
“Tunggu!”
Merasa diremehkan, Wu Ming pun segera berteriak menahan mereka bertiga. Lalu Ia memandang pendekar yang mengawalnya dan memberi kode untuk segera bertindak.
Pria paruh baya itu, segera mencabut pedang di pinggangnya dan segera menghadang mereka bertiga dengan menghunuskan pedang ke arah Nenek Lin Mi.
“Kalian sudah meremehkan Tuan muda kami, Kalian tak akan kami biarkan keluar dari Kota ini begitu saja kecuali karena satu hal!”
Pria paruh Baya berkata seraya memandang ke arah Ju Yan, yang kini terlihat sudah marah melihat apa yang dilakukan oleh Pria tersebut kepada Gurunya.
“Apa satu hal itu? Cepat katakan!” Walau ada pedang terhunus ke arahnya, Lin Mi tidak merasakan gentar sedikitpun akan hal itu saat Ia membentak pria paruh baya itu.
“Kalian boleh meninggalkan kota ini, setelah pemuda muridmu itu, berhasil mengalahkan Tuan Muda Wu Ming dalam duel satu lawan satu.”
Pria paruh baya itu tersenyum setelah Ia berkata seperti itu. Ia sangat paham dengan keinginan tuan muda Wu itu, yang suka mengajak pemuda se-usianya untuk beradu ilmu beladiri.
Namun senyum pria itu berubah menjadi kemarahan saat mendengar perkataan Ju Yan berikutnya.
“Baiklah jika begitu, Aku akan melawannya dengan satu tanganku saja.” Ju Yan segera melangkah ke hadapan Wu Ming, seraya menarik tangan kirinya ke belakang pinggang.
Sikap percaya diri yang ditunjukkan Ju Yan, membuat wajah Wu Ming menjadi merah karena menahan marah.
Enam prajurit segera mundur untuk memberi ruang bagi keduanya bertarung. Demikian juga dengan Nenek Lin Mi dan Bian Chi.
Semua orang pun akhirnya berdatangan untuk melihat pertarungan itu. Saat itulah, Bian Chi kembali melihat Zhu San berada di sisi yang berbeda dengannya.
Dengan percaya dirinya, Zhu San pun lalu melambaikan tangannya ke arah Bian Chi yang seketika membuang wajahnya untuk melihat pertarungan Kakak seperguruannya yang akan segera dimulai itu.
Dahi Nenek Lin Mi pun mengerut, melihat aksi Zhu San yang pandangannya terarah pada dirinya dan Bian Chi saat melambaikan tangannya.
Namun karena Wu Ming sudah bergerak menyerang Ju Yan, perhatian Nenek Lin Mi pun segera teralihkan. Namun Nenek Lin Mi kembali terkejut saat melihat jurus tendangan yang digunakan oleh Wu Ming.
__ADS_1
“Jurus Tendangan kaki Baja!”
Lin Mi berdesis saat Ia mengenali jurus yang digunakan Wu Ming yang sedang menyerang Ju Yan dengan tendangan beruntun.
Namun Jurus tendangan yang hebat itu, dengan mudahnya ditangkis oleh Ju Yan dengan menggunakan satu tangan saja.
Bukan hanya itu saja, ketika pertukaran serangan memasuki ke dua puluh kali, Ju Yan berhasil mendaratkan serangan tapaknya dengan telak ke dada lawan.
Hal itu membuat Wu Ming terpental sejauh lima meter dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Pria paruh yang menjadi pengawal Wu Ming, segera akan bergerak dengan pedang yang terhunus. Namun Nenek Lin Mi segera melompat dan berdiri diantara mereka.
“Tunggu! … Darimana Kau mempelajari Jurus Tendangan Kaki Baja itu?”
Lin Mi segera bertanya kepada Wu Ming yang baru saja bangkit dengan dada yang terasa sesak.
“Tentu Saja dari Guruku Lin Kai.” Wu Min menjawab dengan tegas. Ada rasa bangga terdengar dari ucapannya. Dan Ia pun kembali terbatuk-batuk setelah berkata demikian.
“Lin Kai katamu? Dimana dia sekarang?! Katakan padanya, sepupunya Lin Mi akan menghajarnya karena telah mengangkat murid sombong seperti dirimu!”
“Bibi Guru … Mohon maafkan muridmu yang buta ini, Jika Bibi Guru berkenan, Mohon sudi singgah ke kediaman Ayahku.”
Wu Ming segera berlutut dan memberi hormat kepada Nenek Lin Mi.
Namun sebagai orang yang telah lama hidup, Lin Mi tidak mudah untuk bisa ditipu, oleh pemuda berusia sekitar dua puluhan tahun itu. Ia tersenyum tipis sebelum berkata lagi.
“Aku bertanya dimana Lin Kai sekarang?! Bukan hendak mengunjungi rumah orang tua mu? Katakan dimana dia.”
Wu Ming tersedak ludahnya sendiri, Ia pun terdiam sejenak, saat menemukan kata-kata yang dianggapnya benar Ia pun segera berkata dengan wajah serius.
“Guru Lin Kai sedang berkelana dan seminggu ke depan, Beliau akan kembali ke kediaman Ayahku untuk melatih diriku kembali.”
__ADS_1
Wu Ming tersenyum dalam hatinya, saat melihat Nenek Lin Mi termenung mendengar apa yang dikatakannya.
Zhu San yang mengetahui bagaimana kondisi Guru Keduanya itu, merasa geram mendengar perkataan bohong Wu Ming.
Namun Ia tak ingin gegabah mengungkapkan kebenaran yang Ia ketahui. Setelah melihat bahwa Nenek Lin Mi sepertinya akan percaya pada kata-kata Kakak seperguruannya itu, Zhu San akhirnya mendekat lalu segera berkata.
“Tuan Muda yang Tampan, benar Katamu jika Sesepuh Lin Kai sedang berkelana. Tapi dia saat ini sedang berada di kota Baixan dan dalam keadaan yang menyedihkan dan tidak mungkin akan kembali ke sini.”
Lin Mi dan Ju Yan menatap heran pada Zhu San yang berwajah sangat jelek itu. Namun tidak dengan WU Ming.
Ia menjadi sangat marah mendengar pemuda berwajah sangat jelek itu, mengatakan secara tidak langsung jika dirinya telah berbohong.
Namun Wu Ming tidak berani gegabah di hadapan Nenek Lin Mi. Ia juga menyadari Jika Ju Yan muridnya saja sudah begitu tinggi kemampuannya, apalagi Gurunya.
“Menyedihkan? Apak maksudmu dan bagaimana Kau bisa mengetahui hal itu?”
Kini Zhu San yang menjadi tatapan semua orang yang memandang remeh dirinya.
Selain karena wajah jelek dan tubuhnya yang terbilang pendek itu, Zhu San juga terlihat miskin dengan jubah yang sobek di beberapa bagian.
“Namaku Mo Heng sesepuh. Beberapa bulan yang lalu, Aku mendengar jika dua jagoan tua aliran putih bertarung melawan dua orang jagoan dari kekaisaran Wei yang bisa terbang. Dua jagoan itu bernama Fu Kuan dan Lin Kai.”
Zhu San lalu menceritakan lebih lanjut jika kedua jagoan putih itu, kalah dan kehilangan tenaga dalamnya.
Tentu saja bagi pendekar, hal itu adalah hal yang sangat menyedihkan melebihi kematian itu sendiri. Bahkan banyak yang memilih mati daripada harus kehilangan tenaga dalamnya.
“Apakah bisa dipercaya perkataanmu itu? Apakah benar dia sekarang berada di Kota … apa tadi kau bilang?”
“Kota Baixan Sesepuh … Aku akan mengantar sesepuh ke kota Baixan jika ingin menemui Sesepuh Lin Kai. Jika Aku berbohong, Sesepuh boleh membunuhku setibanya di sana”
Zhu San tersenyum gembira dalam hatinya saat melihat Nenek Lin Mi menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataannya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Wu Ming tentu saja sangat marah, namun Ia hanya menyimpannya, saat melihat ketiga orang itu, melangkah pergi mengikuti Mo Heng, nama yang disebutkan oleh Zhu San tadi.
******