
Masuknya Bian Chi dalam pertarungan ketiganya, mengubah situasi Zhu San menjadi lebih baik. Ia berhasil mendesak Jin Fang setelah bertarung satu lawan satu lebih dari lima puluh kali pertukaran serangan.
Jin Fang mengumpat beberapa kali dalam benaknya ketika serangan Zhu San nyaris mengenai bagian tubuhnya yang tidak terlindungi.
Jurus Tinten Siba kembali Zhu San gunakan untuk menghadapi Jin Fang yang sejauh ini belum menemukan sisi lemah dari jurus yang Ia gunakan itu.
Pertarungan ke empat orang berkemampuan tinggi itu, sangatlah cepat dalam hal gerakan dan sangat dahsyat dalam segi kekuatan. Hal itu sedikit sulit diikuti oleh Ju Yan dan Qin Yu.
Hanya Pang Ou yang masih bisa melihatnya dengan jelas. Hal itu menunjukan jika kekuatannya tidaklah lebih rendah dari Mou Chang yang saat ini sedang bertarung dengan Bian Chi.
Pertarungan antara Bian Chi dan Mou Chang bisa dibilang berimbang. Mengingat usia Bian Chi yang seperempat kali dari usia Mou Chang, namun telah berhasil menahan belasan serangan dari sosok sepuh itu.
“Gadis muda ini, Kemampuannya tidak lebih rendah dariku. Bagaimana bisa Ia memiliki kemampuan yang setinggi ini di usianya?”
Mou Chang mulai mengubah gerakan serangannya hingga menjadi lebih cepat dan kuat dari sebelumnya. Namun Bian Chi bukanlah lawan sembarangan sekalipun usianya masih belia.
Puluhan kali pertukaran serangan antara keduanya terjadi tanpa salah satu diantara mereka berhasil melukai lawan. Hal ini membuat Mou Chang mulai frustrasi.
Harga dirinya sebagai Jagoan Nomor dua Aliran Hitam Kekaisaran Wei sedang dipertaruhkan. Hal ini membuatnya menyerang Bian Chi dengan brutal.
Bian Chi mulai kewalahan, hingga akhirnya Ia mengalirkan energi qi lebih banyak dari sebelumnya. Gerakan Bian Chi berubah jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Angin pukulan dari serangan tapaknya yang berhawa dingin, mulai mengganggu konsentrasi Mou Chang yang terkejut dengan perubahan kecepatan dan kekuatannya.
“Gadis ini? Apakah Ia memiliki tubuh Yinyang sejati? Aku merasakan hawa panas dan sangat dingin sekaligus dalam setiap serangannya.” Mou Chang akhirnya menyadari sesuatu.
Pertanyaan Mou Chang terjawab ketika Bian Chi yang juga kesal karena serangannya selalu mengenai tempat kosong, berteriak keras,” Tapak Naga Yinyang!”
Dari kedua telapak tangan Bian Chi melesat dua ekor naga yang sama dengan yang Zhu San keluarkan saat melawan Roda Penghancur Fan Lei sebelumnya.
__ADS_1
Melihat serangan energi itu, Mou Chang segera melesat mundur lalu mencabut tongkat Bambu Kuning yang terselip di pinggangnya. “Kau yang memaksaku menggunakan pusaka ini gadis muda!”
Bian Chi tak menghiraukan ucapan Mou Chang, Ia segera melesatkan serangan energi berbentuk ular dengan dua hawa yang berbeda itu ke arah Mou Chang.
Mou Chang yang telah bersiap dengan serangan itu, menyeringai lebar. Tongkat Bambu kuning itu, tiba-tiba memancarkan cahaya berwarna kuning keemasan.
Cahaya itu membentuk sebuah tongkat raksasa berbentuk Bambu Kuning. Dengan cepat energi berbentuk tongkat itu, bergerak menghadang kedua ular naga dari jurus Tapak Naga Yinyang Bian Chi.
BUGH
BUUUUMMM
Ular Naga yang tubuhnya berselimutkan api, terkena pukulan Tongkat Bambu Kuning raksasa itu dengan telak hingga meledak hancur.
Udara pun berfluktuasi dengan hebatnya, membuat Pang Ou segera mengerahkan energi untuk melindungi Ju Yan dan Qin Yu yang pasti akan terpental terkena terpaan energi itu.
Sementara Zhu San melihat sekilas sebelum kembali berjibaku dengan Jin Fang yang tak memberi jeda dalam serangannya itu. Memaksa Ia berbicara melalui telepati dengan Bian Chi.
“Hahahaha … Apakah Kau masih memiliki jurus yang lain, nona?” Pertanyaan Mou Chang yang setengah mengejeknya, membuat Bian Chi mendengus kesal.
“Energi berbentuk ular tidak efisien melawan energi berbentuk tongkat. Akan kugunakan jurus dari guru Lin Mi untuk melawannya.” Bian Chi mengeluarkan pedang Phoenix dari Cincin Jiwanya.
“Dia!? .. Dia bisa memunculkan pedang dari ruang hampa?! Pedang itu pasti bukan pedang sembarangan.” Mou Chang yang takjub dengan apa yang Ia lihat, seketika menjadi waspada.
“Akan kugunakan qi untuk membuat jurus Phoenix Penghancur dari Pedang Warisan Guru Lin ini.” Bian Chi segera mengalirkan energi qi dalam jumlah cukup besar.
Namun yang terjadi kemudian, membuat Bian Chi menjadi panik sendiri. Pedang itu seolah-olah akan menyerap seluruh energi qi miliknya. Saat Ia akan berteriak kepada Zhu San melalui telepatinya, sesuatu terjadi pada Pedang Phoenix.
Pedang itu tiba-tiba mengeluarkan asap putih yang harum seperti harumnya bunga melati. Asap yang semakin lama semakin membesar itu, perlahan-lahan terbentuk seekor burung Phoenix berwarna keperakan.
__ADS_1
Aura kekuatan yang mencekam, terpancar dari tubuhnya. Bahkan Zhu San dan Jin Fang pun menghentikan pertarungan mereka karena merasakan ancaman dari burung Phoenix itu.
“Terimakasih telah memberiku energi qi gadis muda.” Bian Chi terkesiap mendengar suara perempuan yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
“Siapa Kau?! Tunjukan dirimu?!” Walau terkejut Bian Chi masih bisa menguasai diri, dengan mempertanyakan jati diri sosok yang berbicara melalui telepati dengannya.
“Aku adalah Roh Burung Phoenix yang tersegel dalam pedang di tanganmu. Sekarang Aku telah terbebas dari segel yang membelenggu ku selama seribu tahun. Sebagai balas jasa ku padamu. Akan ku bunuh lawan mu itu dan semua orang yang berada disini kecuali dirimu!”
Perkataan sosok yang mengaku sebagai roh Burung Phoenix itu, mengejutkan Zhu San dan Bian Chi yang pikiran mereka saling terhubung melalui telepati.
Sementara mata burung Phoenix yang berukuran raksasa itu, tiba-tiba memancarkan cahaya merah darah. Lalu burung phoenix raksasa itu melayang ke arah dimana Energi berbentuk Tongkat Bambu Kuning berada.
Saat jaraknya kurang dari lima meter lagi, tiba-tiba burung phoenix raksasa itu berhenti dan mengepakkan kedua sayapnya.
Dari kedua sayap itu melesat dua buah energi berbentuk seperti bulu yang berada di tubuhnya, hanya saja bulu itu tercipta dari energi yang sangat kuat.
WUUSSH WUUSSH
BLAAAMMM
Tongkat dan kedua bulu dari energi itu, meledak keras saat saling bersentuhan. Tanah berguncang seolah gempa sedang terjadi. Angin badai tercipta dari ledakan tersebut.
Mou Chang terpental mundur seraya memuntahkan darah segar dari mulutnya. Ia menjadi panik karena tak menduga akan mendapat serangan cepat dan kuat dari sosok burung phoenix yang memiliki berbulu indah itu.
WUUSSH
“Kurang Ajar!”
Mou Chang berteriak kesal, nyaris saja perutnya berlubang akibat paruh burung Phoenix yang mengarah ke dirinya dengan sangat cepat itu.
__ADS_1
Serangan kedua datang, Mou Chang pun bersiap untuk menangkisnya dengan Pusaka Bambu Kuning di tangannya, namun serangan yang Ia antisipasi berbeda dengan serangan yang datang.
------------- O -------------