Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
175: Dua Orang Mencurigakan


__ADS_3

Setelah tawa semua orang mereda karena perkataan Lin Kai tadi, Zhu San lalu meminta maaf kepada Ayah dan Ibunya, tentang Ia yang menikah dengan Bian Chi dan disaksikan oleh Paman Tan Kuan dan Bibi Yu Mei.


“Ayah tidak menyalahkanmu. Kau pasti mengira kami benar-benar telah tiada. Dan Kau pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu bukan? Beritahu Ayah apa alasan itu.”


Zhu Han berkata dengan tersenyum, bagaimana pun ada sedikit rasa kecewa mengapa Zhu San menikah dengan gadis lain. Begitu juga dengan Mu Rong, keduanya belum mengetahui apa yang telah dan akan terjadi ke depannya nanti.


Zhu San lalu menceritakan Siapa Bian Chi dan mengapa mereka menikah secepatnya setelah bertarung dengan Tsao Beng dan Qiao Bun yang kekuatannya telah meningkat pesat.


Zhu Han dan Isterinya seketika terdiam dan memandang Bian Chi dengan rasa haru yang mendalam. Tidak ada lagi kekecewaan di hati mereka akan apa yang menjadi keputusan Zhu San dengan menikahi gadis itu.


Mu Rong pun segera menghampiri Bian Chi, Ia memeluknya dengan erat. “Sekarang kau anak kami dan Aku adalah Ibumu. Jangan sungkan lagi kepada kami.”


Mu Rong berkata sambil mengelus rambut Bian Chi yang sudah menangis terisak-isak dalam pelukannya.


Suasana haru itu berlangsung cukup lama dan terhenti saat Zhu Han bertanya kepada puteranya.


“Lung’er apa rencanamu selanjutnya?” Zhu San terdiam sesaat lalu menjawabnya. “Ayah, Kami akan segera berangkat ke kota Songdu. Besok adalah hari pemakaman Jasad Guru Lin Mi.”


Zhu Han mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meminta Zhu San untuk memberinya surat yang akan Ia tulis untuk Song Ruo. Fu Kuan, Lin Kai dan Qin Rui, segera kembali ke ruangan masing-masing untuk bersiap-siap.


Siang itu juga, lima orang melayang di udara pada ketinggian dua ratus meter dari tanah. Qin Rui yang belum begitu mahir mengendalikan tenaga dalamnya untuk melayang, berada dalam pelukan sang suami, Fu Kuan.


Lin Kai beberapa kali melirik ke arah keduanya dengan tatapan iri. Fu Kuan dan Qin Rui yang mengetahui hal tersebut, semakin senang untuk menggodanya. Mereka pun semakin mesra berpelukan di udara.


Lin Kai pun menjadi kesal, Ia melesat lebih dulu dan mensejajarkan posisinya dengan Zhu San dan Bian Chi, agar tidak lagi melihat kemesraan mereka berdua yang kini berada di belakang mereka bertiga.


Saat hari telah malam, mereka pun sampai ke kota Songdu. Kelimanya turun tepat di halaman kediaman Bangsawan Song Yu.

__ADS_1


“Guru!” Qin Yu segera berlari memeluk erat Sang Guru, Qin Rui. Keduanya saling melepas rindu satu sama lain.


Mereka pun memasuki ruangan dimana Jasad Lin Mi disemayamkan. Lin Kai meneteskan air matanya, teringat akan kenangan saat mereka berdua masih kecil.


Ia pun segera melakukan ritual sebagaimana yang lazim dilakukan sejak dulu kala. Tradisi yang telah turun temurun dilakukan saat berduka akan kematian seseorang/saudara.


Setelah semua melakukan hal yang sama, Zhu San segera menghampiri Song Ruo yang ingin mengetahui secara detail tentang situasi kota Baixan.


Zhu San lalu menjelaskan tentang situasi kota Baixan dan rencana ke depan yang akan dilakukan oleh Kaisar Liu Feng. Dan Wajah Song Ruo terkejut saat Zhu San memberikan surat dari Ayahnya.


“Jadi … Kakak Han masih hidup? Benarkah .. itu San’er?” dengan terbata-bata, Song Ruo bertanya kepada Zhu San, seraya menerima surat yang diulurkan oleh Zhu San.


“Benar Paman, Ayah juga menitipkan surat itu untuk paman.” Zhu San menatap haru melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Song Ruo.


Senyum Song Ruo terkembang setelah Ia membaca surat dari Zhu Han yang menyetujui keputusan sepihak Song Ruo yang telah membatalkan pertunangan putera dan puteri mereka berdua demi keselamatan dunia.


Dalam suratnya juga, Zhu Han juga berjanji akan mengunjungi Song Ruo setelah situasi di Kekaisaran Liu telah terkendali lagi.


Terlihat Qin Yu yang sedang mendapat pengarahan dari Sang Guru terkait rencana pernikahannya dengan Ju Yan yang kini telah menjadi tunangannya.


*****


Keesokan harinya dilaksanakan pemakaman Lin Mi yang yang akan dimakamkan di tanah pemakaman keluarga Bangsawan Song Yu, karena mengingat jasa-jasa nenek tersebut.


Pemakaman itu dihadiri juga oleh ribuan penduduk Kota Songdu, yang berdiri di tepi jalan yang dilalui oleh iring-iringan yang dikawal ribuan prajurit Kota Songdu.


Penduduk kota itu bersimpati kepada mendiang Lin Mi yang mereka ketahui telah berperan besar dalam menyelamatkan mereka dan juga Kota Songdu dari Aliansi Aliran Hitam.

__ADS_1


Diantara penduduk kota itu, tanpa diketahui oleh siapapun, terlihat dua orang berusia sekitar lima puluh tahun menatap Ju Yan dan Bian Chi yang berjalan beriringan di belakang kereta kuda yang membawa peti mati itu.


“Apakah Kau yakin, jika mereka berdua orang yang kita cari selama ini?” Salah seorang berjubah kuning gelap, bertanya kepada rekannya yang berjubah biru tua.


“Aku tidak yakin seratus persen, tetapi apakah Kau tidak bisa melihat kemiripan gadis itu dengan seseorang. Lihatlah wajah pemuda itu, Ia begitu mirip dengannya bukan?” Jawab pria yang mengenakan jubah biru tua.


Pria berjubah kuning menganggukkan kepala sambil menatap Bian Chi dan Ju yang kini telah jauh membelakangi mereka.


Zhu San yang berada tepat di depan mereka, saat pria berjubah kuning itu berkata, mendengar perkataan keduanya. Hal itu membuatnya melirik ke arah kedua pria itu.


“Siapa mereka berdua, dan apa maksud perkataannya tadi? Aku harus menyelidiki hal ini nanti.” Zhu San berkata demikian sambil kembali mengingat wajah mereka dalam benaknya.


Acara pemakaman itu berlangsung dalam suasana duka yang mendalam, di hati semua orang yang berada di areal pemakaman keluarga Bangsawan Song.


Saat tengah hari acara pemakaman itu pun selesai. Mereka pun kembali ke kediaman bangsawan Song Yu.


Zhu San pun meminta izin kepada Bian Chi untuk pergi ke suatu tempat sendirian. Bian Chi tentu saja terheran-heran mengetahui hal tersebut.


Bahkan Zhu San tidak mengatakan tujuannya ketika Ia berpamitan kepada kedua gurunya yang sedang berbincang-bincang dengan Qin Rui dan Qin Ji.


Melihat ada nenek Qin Ji, Zhu San tidak bisa menahan sifat jahilnya lebih lama lagi. Ia pun berbisik saat berada dekat dengan Guru Keduanya itu.


“Guru … Sekarang saatnya mengasah Jurus Lidah Bersilat Alirkan Rasa yang sudah lama tidak Guru gunakan bukan?” Kata Zhu San sambil mengedipkan matanya.


Zhu San segera berlalu menghindari tangan Lin Kai yang hendak meraih telinganya dengan menahan tawa.


Ia pun segera menuju ke tempat dimana kedua orang yang berkata tentang Bian Chi dan Ju Yan tadi berada.

__ADS_1


Ia pun segera memasuki satu persatu kedai yang berada di sekitar tempat itu. Setelah pada kedai ke tiga, akhirnya Zhu San menemukan keduanya sedang berbincang sambil minum arak.


******


__ADS_2