
Zhu San dan Bian Chi telah berada di Alam Jiwa selama hampir delapan bulan atau selama satu bulan lebih dalam waktu di Dunia Manusia.
Dan satu minggu sebelum Zhu San dan Bian Chi keluar dari Alam Jiwa, kegemparan terjadi di Kota Baixan.
Jenderal Xie Han memberikan surat yang Ia peroleh dari mata-mata, tentang akan adanya serangan besar-besaran ke kota tersebut satu minggu dari sekarang.
Surat itu diterima oleh Kaisar Liu Feng yang merasa sangat geram setelah membacanya. Ia pun segera memanggil Tetua Zheng An dan Bangsawan Mu Bai beserta beberapa menteri yang setia kepadanya.
“Mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh yang dimilikinya. Apakah kita harus mengungsi atau melawannya?” Tanya Kaisar Liu Feng kepada seluruh orang yang hadir di dalam ruangan tersebut.
“Yang Mulia … Cepat atau lambat, hari itu akan datang, kita tidak mungkin lagi menghindarinya atau terus bertahan saja.” Zheng An berkata dengan penuh semangat.
Ia menjelaskan bahwa saat ini mereka tidak punya pilihan lain. Nasib Rakyat Kekaisaran Liu, akan ditentukan dalam pertempuran besar itu. Zheng An pun meminta, Kaisar Liu Feng untuk menghadapi serangan ini.
Apapun hasilnya, pertempuran itu harus mereka hadapi hingga titik darah terakhir. Seluruh orang yang berada di dalam ruangan, segera berlutut.
Mereka meminta Kaisar Liu Feng menyetujui apa yang disampaikan oleh Tetua Zheng An. Sang Kaisar pun terdiam dan memejamkan mata. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening.
“Baiklah, Jenderal Xie Han, Kau akan memimpin dua puluh ribu pasukan gabungan dari prajurit Bangsawan Mu Bai dan Prajurit Kekaisaran.”
Kaisar Liu Feng berkata seraya memberi Xie Han sebuah giok yang menunjukan jika Jenderal Muda itu adalah Panglima Perang dalam pertempuran ini.
Lin Kai dan Fu Kuan yang juga berada dalam ruangan itu, hanya menghela nafas. Jumlah dua puluh ribu prajurit itu, hanya separuh dari jumlah prajurit pihak lawan yang sepuluh ribu diantaranya adalah para pendekar dari Aliran Hitam yang bernama Pasukan Khusus.
Jika dilakukan pertarungan terbuka, maka bisa dipastikan jika sepuluh ribu orang pasukan khusus mereka itu, akan menang dengan mudah melawan dua puluh prajurit yang dipimpin oleh Xie Han.
Untuk itulah, Lin Kai segera mengutarakan rencananya. “Yang Mulia Kaisar, bagaimana jika meminta bantuan ke kota Songdu untuk mengirim sepuluh ribu prajurit mereka? Hamba sendiri yang akan datang ke kota Songdu untuk menyampaikan hal itu.”
__ADS_1
Setelah diam beberapa waktu, Kaisar Liu Feng pun menyetujui usul Lin Kai. Fu Kuan pun lalu berbicara dan menyampaikan rencananya.
Ia akan mengunjungi beberapa sekte aliran putih dan meminta bantuan kepada mereka, untuk membantu menghadapi sepuluh ribu pasukan khusus lawan yang berasal dari golongan pendekar.
Xie Han sebagai jenderal tentu saja mendukung rencana tersebut. Akhirnya Kaisar Liu Feng pun menyetujui rencana yang diusulkan oleh kedua Guru Zhu San itu.
Hal itu disetujui oleh Kaisar Liu Feng, setelah Zheng An memberitahu dirinya bahwa Fu Kuan dan Lin Kai, kini bisa melayang di udara sejak sembuh dari luka dalam mereka.
Dengan kemampuan itu, maka mereka berdua bisa dengan cepat menemui ketua sekte yang berada jauh dari kota Baixan, untuk meminta bantuan dalam pertempuran tersebut.
Lin Kai akhirnya menuju ke kota Songdu, Sedang Fu Kuan menuju ke Sekte Pedang Bintang, Kuil Cahaya Keadilan dan Sekte Pedang Angin, dan Sekte Tapak Naga.
Sementara Lin Kai, sekembalinya dari kota Songdu akan mendatangi Sekte Tujuh Langit, Sekte Rajawali Merah dan Sekte Pedang Api.
Sementara Zheng An mengunjungi Sekte Bulan Sabit yang dipimpin oleh Yi Min. Sekte tersebut berjarak satu hari satu malam dengan berkuda dari Kota Baixan menuju ke arah utara.
Dengan keahliannya melayang saat ini, Ia hanya membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk tiba di kota Songdu.
Namun saat baru baru setengah perjalanan perjalanan, Ia dikejutkan dengan sosok lain yang terbang ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Lin Kai pun segera menjadi waspada.
Saat jarak keduanya semakin dekat, firasat buruk segera mengisi benaknya. Sosok yang sedang melayang ke arahnya itu, ternyata adalah Lin Mi, kakak sepupunya.
“Enci Lin?! Ada apakah Enci Lin terburu-buru seperti itu? Dan Enci hendak pergi kemana?” Tanya Lin Kai setelah Lin Mi yang juga terkejut melihat Lin Kai, tiba di depannya.
“Kau sendiri mau kemana? Aku mau ke kota Baixan. Meminta bantuan kepada Kaisar untuk mengirimkan pasukan. Kami mendapat berita bahwa Aliansi Aliran Hitam akan menyerang secara besar-besaran ke kota Songdu dengan kekuatan penuh mereka.”
Lin Kai tentu saja terkejut mendengar hal tersebut. Hal yang sama juga dialami oleh Lin Mi, setelah Lin Kai menjelaskan tujuannya untuk mendatangi kota Songdu.
__ADS_1
Keduanya sama-sama terdiam, setelah mereka berdiskusi, lalu keduanya memutuskan untuk segera kembali ke kota masing-masing dan menyampaikan berita itu.
Keduanya menjadi curiga bahwa kabar itu hanyalah berita bohong, atau sebuah strategi dari lawan untuk mengecoh mereka.
Saat Kisar Liu Feng mendapat berita tersebut dari Lin Kai dua hari berikutnya, Wajah Sang Kaisar Liu itu, terlihat pucat. Hal yang membuat semua orang bertanya dalam benak mereka.
“Dengan taktik itu, mereka akan menguasai salah satu kota. Entah Kota Songdu atau Kota Baixan yang akan jatuh ke tangan lawan.”
Ucapan Kaisar Liu Feng, berhasil mengejutkan mereka semua yang sedari tadi kebingungan dengan diamnya Sang Kaisar.
Keesokan harinya Saat wajah semua orang sedang murung, seorang prajurit tiba-tiba datang memasuki ruang pertemuan itu. Awalnya Xie Han hendak memarahi prajurit yang telah lancang itu.
Namun saat melihat prajurit itu tergopoh- gopoh memasuki ruangan dengan sebuah surat di tangannya, Xie Han mengurungkan niatnya.
“Ada apa prajurit! Surat dari siapa yang kau bawa itu!” Xie Han tetap berkata dengan suara keras.
“Ampuni Saya Jenderal, seorang pengemis mengancam akan membunuh dua orang rekan saya, jika saya tidak segera mengantarkan surat ini kepada Tuan Mu Bai.” Prajurit itu segera menjawab dengan suara yang bergetar ketakutan.
Lin Kai segera melesat keluar menuju gerbang kediaman Bangsawan Mu Bai. Saat berada di depan gerbang itu, Ia telah mendapati lima penjaga lain sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Setelah mengamati jalanan yang masih sepi dan tidak menemukan satu orang pun, Lin Kai kembali ke dalam ruangan pertemuan.
Sesampainya di ruang pertemuan, Lin Kai mendapati wajah semua orang terlihat pucat. Hanya Bangsawan Mu Bai yang terlihat berbeda.
Lin Kai lalu diberi selembar surat yang telah Xie Han dan Kaisar Liu Feng baca sebelumnya. Wajah Lin Kai pun sedikit berubah, seraut wajah yang kini sedang berada di kota Songdu, membuatnya terlihat khawatir.
********
__ADS_1