
“Dewi …. Jangan dilawan, Pusaka itu akan menyatu dengan tubuh anda!” Phoenix Api kembali berteriak, mengingatkan Qiu Lan tentang proses yang harus dilalui untuk bisa menggunakan pusaka tersebut.
Qiu Lan yang teringat penjelasan Phoenix Api sebelumnya, akhirnya pasrah saat melihat kedua pergelangan tangannya meleleh ketika Gelang Hitam itu, tiba-tiba mengecil dan menekan kuat pergelangan tangannya.
Qiu Lan memejamkan matanya, berusaha menahan air yang keluar karena menahan rasa sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya.
Satu menit kemudian, Qiu Lan tidak lagi merasakan sakit. Ia pun membuka matanya dan mendapati pergelangan tangannya kembali utuh. Hanya saja Gelang Hitam tidak terlihat lagi disana.
“Apa yang terjadi disini?” Kaisar Liu Feng yang baru tiba, segera bertanya setelah melihat seluruh orang di tempat itu sedang tertegun karena melihat apa yang terjadi dengan Qiu Lan.
Seorang Perwira yang segera tersadar segera memberi hormatnya lalu Ia menjelaskan apa yang terjadi.
“Apa! Gelang Hitam?! Jadi hanya sepasang gelang hitam yang berada di dalam Kotak itu? Dan sekarang telah dipakai dan menghilang di tangan perempuan itu?”
Kaisar Liu Feng terlihat kecewa setelah perwira itu membenarkan penjelasannya. Ia menatap Qiu Lan dengan rasa marah, karena telah lancang memakai benda yang berada di dalam Kotak Hitam itu.
“Tangkap Perempuan itu, karena telah lancang memakai benda warisan Leluhur ku!” Perintah Kaisar Liu itu, disambut oleh empat puluh orang prajurit yang segera mengepung Qiu Lan.
Sementara Qiu Lan terlihat mematung, ribuan ingatan memasuki benaknya dengan cepat. Hingga akhirnya ingatan itu berakhir dengan tewasnya Raja Siluman Tikus oleh Siluman Raja Siluman Harimau.
Saat membuka matanya, Qiu Lan menyadari dirinya telah terkepung oleh puluhan prajurit. Ia tersenyum seraya membalikkan badannya, menghadap ke arah kaisar Liu Feng yang tertegun melihat kecantikannya.
“Tahan Serangan!” Kaisar Liu Feng segera berjalan mendekati Qiu Lan, Namun Xie Han segera menahannya. “Yang Mulia Mohon berhati-hati, Perempuan ini sangat berbahaya.”
Kaisar Liu Feng yang terbius oleh kecantikan Qiu Lan, terlihat kesal mendengar perkataan Xie Han. “Jenderal Han menyingkirlah dari hadapanku!”
Xie Han pun terpaksa menyingkir dari hadapan Kaisar Liu Feng yang lalu berjalan mendekati Qiu Lan.
“Nona … Mohon maafkan sikapku tadi, aku tidak tahu bahwa yang berjodoh dengan kotak itu, seorang perempuan yang sangat cantik. Izinkan Aku menjamu Anda di ruanganku.”
Qiu Lan tertegun, Ia yang awalnya ingin bertanya dimana beradanya Batu Tujuh Warna Pelangi, mengurungkan niatnya mendapat sambutan begitu hormat dari Penguasa Kekaisaran Liu itu.
__ADS_1
Bagaimana pun hatinya menjadi berdebar-debar mendengar perkataan Sang Kaisar. Dan Ia hanya bisa mengangguk, menuruti keinginan Sang Kaisar.
Qiu Lan akhirnya berjalan beriringan dengan Kaisar Liu Feng dengan Chi Yu dan Phoenix Api mengikuti mereka dari belakang bersama Xie Han dan beberapa jenderal lain.
“Firasat buruk ini semakin kuat. Apa yang harus Aku lakukan?” Xie Han berjalan dengan hati was-was dan pikiran yang kalut.
Ia sedikit heran melihat sikap yang ditunjukkan oleh Kaisar Liu Feng kepada Qiu Lan. Sikap itu seperti sikap seorang pria yang sedang menyukai seorang perempuan.
“Mencintai perempuan yang memiliki aura mencekam seperti ini, semoga saja tidak ada petaka yang menimpa Kekaisaran Liu.” Xie Han hanya bisa berharap dalam benaknya.
Xie Han tidak mengetahui bahwa petaka itu bukan hanya akan terjadi di Kekaisaran Liu saja, tetapi tiga kekaisaran lain bahkan sebuah dunia yang belum Ia ketahui keberadaannya, Dunia Atas.
***
Di hari yang bersamaan dengan tibanya Qiu Lan di kota Shangyu, Zhu San dan Bian chi pun telah tiba di kaki Gunung Awan Putih.
Keduanya singgah sejenak si sebuah desa, sekedar untuk mencari informasi tentang Puncak Gunung Awan putih tersebut.
Seorang pria memperlihatkan sebuah atap bangunan yang terlihat rusak di beberapa bagian, akibat dari tawa orang itu di suatu malam sekitar satu bulan yang lalu.
Belum pernah mereka mendengar tawa seperti itu sebelumnya. Zhu San dan Bian Chi pun mengerutkan dahinya.
“Sebulan yang lalu? Bukan itu pada saat San Gege berbicara dengannya?” Tanya Bian Chi melalui telepatinya.”Sepertinya begitu, ada apa sebenarnya dengan Manusia Abadi ini?”
Keduanya segera melesat ke udara setelah berterimakasih kepada pria desa yang kini terbengong, melihat dua orang bisa melayang di udara layaknya sepasang burung.
“Chi’er berhenti dulu!” Zhu San menghentikan laju terbangnya saat mereka telah berjarak seratus meter lagi dari puncak Gunung tersebut.
“San Gege … ada Perisai Pelindung dari qi di depan kita. Bisakah Kau menghancurkannya?” Tanya Bian Chi saat menyadari ada tirai energi tak kasat mata, lima meter di depan mereka.
Zhu San lalu bersiap dengan mengalirkan energi qi, pada kedua telapak tangannya. Ia pun segera mendekati dinding Tak kasat mata itu dan menyentuhnya perlahan.
__ADS_1
“Perisai Pelindung ini sangat kuat, Aku harus mengalirkan lebih banyak qi lagi.” Setelah mengalirkan delapan puluh persen energi qi-nya, Zhu San lalu menghantamkan tapak tangannya.
BLAAAMM
Di luar dugaan tubuh Zhu San terpental hingga hampir tiga puluh meter dengan mulut yang menyemburkan darah segar.
Bian Chi yang juga terlempar akibat ledakan itu, tidak begitu merasakan efeknya karena cukup jauh dari sumber ledakan.
Ia segera melesat ke arah Zhu San dengan wajah panik saat melihat Sang Suami, telah melayang jatuh karena kehilangan kesadarannya.
Sementara di dalam sebuah goa sepasang mata yang terpejam terbuka dan melotot lebar saat merasakan formasi pelindung sekaligus formasi penyerangan yang Ia buat, bergetar hebat akibat terhantam sebuah energi besar.
Selama hampir seribu tahun Ia berada di dalam goa ini. Hal yang seperti ini, belum pernah terjadi sebelumnya.
“Siapa manusia yang bisa menggetarkan Dinding Formasi Pelindungku, Ah jangan-jangan bocah itu!”
Tubuhnya segera menghilang dari tempat tersebut dan tiba-tiba telah berada sepuluh meter dari tempat Bian Chi yang sedang berusaha mengalirkan qi, untuk menyadarkan Zhu San yang terluka parah.
Tubuh Bian Chi bergetar hebat saat tubuhnya seperti tertindih batu sebesar rumah akibat tekanan energi dari Sosok yang baru muncul. Hal itu juga membuat tubuhnya dan Zhu San segera meluncur deras ke arah tanah.
Namun Saat beberapa meter lagi, tubuh mereka menghantam bebatuan besar di gunung Awan Putih, sebuah energi tak kasat mata, menahan laju jatuh mereka.
Selain itu , Bian Chi bisa merasakan bahwa energi itu memasuki tubuh Zhu San yang masih tak sadarkan diri. Saat tubuh keduanya kembali berada di hadapan Sosok itu, Zhu San membuka matanya.
“San Gege … Syukurlah Kau telah sadar.” Bian Chi yang khawatir segera memeluk Sang Suami dengan erat .
Chi’er … Kendurkan pelukanmu! Aku susah bernafas!” Teriak Zhu San yang hidungnya sedang terhimpit dua gunung besar lainnya.
Bian Chi tersentak kaget, Ia pun segera menjauhkan kepala Zhu San dari dadanya dengan menunjukkan wajah yang bersalah.
---------------------------O-----------------------------
__ADS_1