Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
038: Pertandingan Dilanjutkan


__ADS_3

“Adakah sesuatu yang akan dilakukan oleh guru dengan sengaja menunjukkan dirinya? Jika dugaanku ini benar, artinya pergerakan Aliran Hitam semakin membahayakan, Aku harus segera menjemput Ibu secepatnya.”


Zhu San yang telah mengetahui pergerakan Aliansi Aliran Hitam dari pendekar Topeng Putih yang adalah Ayah kandungnya itu, semakin gelisah tentang situasi Ibunya.


Namun untuk bergerak sendiri, Ia merasa itu bukan sesuatu yang bijak. Sang Ayah mendapat informasi jika kediamannya dulu, kini dipenuhi oleh pendekar tingkat tinggi dari kekaisaran Qing.


Ibunya kini bersama sosok lelaki jahat yang mempunyai kemampuan tinggi selain memiliki jurus langka yang telah lama menghilang dari dunia Persilatan.


Jurus Tulang Lunak Otot Kenyal adalah jurus yang hanya bisa dikuasai oleh seseorang yang memiliki tubuh Istimewa seperti yang Ia miliki.


Sosok yang kini menyamar menjadi Ayahnya itu, diketahui oleh Zhu San bernama Chou Bai, seorang Pendekar Aliran Hitam dari Kekaisaran Qing.


Chou Bai sebenarnya bertubuh Yang Sejati. Namun Ia memaksakan dirinya untuk menguasai Jurus Tulang Lunak Otot Kenyal.


Chou Bai mendapat luka serius saat berlatih jurus langka dan aneh itu. Luka yang membuat kejantanannya tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya.


Dengan jurus aneh itu, Chou Bai kemudian menjalankan rencananya. Ia memutuskan untuk menguasai Kota Shinzu terlebih dahulu.


Kota Shinzu adalah kota yang berada di wilayah selatan Ibukota Kekaisaran. Selain itu kota Shinzu adalah kota terdekat dengan perbatasan wilayah kekaisaran Qing.


Untuk itu, Ia harus menyingkirkan Zhu Han, Bangsawan yang menguasai perdagangan Kota Shinzu terlebih dahulu.


Sedangkan Ayahnya, saat itu masih berduka akan kehilangan dirinya yang dikabarkan telah tewas oleh para perampok.


Beberapa bulan setelah berita kematian puteranya itu, Zhu Han segera melakukan perjalanan ke Utara.


Ia ingin mencari jasad putera tunggalnya tersebut, jika memang benar-benar telah tiada.


Namun Chou Bai menghadang rombongan bangsawan Zhu Han saat baru beberapa hari melakukan perjalanan.


Ia bersama dengan tiga orang rekannya, dengan mudah membunuh para pengawal pribadi Bangsawan Zhu Han.


Ia pun menganiaya Zhu Han hingga wajah Ayahnya itu menjadi rusak. Ayahnya yang telah sekarat itu, kemudian dilemparkan ke dalam jurang yang sangat dalam.


Di dasar jurang tersebut, Sosok dewa Seribu Wajah sedang melaksanakan hajat besarnya di tepi sungai yang berada di dasar jurang.


Dewa Seribu Wajah adalah sosok yang menolong Ayahnya dan lalu menjadikannya sebagai seorang murid.


Dan dari Dewa Seribu Wajah jugalah akhirnya semua informasi itu, didapat oleh Zhu Han.


Ayahnya lalu menceritakan hal itu padanya, sesaat setelah mereka bertarung bersama melawan para pembunuh yang dikirim oleh Sun Yang untuk membunuh Paman Mu Bai.

__ADS_1


Suara Gong yang keras menyadarkan Zhu San dari lamunannya. Ia pun menatap ke arena dimana Liu Ling memulai pertarungan dengan Wen Yi.


Wen Yi kini menggunakan Pedang Bintang Merah untuk melawan Liu Ling yang menggunakan Pedang Api Biru.


Sorak sorai penonton yang menyaksikan pertarungan, kembali terdengar riuh. Kedua peserta yang bertarung, menunjukan kemampuan terbaik yang mereka miliki.


Belasan jurus pun berlalu, pertarungan keduanya semakin mendahsyat saat telah memasuki enam puluh jurus.


Gerakan Lincah Wen Yi dengan peringan tubuhnya yang tinggi, mampu mengimbangi kekuatan serangan Liu Ling yang berhawa panas.


Percikan api sering kali terlihat saat kedua senjata pusaka yang terkenal itu, saling beradu dengan kerasnya.


Saat pertukaran serangan memasuki seratus jurus, Wen Yi terlihat mulai terdesak. Walau menggunakan Senjata Pusaka yang hebat, namun tenaga dalam Liu Ling jauh lebih besar darinya.


Hal itu membuatnya tak mampu bertahan dalam waktu lebih lama lagi. Pedang di tangannya terlepas dari genggaman saat beradu dengan pedang di tangan Liu Ling.


Hal itu membuat Wen Yi melompat mundur saat sebuah tendangan kuat dari Liu Ling, dilesatkan ke arah perutnya.


Menyadari bahwa dirinya tak mampu untuk mengalahkan Liu Ling, Wen Yi pun segera melompat mundur keluar dari arena. Penonton pun bersorak riuh mengelukan nama Liu Ling.


Biksu Fanzeng lalu mengambil pedang Bintang Merah dan mengumumkan bahwa Liu Ling sebagai pemenang di pertarungan kedua babak Perempat final ini.


Suara Fu Kuan menggema kembali dengan menggunakan teknik yang membuat keberadaannya tidak diketahui.


Namun Zheng An yang terus saja melihat ke arah tempat duduk penonton, tersenyum saat melihat dua kakek bertampang aneh.


“Huh .. Tua Bangka Fu akhirnya aku tahu keberadaanmu … Jangan harap kau bisa lolos dariku nanti. Tak akan kubiarkan kau pergi sebelum kita minum sampai mabuk.”


Setelah gema suara itu menghilang, Ketua Chen Hu segera melesat turun ke arena tepat setelah Wen Yi memasukan kembali Pedang Bintang Merah ke sarungnya.


Dengan wajah yang ceria, Ketua Chen Hu menerima Pedang Pusaka itu. Ia pun melesat kembali ke tempat duduknya dengan senyum yang terkembang.


Ia pun segera membalas penghormatan Zhu San dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada, saat melihat ke arah Zhu San yang sedang tersenyum seraya memberi hormat kepada dirinya.


Hati Ketua Chen Hu kini diselimuti rasa bersalah atas tindakan dan kecurigaannya tadi, Ia pun berencana menemui Zhu San setelah turnamen ini selesai dilaksanakan.


Jiang Hu dari Sekte Pedang Baja melangkah ke arena bersama Gao Yan dari sekte Pedang Bintang, setelah Biksu Fanzeng memanggil nama mereka berdua.


Pertarungan ketiga babak perempat final akhirnya dimulai setelah Gong berbunyi dengan keras.


Gao Yan terlihat begitu tenang saat melawan Jiang Hu, Ia memutuskan untuk menggunakan satu dari dua jurus andalannya untuk menghadapi Jiang Hu.

__ADS_1


Pertarungan keduanya berlangsung dengan sengit, suara dua pedang berkualitas tinggi yang saling beradu, kembali mengisi udara di atas arena turnamen beladiri tersebut.


Keduanya menunjukan kemampuan terbaik yang mereka miliki agar dapat lolos ke babak semifinal nanti.


Hal itu pun membuat pertarungan yang telah memasuki dua puluh jurus itu, berlangsung semakin dahsyat.


Gao Yan menggunakan satu jurus andalan yang dimiliki oleh sektenya, Jurus Pedang Bintang Menyapu Awan.


Fu Kuan yang melihat jurus buatannya itu dimainkan oleh Gao Yan, terlihat kesal. Ia berencana untuk menegur Chen Hu yang menurutnya kurang keras dalam melatih murid sekte Pedang Bintang.


Jurus yang dimainkan oleh Gao Yan masih terlihat lemah, karena masih melakukan serangan dan sering lupa menjaga pertahanannya.


Beruntungnya, lawan Gao Yan tidak mampu melakukan serangan balik karena terlihat bertahan dengan kepayahan dari serangan Gao Yan yang cukup cepat itu.


Saat pertarungan memasuki enam puluh jurus, Jiang Hu harus menyerah kalah saat Gao Yan berhasil membuat pedangnya terlepas dari genggaman.


Penonton pun kembali bersorak setelah kedua peserta yang bertarung saling memberi hormat dan meninggalkan arena.


Sorak penonton semakin riuh ketika melihat Qin Yu memasuki arena. Hal itu menunjukan bahwa Qin Yu menjadi idola bagi penonton turnamen beladiri ini.


Ia akan bertarung dengan Lao Chan, seorang biksu muda dari Kuil Cahaya Hati.


Melihat lawannya tidak membawa senjata, Qin Yu pun tidak mencabut pedang yang tersarung di pinggangnya yang ramping itu.


Qin Yu sempat menoleh dan tersenyum ke arah Zhu San, hal itu tidak luput dari pandangan Lin Kai dan Fu Kuan.


“Sepertinya Kita akan berbesan dengan Nenek Gadis Qin Rui yang manis itu.”


Lin Kai berkata dengan penuh semangat. Namun Ia terkejut mendengar jawaban ketus dari Fu Kuan.


“Huh … Kau selalu bersemangat jika menyinggung hal yang berkaitan dengan Qin Rui!”


“Ehh … Kenapa kau begitu ketus padaku?”


“Tentu saja aku begitu, kau pernah hendak mencuri pedang wanita yang ingin kunikahi saat Ia tengah mandi!”


“APA !!!” Lin Kai berdiri karena terkejut mendengar kata-kata Fu Kuan. Ia duduk kembali sembari menepuk jidatnya sendiri dan berkata dengan nada mengeluh.


“Amsiong deh gue!”


****

__ADS_1


__ADS_2