
Sesaat setelah Ketua Chen Hu melompat dan membentak Zhu San, seorang kakek di barisan penonton, terkekeh melihat hal itu.
“Kenapa Kau tertawa Tua Bangka Peot?” Seorang kakek yang juga berwajah aneh dan duduk disampingnya, berkata dengan suara yang terdengar sedikit kesal.
Ia kesal mengapa Zhu San meminjamkan Pedang Bintang Merah kepada gadis dari Sekte Bulan Sabit itu.
Dan Ia sedang memikirkan alasan di balik tindakan Zhu San tersebut saat rekan di sampingnya itu tertawa.
“Tua Bangka Keriput, sepertinya sebentar lagi kita akan melihat kedua orang itu bertarung. Hehehehe”
Sosok yang dipanggil Tua Bangka Peot itu menjawab pertanyaan rekannya tanpa memperdulikan kekesalan di hatinya.
“Baguslah jika begitu, sebentar lagi akan ada tontonan menarik bukan?”
Rekannya menjawab dengan suara ketus yang membuat Kakek di sebelahnya malah tertawa senang.
Seorang penonton di depan mereka segera berbalik karena merasa terganggu oleh pembicaraan mereka berdua.
Namun Ia menelan ludahnya saat hendak berkata untuk menegur mereka berdua. Hal itu karena Ia mendapat tatapan membunuh dari salah satu kakek yang terlihat sedang kesal.
Selain itu, wajah keduanya yang terlihat aneh, membuat penonton itu segera membalikan badannya dengan rasa takut.
Keanehan di wajah kakek tersebut karena keduanya menggunakan topeng tipis yang nyaris sama dengan warna kulit mereka.
Hanya saja topeng tersebut tidak memiliki keriput dan bahkan sehalus kulit seorang gadis, jika dilihat secara sepintas.
Wajah kedua Kakek itu juga terlihat mirip bahkan seperti dua orang yang kembar. Hanya warna Jubah mereka saja yang berbeda.
Satu orang menggunakan jubah berwarna biru gelap sedang Kakek yang terlihat kesal itu, menggunakan jubah berwarna kuning.
“Tetapi mengapa San’er meminjamkan Pedang Bintang Merah ya? Bukankah hal itu akan membuat Chen Hu jadi curiga dan marah kepadanya?”
“Itulah yang sedang aku pikirkan sedari tadi. Kenapa Ia berbuat seperti itu? Apa tujuan bocah itu sebenarnya! Kau malah berisik saja dari tadi!”
Kakek berjubah biru seperti tak mendengar ocehan rekannya yang berjubah kuning, Ia tengah menatap lekat ke arena dimana Zhu San mulai bersiap dengan jurus Tinju Besi.
__ADS_1
Zhu San menjadi bimbang dengan dugaan yang ada di benaknya, saat ini Ia berharap jika salah satu dari kedua Kakek berwajah aneh itu, menghentikan pertarungannya.
Namun hingga Ketua Chen Hu menyerang dirinya, apa yang diharapkan Zhu San belum terwujud. Membuatnya terpaksa meladeni serangan kakak seperguruannya itu.
Pertukaran serangan pun terjadi dengan sengitnya. Mata Ketua Sekte yang lain melotot lebar ketika melihat hal itu.
Jurus Tinju Besi Ketua Chen Hu sangatlah hebat, namun pemuda belasan tahun yang menggunakan jurus yang sama itu, terlihat mampu mengimbanginya.
Penguasaannya terhadap jurus Tinju Besi, setidaknya setara dengan Ketua Chen Hu, Namun bagi Zheng An yang ahli dalam beladiri tangan kosong, tidaklah demikian.
“Pemuda ini memiliki bakat yang luar biasa, Ia mampu menggunakan jurus Tinju Besi sehebat gurunya Fu Kuan. Ketua Chen Hu akan kalah jika pemuda ini bertarung serius dengannya. Sepertinya Ia tidak ingin mempermalukan Kakak seperguruannya itu. Pemuda yang menarik, semoga Aku bisa mengenalkannya pada Ling’er.”
Zheng An berkata demikian sambil melirik ke arah muridnya yang sepertinya juga kagum melihat kemampuan yang Zhu San tunjukan.
“Aaaaiiihh kenapa jadi seperti ini, Apakah kedua kakek itu bukan Guru Pertama dan Guru Kedua? Atau mungkin mereka mengetahui rencanaku?”
Zhu San yang bertarung dengan konsentrasi yang terpecah itu, membuat Ketua Chen Hu berhasil melesatkan sebuah tinju keras ke dadanya.
Tubuh Zhu San terjajar beberapa langkah ke belakang, hal itu membuat Ketua Chen Hu terkejut sekaligus merasa gusar.
Serangan yang menggunakan tiga puluh persen tenaga dalamnya itu, seolah tak memiliki efek apapun pada pemuda yang mengaku adik seperguruannya itu.
Zhu San memang sengaja membuat kakak seperguruannya menjadi marah, agar Ia mengeluarkan seluruh kekuatannya.
“Sepertinya hanya dengan bertarung hidup dan mati seperti ini, kakek baru akan bertindak.”
Zhu San yang sebenarnya masih bersiasat dengan apa yang Ia lakukan, pura-pura marah dan mengerahkan enam puluh persen tenaga dalamnya.
Ia pun tak lupa memasang wajah bengis dan aura membunuh yang kuat kepada Ketua Chen Hu.
Wajah semua orang menjadi tegang saat melihat kemarahan yang terpancar di wajah Zhu San. Apalagi Aura kekuatan yang aneh terpancar kuat dari tubuhnya.
“Shan Gege ….” Qin Yu berkata lirih saat melihat kemarahan di wajah pemuda yang diam-diam telah mengisi hatinya itu.
Sementara di Arena terlihat pertarungan yang menggunakan kekuatan besar akan segera di mulai.
__ADS_1
Walau merasa jerih dengan apa yang Zhu San tunjukan, Ketua Chen Hu tak ingin mundur begitu saja. Ia pun hendak melompat untuk menyerang Zhu San.
Namun sebuah suara yang sangat keras menggema di seantero udara mengejutkan semua orang yang berada disana.
“Hu’er, Shan’er hentikan! Kembalilah ke tempat duduk kalian! Tua Bangka Zheng, tolong pinjamkan pedang di tanganmu itu kepada gadis Wen Yi. Mari kita selesaikan turnamen ini terlebih dahulu.”
Para Ketua Sekte dan Zheng An sendiri terkejut mendengar suara yang mereka kenali sebagai suara Fu Kuan itu.
Suara yang menggema dengan berbicara menggunakan teknik khusus itu, membuat mereka kesulitan untuk mengetahui di mana Fu Kuan sebenarnya berada.
Suara yang berwibawa dan tegas itu, juga membuat Ketua Chen Hu tertegun dengan tubuh bergetar. Berbeda dengan Zhu San yang malah tersenyum senang.
“Akhirnya … Guru masuk perangkapku juga. Hahahaha.”
Zhu San segera menarik tenaga dalamnya dan melangkah kembali ke tempat di mana Ia duduk semula.
Begitu pula dengan Ketua Chen Hu, Ia kembali ke tempat duduknya dengan berbagai pertanyaan mengisi benaknya.
Sesaat sebelum duduk, Zhu San melirik tajam ke arah kedua kakek itu seraya menyunggingkan senyum lebar.
Hal itu membuat Fu Kuan mendengus kesal karena Ia baru menyadari jika terjebak oleh siasat murid kesayangannya itu.
“Hahahaha … Murid Kita sepertinya telah mengetahui jika kita masih hidup. Tapi Darimana Ia mengetahui kita masih hidup Ya? Jangan-jangan ….”
Sosok Kakek berjubah biru yang ternyata adalah Lin Kai itu, bertanya kepada kakek berjubah kuning yang ternyata adalah Fu Kuan.
“Mungkin Si Zhu Han asli itu telah membuka jatidirinya kepada San’er saat mereka bertemu di rumah bangsawan Mu Bai. Lalu menceritakan jika kita masih hidup.”
Fu Kuan berkata dengan santai. Sebenarnya Ia belum ingin menunjukkan dirinya terlebih dahulu.
Namun mengingat bahaya besar sedang mengancam para tokoh aliran putih itu, Ia pun merasa tak ada guna lagi untuk menyembunyikan identitas aslinya.
Sebuah informasi rahasia dari sahabatnya, Si Dewa Seribu Wajah, membuat dirinya memutuskan untuk menunjukkan diri setelah turnamen ini berakhir nanti.
Namun kejadian tak terduga, membuatnya lebih cepat beberapa waktu untuk menunjukan dirinya.
__ADS_1
Informasi tentang kedatangan dua orang tokoh aliran Hitam berkemampuan sangat tinggi dari Kekaisaran Wei itu, sepertinya harus segera diketahui oleh para ketua Sekte dan juga pihak Kekaisaran.
*****