Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
127: Bian Chi Beraksi


__ADS_3

Tidak Hong Qi dan Ren Jian duga jika kedua energi berbentuk naga dengan warna yang berbeda itu, memiliki kekuatan yang sanggup bertahan dari serangan energi tenaga dalam mereka.


Walau sudah mengerahkan delapan puluh persen tenaga dalamnya, nyatanya bentuk ular naga itu tidak hancur, hanya sedikit merubah bentuknya. Sebaliknya energi tenaga dalam mereka yang meledak dan menggelegar tadi.


Kedua bayangan ular naga itu, terus melaju dan berhasil mengenai mereka. Kaki kanan Hong Qi sebatas lutut, kini telah hilang karena terputus dengan potongan kakinya yang hitam legam karena hangus terbakar energi Naga yang berwarna merah itu.


Nasib yang lebih baik di alami oleh Ren Jian, namun tetap saja rasa sakit dan terkejut, membuat wajahnya pucat, saat menyadari tangan kanannya telah putus dan tongkat darahnya terpental belasan meter membeku bersama potongan tangannya.


Ke dua pendekar dari kekaisaran Qing itu, terlihat melesat menjauhi tembok pagar dimana Zhu San sedang berbincang dengan Bian Chi melalui telepatinya.


“San Gege! … Sehebat itukah Jurus Tapak Naga Yinyang itu?” Bian Chi bertanya melalui telepatinya.


“Baru kali ini Aku menggunakannya dengan menggunakan tenaga dalam sebanyak delapan puluh persen.” Jawab Zhu San.”Apakah Kau belum pernah menggunakannya jurus itu?” Zhu San balik bertanya.


“Aku baru menemukan kitab Yinyang beberapa minggu lalu, jadi belum sempat mempelajari dan melatih jurus di dalamnya.”


Zhu San pun tersenyum tipis, ada banyak hal yang ingin Ia tanyakan. Namun melihat kedua orang Kakek itu telah selesai menormalkan tenaga dalamnya, Zhu San menghentikan percakapan dengan Bian Chi.


Ia pun segera melesat ke arah dimana kedua Kakek itu berada setelah menarik kembali energinya yang berbentuk dua ekor naga berbeda warna itu. Kedua Kakek itu, kini memandang Zhu San dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


“Sehebat inikah Tubuh Yinyang Sejati itu? Sungguh kekuatan yang luar biasa!” keduanya memandang Zhu San dengan berkata hal yang sama dalam benak masing-masing.


Satu-satunya hal yang mereka sesali adalah menerima undangan Luo San dan tergiur dengan hadiah yang dijanjikan olehnya.


Jika saja mereka berdua tahu, bahwa hal itu akan membuat mereka bertemu dengan sosok seperti Zhu San, mungkin mereka akan menolaknya.


Hal itu karena konsekuensinya yang sangat besar yaitu kehilangan nyawa di tangan pemuda yang kini tengah menatap keduanya dengan tatapan setajam mata elang.


“Apakah kalian masih ingin melawan? Jika begitu kalian akan mati perlahan yang mungkin saja akan sangat sakit untuk dirasakan.” Zhu San menyeringai sambil mengeluarkan Pedang Yinyang dari Cincin Jiwa di jari manisnya.

__ADS_1


Pedang yang bilahnya berwarna merah dan biru itu, terlihat muncul dari ruang hampa membuat mata kedua kakek itu melotot lebar melihatnya.


Wajah mereka sedikit memucat, keduanya saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya mengangguk untuk melawan Zhu San habis-habisan, walau kondisi tubuh mereka tidak memungkinkan untuk bertarung dengan maksimal.


“Kau pikir bisa membunuh kami dengan mudah hah!” Ren Jian yang kesal segera menjulurkan tangan kirinya. Sesuatu yang ganjil terjadi.


Tongkat Darah yang masih terbungkus oleh lapisan es itu, tiba-tiba melesat dan telah berada dalam genggaman tangan Ren Jian dalam waktu kurang dari dua detik.


”Tongkat Darah ini bukan tingkat pusaka biasa, Jangan Kau meremehkannya jika tidak ingin menyesal!” Ren Jian berkata lalu memejamkan matanya.


Hal yang sama dilakukan oleh Hong Qi yang kaki kanannya telah buntung dengan luka yang telah menghitam gosong hingga darah pun enggan untuk keluar dari bagian luka itu.


Sesaat kemudian kedua senjata di tangan kedua pendekar Aliran Hitam Kekaisaran Qing itu mulai mengambang di udara saat Hong Qi dan Ren Jian membuka genggaman tangannya.


Zhu San hanya tersenyum, Ia segera melempar pedang Yinyang ke udara. Pedang itu pun melayang di depan mata Zhu San dengan ujung pedang yang mengarah pada kedua Kakek itu.


Tongkat dan Kapak Hitam yang besar itu, segera saja melesat ke arah Zhu San dengan sangat cepat, namun kedua senjata itu, terhadang oleh Pedang Yinyang.


Pedang itu bergerak lebih cepat, menghantam tongkat yang lebih dulu bergerak.


TRANG


Tongkat dan pedang saling beradu fisik, tongkat pun terpental beberapa meter, sementara Kapak Hitam itu segera membabat ke arah Pedang Yinyang yang segera melesat ke atas dan melakukan tebasan sangat cepat ke arah gagang Kapak Hitam


TRANG


Kapak Hitam pun meluncur deras hingga amblas masuk ke dalam tanah, menyisakan satu jengkal gagangnya saja.


Hal itu membuat mata kedua jagoan tua itu melotot lebih lebar mendapati kenyataan jika Tenaga dalam mereka jauh di bawah tenaga dalam yang Zhu San miliki.

__ADS_1


Ke dua orang itu segera berpandangan lalu melesat ke udara untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Kedua memilih kehilangan senjata pusaka, daripada harus kehilangan nyawanya.


Zhu San hanya tersenyum tipis dan meminta Bian Chi melalui telepatinya, untuk mengejar kedua Kakek itu. Hal itu Zhu San lakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang Bian Chi miliki saat ini.


Bian Chi tersenyum manis sebelum tubuhnya menghilang sedetik kemudian. Dengan sangat cepat, Ia telah melesat ke udara dan beberapa detik kemudian telah berada sepuluh meter di hadapan Hong Qi dan Ren Jian yang kini telah berada tiga puluh meter di udara.


“Sangat cepat!” Zhu San berdecak kagum dengan gerakan yang ditunjukan oleh Bian Chi.


Hal yang sama ditunjukan oleh kedua orang Kakek itu, keduanya tertegun saat mendapati seorang gadis memegang pedang yang hampir sama dengan pedang yang saat ini sedang berjibaku dengan kedua senjata mereka.


Tanpa bertanya hendak kemana mereka, Bian Chi segera melancarkan serangan yang sangat cepat dan kuat dengan menebas pedang ke arah leher kedua kakek itu.


Keduanya nyaris saja terlambat menghindar dari tebasan Bian Chi. Tubuh Kedua kakek itu segera berpencar ke dua arah yang berbeda. Namun Bian Chi segera melesat menyerang Hong Qi yang yang terlihat tidak stabil posisi melayangnya itu.


AAARGGH


Terdengar jeritan keras Hong Qi setelah terjadi belasan kali pertukaran serangan diantara keduanya.


Dada Hong Qi terkena tebasan yang sangat dalam, membuat darah menyembur dan tubuhnya pun meluncur deras jatuh ke tanah seiring dengan nyawanya yang melayang.


Ren Jian terkesiap melihat hal itu, rasa jerih mulai menghiasi wajahnya walau Bian Chi tidak bisa melihat wajah tua kakek itu.


Bian Chi segera mengejar ke arah Ren Jian yang masih terpana memandang tubuh Hong Qi yang terbaring bersimbah darah. Ia sangat terkejut saat Bian Chi telah berada di dekatnya dan langsung menebaskan Pedang Yangyin miliknya.


Pertukaran serangan pun terjadi diantara keduanya, hanya saja luka dan kehabisan tenaga dalam, membuat Ren Jian harus menerima takdir kematiannya di tangan gadis yang pantas menjadi cucunya itu.


Setelah lebih dari dua puluh kali bertukar serangan, Pedang Yangyin Bian Chi berhasil menebas leher Ren Jian hingga jasadnya jatuh ke tanah dengan kepala yang terpisah dari badannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2