Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
045: Sumpah Darah


__ADS_3

“Pendekar Zheng, Jendral Duan Li meminta untuk segera bertemu anda, ada sesuatu yang sangat penting terjadi.”


Prajurit perwira yang merupakan bawahan langsung Jendral Duan Li, berkata setelah Zheng An menemuinya di luar ruangan.


“Baik … tunggu sebentar.” Zheng An segera memasuki ruangan dan Ia pun meminta Fu Kuan dan lainnya untuk menunggu dirinya kembali.


Setelah itu Zheng An bersama prajurit perwira itu, segera meninggalkan bangunan di mana Fu Kuan dan yang lainnya masih berada di dalamnya.


“Ling’er … Apa yang ingin kau katakan?” Zhu San segera kembali bertanya kepada Liu Ling setelah melihat Guru Zheng An berlalu dari tempat tersebut.


“San Gege … Maukah kau menjadi Kakak Angkatku dan melakukan sumpah darah bersama?”


“Apa!!”


Semua orang sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Wajah Qin Yu seketika kembali berseri mendengar hal tersebut.


Walau hatinya senang mendengar kata-kata Liu Ling, Qin Rui masih menatapnya dengan benak dipenuhi pertanyaan.


Demikian juga dengan Lin Kai dan Fu Kuan, perkataan Liu Ling berikutnya menjelaskan apa yang terjadi.


“San Gege … Guruku tidak akan berhenti untuk menjodohkan kita ke depannya nanti, sementara telah ada seseorang lain yang menarik hatiku.”


Liu Ling menghela nafas panjang, Ia lalu menjelaskan lebih lanjut.


“San Gege … Dengan kita berdua menjadi saudara angkat dan melakukan sumpah darah, Guru akan berhenti menjodohkan kita. Apakah San Gege bersedia menjadi Kakak Angkatku?”


Zhu San yang masih terkejut, terdiam dan mencoba mencerna situasi yang terjadi di luar dugaannya itu.


Melihat pemuda itu hanya diam saja, rasa sedih merasuki Liu Ling, membuat matanya menjadi berkaca-kaca.


Selain untuk menghindari perjodohan dari gurunya itu, Liu Ling yang tidak memiliki Kakak laki-laki itu, menilai Zhu San adalah sosok yang tepat menjadi kakak baginya.


Tentu saja itu adalah alasan kedua, alasan utama telah Ia ungkapkan kepada Zhu San dan semua yang hadir dalam ruangan itu.


“Baiklah Ling’er … Aku pun tidak memiliki seorang adik perempuan, tak ada salahnya memiliki dirimu sebagai adikku.”

__ADS_1


Perkataan Zhu San seketika membuat wajah Liu Ling menjadi kembali ceria.


“Terimakasih San Gege … tunggulah sebentar, aku akan mengambil semua untuk kita melakukan sumpah darah itu.”


Tanpa menunggu jawaban Zhu San, Lu Ling segera melesat keluar dari ruangan dengan wajah yang begitu gembira karena akan memiliki seorang Kakak yang hebat.


Seorang Kakak yang merupakan Murid dari Jagoan nomor satu Aliran Putih di Dunia Persilatan Kekaisaran Liu.


Suasana menjadi canggung setelah Liu Ling pergi dari tempat itu. Lin Kai yang tak tahan dengan suasana seperti itu segera saja bersuara.


“Tua Bangka Keriput … Apakah Kau tidak ingin melamar Yu’er untuk murid kita?”


Perkataan Lin Kai, seketika membuat wajah Qin Yu merona merah dan tertunduk dengan hati yang berdebar tak menentu.


“Guru Kedua … Apa yang Guru katakan? Kami masih terlalu muda untuk berbicara hal yang demikian itu.”


Saat Lin Kai ingin menjawab perkataan Zhu San, Lu Ling telah kembali membawa dua buah dupa dan sebuah mangkuk kecil.


Setelah meneteskan darah mereka berdua di mangkuk kecil tersebut, Zhu San dan Liu Ling pun menyalakan dupa di tangannya.


“Dewa Langit dan Bumi, Aku Zhu San, bersumpah jika sejak hari ini mengangkat Liu Ling sebagai adikku. Permasalahannya adalah permasalahanku, kesulitannya adalah kesulitanku, Bahagianya menjadi bahagiaku. Semoga langit dan Bumi merestui keinginanku ini.”


Setelah berkata demikian, Zhu San pun segera menggerakan tangannya sebanyak tiga kali berturut-turut.


Setelah itu Ia menancapkan dupa tersebut di dekat mangkuk dimana darahnya dan Liu Ling berada dan telah menyatu.


Liu Ling pun mengucapkan kata yang sama dan melakukan hal yang sama setelah Ia selesai mengucapkan sumpahnya.


Tepat di saat itulah Zheng An kembali ke dalam ruangan. Apa yang Ia lihat kemudian, membuat kekhawatiran di wajahnya cukup banyak berkurang.


Fu Kuan yang melihat perubahan wajah Zheng An, mengerutkan alisnya. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.


“Ling’er apakah kau yakin dengan apa yang kau lakukan ini. Kau telah melepaskan kesempatan emas dalam hidupmu. Tetapi jika itu memang menjadi keputusanmu, Guru akan menerimanya.”


Walau kecewa karena telah gagal berbesan dengan sahabatnya, setidaknya Zeng An merasa persahabatan mereka menjadi lebih erat lagi.

__ADS_1


“Tidak Guru … Aku tidak akan menyesalinya Aku berjanji pada hatiku dan juga pada Guru.”


Zheng An tersenyum dan Ia percaya dengan keputusan Liu Ling. Muridnya bukanlah gadis bodoh dan Ia mengetahui hal itu sejak Liu Ling masih kanak-kanak.


“Baiklah Jika begitu … Tua Bangka Fu, Saudari Qin Rui dan Juga Saudara bertopeng ada hal lain yang ingin ku sampaikan.”


Zheng An terdiam beberapa saat, lalu Ia pun mengatakan jika Jendral Duan Li yang merupakan komandan intelejen kekaisaran telah mendapat sebuah fakta mengejutkan.


Fakta ini tentang Sekte Tombak Emas yang merupakan sekte aliran netral. Informasi ini mengatakan bahwa sekte itu telah bekerja sama dengan aliran hitam.


Laporan dari mata-mata mengatakan jika tadi pagi, beberapa kelompok pendekar aliran hitam yang berada di penginapan di sekitar bangunan markas cabang sekte itu telah bergerak dalam kelompok kecil.


Mereka menyamar sebagai pedagang dan para pengawalnya, keluar dari empat gerbang yang berbeda.


Setidaknya ada dua kelompok yang keluar dari ke empat gerbang kota. Dengan begitu telah ada delapan kelompok yang kini bergerak ke arah empat penjuru angin.


Zheng An juga mengatakan bahwa jendral Duan Li, melalui Ketua Chen Hu telah memberikan sebuah surat rahasia kepada seluruh Ketua Sekte yang hadir dalam turnamen, kecuali Ketua Sekte Tombak Emas.


Dalam suratnya tersebut, Jendral Duan Li meminta untuk bertemu sebentar untuk menyampaikan hal tersebut, agar mereka berhati-hati dalam perjalanan kembali ke Sekte masing-masing.


“Selain hal tersebut, pertemuan ini juga untuk membicarakan kelanjutan tentang pembentukan Aliansi Aliran Putih dan Netral yang telah dibicarakan semalam.”


Zheng An pun melanjutkan bahwa sejak tiga tahun lalu, Kaisar telah mendapat informasi tentang rencana kudeta yang dilakukan oleh beberapa bangsawan besar yang bekerja sama dengan pendekar dari aliran hitam.


Namun belum menemukannya bukti yang kuat hingga saat ini, maka Kaisar tidak dapat menindak tegas mereka yang dicurigai akan melakukan kudeta tersebut.


“Saat ini banyak laporan masuk dari ketujuh kota besar dan beberapa kota kecil lainnya tentang meningkatnya kejahatan yang terjadi di wilayah mereka. “


Zheng An mengakhiri penjelasannya, Ia pun menatap Fu Kuan untuk meminta pendapat sahabatnya itu tentang permasalahan yang terjadi.


Fu Kuan mengelus Jenggotnya dengan dahi yang mengerut. Apa yang baru saja di sampaikan oleh Zheng An telah Ia ketahui dari sahabatnya Si Dewa Seribu Wajah.


Saat Ia hendak menjawab, mereka semua dikejutkan oleh adanya gerakan ringan di atap bangunan dan tak lama kemudian terdengar, suara kaki yang menjejak di tanah tepat di depan pintu ruangan.


*****

__ADS_1


__ADS_2