
Ju Yan segera melesat mengikuti Qin Yu yang telah berada seratus meter dari gerbang selatan kota Songdu.
Ju Yan pun melesat mengejarnya, karena gerakan Qin Yu yang cepat, Akhirnya Ju Yan melayang di udara untuk mengejarnya.
Beberapa saat kemudian, Ju Yan menghadang Qin Yu, gadis itu pun berhenti dan menatap Ju Yan dengan tatapan yang terlihat sangat marah.
“Yan Gege … Mengapa Kau menghadangku?!” Qin Yu bertanya dengan suara yang keras. Ju Yan hanya tersenyum tipis melihatnya.
“Yu’er … Aku tahu kau sedang marah kepada saudara San, tapi Kau tidak harus pergi dengan cara seperti ini. Ayolah kembali ke rumah bersamaku.” Ju Yan menjawab dengan lembut.
“Tidak! Jangan halangi aku!” Qin Yu menolak ajakan Ju Yan dengan suara keras. Ia pun melesat ke arah timur. Namun lagi-lagi Ju Yan melesat menghadangnya.
Melihat itu, Qin Yu menjadi marah. Ia pun mencabut pedangnya dan menghunuskan ke arah Ju Yan.
“Yan Gege! Menyingkirlah! Jangan paksa aku berbuat kasar kepadamu!” Qin Yu berkata setengah berteriak karena merasa kesal.
Ju Yan melangkah mendekat Qin Yu dengan senyum manisnya sebelum berkata menanggapi perkataan Gadis itu.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Aku telah ditugaskan oleh Paman Ruo untuk menemani mu mencari mereka. Jika Aku kembali seperti yang kau perintahkan. Maka Aku bukan seorang laki-laki dan Aku lebih baik mati di tanganmu jika harus menjadi orang seperti itu.”
Ju Yan berkata dengan suara lembut sambil terus melangkah hingga ujung pedangnya tepat berada di dada Ju Yan seiring dengan selesainya pemuda itu berkata-kata padanya.
Qin Yu terhenyak mendengar perkataan Ju Yan, Ia menatap tajam wajah kakak seperguruan Bian Chi itu dengan tangan yang gemetar.
“Jika kau bertemu dengan seorang lelaki yang rela mati demi dirimu, jangan pernah kau tinggalkan lelaki itu. Karena bagi perempuan, daripada hidup dengan lelaki yang Ia cintai lebih baik hidup dengan lelaki yang mencintainya. Karena Ia akan selalu setia padamu hingga akhir hayatnya.”
Perkataan In Xeuxu, melintas di benak Qin Yu. Hal itu membuat pedangnya terjatuh seiring dengan lututnya yang lemas hingga Qin Yu akhirnya jatuh terduduk dan menangis.
Ju Yan yang tidak mengetahui mengapa hal itu terjadi, hanya diam mematung. Ia mengambil pedang Qin Yu lalu berlutut di depannya.
“Maafkan Aku jika kata-kataku tadi menyakiti hatimu.” Ju Yan berkata sambil duduk disamping Qin Yu.
Tangis Qin Yu semakin kencang mendengar Ju Yan berkata demikian. Hal yang membuat Ju Yan semakin kebingungan, sehingga Ia menoleh dan menatap Qin Yu yang berada sangat dekat di sampingnya.
__ADS_1
Naluri lelaki Ju Yan pun segera bekerja. Ia meraih pundak Qin Yu dan menariknya sehingga kini kepala Qin Yu bersandar di dadanya.
Rasa nyaman segera mengalir di tubuh Qin Yu. Membuat tangisnya perlahan menghilang seiring dengan hilangnya kesadaran gadis itu karena rasa lelahnya yang amat sangat.
Ju Yan menyadari jika Qin Yu telah terlelap. Perlahan-lahan Ju Yan pun membenahi posisi Qin Yu agar lebih nyaman dalam tidurnya.
Sesaat kemudian posisi keduanya sama persis dengan posisi Zhu San dan Bian Chi yang mereka lihat tadi.
Ju Yan tersenyum mengingat kondisinya yang saat ini sama dengan Zhu San, Ia membiarkan Bian Chi tidur dengan lelap.
Ingin rasanya Ju Yan membelai rambut hitam gadis itu. Namun Ia menahannya karena tidak ingin membuat Qin Yu terbangun. Ia lalu memutuskan untuk bermeditasi.
Qin Yu yang merasa nyaman, seolah terbangun dari tidurnya dan bertepatan dengan itu, dua orang Pria tiba-tiba saja muncul di depannya.
Kedua pria itu turun dari udara, hal yang menunjukan jika mereka memiliki kemampuan yang tinggi karena mampu melayang di udara.
Ju Yan dan Qin Yu segera berdiri setelah Qin Yu meraih pedang yang tergeletak di sampingnya. Wajah keduanya menjadi tegang.
Ke dua orang itu menyeringai menatap ke arah Qin Yu dengan tatapan yang sangat tidak sopan. Hal itu membuat Ju Yan segera membentaknya.
“Hahahaha ..”
Kedua orang itu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Ju Yan yang mereka anggap pertanyaan bodoh.
“Bukannya sudah jelas, jika kami menginginkan gadis cantik di sampingmu itu untuk menemani malam kami Hahahaha..”
Salah satu dari pria yang berumur lebih dari lima puluh tahun itu menjawab, lalu Ia menjulurkan lidahnya sambil menatap lekat makhluk cantik di depannya.
Qin Yu menjadi jijik melihat wajah itu, ingin rasanya Ia menghajar pria setengah baya itu dengan tinjunya, namun Ju Yan menahannya.
“Sudahlah Beng … Jangan banyak bicara lagi dengan mereka. Kau tangkap gadis itu dan akan ku urus pemuda ini.”
“Baiklah Akan ku urus gadis itu Bun, hati- hatilah. Sepertinya pemuda itu memiliki kemampuan yang lumayan.” Pria yang dipanggil Bun itu menjawabnya.
__ADS_1
Wajah Qin Yu memburuk saat mendengar keduanya saling memanggil nama. Saat teringat jika keduanya datang dengan melayang, Qin Yu menjadi yakin jika mereka adalah Tsao Beng dan Qiao Bun.
Keduanya adalah orang yang pernah mengalahkan Zhu San dan membuatnya terluka parah hingga terbawa arus sungai Liao dan menghantarkan Zhu San pada takdirnya.
“Yan Gege … Hati-hatilah. Mereka berdua pernah mengalahkan San Gege enam bulan lalu dan membuatnya terluka parah.”
Qin Yu mengingatkan Ju Yan dengan berbisik. Ju Yan pun mengangguk lalu mengeluarkan Kipas Pelangi miliknya dari balik jubah.
Hal ini menunjukan jika Ju Yan menyadari lawannya adalah pendekar tingkat tinggi yang tidak mudah baginya untuk menang dalam pertarungan tangan kosong.
Qiao Bun yang mendapat tugas untuk melumpuhkan Ju Yan, segera mencabut Pedang Beratnya dari pinggang. Sesaat kemudian udara terasa menjadi tiga kali lebih berat dari sebelumnya.
Ju Yan pun segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa sekitar empat puluh persen lagi. Ia tidak menyangka akan mengalami situasi seburuk ini.
Qin Yu menelan ludahnya, seandainya Ia tidak pergi meninggalkan kota Songdu, mungkin mereka berdua tidak akan mengalami situasi yang buruk ini.
Namun semua telah terlambat untuk disesali saat Qiao Bun Melesat ke arah keduanya. Ju Yan segera mendorong Qin Yu dan Ia melesat menghadang tebasan pedang Qiao Bun yang mengarah ke kepalanya.
Qin Yu yang terjatuh akibat dorongan Ju Yan, terbelalak saat Ia berhasil berdiri dan melihat hal yang mengerikan terjadi di depan matanya.
Ju Yan Tidak berhasil menahan laju Pedang Berat Qiao Bun. Pedang itu mematahkan Kipas Pelangi hingga menjadi dua bagian.
Dan mata pedang itu terus melaju menebas bahu kanan Ju Yan hingga putus dan langsung terjatuh di tanah dengan setengah bagian kipas masih berada dalam genggaman tangannya.
Sesaat kemudian, Qiao Bun menebas leher Ju Yan hingga membuat kepalanya menggelinding dan jatuh tepat di depan Qin Yu yang telah jatuh terduduk.
“Tidaaaak!! … Yan Gege Jangan Matiiiiii … Jangan tinggalkan Aku!”
Qin Yu pun menangis sejadi-jadinya sambil mendekap erat potongan kepala Ju Yan dalam pelukannya.
“Yu’er … Bangun! Bangunlah!”
Ju Yan yang terkejut mendengar Qin Yu berteriak keras, segera mengguncang- guncangkan tubuh gadis itu agar terbangun dari mimpi buruknya.
__ADS_1
******