
Zhu San membawa Song Ruo melayang di udara saat malam tiba, Song Ruo terlihat takjub saat Ia memandangi Kota Songdu dari udara.
Zhu San mengeluarkan Pedang Yinyang, sebelum Ia melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan kota Songdu.
Song Ruo pun memegang pinggang Zhu San dengan erat. Bagaimanapun juga, Ia merasa takut akan mati jika saja terjatuh dari tempat setinggi seratus meter dari atas tanah itu.
Setelah hari ketiga, Zhu San dan Song Ruo tiba di sebuah desa yang besar dan ramainya, hampir menyamai sebuah kota kecil.
Hanya saja di desa tersebut banyak sekali pengemis yang berkeliaran, dan saat hendak memasuki sebuah kedai, mereka melihat sepasang pengemis yang duduk dan sedang menatap tajam ke arah mereka berdua.
Song Ruo segera menghampiri sepasang pengemis yang tertunduk seperti malu saat menerima sekeping uang emas dari adik Bangsawan Song Yu itu.
Zhu San pun melangkah memasuki kedai tersebut, namun entah kenapa Ia ingin kembali melihat sepasang pengemis itu.
Zhu San pun tersenyum saat melihat kedua pengemis itu masih melihat mereka dan keduanya lalu tersenyum kepadanya.
“San’er, mungkin Kau ingin istirahat terlebih dulu atau kita membeli kuda saja. Jarak dari desa ini ke Kota Shinzu sudah dekat. Dengan berkuda kita akan sampai saat senja nanti.”
Song Ruo berkata kepada Zhu San setelah mereka selesai menyantap hidangan yang mereka pesan beberapa saat yang lalu.
“Tidak usah Paman, Aku sudah rindu kepada ibu dan ingin segera menemuinya. Kita lanjutkan perjalanan dengan cara seperti sebelumnya.”
Jawab Zhu San.
Keduanya pun melangkah keluar setelah Song Ruo membayar semua yang mereka pesan. Sepasang pengemis tadi, sudah tidak terlihat di tempatnya semula sat Zhu San mengedarkan pandangan karena ingin memberinya uang.
Lalu keduanya segera meninggalkan desa tersebut dan sesampainya di tempat yang sepi, Zhu San kembali membawa Song Ruo melesat ke udara tanpa mengeluarkan pedang Yinyang.
Setelah dua jam melesat di udara, mata Zhu San melotot lebar dan firasat buruk segera mengisi benaknya saat mereka sampai di atas puing beberapa bangunan yang telah habis terbakar.
“Apa yang telah terjadi? Bagaimana dengan Ayah dan Ibu?”
Zhu San yang panik segera melesat ke dalam bangunan setelah menurunkan Song Ruo yang tertegun saat Ia menapakkan kakinya di tanah. Ia menatap bangunan yang sudah hangus itu dengan mata berkaca-kaca.
“TIDAKKKK!”
__ADS_1
Song Ruo terkejut mendengar teriakan Zhu San yang terdengar sedih, Ia segera melesat dan matanya menatap tajam ke arah dua gundukan tanah merah dimana Zhu San jatuh terduduk.
Air mata pemuda itu menetes dengan wajah yang terlihat sangat marah. Aura panas dan dingin memancar kuat dari tubuhnya, membuat Song Ruo tidak bisa melangkah lebih dekat lagi ke arah Zhu San.
“San’er … Tenanglah! Kendalikan dirimu.” Song Ruo berkata sambil mulai melangkah saat Ia merasakan hawa panas dan dingin itu menurun kekuatannya.
Song Ruo jatuh terduduk saat melihat nama yang tertulis dalam Nisan itu. Nama Kakak Angkatnya Zhu Han tertera di satu nisan.
Sedang di nisan yang lain, tertera nama Guru Pendekar Seribu Wajah ditulis oleh Murid tak berbakti, Tan Kuan.
“Han Gege … Maafkan Aku. Aku terlambat mengunjungi dirimu. Aku berjanji akan mencari dan membalas semua ini dengan begitu engkau akan tenang di alam sana.”
Song Ruo berkata setelah Ia berhasil menguasai dirinya dan menyeka air di kedua matanya. Sementara Zhu San yang masih tertunduk, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi sangat marah.
Ia mendongak ke atas dan melihat seorang perempuan berpakaian putih sedang berada tiga puluh meter di udara dan sedang memandangi mereka.
Zhu San pun segera melesat sangat cepat ke arah perempuan yang seusia dengan Ibunya, ketika Ia berhasil menghadang perempuan yang hendak pergi melarikan dirinya itu.
“Siapa Kau dan mengapa kau mengintai kami Hah!” Zhu San membentak perempuan yang tak kalah cantik dengan Ibunya itu. Aura panas dan dingin dari tubuh Zhu San, segera memancar kuat menerpa perempuan itu.
Zhu San terkesiap mendengar perkataan perempuan itu, Ia pun lalu menarik kembali tenaga dalamnya.
“Benar, Aku Zhu San. Siapa Bibi? Apakah Tan Gege yang Bibi maksud adalah Paman Tan Kuan?” Tanya Zhu San dengan suara yang berubah menjadi lembut.
“Benar … Tan Gege bernama Tan Kuan dan Ia saat ini sedang berada di sebuah rumah di perkampungan kecil di barat kota ini. Ia sedang terluka parah.”
Perempuan itu menjawab sambil mengeluarkan sebuah bungkusan yang menebarkan bau Obat saat Ia membukanya.
“Aku baru dari kota untuk membeli beberapa bahan obat yang akan kuracik untuk mengobati Tan Gege. Aku mendengar teriakkanmu saat akan kembali ke perkampungan itu. Oh Iya Panggil saja Aku Bibi Mei.” Perempuan itu berkata menjelaskan tentang siapa dirinya.
“Maafkan Aku Bibi Mei. Bisakah Bibi mengantarkan aku ke tempat paman Kuan berada?” Tanya Zhu San penuh harap.
“Tentu saja San’er … Tapi bagaimana dengan pria yang itu.” Tanya Bibi Mei kepada Zhu San sambil mengalihkan pandangannya kepada Song Ruo yang sedang menatap mereka.
Zhu San meminta Bibi Mei menunggu sebentar, Lalu Ia melesat dan membawa Song Ruo seperti sebelumnya.
__ADS_1
Mereka pun melesat ke arah barat dengan sangat cepat. Zhu San sangat kagum dengan kemampuan yang dimiliki Bibi Mei yang menurutnya setara dengan kekuatan Paman Tan Kuan.
Keduanya turun dari udara dan berada di depan sebuah rumah kecil. Terlihat para pemuda dan lelaki sedang berjaga di tempat itu. Mereka segera memberi hormat ketika mengenali Tuan Muda mereka.
Terlihat kesedihan pada wajah para petani yang menggarap lahan milik Ayahnya itu. Zhu San menganggukkan kepalanya, lalu memasuki rumah kecil itu mengikuti Bibi Mei yang telah melangkah lebih dulu.
Zhu San tertegun saat melihat Paman Gurunya Tan Kuan terbaring dengan kondisi tubuh yang penuh luka tebasan dan juga wajah yang pucat.
Tan Kuan membuka matanya dan terbelalak saat melihat Zhu San yang segera mendekati dirinya dan langsung memegang tangannya.
“Paman Kuan … Bagaimana bisa Paman mengalami luka dalam separah ini? Zhu San berkata lebih dulu dari Tan Kuan.
Kakak seperguruan ayahnya itu tersenyum, namun Ia terbatuk dan mengeluarkan darah berwarna hitam dari bibirnya, saat akan menjawab pertanyaan yang Zhu San ajukan.
“Paman tenanglah … Biarkan Aku mengobati paman luka paman terlebih dulu.” Zhu San berkata seraya mengerahkan Energi murni Yinyang ke dada Tan Kuan.
Mata Tan Kuan melotot lebar, saat merasakan aliran hawa murni yang hangat dan dingin memasuki tubuhnya. Ia bisa merasakan kedua energi itu menyembuhkan luka di sistem saraf dan ototnya dengan cepat.
Tan Kuan juga merasakan jika seluruh racun yang telah menyebar di dalam seluruh aliran darahnya terdorong ke arah perut dan saat Zhu San memindahkan telapak tangannya ke perutnya, Tan Kuan pun memuntahkan darah hitam ke lantai yang masih tanah itu.
“Saudara Tan! “ Bibi Mei berteriak cemas melihat Tan Kuan memuntahkan darah kental dan hitam itu. Teriakannya membuat Zhu San bingung.
“Tadi memanggil Tan Gege, sekarang memanggil Saudara Tan? Siapakah Bibi Mei ini sebenarnya?”
Darah itu seketika mengeluarkan asap dan perlahan-lahan darah itu kembali memerah seiring dengan asap yang menghilang.
Tan Kuan tidak percaya jika tubuhnya saat ini telah pulih seratus persen. Tenaga dalamnya pun telah kembali seratus persen.
Tan Kuan Memandang Zhu San yang telah kehilangan lima puluh persen tenaga dalamnya itu. Zhu San terkejut saat melihat Tan Kuan akan berlutut kepadanya.
Dengan cepat Zhu San menahan bahu Sang paman dan memeluknya dengan erat.”Paman, Aku mohon Paman jangan pernah berlutut kepadaku. Hal itu akan membuatku menjadi anak durhaka jika paman melakukannya.”
Zhu San berbisik sambil menahan air di matanya, di saat yang sama Ia teringat jika Ayahnya telah meninggal tanpa Ia ketahui bagaimana hal itu terjadi.
“San’er … Maafkan paman yang tidak bisa melindungi Ayahmu. Paman akan ceritakan apa yang telah terjadi.” Tan Kuan melepas pelukan dan membawa Zhu San duduk di tempat Ia terbaring tadi.
__ADS_1
*****