
Di Kekaisaran Wei, tepatnya di Kuil Lonceng Abadi baru saja terjadi pertarungan sengit antara tiga orang pendekar perempuan melawan ratusan biksu.
Ratusan biksu tergeletak meregang nyawa di tangan ketiga orang pendekar itu. Kini Qiu Lan dan Dua Bunga Kematian sedang berjibaku melawan Ketua Sekte Kuil Lonceng Abadi serta dua orang tetuanya.
Biksu Zan Feng adalah Ketua Sekte Kuil Lonceng Abadi, Ia adalah adik seperguruan dari Biksu Thio San. Namun dari segi kekuatan, saat ini Ia berada jauh di bawah Sang Kakak.
Ia baru saja akan menyelesaikan pembentukan Akar Rohnya saat terjadi serangan terhadap Sekte yang Ia pimpin. Bersama dua orang Tetua Sektenya, Ia menghadapi ketiga lawan yang menyerang mereka.
Biksu Zan Feng berhadapan dengan Qiu Lan sedangkan kedua Tetua Sekte, melawan Dua Bunga Kematian. Terlihat keduanya bertarung seimbang.
Biksu Zan Feng dengan tongkat besinya, mampu menghadapi Qiu Lan yang menyerang dengan Jurus Selendang Kematian yang dikeluarkan dari Gaun Kematian yang kini Ia kenakan.
Walau Jurus itu sangat hebat, namun Biksu Zan Feng berhasil menghadang setiap serangan yang datang dari Qiu Lan. Tujuh Selendang Kematian sepertinya menemui lawan yang sepadan.
Qiu Lan menjadi kesal, karena setelah lebih dari seratus kali pertukaran serangan, Ia tidak bisa mengalahkan Biksu Zan Feng. Ia segera menarik serangannya dan mengeluarkan pedang Iblis Ilusi.
Situasi pun berubah sesaat setelah Pedang Iblis Ilusi digunakan oleh Qiu Lan. Walau belum terbiasa menggunakan jurus yang Ia pelajari dari Kitab Pedang Iblis Ilusi, Dewi Kematian Qiu Lan berhasil mendesak Biksu Zan Feng.
Sebuah Ilusi Qiu Lan ciptakan dari pedang itu, Ilusi yang memperlihatkan seolah bahwa mereka berada di sebuah tempat berbeda yang disekelilingnya dipenuhi oleh kepala Iblis.
Kepala Iblis itu, satu persatu menyerang Biksu Zan Feng. Dengan tongkatnya, Biksu Zan Feng segera menghajar ratusan kepala iblis yang silih berganti menyerangnya.
Setiap kepala Iblis yang berhasil Ia hancurkan dengan jurus Tongkat Keadilan, sirna dari pandangan matanya. Namun selalu datang kepala iblis lain menyerangnya.
Sebesar apapun tenaga dalam yang Ia miliki, Biksu Zan Feng akhirnya kelelahan dengan tenaga dalam yang semakin habis. Hingga kurang dari dua puluh lima persen tenaga dalamnya tersisa, Ilusi dari Pedang Iblis itu tiba-tiba menghilang.
Namun bukan berarti pertarungan telah selesai, justru inilah saat yang ditunggu oleh Qiu Lan. Dengan jurus pedang yang Ia pelajari, Qiu Lan berhasil mendesak Biksu Zan Feng.
__ADS_1
Perlahan luka demi luka tertoreh di tubuh Biksu Zan Feng. Biksu Zan Feng yang menyadari situasinya, segera mengeluarkan jurus andalannya, Jurus Seribu Tongkat Besi.
Tongkat di tangannya, kini terlihat bergerak sangat cepat hingga terlihat seolah menjadi puluhan buah. Qiu Lan yang segera waspada, segera kembali mengerahkan jurus Pedang Ilusi bersama dengan jurus dari Gaun Kematiannya.
Serangan keduanya, silih berganti dengan cepat hingga setelah beberapa puluh kali bertukar serangan, perhatian Biksu Zan Feng terpecah oleh teriakan kematian dari salah satu Tetuanya.
Hal itu dimanfaatkan oleh Qiu Lan dengan sangat baik. Ia melesatkan pedang Iblis Ilusi dan menggerakkan dengan tangannya dari jarak yang jauh.
Kecepatan Pedang Iblis Ilusi menjadi dua kali lebih cepat dari sebelumnya, hal itu membuat Biksu Zan Feng terkejut dan terlambat menghindari tusukan Pedang Iblis Ilusi.
Tubuh Biksu berusia sembilan puluh tahun itu, akhirnya tumbang dengan dada kirinya yang tertembus Pedang Iblis Ilusi. Membuat semua Biksu menjerit marah.
Salah satu tetua yang bertarung dengan Ying Yu segera melompat mundur dan bergegas melesat melarikan diri dari tempat tersebut. Hal itu Ia lakukan bukan karena kepengecutannya.
Ketua Zan Feng telah berpesan kepadanya, jika dirinya telah tiada, maka tetua yang bernama Biksu Zhen Lung itu, harus pergi dari Kuil Lonceng Abadi dan menemui Biksu Thio San di Kekaisaran Qing.
Setelah menggerayangi jubah Biksu Zan Feng, Qiu Lan akhirnya tertawa keras. “ Hahahaha akhirnya Kitab Energi Alam berhasil aku dapatkan!”
Qiu Lan tertawa seraya melayang meninggalkan tempat tersebut sambil menggenggam sebuah kitab di tangannya. Dua Bunga Kematian pun segera melesat mengikutinya. Mereka baru berhenti setelah beberapa jam kemudian.
Ketiganya kini berada di sebuah lembah di dalam hutan yang bernama Hutan Kematian. Di lembah tersebut terdapat sebuah goa yang tertutupi oleh rimbunnya semak belukar.
“Bagaimana Yang Mulia Kaisar mengetahui keberadaan goa ini?” Tanya Ying Yu kepada Yue Yin. “Mungkin Ini adalah tempatnya semasa seribu tahun lalu.” Jawab Yue Yin dengan santainya.
“Kalian buatlah pondok di dekat pohon besar itu, Aku akan berlatih disini selama beberapa Minggu. Jangan memasuki goa jika tidak aku perintahkan.” Qiu lan berkata seraya mengibaskan tangannya.
Semak belukar itu, seketika tercabut habis dan membuat tanah di depan goa itu menjadi bersih tanpa satu pun tanaman berada di sana.
__ADS_1
‘Baik Yang Mulia.” Keduanya memberi hormat dan menatap Qiu Lan yang melesat masuk ke dalam goa yang pernah Ia tempati di masa seribu tahun itu.
***
Di Alam Jiwa, terlihat Zhu San dan Bian Chi sedang bermeditasi di tempat yang berjarak dua meter satu sama lainnya. Mereka sedang bermeditasi untuk membentuk energi qi dari tenaga dalam dengan petunjuk yang diberikan oleh biksu Thio San.
Hingga setelah dua bulan di Alam Jiwa, Zhu san dan Bian Chi berhasil membentuk seratus kristal qi di dalam tubuh mereka. Energi qi itu tersimpan dalam meridian mereka.
Hanya saja keduanya tidak bisa membentuk lebih dari seratus kristal qi. Hal itu karena mereka merasakan sakit yang luar biasa pada tulang dan seluruh otot tubuhnya.
“Chi’er … Kita harus hentikan proses pembentukan qi ini. Karena sepertinya akan berbahaya pada tubuh kita.” Zhu San yang merasa hal tersebut berbahaya, memutuskan mengakhiri proses penyerapan qi.
Keduanya lalu berdiri dari duduk bermeditasi mereka.
“Chi’er sebaiknya kita mempelajari jurus Tiupan Naga Angin terlebih dahulu dan menyelesaikan latihan kita dari Kitab Lima Elemen sebelum mempelajari Kitab Sakti Energi Alam.”
“Aku akan mengikuti segala arahanmu San Gege. Tapi apakah kita bisa beristirahat sehari saja?” Tanya Bian Chi dengan pandangan yang mata yang sayu.
“Kenapa kau meminta hal itu, bukankah kita sedang dikejar waktu untuk segera menemukan keberadaan Dewi kematian dan membunuhnya sebelum Ia membuat malapetaka di dunia?” Tanya Zhu San.
“Huh … katanya kalau lagi berhasrat, kita tidak boleh menahannya. Bagaimana sih!” Perkataan Bian Chi yang ketus mengejutkan Zhu San.
Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. “Baiklah … Kita beristirahat sehari saja. Aku ingin tidur nyenyak seharian ini.” Kata Zhu San sambil segera merebahkan tubuhnya.
Mata Bian Chi melotot lebar melihat ulah sang suami. “Tidurlah .. Aku akan mandi di telaga Suci.” Bian Chi segera melesat dengan rasa kesal di hatinya.
“Aku Ikut!” Kata Zhu San yang segera melesat ke arah dimana Telaga Suci Elemen Air berada. Bian Chi yang melihat Zhu San mengikutinya tersenyum. “Huh … Pura-pura tidak butuh, dasar lelaki!”
__ADS_1
******