
“Bodoh! … Apa Kau pikir dengan Kematianmu masalah yang kau timbulkan akan selesai!”
Shen Rong yang telah berkelebat lebih dulu dan bergerak tiga kali lebih cepat dari Zhu Han, berhasil merampas pisau tersebut dan melemparnya ke dinding. Ia pun lalu memarahi Kaisar Liu Feng.
“Aku telah hidup lebih dari seribu tahun dan baru kali ini Aku bertemu dengan seorang Kaisar yang seperti dirimu!”
Kaisar Liu Feng yang tadi terkejut dengan ucapan Shen Rong yang berani mengatakan dirinya bodoh, menjadi bingung setelah mendengar ucapannya Shen Rong tentang hidup lebih dari seribu tahun.
“Kau memiliki orang-orang yang sangat setia dan rela berkorban apapun demi dirimu dan negeri ini. Tetapi kau malah mencurigai dan ingin mencelakakan mereka. Jika saja Muridku Ling’er tidak memohon kepadaku untuk membiarkan kau tetap hidup, sudah sedari tadi kau mati di tanganku.”
Semua orang tertunduk melihat Shen Rong terlihat sangat marah, bahkan Lin Kai diam seribu bahasa, melihat kemarahan sosok yang Ia panggil leluhur itu.
“Leluhur … Mohon ampuni Yang Mulia Kaisar, beliau memang telah salah langkah. Mohon beri kesempatan padanya sekali lagi.”
Kaisar Liu Feng benar-benar heran melihat Seorang Kakek dan Pendekar hebat seperti Fu Kuan, terlihat begitu sopan dan hati-hati saat berbicara dengan pria yang terlihat lebih muda darinya itu.
Shen Rong menghela nafas panjang. Ia tidak menanggapi perkataan Fu Kuan dengan kata-kata melainkan dengan menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.
“Yang mulia Kaisar … Mohon Maafkan Sikap dan Perkataan Leluhur Shen Rong.”
Bangsawan Mu Bai yang sedari tadi diam segera, menghampiri Kaisar Liu Feng dan menjelaskan siapa sebenarnya Shen Rong dan mengapa mereka memanggilnya leluhur.
Raut wajah Kaisar Liu Feng, terlihat pucat setelah mengetahui jatidiri Shen Rong. Yang bisa Ia lakukan adalah berterimakasih kepada mereka semua yang telah menyelamatkannya dari kematian.
***
Tiga hari kemudian, saat senja hari, datang sebuah surat dari merpati pos. Surat itu dikirim dari sebuah desa yang terletak di pertengahan antara kota Baixan dan kota Shangyu.
Xie Han yang kini ditunjuk sebagai Pemimpin pasukan kota Baixan, mengerutkan dahinya setelah selesai membaca surat tersebut.
__ADS_1
Dengan raut wajah khawatir, Ia bergegas menemui Fu Kuan dan Lin Kai. “Sesepuh … Ada informasi yang baru datang.” Xie Han segera memberikan surat tersebut kepada Fu Kuan.
Wajah Fu Kuan dan lin Kai terlihat tegang setelah selesai membaca surat itu. Lima belas Ribu Pendekar yang akan datang untuk menyerbu Kota Baixan, bukanlah kekuatan yang kecil.
Hal itulah yang membuat dahi Fu Kuan dan Lin Kai mengerut. Terlihat kekhawatiran di wajah mereka karena dalam suratnya disebutkan sekitar dua puluh orang bisa melayang di udara.
Hal itu menunjukkan jika kekuatan tempur mereka sangatlah besar. Selain itu dalam surat juga disebutkan bahwa permaisuri Qiu Lan dan seorang pengawal pribadinya, memimpin langsung Pasukan Khusus itu.
“Kita harus mendiskusikan hal ini dengan leluhur Shen … Han’er dimanakah gurumu saat ini?” Tanya Fu Kuan.
“Guru sedang bermeditasi di bukit sebelah utara kota ini. Aku akan menemuinya sekarang juga.” Ucap Xie Han sembari bersiap untuk melesat ke udara.
“Tidak Han’er … Biarkan Kami yang kesana. Kau beritahu yang lainnya tentang hal ini.” Setelah mengembalikan surat itu kepada Xie Han. Fu Kuan dan Lin Kai melesat ke arah utara Kota Baixan.
Dua menit kemudian, keduanya tiba di bukit tersebut dan melihat Shen Rong sedang duduk bermeditasi di sebuah batu besar yang berada di bawah pohon.
“Sepertinya ada hal penting yang membuat kalian datang menemuiku disini.” Shen Rong berkata setelah Fu Kuan dan Lin Kai menjejakkan kakinya di tanah.
Shen Rong yang masih memejamkan mata saat Fu Kuan bercerita, segera membuka matanya dengan lebar.
“Apakah Pendekar yang bisa melayang begitu menakutkan bagi kalian?” Pertanyaan Shen Rong membuat Fu Kuan menjadi bingung menjawabnya.
“Kami tidak pernah takut dalam bertarung, tetapi jumlah mereka yang bisa melayang, dua kali lipat dari jumlah Kami yang hanya delapan orang. Artinya para prajurit dalam bahaya besar dengan melawan mereka.”
Penjelasan Lin Kai membuat Shen Rong menarik nafas panjang. “Jika Dewi Kegelapan tidak bersama mereka, dua puluh orang itu bisa ku habisi sendirian. Ternyata dia telah mengetahui keberadaanku .”
Suara Shen Rong lebih terdengar seperti keluhan daripada menyombongkan diri. Keluhan terhadap kenyataan bahwa Ia harus bertarung dengan Dewi Kegelapan dan tidak bisa melindungi yang lainnya.
Satu-satunya harapan adalah Perisai Pelindung yang akan Ia buat. Hanya Dewi Kematian yang bisa menghancurkan Perisai Pelindung itu. Untuk Itu Shen Rong pun mengutarakan rencananya.
__ADS_1
Fu Kuan dan Lin Kai termangu, antara paham dan tidak dengan apa yang dimaksud Perisai pelindung. “Bagaimana cara membuat perisai bagi kota seluas Baixan?” Pertanyaan itu, bercokol erat di benak kedua Guru Zhu San.
“Kapan mereka akan Tiba di Kota Baixan?” Fu Kuan lalu menjelaskan bahwa paling lambat besok siang mereka telah berada di tembok Pagar sebelah selatan dari pusat kota Baixan.
“Baiklah malam ini juga aku Akan membuat Perisai pelindung. Sampaikan kepada penguasa Kota agar menutup semua jalan masuk dan Keluar kota.”
Setelah berkata demikian, Shen Rong lalu mengambil sesuatu dari Cincin Ruangnya. Delapan Buah Anggur Biru terlihat menebarkan Aura Kekuatan yang sangat besar.
“Bagikan buah ini kepada delapan orang yang bisa melayang. Buah Ini berkhasiat untuk mengembalikan energi dengan cepat.”
Fu Kuan menerima buah itu lalu memberikan dua buah kepada Lin Kai untuk dan isterinya Qin Ji.
Namun saat dalam perjalanan, Lin Kai meminta dua buah lagi untuk dirinya dan Sang Isteri. “Untuk apa kau meminta dua buah lagi?” Tanya Fu Kuan keheranan.
Lin Kai terdiam sejenak, Membuat Fu Kuan semakin penasaran.”Besok malam adalah waktu bagiku untuk mencangkul sawah. Jika tenaga ku habis habis dalam pertarungan besok siang, bagaimana aku bisa mencangkulnya.”
Mata Fu Kuan melotot lebar mendengar perkataan Lin Kai yang terdengar mengeluh itu. “Dasar Tua Bangka keriput … Bisa-bisanya Kau memikirkan hal itu di saat genting seperti ini.”
Lin Kai tertawa mendengar ucapan Fu Kuan. Saat hendak berkata-kata lagi, Shen Rong melesat mendahului mereka dengan kecepatan yang begitu tinggi.
“Mengapa Leluhur Shen seperti terburu-buru menuju kota Baixan. Apakah ada hal yang berbahaya?” Fu Kuan menyuarakan keheranannya.
“Mungkin saja, jika tidak mengapa Ia begitu terburu-buru kembali.” Lin Kai setuju dengan apa yang Fu Kuan katakan.
Keduanya segera melesat dan mendapati Shen Rong sedang, mematung ke arah selatan dengan dahi yang berkerut.
“Kekuatan besar yang baru muncul ini, apakah itu adalah kekuatan miliknya? Jika benar, situasi ini akan semakin sulit untuk ku hadapi sendirian. San’er … Cepatlah Kalian keluar dari Alam Jiwa, Aku tak akan mampu melindungi mereka semua dengan kehadiran sosok yang satu ini.”
Shen Rong berkata dengan sedikit rasa Khawatir di hatinya. Jika dugaannya benar, maka akan banyak jatuh korban di pihaknya.
__ADS_1
-------------------------O--------------------------------