
Lu Fang tertegun saat melihat Pedang Yin itu jatuh dan menancap di jasad seorang musuh. Jasad itu seketika membeku seperti es ketika Pedang Yin menyentuh kulit tubuhnya.
“Pedang yang luar biasa. Beruntung sekali Tuan muda Zhu San mengingatkan aku, jika tidak …” Lu Fang menelan ludahnya.
Malam itu, serangan yang direncanakan oleh Qiang Cao berhasil digagalkan dengan kedatangan Zhu San dan Bian Chi walau sedikit terlambat.
Walau keduanya mengalami luka, namun dengan teknik pengobatan tubuh istimewa mereka, luka itu segera sembuh kurang dari satu jam saja.
Keesokan harinya, Kaisar Shi Hung mendapat laporan dari Jenderal Teng Ji, Kepala Intelijen Kekaisaran. Berita itu membuat raut wajahnya berubah kelam.
“Ji’er … Adikmu itu benar-benar sudah keterlaluan. Kali ini aku tidak bisa untuk memaafkannya lagi.” Kaisar Shi Hung menatap ke arah Qiang Ji yang mengangguk tanda setuju.
Sudah terlalu banyak Ia mengalah dan memberi lebih kepada Qiang Cao. Namun kali ini, Ia tak ingin lagi bersikap lunak kepada adik yang berbeda Ibu dengannya itu.
“Ayah, Ibu. Apa yang terjadi?” Bian Chi yang baru saja memasuki ruangan bersama Zhu San, bertanya ketika melihat sang Ayah dan Ibunya berwajah murung dan terlihat marah.
Setelah mendengar penjelasan dan berita dari Jenderal Teng Ji tentang Pamannya Qiang Cao yang telah merebut sebuah Kota besar di wilayah tenggara, Bian Chi terlihat meradang marah.
“Ayah, Izinkan Aku untuk menangkap Paman Qiang Cao dan membawanya ke hadapan Ayah dan Ibu.” Suara Bian Chi terdengar berapi-api saat berkata demikian.
Zhu San hanya tersenyum sebelum berkata yang membuat Bian Chi tertegun kesal. “Aku tidak mengizinkanmu melakukan hal itu. Biar Aku yang melakukannya. Kau harus tetap berada di sisi Ayah dan Ibu saat ini. Aku yang berangkat.”
“San Gege … Kenapa kau melarangku?! Aku ingin ikut dan menghabisi mereka yang mengacau di Kekaisaran Qing ini. “ Bian Chi masih mencoba membantah ucapannya suaminya.
Qiang Ji lalu melerai keduanya yang mulai akan berdebat dengan tersenyum tipis melihat keduanya.
“Chi’er … Jangan membantah suamimu nak. Semua demi kebaikanmu dan kebaikan Kita. Menurutlah padanya.” Bian Chi pun menunduk mendengar ucapan bijak dari sang Ibu.
“Hahahaha … Aku menang, Ibu mendukungku. Jadi menurutlah pada suamimu ini ya cantik!” Zhu San yang merasa menang, meledek Bian Chi dengan berbicara melalui telepatinya.
__ADS_1
Bian Chi hanya bisa melotot lebar ke arah Zhu San, Ia kesal-kesal bahagia melihat hal itu. Perhatian mereka terpecahkan oleh kedatangan Jenderal Luan Hu bersama dua orang perwira lainnya.
“Hormat Yang Mulia.” Setelah memberi salam dan hormatnya, Jenderal Luan Hu lalu memberi informasi bahwa Ia telah mulai mempersiapkan pasukan sejumlah lima belas ribu orang untuk menuju ke Kota Qingxian.
Berdasar informasi yang diberikan oleh Jenderal Teng Ji, Kota Qingxian adalah kota berikutnya yang akan mereka kuasai setelah Kota Qingdao di bagian tenggara.
Apabila kota Qingxian dikuasai oleh Qiang Cao, maka posisi Kota Qingzen akan melemah kekuatannya. Karena Kota di wilayah selatan itu, adalah kota besar ke dua setelah Kota Qingzen.
Kota itu dijaga oleh sekitar lima ribu prajurit dan merupakan kota kedua yang memiliki jumlah prajurit terbesar setelah Kota Qingzen.
“Kapan anda bisa berangkat ke selatan, Jenderal Luan? Semakin cepat semakin baik bukan?” Tanya Kaisar Shi Hung.
“Nanti malam kami akan berangkat yang mulia, sehingga tiga hari kemudian kami akan sampai di Kota Qingxian.” Jawab Jenderal Luan Hu bersemangat.
“Lalu berapa ribu prajurit yang akan menjaga Ibukota?” Tanya Kaisar kemudian.
“Baiklah, dengan ini, Aku memberimu tugas untuk mempertahankan Kota Qingxian.” Kaisar Shi Hung memberikan plakat sebagai pemimpin tertinggi dalam perang kali ini, kepada Jenderal Luan Hu.
***
Tiga hari kemudian, lima belas ribu pasukan Kekaisaran Qing yang dipimpin oleh Panglima Perang mereka berada pada jarak kurang satu kilometer lagi dari kota Qingxian.
Mereka saat ini berada dibalik bukit, yang tidak terlihat dari Kota Qingxian. Saat akan memutari bukit, mereka dikejutkan dengan berlarinya empat ekor kuda yang ditunggangi oleh tiga orang.
Satu orang lain sepertinya telah tewas terkena panah dan menyisakan kudanya saja. sementara satu orang lain, terlihat berkuda dengan anak panah di bahu kirinya.
Empat kuda itu lalu berhenti saat melihat di hadapan mereka, terlihat Jenderal Luan Hu sedang berada di barisan depan bersama Zhu San.
“Lapor kepada Panglima, Kota Qingxian telah berhasil dikuasai oleh musuh.” Orang yang terkena panah itu melapor sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah.
__ADS_1
Zhu San yang pendengarannya sangat tajam, bisa mendengar jika ada derap belasan kuda menuju ke arah mereka yang masih berada di balik bukit.
Ia pun melesat ke udara dan melayang untuk menghadang mereka, membuat Xiong Gi dan Lu Fang yang ikut dalam perang kali ini, segera menyusulnya.
Kedatangan Zhu San yang tiba-tiba turun menghadang, membuat dua belas kuda itu terkejut dan bereaksi dengan sangat tiba-tiba. Hal yang membuat mereka yang menunggangi kuda-kuda itu, sontak melompat agar tidak terjatuh.
“Kurang Ajar! Siapa Kau!” Tanya salah seorang yang berhasil mendarat dengan baik. Zhu San yang kesal, segera saja menyerang mereka dengan jurus Tinten Siba.
Tepat saat Xiong Gi dan Lu Fang datang, Zhu San telah membunuh sebelas orang yang mengejar dan menyisakan satu orang yang kini lehernya sedang dalam cengkramannya.
“Sesepuh, Kita bawa orang ini ke Jenderal Luan, Siapa tahu kita bisa mendapat informasi darinya.” Kata Zhu San setelah menotok tubuh pendekar itu.
Setibanya di hadapan Jenderal Luan Hu, orang out diinterogasi oleh Sang Panglima Perang Kekaisaran Qing, Namun Orang itu terdiam seribu kata.
Zhu San yang kesal, lalu mengambil alih interogasi. Ia yang sempat melihat kalajengking besar di bawah sebuah pohon segera mengambilnya.
“Buka celananya, biarkan kalajengking ini bermain-main dengan pusakanya.”
Wajah pendekar itu seketika memucat melihat kalajengking besar melayang ke arahnya, sementara dua prajurit dengan menahan geli, segera mendekatinya.
“Jangan lakukan.. Baiklah akan ku katakan!” Pendekar itu berteriak panik. Lalu Ia menjelaskan situasi Kota Qingxian saat ini.
Setelah merasa tak ada lagi yang bisa mereka dapatkan, Jenderal Luan Hu memerintahkan prajurit untuk memenggal kepala orang itu.
“Tak ku sangka banyak pendekar tingkat tinggi dari aliran hitam yang berada di kota itu. Situasi ini akan sangat sulit bagi kita.” Lu Fang berkata dengan suara sedikit bergetar.
Zhu San hanya tersenyum mendengarnya, Sebuah rencana terbersit dalam benaknya. Lalu mereka pun mendirikan sebuah tenda besar untuk beristirahat dan menyusun strategi untuk perang esok pagi.
******
__ADS_1