Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
199: Menuju ke Kekaisaran Wei


__ADS_3

“Tentu saja benar, cepat berlutut terhadap yang Mulia Kaisar!” Ying Yu membentak Gao Yan. Namun ucapan Qiu Lan kemudian, membuat Ying Yu dan Yue Yin terkejut.


“Diamlah! Mungkin di masa depan Kalian yang akan berlutut padanya!”


Tentu saja benak Dua Bunga Kematian itu dipenuhi pertanyaan. Namun akhirnya mereka tersenyum, saat menyadari sesuatu.


“Sepertinya Yang Mulia Kaisar menyukai pemuda itu. Ini akan menjadi hal bagus bagi Kekaisaran Hun jika Pemuda Yan itu mau bergabung bersama kami.”


“Tuan Muda Yan, Maafkan perkataan lancang saya tadi.” Ying Yu pun segera meminta maaf kepada Gao Yan. Gao Yan pun menganggukkan kepala, lalu bertanya kepada Qiu Lan.


“Yang Mulia, kemanakah tujuan Yang Mulia Kaisar setelah dari sini?” Suara Gao Yan terdengar sedikit kikuk saat mengucapkan panggilan kepada Qiu Lan.


“Saudara Yan, jangan sungkan. Panggil saja Aku Lan’er. Karena sepertinya Kau lebih tua dari ku, bolehkah kau ku panggil Yan Gege?” Tanya Qiu Lan dengan senyum lebar di bibirnya.


Gao Yan terlihat kebingungan untuk sesaat. Namun melihat sikap Qiu Lan yang seperti itu, mau tak mau Gao Yan pun menurutinya.


“Baiklah Nona .. Eh Lan’er. Apakah Kau akan kembali ke Kekaisaran Hun?” Tanya Gao Yan. “Benar, apakah Yan Gege mau ikut denganku ke sana?” Tanya Qiu Lan setengah berharap.


“Aku belum pernah memasuki wilayah Kekaisaran Hun. Sepertinya ini kesempatanku berpetualang ke sana.”


Jawaban Gao Yan yang antusias, disambut senyuman manis oleh Qiu Lan. Akhirnya mereka berempat menuju ke kekaisaran Hun dengan melayang di udara.


***


Suatu pagi Di Kekaisaran Qing, Zhu San dan Bian Chi terlihat melayang meninggalkan Istana, diiringi tatapan sedih Sang Ibunda. Permaisuri Qiang Ji.


Keduanya melayang dua ratus meter di udara dan bergerak cepat menuju kekaisaran Wei. Selain untuk mencari dan menangkap Qiang Cao, Zhu San juga berniat memenuhi janjinya kepada Biksu Thio San untuk mendatangi Kuil Cahaya Dewa.


Mereka beberapa kali berhenti dan bertanya pada penduduk desa maupun kota, tentang letak Sekte Kuil Lonceng Dewa. Akhirnya setelah empat kali berhenti, mereka pun mengetahui letak kuil tersebut.

__ADS_1


Kedatangan keduanya di sekte pada sore hari itu, mengejutkan seluruh anggotanya. Mereka terlihat jerih saat melihat Zhu San dan Bian Chi melayang turun dari udara.


“Siapakah Tuan dan Nyonya ini? Mengapa mendatangi Sekte kami yang sedang berduka?” Tanya salah satu penjaga Gerbang Kuil kepada Zhu San dan Bian Chi.


“Maaf Sesepuh, namaku Zhu San dan ini Isteriku Bian Chi. Kami ke sini karena Sesepuh Thio San yang memintanya, bisakah kami bertemu dengan Biksu Zen Lung?” Tanya Zhu San setelah membalas salam penghormatan kepadanya.


Zhu San lalu menunjukan identitas yang menyebutkan namanya. Biksu penjaga gerbang berbincang sebentar dengan rekan-rekan-rekannya.


Beberapa saat kemudian, Ia menghampiri Zhu San dan Bian Chi lalu mengantarnya masuk ke dalam wilayah Sekte mereka menuju ke tempat dimana Biksu Peng Hao berada.


“Ah selamat datang di Kuil kami yang sederhana ini, Aku telah lama menunggu kedatangan anda berdua. Mari silahkan masuk.” Biksu Peng Hao mengajak Zhu San masuk ke dalam bangunan tempatnya biasa bermeditasi.


Ia memang telah diberitahu oleh Biksu Thio San tentang akan datangnya dua muda-mudi untuk membantu mereka, merebut kembali Kitab Sakti Energi Alam dari tangan Qiu Lan.


Setelah berbasa-basi sejenak, Akhirnya Biksu Peng Hao memberikan informasinya tentang kepergian Qiu Lan ke arah Selatan ke wilayah Kekaisaran Wei.


Setelah berada satu jam di sana, Zhu San dan Bian Chi pun berpamitan. Mereka berdua segera melayang di udara ke arah selatan. Berharap mendapat petunjuk dimana keberadaan Qiu Lan.


“Chi’er bagaimana jika kita mencari ke Ibukota Kekaisaran Wei? Aku merasa mungkin bisa menemukan Dewi Kematian dan siapa tahu bisa mendapat informasi tentang Pamanmu Qiang Cao.”


Tanya Zhu San saat mereka berada di udara, melayang lebih tinggi dari burung-burung yang berterbangan di udara.


“Baiklah, tapi kalo kita menemukan sebuah kota, kita makan dan beristirahat dulu. Aku ingin mengganti gaunku.” Jawab Bian Chi.


Keduanya lalu melayang lebih cepat ke arah timur laut menuju ke Ibukota Kekaisaran Wei yang bernama Kota Hangwei.


“San Gege lihat ada sebuah Kota Besar di depan sana. Kita istirahat dulu. “ Zhu San berkata melalui telepatinya, saat melihat sebuah kota besar di di depan mereka.


Keduanya pun segera turun cukup jauh dari gerbang kota tersebut. Dengan menunjukan identitasnya, mereka pun diizinkan memasuki kota yang bernama Wenzhong itu.

__ADS_1


Kota itu tidak kalah ramainya dengan kota Shangyu, Ibukota Kekaisaran Liu. Mereka berjalan cukup lama hingga akhirnya menemukan sebuah rumah makan yang besar dan terlihat sangat ramai.


“Chi’er kita makan di sini saja, kelihatannya masakannya enak. Banyak pengunjung yang mendatangi rumah makan ini.”


Kata Zhu San yang segera melangkah memasuki rumah makan itu setelah Bian Chi mengangguk sebagai tanda menyetujui yang Ia katakan.


Keduanya pun memasuki Rumah Makan yang ternyata memiliki banyak kursi dan meja. Mata para pelanggan menatap kagum pada kecantikan Bian Chi yang menjadi jengah karena hal itu.


“Mungkin di Kota ini tidak ada gadis yang secantik dirimu. Jadi jangan marah pada mereka karena terus menatapmu dengan rasa kagumnya itu.”


Zhu San berkata melalui telepati, saat melihat isterinya mulai terlihat marah karena merasa jengkel dipandangi terus oleh mereka.


Kemarahan Bian Chi mereda saat mereka telah duduk di salah satu meja yang masih kosong. Keduanya duduk di dekat tiga orang yang mengenakan sebuah tanda yang sama.


Tanda itu berupa sebuah gambar burung Gagak yang berada di depan dada sebelah kiri. Sebuah tanda yang menunjukan mereka adalah satu kelompok yang sama.


Saat menunggu hidangan yang telah di pesan datang, secara tak sengaja keduanya mendengar pembicaraan ketiga orang itu yang membuat Zhu San, segera mendengarkan baik-baik percakapan mereka.


“Apakah Ketua kita mendapat keuntungan besar dengan membantu orang itu?” Tanya salah satu anggota yang terlihat paling muda dari ketiganya.


“Aku Yakin seperti itu, karena ku dengar kabar jika orang itu adalah seorang bangsawan kaya dari Istana Kekaisaran Qing.” Jawab anggota yang lain bersemangat.


“Kecilkan suaramu, jangan sampai ada mata-mata musuh yang mendengarnya.” Sosok yang terlihat paling tua memperingatkan rekannya yang berbicara dengan suara sedikit keras, karena terlalu bersemangat.


“Ah kenapa harus takut, di Kota ini tidak ada yang berani menyinggung Sekte Gagak Hitam.” Jawab rekannya yang lain. Ia pun tertawa kecil dengan nada bangganya.


“Benarkah Bangsawan itu sangat kaya? Tanya Anggota lain yang termuda tadi.


“Tentu saja, karena informasi yang ku terima, Bangsawan itu pernah menjadi Kaisar Qing , sebelum di kudeta oleh saudarinya.“

__ADS_1


Jawab rekannya santai, tanpa menyadari Zhu San dan Bian Chi yang memiliki pendengaran tajam, mendengar informasi itu.


******


__ADS_2