
“Paman Kuan … Apakah Paman bisa ikut denganku menuju ke kota Baixan?” Zhu San bertanya kepada Tan Kuan, setelah setengah jam yang lalu Ia kembali dari Balaikota Shinzu.
Tam Kuan sangat senang setelah Ia mengetahui bahwa salah satu pendekar yang membunuh Kakak Angkatnya telah tewas dibunuh oleh puteranya sendiri.
Namun Ia menggelengkan kepala, saat Zhu San mengajaknya untuk pergi ke kota Baixan. Ia memiliki janji dengan Yu Mei dan juga dengan seseorang yang tidak bisa Tan Kuan sebutkan kepada Zhu San.
Zhu San pun tidak mengejarnya, Ia bisa melihat jika ada kedekatan diantara pamannya dengan Bibi Yu Mei.
Dan tentang siapa seseorang yang tidak bisa Tan Kuan sebutkan kepadanya, Zhu San tidak bertanya lebih lanjut. Karena Ia memahami bahwa setiap orang memiliki rahasianya sendiri.
Tan Kuan lalu menjelaskan sedikit bahwa Ia akan memperdalam teknik pedang Perak dan Tinju Perak dalam kitab yang saat ini sedang Yu Mei Bawa.
Kitab tersebut itu adalah kitab warisan keluarga Yu Mei yang berisi Jurus terakhir dari Jurus Pedang Perak dan Tangan Perak. Dan mereka berdua akan melatihnya bersama-sama.
“Baiklah jika begitu rencana paman. Seandainya Paman nanti ada waktu, Aku ingin paman mengunjungi Kota Baixan. Aku yakin kekuatan Paman sangat dibutuhkan di sana.” Kata Zhu San.
Tan Kuan tersenyum, lalu segera memeluk Zhu San yang segera berpamitan untuk menyusul Ibunya yang sedang dalam perjalanan ke Kota Baixan.
Zhu San dan Song Ruo segera melesat ke arah Utara dengan teknik peringan tubuh mereka yang tinggi.
Setelah melewati lahan pertanian yang kini menjadi miliknya, Zhu San meninggalkan Kota kelahirannya yang kini Ia dipimpin oleh satu orang prajurit yang dulu menjadi wakil komandan Jenderal Mao Sheng.
“Apakah menurutmu jalan ini yang dilalui oleh rombongan Ibumu?” Tanya Song Ruo.
Zhu San menganggukkan kepalanya. Saat itu mereka telah berada jauh dari lahan pertanian dan berada di jalan besar yang menuju ke utara.
Zhu San lalu menjelaskan bahwa Ia juga belum pernah melewati jalan ini. Namun dalam peta yang pernah Ia lihat, jalan ini memang jalan lain menuju ke kota Baixan tanpa harus melewati Ibukota Shangyu.
Keduanya berbincang-bincang selama dalam perjalanan, yang menggunakan teknik peringan tubuh mereka yang tinggi itu.
__ADS_1
Namun saat mereka telah satu jam menempuh perjalanan, penciuman Zhu San yang tajam merasakan adanya bau busuk dan anyir darah.
Firasat buruk segera menghinggapi benak Zhu San. Song Ruo menyadari hal itu, setelah mereka tiba di sebuah bukit yang sisi kanannya membentang jurang yang sangat dalam.
Kereta kuda dan mayat-mayat yang mulai membusuk, segera Zhu San dan Song Ruo temui, saat mereka tiba ditengah-tengah bukit kecil itu.
Tubuh Zhu San seketika gemetar hebat, saat mengenali beberapa mayat yang tak lain adalah anggota pasukan Heise.
“San’er … Apakah kau mengenali mereka?” Tanya Song Ruo saat melihat ekspresi wajah Zhu San yang berubah.
“Ini … Mereka anggota pasukan Heise yang mengawal Ibu dan Paman Rei Ji.” Suara Zhu San terdengar bergetar.
Song Ruo terkejut,
Kini Ia menyadari telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap rombongan Isteri Kakak Angkatnya.
Zhu San segera berkeliling ke sana kemari, Ia akhirnya menemukan delapan jasad Pasukan Heise yang salah satunya jasad perempuan.
“San’er ada jejak darah mengarah ke jurang!” Song Ruo berteriak memanggil Zhu San. Dengan cepat Zhu San melesat ke arah Song Ruo yang kini berada di tepi jurang.
“Ini … Ini Katana Paman Rei Ji!” Suara Zhu San bergetar hebat. Sesuatu yang buruk telah terjadi dengan Paman Eji dan kemungkinan hal yang sama terjadi pada Ibunya.
Mata Zhu San mulai berkaca-kaca. “Lihat .. sepertinya ada kain berada di bawah sana?” Song Ruo dengan suara yang bergetar berkata kepada Zhu San yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Song Ruo.
Zhu San segera melayang dan melesat turun, Ia tertegun, darah di tubuhnya mendidih saat mengenali potongan kain yang biasa digunakan oleh Ibunya itu.
Hal yang lebih memilukan Zhu San adalah jasad Ibunya sudah tidak terlihat lagi, hanya beberapa potongan kecil yang sepertinya telah dicabik-cabik oleh hewan buas.
Zhu San menyusuri tempat di dasar jurang dan berhasil mengumpulkan potongan kecil daging dan tulang tubuh yang tersisa sedikit itu.
__ADS_1
Ia Lalu menggali tanah dengan pedangnya dan menguburkan sisa tubuh yang diyakini olehnya adalah bagian dari tubuh sang Ibu.
Zhu San juga mengubur kain yang Ia ketahui Biasa dikenakan oleh Paman Rei Ji.
Sambil menahan kepedihannya, Zhu San Segera kembali ke atas karena sudah sejak dari tadi, Song Ruo memanggil-manggil dirinya. Setengah jam lebih Zhu San berada di dasar jurang.
Song Ruo terkejut saat mendapati pipi Zhu San telah dialiri oleh air dari matanya. Song Ruo segera memeluk Zhu San yang baru saja memberitahunya dengan suara yang bergetar, tentang apa yang Ia lakukan di dasar jurang itu.
“San’er … Tabahlah Semua sudah ditetapkan oleh langit.” Hanya itu yang bisa Song Ruo Katakan untuk menghibur Zhu San. “Mari Kita lanjutkan perjalanan ke Kota Baixan, Pamanmu harus segera kita beritahu tentang hal ini.” Lanjut Song Ruo.
Zhu San menganggukkan kepalanya. Setelah menguburkan Jasad delapan orang Pasukan Heise yang mulai membusuk itu, Zhu San dan Song Ruo segera melesat perlahan ke arah utara.
***
“Apa Rong’er telah tewas..?!” Tubuh gemuk Bangsawan Mu Bai seketika oleng dan jatuh terduduk di lantai, saat dua hari kemudian Zhu San dan Song Ruo Tiba di Kota kelahiran Ibunya.
Bangsawan Mu Dao segera mendekati Kakak sepupunya yang tengah terdiam dengan mata yang berlinang dan wajah yang terlihat jauh lebih tua dari sebelumnya.
Ia sangat paham betapa terpukulnya sang Kakak yang kehilangan adik perempuan satu-satunya yang sangat disayanginya itu.
Zhu San hanya diam dalam kesedihan melihat bagaimana menderitanya Kakak Ibunya itu. Zhu San berusaha tegar menghadapi kenyataan pahit yang kini sedang memeluk dirinya dengan sangat erat.
Beberapa saat kemudian, Fu Kuan dan Lin Kai beserta Qin Rui, tiba di dalam ruangan. Dan mereka terkejut saat melihat Bangsawan Mu Bai sedang menangis sedih.
“Apa!!” Lin Kai dan Fu Kuan pun tersentak kaget saat Zhu San menjelaskan situasi yang baru saja terjadi di kota Shinzu beberapa hari yang lalu.
Wajah Tua kedua guru Zhu San itu, terlihat sedih dan sangat marah. Mereka tentu saja tidak bisa menerima begitu saja, apa yang dilakukan oleh aliran hitam terhadap sahabat baik mereka.
Kehilangan sahabat sebaik Pendekar Seribu Wajah, adalah hal yang sangat menyedihkan, mengingat banyak jasa yang telah lakukan oleh Sosok Pendekar Tua itu.
__ADS_1
*****