din Yu menjerit keras.
Dewi Selendang Maut berteriak marah sambil menyebut jurus terkuatnya yang jarang Ia gunakan. Jurus Gaun Kematian.
Sang Nenek melepas gaun berwarna biru dari tubuhnya dan terlihat sebuah Gaun Hitam yang memancarkan Aura kematian sangat pekat.
Dewi Selendang Maut segera melesatkan empat selendang dari balik punggungnya. Selendang berwarna hitam itu, melesat sangat cepat menerjang Qiu Lan.
Des Des Des Des
Qiu Lan hanya terjajar satu langkah, Ia sengaja tidak menghindari serangan itu karena yakin dengan kekuatan Zirah Kristal Dewa di tubuhnya.
Mata Dewi Selendang Maut terbelalak, saat melihat serangan kuatnya yang dapat menghancurkan batu sebesar rumah itu, tak berakibat apapun pada lawannya.
“Dia memiliki pusaka pelindung yang hebat di balik gaunnya. Hanya racun yang dapat menembus zirah pelindung seperti itu.” Dewi Selendang Maut menjadi putus asa saat Ia menyadari hal tersebut.
Qiu Lan segera mengambil Pedang Bayangan milik Cui Hong yang berada di dekatnya. Dengan cepat Ia balik menyerang nenek jagoan nomor tiga Aliran Netral Dunia persilatan Kekaisaran Wei itu.
__ADS_1
Dewi Selendang Maut hanya bisa bertahan dari jurus pedang yang Qiu Lan gunakan. Jurus pedang itu terasa aneh dan belum pernah Ia lihat sebelumnya.
Setelah bertarung hingga lebih dari enam puluh kali pertukaran serangan, Dewi Selendang Maut akhirnya harus rela mati di tangan Qiu Lan.
Pedang Qiu Lan berhasil menebas lehernya, membuat kepala sang Nenek menggelinding jatuh ke tanah. Qiu Lan segera menahan tubuh Sang Nenek dan melepaskan Gaun Hitam itu.
Setelah menemukan dimana Cincin Jiwanya berada, Qiu Lan segera memasukan gaun hitam itu ke dalam Cincin Jiwa yang kini tersemat di jari manis tangan kanannya.
Ia lalu mengeluarkan sebuah kecapi, tidak memperdulikan Ding Yu yang meraung-raung melihat kematian gurunya.
Qiu Lan tiba-tiba melesat ke arah dua pengawal pribadinya, Ia langsung menotok kedua perempuan itu tepat di lehernya.
Membuat kedua pengawalnya itu tak bisa bergerak bahkan telinganya tidak mendengar suara apapun. Namun mereka paham apa yang akan dilakukan oleh Qiu Lan.
Kaisar Hun itu, duduk melayang di udara dan mulai memainkan dawai kecapi pusakanya. sebuah lagu Ia mainkan dengan perlahan, Lagu Pengantar Tidur Selamanya.
Suara lembut yang mendayu-dayu, terdengar mengalun dari kecapi pusaka itu. Satu menit kemudian, alunan suara itu berubah menjadi melengking, mata mereka yang semula terpejam, kini melotot lebar.
Segera saja ratusan orang yang berada dalam radius seratus dari kecapi itu berada, meraung-raung sambil menutup telinga mereka.
Beberapa Tetua mengerahkan tenaga dalam mereka, namun hanya bertahan sesaat saja. Ketika Qiu Lan mengerahkan lebih banyak tenaga dalamnya ke dawai Kecapi, situasi berubah.
Jerit kematian terdengar silih berganti, ratusan orang berguling-guling menutupi telinga mereka. Ding Yu adalah orang pertama yang tewas akibat jurus mematikan Qiu Lan itu.
Tiga orang Tetua Sekte yang kini tidak mampu lagi bertahan, jatuh dengan telinga yang penuh oleh darah yang tak berhenti mengalir.
Ketiganya adalah orang terakhir yang tewas dari seluruh Anggota Sekte Pedang Bayangan. Tidak mereka duga jika hari ini Sekte Aliran netral itu akan musnah di tangan seorang gadis belasan tahun.
Sesaat kemudian, Qiu Lan melepaskan totokan pada ke dua pengawalnya. Dua Bunga Kematian itu, begitu takjub dengan jurus yang baru saja digunakan oleh Qiu Lan.
Sementara Qiu Lan yang telah memasukan Kecapi Pencabut Nyawa, terlihat sedang bermeditasi. Ia tengah melacak keberadaan Pedang Phoenix yang tiba-tiba menghilang Auranya.
__ADS_1
“Mengapa Aku tidak merasakan Aura Pedang Phoenix ku? Siapa yang bisa membuat Pedang itu tidak terlacak olehku? Jangan-jangan … ” Raut Wajah Bian Chi pun memburuk.
******