Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
231: Menemui Sang Guru


__ADS_3

Setelah satu minggu berada di Ibukota Kekaisaran, Zhu San dan Bian Chi pun pamit undur diri. Keduanya menuju ke arah utara dimana Kota Baixan berada.


Keduanya meninggalkan kediaman Xie Han saat malam mencapai puncaknya. Sehingga dengan begitu, keduanya tidak akan terlalu menarik perhatian saat fajar nanti tiba di kota Baixan.


Liu Ling dan Xie Han melepas kepergian keduanya dari atap bangunan. “Ling’er, ku dengar Nona Bian Chi mengajarimu teknik melayang? Apakah Kau sudah mengusainya?”


Saat Tubuh Zhu San dan Bian Chi lenyap di telan kegelapan malam, Xie Han bertanya kepada Liu Ling yang sedang menggandeng lengannya.


“Aku sudah bisa melayang puluhan detik, Aku masih kesulitan mengontrol energiku. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku bisa menguasai sepenuhnya.” Jawab Liu Ling dengan keyakinan penuh.


“Bisakah Kau mengajariku nanti?” Tanya Xie Han dengan merajuk. “Tentu saja Han Gege. Kapan kau akan memberitahu keluargamu?” Tanya Bian Chi. Xie Han menjelaskan bahwa Ia sudah mengirim surat kepada Ayahnya sejak beberapa hari lalu.


Liu Ling terlihat gembira mendengar hal tersebut, Ia pun mengajak Xie Han turun karena sudah saatnya Ia kembali ke ruangannya. Sepasang Kekasih itu pun melesat meninggalkan atap bangunan.


***


“San’er … Ah Kau mengejutkan Guru Saja!” Fu Kuan berkata dengan gembira. Ia baru saja membuka Pintu Kediamannya, saat Zhu San dan Bian Chi melayang turun ke hadapannya.


Zhu San dan Bian Chi segera berlutut memberi hormat kepada Fu Kuan yang segera menyuruh Zhu San berdiri dan memeluknya dengan erat.


Saat memandang wajah Sang Guru, Zhu San menyadari ada sesuatu yang membebani pikiran sang Guru. Namun saat akan bertanya, Qin Rui telah keluar dari dalam bangunan.


Setelah member Hormat kepada Nenek Qin Rui Zhu San dan Fu Kuan berbincang di halaman depan, sementara Bian Chi membantu Qin Rui menyiapkan sarapan mereka.


Zhu San lalu bercerita tentang pengalamannya selama berkelana ke Kekaisaran Qing dan Wei. Fu Kuan beberapa kali berdecak kagum dengan kehebatan para pendekar Kekaisaran Wei dan Qing.


Namun Ia merasa bangga memiliki murid seperti Zhu San. Setidaknya rasa kecewanya terhadap apa yang terjadi dengan sekte yang Ia dirikan sedikit terobati.


“San’er … dari tiga orang muridku, hanya kau yang masih hidup. Apakah Kau tidak bersedia menjadi Ketua Sekte yang ku dirikan dan menjaganya?”

__ADS_1


Pertanyaan Sang Guru membuat Zhu San tersedak nafasnya sendiri. Kini Ia memahami hal apa yang sedang membebani pikiran gurunya.


“Guru, saat ini Aku masih akan menyelesaikan semua tugas dari Leluhur Yao San. Setelah itu aku berjanji pada Guru untuk menjabat ketua Sekte dan menjaga Sekte Pedang Bintang Yang Guru dirikan.” Zhu San memberi hormatnya kepada Fu Kuan.


Fu Kuan menghela nafas panjang lalu Ia tersenyum lebar. Beban di benaknya seketika menghilang setelah mendengar ucapan Zhu San.


“Guru Aku tidak bisa berlama-lama disini, Aku harus menuju ke Kekaisaran Jian secepatnya untuk memenuhi Janjiku pada Sosok abadi yang aku ceritakan tadi.” Ucap Zhu San setelah kembali duduk di kursinya.


“Apakah Kau tidak akan menemui gurumu Lin Kai? Ia sudah berpesan kepadaku jika bertemu denganmu. Kau harus mengunjunginya di Kota Songdu. Ia Ingin merayakan pernikahannya dengan Nenek Qin Ji bersamamu.”


Zhu San terdiam sejenak, Ia pun merasa sangat rindu kepada guru keduanya itu.


“Baik Guru, Aku akan mengunjungi Guru kedua sebelum berangkat menuju Kekaisaran Jian.” Akhirnya Zhu San memutuskan untuk menemui guru keduanya itu.


Setelah puas berbincang dengan Sang Guru, Zhu San dan Bian Chi menemui Pamannya Mu Bai dan memberikan surat yang dititipkan oleh Ibunya untuk Sang Kakak.


Dari pertemuan itu, Zhu San mengetahui jika Pamannya Mu Dao telah diangkat menjadi Gubernur di Kota Wuchang oleh Kaisar Liu Feng atas jasa-jasanya selama ini.


Dengan kecepatannya melayang di udara saat ini, perjalanan ke kota Songdu hanya ditempuh selama kurang dari tiga jam saja oleh mereka berdua.


Saat tiba di kota Song du Zhu San segera menemui Ayah Qin Yu, Song Ruo dan Ibunya In Xeuxu.


“Guru dan Nenek Guru sedang sakit?” Zhu San terkejut ketika mendengar perkataan Song Ruo tentang kondisi Lin Kai saat ini.


“Benar … sepertinya mereka kelelahan karena seminggu yang lalu beliau berdua disibukkan oleh acara pernikahan.” Jawab Song Ruo.


“Bagaimana Kabar Yi’er di sana San’er? “ tanya In Xeuxu yang menanyakan kabar tentang Qin Yu yang bernama asli Song Yi itu.


Zhu San lalu menjelaskan dengan terburu-buru tentang Qin Yu yang sekarang telah menjadi Permaisuri Kekaisaran Qing. Serta sedang mengandung seorang bayi.

__ADS_1


Wajah In Xeuxu dan Song Ruo terlihat terkejut gembira mendengar kehamilan Puteri mereka. Hal yang berarti mereka akan segera menjadi seorang Kakek dan nenek.


Beberapa saat kemudian Zhu San dan Bian Bian Chi diantar oleh Song Ruo untuk menemui Lin Kai dan Nenek Qin Ji. Terlihat beberapa prajurit, berjaga di depan bangunan dimana mereka berada.


“San’er … Ah akhirnya Kau datang juga Nak. Aku telah lama menunggumu.” Lin Kai terlihat gembira melihat kedatangan Zhu San. Ia pun memaksakan untuk bangkit dari tidurnya.


Zhu San segera menahan Sang Guru agar tetap dalam rebahnya. Setelah Ia dan Bian Chi berlutut memberi hormat kepadanya dan juga Nenek Qin Ji, Zhu San lalu memeriksa kondisi tubuh Sang Guru dengan memegang pergelangan tangannya.


Zhu San tercekat setelah beberapa saat kemudian, Ia tersenyum tipis saat memandang ke wajah Sang Guru yang keheranan melihat senyumannya.


“Kenapa Kau tersenyum-senyum sendiri? Kau Senang ya melihat gurumu terbaring sakit seperti ini!” Lin Kai berkata dengan kesal. Namun Zhu San justru tersenyum lebar, membuat Lin Kai seketika menyadari sesuatu.


“Guru aku tersenyum karena senang bertemu dengan guru yang sedang terlalu bahagia.” Jawab Zhu San yang membuat wajah Lin Kai memerah.


Lin Kai melirik ke arah Isterinya yang di saat bersamaan juga sedang menatap ke arahnya. keduanya terlihat saling tersenyum menyadari bahwa Zhu San mengetahui penyebab sakit mereka.


Setelah mendapat izin dari Sang Guru untuk mengobatinya, Zhu San lalu mengalirkan energi qi murni ke bagian perut Lin Kai. Hawa yang sangat murni segera mengalir memasuki tubuh Lin Kai yang terkejut merasakan energi yang berbeda dari tenaga dalam itu.


Beberapa saat kemudian, Wajah Lin Kai tercengang. Ia nampak terkejut dengan kondisi tubuhnya yang dalam sesaat, telah kembali pulih seperti sediakala.


Zhu San dengan menggunakan Teknik Pengobatan Energi Yinyang juga mengobati Nenek Qin Ji.


Song Ruo dan In Xeuxu terlihat kagum dengan kemampuan yang Zhu San tunjukan setelah beberapa saat kemudian, Guru mereka berdua telah pulih seperti sediakala.


Sebelum meninggalkan ruangan Guru Keduanya itu, Zhu San sempat berbisik pelan kepada Lin Kai.


“Guru … Jangan terlalu memporsir tubuh. Di Usia Guru sekarang, bisa seminggu sekali melakukannya pun sudah hebat.” Kata Zhu San sambil mengacungkan jempolnya seraya menghindari tangan Sang Guru yang hendak meraih telinganya.


“Murid Sontoloyo! … Awas kau nanti!” Lin Kai pura-pura marah untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan telah berlebihan dalam mencangkuli sawah baru miliknya.

__ADS_1


-----------------O----------------------


__ADS_2