
“Baiklah jika begitu, langkah pertama kita adalah satukan jiwa kami bertiga di dalam Cermin Pelebur Sukma. Setelah itu kalian tingkatkan kekuatan Ratu Siluman Rubah Putih lalu Tingkatkan kekuatan Qiu Lan dengan menyerahkan Roh Sihir kalian berdua. Bagaimana?”
Labamba dan Labimbi menganggukkan kepalanya. Labamba lalu menjelaskan bahwa untuk menyatukan ketiga roh mereka akan membutuhkan waktu satu minggu penuh.
Selama waktu tersebut, Labamba dan Labimbi akan meningkatkan kekuatan Ratu Siluman Rubah dan Qiu Lan. Setelah satu bulan dan proses itu selesai, barulah proses pemindahan roh sihir mereka dilakukan.
Mendengar itu Hati Qiu Lan menjadi sangat senang. Ia tidak bisa membayangkan akan sekuat apa dirinya nanti setelah memiliki kekuatan sihir kedua Penyihir kuno itu.
Labamba dan Labimbi segera melakukan persiapan dengan membuat simbol-simbol di dalam lantai goa. Berbagai mantera Sihir mereka tuliskan dalam kumpulan simbol berbentuk segitiga.
Setelah semua persiapan selesai, Labamba meminta ketiga roh itu untuk berdiri di ujung ketiga sudut segitiga itu. Cermin Pelebur Sukma ditempatkan di tengah-tengah segitiga tersebut.
Labamba dan Labimbi segera melayang di udara dan mulai membaca mantera sihir mereka untuk memulai proses penyatuan Roh Tiga Iblis Sejati dalam Cermin Pelebur Sukma.
Saat mantera selesai dibacakan, tiba-tiba ketiga garis segitiga itu, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata setinggi lima meter.
“Tuan silakan kerahkan kekuatan anda semua ke dalam cermin secara bertahap dan sedikit demi sedikit.”
Instruksi Labamba dilaksanakan oleh ketiga Roh Iblis Sejati itu. Mereka segera melepaskan energi dalam jumlah, kecil agar cermin tersebut bisa menyatukan ketiga energi mereka terlebih dahulu.
Proses itu berlangsung dengan lambat, sesuai dengan perkataan Labamba. Setidaknya akan selesai dalam waktu tujuh hari atau bahkan lebih lama lagi.
Setelah proses penyatuan ketiga serpihan Inti Roh Iblis Sejati itu dimulai dan terlihat sesuai dengan apa yang Ia inginkan. Labamba lalu membuat dua buah Lingkaran besar yang juga berisi simbol-simbol sihir.
Setelah pembuatan simbol itu selesai, Ia melihat ke arah Labimbi isterinya yang terlihat sedang membuat ramuan untuk Qiu Lan dan Ratu Siluman Rubah Putih.
Beberapa saat kemudian, Labimbi terlihat telah selesai dengan ramuan sihirnya yang masih mengepulkan uap panas dari dua cawan besar yang di bawanya.
“Kalian minumlah ramuan sihir ini, setelah itu segeralah bermeditasi di dalam lingkaran bersimbol itu. Gunakan ramuan sihir ini untuk meningkatkan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh kalian.”
__ADS_1
Qiu Lan memandang sejenak ke arah cawan besar tersebut ada sedikit keraguan dalam hatinya saat menghirup aroma aneh yang menusuk hidungnya.
Namun dengan sebuah tekad untuk menjadi penguasa dua dunia, Ia pun mulai meminum ramuan sihir tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh Ratu Siluman Rubah Putih yang juga memiliki ambisi tak jauh berbeda dengan Qiu Lan.
Sesaat setelah meminum ramuan sihir itu, kedua perempuan muda itu segera duduk bermeditasi dalam lingkaran yang dipenuhi oleh simbol-simbol sihir.
Beberapa saat kemudian Tubuh Qiu Lan dan Ratu Siluman Rubah, tersentak dan menjerit hampir bersamaan saat merasakan sakit yang luar biasa pada tulang tubuh mereka.
“Jangan kalian lawan, alirkan qi yang baru tercipta ke seluruh otot tubuh kalian.” Labamba memberi arahan untuk kedua perempuan itu.
“Aku hanya bisa berharap Kalian berdua bisa bertahan hingga hari terakhir nanti. Semakin kalian merasakan sakit, semakin tubuh kalian akan menjadi lebih kuat lagi.”
Labimbi berkata seraya kembali ke tempat dimana Ia membuat ramuan sihir tadi. Dengan sedikit keraguan Ia akan membuat ramuan untuk mengeluarkan roh sihir mereka yang nantinya akan menempati tubuh Qiu Lan.
“Suamiku, apakah kau yakin akan memberikan roh sihir kita kepadanya?” Melihat keraguan di diri sang isteri, Labamba segera menjelaskan bahwa jasad yang mereka tempati saat ini sudah terlalu tua.
Kini mereka mendapatkan tempat baru yang jauh lebih baik yaitu Tubuh Maya Qiu Lan. Dengan tubuh istimewa itu, mereka bisa menyembunyikan keberadaan mereka dari Dewa Naga.
****
Satu minggu telah berlalu sejak terjadinya perang di kota Xiangqing. Gedung-gedung yang runtuh mulai diperbaiki. Mereka yang meninggal dimakamkam di lubang raksasa yang kini berada di depan gerbang utara ibukota Kekaisaran Xiang itu.
Kesedihan bukan hanya melanda seluruh hati warga kota tersebut, ribuan pendekar aliansi yang bergabung juga merasakan kesedihan yang sama.
Mereka kehilangan rekan, saudara bahkan guru mereka. Tidak terkecuali Zhu San dan Bian Chi yang masih merasakan kesedihan akan kematian Long Niu.
Kaisar Xiang Lu berjanji akan membuat Patung Long Niu yang telah mengorbankan dirinya demi menyelamatkan yang lain dan juga dirinya sendiri.
Walau begitu, kesedihan Zhu San dan Bian Chi yang sedang berada di sebuah ruangan besar yang merupakan kediaman khusus tamu kekaisaran bersama Lian Li, terlihat belum menghilang.
__ADS_1
Kesedihan masih terlihat jelas di wajah keduanya, mengingat guru mereka yang juga sebagai Ketua Aliansi Aliran putih yang saat ini dipegang oleh ketua Gong Fei untuk menggantikan guru mereka.
Awalnya mereka akan menunjuk Zhu san menjadi ketua aliansi aliran putih di dunia atas. Namun dengan tegas Zhu San menolak karena Ia akan kembali ke dunia bawah setelah berhasil membunuh Qiu Lan.
Selang beberapa waktu kemudian, Phoenix Putih yang Zhu San tugaskan untuk memantau situasi di kedua benua yaitu Benua Awan Merah dan Benua Awan Biru, telah kembali dari tugasnya.
“Tuan … Sebagian besar wilayah Benua Awan Biru telah ditinggalkan oleh bangsa siluman yang kini telah kembali ke ukuran dan kekuatan asli mereka. Selain itu masih ada sebuah kota besar yang dikuasi lawan. Namun hamba tidak berhasil mendapat informasi dimana Qiu Lan dan Ratu Siluman Rubah Putih kini berada.”
Mendengar laporan tersebut, Zhu San segera menghela nafas panjang. Entah kenapa Ia sangat rindu untuk kembali menemui orang tuannya, di Dunia Bawah.
“Terimakasih Phoenix Putih, sekarang istirahatlah. Kau Pasti lelah setelah melakukan tugas ini.” Phoenix Putih memberi hormatnya sebelum pergi meninggalkan mereka untuk beristirahat di ruangannya.
Beberapa saat kemudian, ketua Gong Fei datang dengan tergesa-gesa serta wajah yang terlihat tegang. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin segera Ia sampaikan kepada Zhu San.
“Hormat kepada Pelindung Sekte…” Ketua Gong Fei segera memberi hormatnya dan segera duduk setelah Zhu San mempersilahkannya.
“Ada Apa ketua Fei, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu anda?”
“Benar Pelindung, saya baru saja mendapat informasi bahwa Sebuah kota Besar masih di kuasai oleh Aliansi Kegelapan yang dipimpin oleh Seseorang yang sangat kuat.”
Ketua Gong Fei lalu menjelaskan bahwa semua Pasukan dan pendekar yang semula bersembunyi, berusaha merebut kembali kota tersebut saat menemukan bahwa bangsa siluman telah kembali ke ukuran asli mereka dan jauh lebih lemah dari sebelumnya.
Namun mereka semua tewas terbunuh kecuali seorang pendekar yang berhasil lolos walau mengalami luka parah.
Ia berhasil sampai di kota Xiangqing dan memberitahu bahwa seorang kakek yang sangat kuat, memimpin dan menguasai kota itu.
Zhu San tersenyum mendengar ucapan tersebut, Ia memang sempat merasakan aura yang kuat dari arah selatan beberapa hari lalu.
“Aku tahu itu, Aku juga merasakan Aura yang sangat besar. Jika tidak salah, aura kekuatan itu adalah milik Qi Shang. Entah bagaimana caranya Ia bisa meningkatkan kekuatan hingga sebesar itu.”
__ADS_1
Wajah Ketua Gong Fei terkejut, demikian juga dengan Lian Li yang mengetahui siapa Qi Shang dari Gurunya.
----------------------------O-------------------------------