
Whuts
PLak
Bhu Lao terperanjat, tendangan kuat dan cepatnya, ditahan tanpa Zhu San bergeser sejengkal pun dari tempatnya berdiri.
Delapan puluh persen tenaga dalamnya telah Ia kerahkan.
Namun kekuatan tendangannya seolah menghilang saat bertemu lengan Zhu San yang menahan serangan cepatnya itu.
Melihat Bhu Lao terpental, Gu Xiang melompat ke udara, berniat menerkam Zhu San untuk menghancurkan kepala pemuda itu dengan tamparan Tangan Singanya.
Zhu San pun tak tinggal diam, Ia melompat menghindari serangan Gu Xiang lalu bergerak dengan cepat ke arah Bhu Lao.
Pertukaran serangan pun mulai terjadi diantara ketiga orang tersebut dengan sengitnya.
Sementara Qin Rui mulai menyerang anak buah Gu Xiang dan Bhu Lao. Ia menyerang mereka dengan serangan Tapak Esnya.
Anak buah Bhu Lao dan Gu Xiang bukanlah tandingan Nenek Qin Rui. Dalam waktu lima menit, mereka semua telah tewas dengan tubuh yang membeku.
“Ketua Shang Zuo, Ketua Hou Jian … Bagaimana kondisi Anda Berdua.”
Setelah melepaskan ikatan pada tubuh mereka berdua, Qin Rui segera bertanya kondisi mereka yang tidak juga bangkit untuk berdiri.
“Tubuh kami lemas … Tenaga dalam kami seperti menghilang.” Ketua Sekte Lembah Suci, Hou Jin menjawab dengan suara yang juga lemah.
“Jadi begitu efeknya?”
Qin Rui berkata seraya meletakan kedua telapak tangannya ke punggung kedua ketua sekte yang masih tergeletak itu.
Dengan tenaga dalam berhawa dinginnya, Qin Rui berusaha mendorong keluar racun Pelumpuh saraf itu dari tubuh keduanya.
Tubuh kedua Ketua Sekte itu segera saja menjadi menggigil saat energi berhawa sangat dingin, memasuki tubuh mereka.
Selang beberapa waktu kemudian, Kedua ketua sekte itu memuntahkan darah beku yang berwarna merah muda karena darahnya bercampur racun Pelumpuh saraf.
Setelah memuntahkan darah beku itu, perlahan kedua ketua Sekte itu, berhasil menggerakan tubuh mereka untuk duduk bermeditasi.
Lima menit kemudian, kekuatan keduanya telah pulih seperti sediakala dan bangkit berdiri, bersiap membantu Zhu San yang sedang bertarung melawan Gu Xian dan Bhu Lao.
BUGH
DESH
Karena konsentrasi Bhu Lao dan Gu Xiang terpecah saat melihat Hou Jin dan Shang Zuo telah berdiri bebas, pukulan dan tendangan Zhu San berhasil dengan telak bersarang di tubuh lawannya.
__ADS_1
Bhu Lao terpental saat tendangan Zhu San bersarang di perutnya, sedang Gu Xiang tubuhnya terjajar saat dadanya terkena tinju dari Jurus Tinten Siba.
“Kurang Ajar kau bocah … Kau benar-benar meminta mati rupanya!” Bhu Lao sangat marah. Ia pun mengerahkan seratus persen tenaga dalamnya.
Ia lalu melesat kembali dan menyerang Zhu San dengan Tendangan Dewa Maut yang merupakan jurus andalannya.
Tendangan itu begitu cepat dan tiada henti seolah air mengalir jatuh dari pancuran.
Begitu derasnya serangan tendangan Bhu Lao membuat Zhu San akhirnya terdorong mundur, saat sebuah tendangan dengan telak menghantam perutnya.
Wajah Zhu San seketika berubah menjadi merah karena amarahnya menggelegak.
Ia mengerahkan tujuh puluh persen kekuatannya sehingga membuat udara menjadi berhawa sangat panas dan sangat dingin di saat yang bersamaan.
Wajah Bhu Lao seketika berubah, demikian juga dengan Gu Xiang. Keduanya terkejut saat merasakan aura energi Yang dan Yin memancar kuat dari tubuh Zhu San.
“Tapak Yin Yang Sejati!”
Zhu San berteriak seraya melesat dengan serangan kuat yang berbeda hawa di kedua telapak tangannya.
Ia pun menyerang dengan sangat cepat Ketua Sekte Besi itu yang seketika kewalahan karena harus melawan hawa panas dan dingin setiap kali kakinya bersentuhan dengan telapak tangan lawan.
“Bantu Aku!!”
“Aku lawanmu Gu Xiang!!” Hao Jian yang sudah kesal karena diracuni, segera memberikan tebasan pedang kepada Ketua Sekte Topeng siluman itu.
Apa yang dikhawatirkan oleh Gu Xiang telah terjadi, membuatnya harus berjibaku menghindari tebasan pedang dari Hao Jian.
Setelah beberapa kali menghindar, akhirnya Gu Xiang berhasil mengambil kembali goloknya setelah membuat tangannya kembali normal.
Melihat Gu Xiang telah memegang golok yang sempat dihunuskan di lehernya tadi, Shang Zuo segera melesat ikut menyerang Gu Xiang dan meluapkan kemarahannya yang sedari tadi Ia tahan.
“Pengecut!! Dasar Aliran putih pengecut!”
Gu Xiang yang pundaknya terkena goresan pedang Shang Zuo, mengumpat keras. Dalam sekejap Ia pun mulai terdesak hebat.
Beberapa luka mulai ia alami di beberapa bagian tubuh akibat dikeroyok oleh Shang Zuo dan Hao Jian yang tidak lagi mengutamakan prinsip-prinsip Aliran Putih.
Membunuh penjahat licik yang telah menyerang mereka dengan racun secara diam-diam, membuat serangan keduanya bahu membahu mendesak Guo Xiang.
Gu Xiang ingin meminta bantuan Bhu Lao, namun Ia terkejut saat melihat rekannya tersebut sedang terdesak melawan pemuda belasan tahun itu.
Awalnya Bhu Lao bisa mengimbangi jurus yang baru pertama kalinya Zhu San gunakan melawan musuh dalam pertarungan yang sebenarnya.
Gerakannya yang masih monoton dan sedikit kaku, berhasil diimbangi oleh Jurus tendangan Bhu Lao.
__ADS_1
Dalam hal tenaga dalam Zhu San memang unggul dibanding lawan, namun dalam pengalaman bertarung dengan lawan yang kuat ia masih sangat minim.
Namun dengan kecerdasannya, Zhu San melakukan gerakan variasi dalam serangan dengan jurus yang menggunakan tenaga dalam berjumlah besar itu.
Melihat perubahan jurus Zhu San yang semakin kuat dan gencar menyerangnya, Bhu Lao pun mulai terdesak.
Hawa panas dan dingin yang memancar sangat kuat dari tubuh pemuda belasan tahun itu, berhasil mengganggu konsentrasi bertarungnya.
BUGH !!!
Sebuah serangan dari tapak kanan yang berenergi dingin dari Zhu San, mengenai dengan telak dadanya Bhu Lao yang seketika jatuh tewas dengan jantung yang membeku.
Apa yang terjadi kemudian membuat Qin Rui tercengang kagum, saat melihat Bhu Lao jatuh dengan tubuh yang membeku seperti Es mirip dengan jurus yang ia miliki.
“Shan Gege … Biarkan Aku yang menghajar tubuhnya itu hingga hancur.”
Qin Yu segera melesat dan menendang tubuh Bhu Lao yang telah membeku mati bagaikan sebongkah es itu.
PRAAK
Suara tubuh Bhu Lao yang hancur membuat Zhu San yang baru saja menurunkan tenaga dalamnya terkesiap.
Namun Ia membiarkan Qin Yu melakukan hal tersebut, agar gadis tersebut terbiasa dengan kematian dan mayat.
“Yu’er cukup! … Jangan kau hancurkan kepalanya juga.”
Zhu San menghentikan Qin Yu dengan meraih tangannya, saat hendak menginjak kepala Bhu Lao yang masih utuh. Sementara bagian tubuhnya yang lain, telah hancur di injak-injak Qin Yu.
“Kenapa kau begitu marah padanya?”
Tanya Zhu San saat melihat raut wajah cantik yang membuatnya selalu merindu itu, terlihat sangat marah pada Bhu Lao.
“Dia .. Dia tadi berkata akan membawa ku untuk dijadikan teman tidurnya.”
“APA!!! Berani sekali kau berkata begitu pada Gadisku!”
Zhu San pun menginjak kepala Bhu Lao yang membeku hingga hancur berkeping-keping.
Kemarahan Zhu San mendengar niatan Bhu Lao pada Qin Yu membuatnya gelap mata dalam sesaat.
Sementara Qin Yu tersentak bukan pada apa yang dilakukan Zhu San, melainkan pada kata-kata terakhirnya.
Rona merah pun menghiasi pipi Qin Yu saat melihat ke dalam hatinya yang tiba-tiba saja dipenuhi bunga indah yang bermekaran.
*****
__ADS_1