Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
253: Pertempuran di Gerbang Barat II


__ADS_3

Saat Tian Long terpental terkena tendangan Qiu Lan dan memuntahkan darah segar, Yang Xio melihatnya dengan cemas. Ia dan Xin Qung, berada dua puluh meter dari pertarungan Tian Long dan Qiu Lan.


Karena konsentrasinya yang terpecah, Ia pun harus terdesak oleh Xin Qung, Sang Iblis Bukit Pelangi.


Xin Qung memanfaatkan dengan baik pecahnya konsentrasi lawan. Ia mengubah serangan dengan jurus yang lebih kuat. Jurus Iblis Mengoyak Langit.


Kini kedua tapak tangan Xin Qung telah dilingkari oleh cahaya berwarna ungu. Yang Xio yang mengetahui kehebatan jurus yang digunakan lawan, segera mengeluarkan jurusnya yang lebih kuat.


Jurus Awan Melindungi Bumi segera Ia gunakan untuk menghadapi jurus lawan. Kedua tangan Yang Xio pun kini telah dilingkari oleh cahaya berwarna keperakan.


Pertarungan keduanya kembali berlangsung dengan sengitnya. Serangan tapak yang mengandung energi kuat, silih berganti dilakukan oleh mereka.


Xin Qung sedikit kesal karena Yang Xio mendapatkan kembali konsentrasi penuhnya. Kali ini Ia kesulitan untuk mendesak musuh bebuyutannya itu.


Bahkan Yang Xio berhasil mendesak Xin Qung dengan jurus Awan Melindungi Bumi. Beberapa kali serangan tapak Yang Xio, hampir mengenai kepala Xin Qung.


Xin Qung yang kesal karena terdesak, segera melesat menjauh. “Boleh juga Kau Tua Bangka Xio! Tapi jangan senang dulu.”


Xin Qung mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik jubahnya. Yang Xio menatap tajam ke arah benda berbentuk taring sepanjang satu jengkal itu.


“Sepasang Tanduk Iblis!? Jadi dia yang memiliki pusaka jahat yang melegenda itu.” Yang Xio menelan ludahnya. Firasatnya seketika memburuk saat Ia melihat senjata Xin Qung.


“Kau Orang pertama yang memaksaku menggunakan Senjata Pusaka ini, Tua Bangka Xio. Berbahagialah karena Kau mendapat kehormatan menjadi orang pertama yang ku bunuh dengan senjata ini. Hahahaha.”


Xin Qung tertawa lebar karena Ia bisa memastikan kemenangannya, saat melihat wajah Yang Xio yang memburuk setelah mengenali senjata di tangannya.


Yang Xio pun mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Senjata pusaka yang jarang Ia gunakan selama dua puluh tahun sejak ia memilikinya.


“Kau ingin melawan kehebatan pusakaku dengan cambuk kecil seperti itu? Hahahaha … Kau sudah putus asa rupanya.” Xin Qung tertawa dengan sombongnya.


CTAR!!!

__ADS_1


Namun tawa Xin Qung menghilang seketika saat Yang Xio melecutkan cambuknya ke udara. Cambuk tersebut seketika menjadi besar setelah dialiri tenaga dalam.


“Kau boleh saja meremahkan Cambuk Naga Api ini. Tapi sesaat lagi kau akan gemetar setelah mengetahui kehebatannya.”


Xin Qung menjadi geram mendengar ucapan Yang Xio. Ia segera menggerakkan tangannya ke udara di depannya. Seketika itu juga melesat dua buah larik sinar yang tiba-tiba berubah menjadi dua buah tombak energi.


Yang Xio segera melecutkan cambuk ke udara di depannya. Dua energi melesat dari ujung cambuk dan membentuk perisai yang menghadang laju kedua tombak energi itu.


BLAR BLAR


Dua ledakan besar membuat udara berfluktuasi, Baik Yang Xio maupun Xin Qung sama-sama terpental belasan meter akibat benturan kedua energi yang meledak itu.


“Boleh juga senjatamu!” Xin Qung mengusap darah yang menetes pelan dari sudut bibirnya bersamaan dengan Yang Xio yang juga melakukan hal yang sama.


Saat itulah Yang Xio melihat Tian Long kembali terpental karena menahan tendangan kuat dari Qiu Lan. Namun saat Qiu Lan akan menyerang kembali, Mata Yang Xio melotot lebar melihat sebuah pedang bergerak menghadang Qiu Lan.


Bukan hanya Yang Xio yang terkejut melihat datangnya pedang yang bisa melayang sendiri itu. Gao Yan dan Qiu Lan juga terkejut dengan kedatangan pedang yang mengeluarkan hawa sangat panas itu.


Wajah Tian Long seketika berubah, Ia sebenarnya tidak yakin bisa menghadapi Qiu Lan. Kedatangan Zhu San dan Bian Chi memberi harapan baru kepada pihak Aliansi Pendekar Aliran Putih.


“San’er … Akhirnya Kau tiba juga. Kekuatan Dewi Kematian itu benar-benar tinggi. Selain itu aku merasakan adanya kejanggalan pada tubuh istimewanya itu. Berhati-hatilah.”


Zhu San sedikit tersentak, rupanya bukan hanya dirinya yang merasakan keganjilan dari tubuh Dewi Kematian itu.


“Baiklah Kek … Biar kami berdua yang menghadapinya sebagaimana yang ditugaskan oleh Roh Leluhur dalam Pedang kami.” Ucap Zhu San sambil menarik kembali Pedang Yang.


Tian Long mengangguk lalu melihat ke arah pertarungan Tang Yun dan Ruan Lao serta Zhang San yang berjarak lima puluh meter darinya.


“Aku akan membantu mereka menghadapi Sepasang Pendekar Hantu.” Tubuh Tian Long segera melesat setelah Ia berkata demikian.


Zhu San menatap tajam ke arah Gao Yan yang kini telah berada di samping Qiu Lan. Dua pasang suami isteri itu pun telah bersiap untuk bertarung.

__ADS_1


“Zhu San … Mari kita selesaikan masalah kita yang dulu. Hari ini Aku akan membalas kematian adikku. Bersiaplah untuk mati.”


Selepas berkata demikian, Gao Yan melesat ke arah Zhu San dengan jurus terkuatnya. Zhu San segera menyambut serangan, setelah memasukkan Pedang Yang ke dalam Cincin Ruangnya.


Dengan jurus Tapak Pembalik Langit level satu, Gao Yan menyerang Zhu San dengan sangat brutal karena terbakar api dendam. Sementara Bian Chi dan Qiu Lan masih diam dan melihat pertarungan suami mereka.


Serangan-serangan tapak dari Gao Yan yang gencar dan brutal itu, berhasil dihadapi Zhu San dengan Jurus Tinten Siba yang telah meningkat pesat sejak menggunakan energi qi.


Beberapa kali tapak mereka bertemu di udara dan Gao Yan selalu terjajar dua langkah setiap hal itu terjadi. Qiu Lan memandang dengan santai, Ia telah mengetahui jika Kekuatan Gao Yan bukan pada tenaga dalam, melainkan pada kekuatan jurusnya.


Setelah bertukar serangan lebih dari lima puluh kali, terlihat Gao Yan mulai terdesak hebat. Ia pun menjadi kesal karena serangan Tinju dari Zhu San nyaris mengenai kepalanya.


“Apakah kita akan menonton mereka saja?” tanya Qiu Lan kepada Bian Chi. “Tentu saja tidak. Mari kita mulai pertarungan kita.” Jawab Bian Chi yang segera mengeluarkan Pedang Yin dari Cincin Ruangnya.


Qiu Lan merasakan hawa sangat dingin dari pedang di tangan Bian Chi. Ia pun diam sambil menatap ke arah Pedang Yin.


“Jadi benar mereka berdua adalah Pendekar Yinyang Sejati itu. Apakah nasibku akan sama dengan seribu tahun lalu? Akan ku lihat sejauh mana kemampuan mereka saat ini. Apakah lebih kuat dari yang dulu atau sebaliknya.”


Qiu Lan yang mengenakan gaun berwarna hitam terlihat santai walau akan melawan Bian Chi. Dengan Gaun Hitam itu Ia merasa bisa menghadapi serangan jurus pedang Bian Chi .


Bian Chi sedikit heran melihat Qiu Lan akan bertarung dengannya tanpa menggunakan senjata. “Mengapa kau tak mengeluarkan senjatamu? Kau meremehkan Aku?”


Qiu Lan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Bian Chi. “Kata siapa aku tidak menggunakan senjata? Kau akan tahu apa senjataku setelah kau menyerangku.”


Bian Chi mendengus kesal mendengar ucapan Qiu Lan. Namun Ia menekan amarahnya dan mencoba menebak, senjata macam apa yang akan digunakan oleh Dewi kematian itu.


Setelah hampir beberapa menit berlalu, Bian Chi belum juga bergerak. Qiu Lan pun mengejeknya dengan suara yang meremehkan.


“Sepertinya kau takut kepadaku ya… Jika begitu menyingkirlah jauh-jauh dari hadapanku.”


Wajah Bian Chi seketika mengelam mendengar ucapan Dewi kematian. Tubuhnya tiba-tiba menghilang dari pandangan dan telah berada di belakang Qiu Lan yang tersentak kaget.

__ADS_1


----------------------O---------------------


__ADS_2