
Zhu San dan Qin Yu yang sedang saling berpandangan dengan mesra, sontak tertawa mendengar perkataan penonton itu.
Xie Han pun segera mengambil tindakan setelah mendengar hal itu. Ia tidak ingin membuat gadis bangsawan di hadapannya ini menjadi malu karena dirinya.
“Ling’er … Mari kita mulai pertarungan ini, Aku tidak akan menahan seranganku, kuharap engkau pun begitu.”
Liu Ling tidak menanggapi perkataan Xie Han, Ia sibuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba berdebar tidak karuan mendengar Xie Han memanggilnya seperti itu.
Setelah menghela nafas panjang, Liu Ling pun segera memasang kuda-kudanya seraya menanggapi pernyataan Xie Han.
“Baiklah … Aku telah siap.”
“Lihat Serangan!”
Xia Han berteriak seraya melompat dan menyerang Liu Ling. Keponakan Kaisar Liu itu, segera menebaskan pedangnya, menahan serangan Xie Han.
Seperti apa yang diucapkan oleh Xie Han, Ia menyerang Liu Ling dengan kekuatan penuh karena tidak ingin dinilai meremehkan gadis bangsawan itu.
Xie Han yang menggunakan pedang Pusaka Sang Ayah, tak ragu lagi berbenturan pedang dengan pedang Pusaka di tangan Liu Ling.
Pertarungan keduanya pun semakin seru, serangan demi serangan saling berbalasan satu sama lainnya.
Penonton pun bersorak riuh melihat pertarungan yang dilakukan oleh mereka berdua.
Decak kagum mulai terdengar dari para Ketua Sekte, saat melihat kehebatan Xie Han dan terutama Liu Ling.
Xie Han dengan jurus andalannya, Pedang Api Membakar Kegelapan, menyerang Liu Ling dengan hebatnya.
Namun Jurus Birunya Api Membakar Semesta yang Liu Ling gunakan, bukanlah jurus yang lemah.
Jurus pedang yang memiliki pertahanan kuat dengan serangan baliknya yang cepat itu, bukan saja mampu mengimbangi jurus Xie Han.
Setelah pertukaran serangan telah lebih seratus jurus, Xie Han pun mulai terlihat terdesak cukup hebat.
Ia beberapa kali harus melompat mundur untuk menghindari tebasan maupun tusukan yang cepat ke arah tubuhnya.
Hawa panas dari tubuh dan pedang Liu Ling semakin terasa kuat. Membuat Xie Han sedikit kerepotan, karena harus membagi tenaga dalamnya untuk menahan hawa panas tersebut.
__ADS_1
Lagi-lagi tubuh Istimewa yang dimiliki oleh Liu Ling, membuatnya unggul dalam pertarungan babak semifinal ini.
Setelah lebih dari dua ratus kali bertukar serangan, dengan senyum pahit di bibirnya, Xie Han memutuskan untuk mengakui kehebatan Liu Ling.
Hal Itu karena Ia merasa tangannya menjadi kebas, saat beberapa kali pedangnya berbenturan dengan pedang di tangan Liu Ling.
Ia pun menyadari jika dirinya tak mungkin bisa memenangi pertarungan itu. Apalagi tenaga dalamnya telah semakin menipis, karena Ia gunakan untuk menyerang dan melindungi tubuhnya dari hawa panas.
Ia melompat melompat mundur dan menjejakan kaki di luar arena saat sebuah tusukan cepat mengarah ke tubuhnya.
Suara tepukan pun menggema mengiringi riuhnya suara penonton yang melihat pertarungan yang sangat hebat itu.
Para Ketua Sekte bertepuk tangan seraya berdiri, untuk menunjukan kekagumannya pada Xie Han yang telah bertarung dengan hebat dalam babak semifinal ini.
Walau merasa kecewa dalam hatinya karena telah gagal mencapai tujuan yang ingin Ia capai, namun Xie Han tidaklah begitu menyesal.
Ia mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga yang kelak di kemudian hari akan disebut sebagai kenangan.
Ia pun melangkah kembali ke arena, setelah berhasil menghapus cita-citanya untuk menjadi perwira militer di Kekaisaran Liu.
“Han Gege … Bisakah Aku nanti meminta sedikit waktumu untuk kita bicara berdua?”
“Tentu saja Ling’er… Akan kuberikan waktu sebanyak yang engkau mau.”
Xie Han menjawab dengan sangat cepat pertanyaan Liu Ling, seraya memberikan senyum termanisnya, untuk menunjukan kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.
Liu Ling segera membalikan badan setelah memberi salam penghormatan, berusaha meredam debaran keras di hatinya, melihat senyuman manis Xie Han. Ia pun berjalan cepat kembali ke tempat duduknya.
Namun saat menyadari kondisi tubuhnya yang istimewa itu, wajah Liu Ling seketika tertunduk sedih.
Ia pun menggigit bibirnya untuk menahan butiran bening yang hendak jatuh dari pelupuk matanya.
Zheng An yang telah berada kembali di belakang Kaisar Liu Feng, menghela nafas saat melihat muridnya itu menunduk sedih.
Ia telah menemukan sosok pemuda yang tepat untuk menjadi pasangan hidup muridnya itu berkaitan dengan kondisi tubuhnya yang istimewa.
Ia hanya berharap sebuah keajaiban yang dapat mempersatukan mereka berdua kelak di masa depan.
__ADS_1
Hal yang sama pun memenuhi benak Zhu San. Ia dan Xie Han telah berteman dan cukup akrab selama melakukan perjalan bersama ke ibukota.
Apa yang akan terjadi pada hubungan keduanya nanti, membuat Zhu San berpikir keras mencari cara agar kondisi tubuh yang berbeda itu, tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk hidup bersama.
Pertarungan berikutnya adalah pertarungan antara Qin Yu melawan Gao Yan dari Sekte Pedang Bintang.
Zhu San sedikit merasa heran saat melihat senyum Gao Yan, ketika mereka berdua memberi hormat sesaat sebelum memulai pertarungan.
Keheranan itu akhirnya terjawab setelah pertarungan memasuki enam puluh jurus, terlihat oleh Zhu San jika Gao Yan sengaja menggunakan jurus pedangnya secara sembarangan.
Zhu San tersenyum tipis setelah melihat Biksu Fanzeng mengumumkan kemenangan Qin Yu atas Gao Yan dan babak semifinal pun selesai.
“Sepertinya Ia sengaja membuat Yu’er menang tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Kurasa Ia menyukai Yu’er.”
Zhu San menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika mendapati dugaan seperti itu di kepalanya.
“Murid Kita itu sepertinya jarang keramas, lihatlah, Ia sering menggaruk kepalanya.” Lin Kai berkata kepada Fu Kuan setelah melihat Zhu San sejenak.
“Bukan begitu Tua Bangka Peot, Ia hanya menyadari jika si Gao Yan itu menyukai gadis yang ia sukai. Dia menjadi serba salah. Bagaimanapun juga Ia adalah paman guru bagi Gao Yan. Kan repot Guru dengan murid bersaing dalam hal cinta.”
Lin Kai mengangguk-anggukan kepalanya, lalu sebuah ide muncul di kepalanya.
“Jadi kalau guru dengan guru baru boleh bersaing, begitukah menurutmu?” Tanya Lin Kai kepada Fu Kuan.
“Apa maksudmu bertanya begitu?” Dahi Fu Kuan mengerut saat mendengar pertanyaan Lin Kai.
“Kau Pasti sudah tahu apa yang ku maksud Tua bangka Keriput hahahaha. Bagaimana apa kau berani?”
“Puuuih … Siapa takut bersaing denganmu.” Fu Kuan menjadi kesal sekaligus khawatir dengan ucapan Lin Kai.
Dirinya tidak begitu berpengalaman dalam hal memikat hati wanita.
Sementara Lin Kai tertawa senang di dalam hatinya, Ia memang ingin membuat Fu Kuan mengejar cintanya kepada Nenek Gadis Qin Rui dan menikahinya.
Sebab itulah Ia akan pura-pura untuk mengejar Cinta Qin Rui agar Fu Kuan merasa tersaingi dan melakukan sesuatu di luar logika untuk memperjuangkan cintanya yang tertunda.
*****
__ADS_1