Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
115: Kemarahan Sun Li


__ADS_3

Qin Ji termenung menatap sosok Lin Kai yang kini terlihat pasrah menerima kematiannya. Hatinya diselimuti oleh berbagai perasaan yang membuatnya masih diam tak bergerak.


Suasana menjadi tegang, Song Ruo dan In Xeuxu pun tak bisa berbuat banyak, saat melihat kemarahan Sang Guru.


Apa yang terjadi kemudian, membuat semuanya menghela nafas lega. Qin Ji segera berbalik dan menjauhi Lin Kai setelah Ia menghentakan kakinya ke tanah.


Tanah yang baru saja terhantam oleh telapak kaki Qin Ji, melesak dan hancur. Membuat beberapa pasang mata, melotot melihatnya.


Fu Kuan tersenyum kecut melihat hal itu, Ia sempat melihat senyum tersungging di sudut bibir sahabatnya yang masih duduk bersila itu.


“Ji’er … Apakah Kau sudah memaafkan sahabatku itu? Ia bukan lagi sosok Lin Kai yang dulu yang begitu bangga dengan kejahatannya.”


Fu Kuan bertanya demikian setelah Qin Ji berada di dekatnya dan raut kemarahan di wajahnya terlihat sudah hampir menghilang.


Qin Ji hanya menganggukkan kepalanya. Ia pun menatap Kedua muridnya yang sedang berjalan mendekatinya bersama Qin Yu di samping mereka.


“Nenek Guru … Terimalah Hormat dari Cucumu ini.” Qin Yu segera akan berlutut. Namun Qin Ji segera menahannya.


“Kau lebih cantik dari Ibumu. Mungkin Ia terlalu bersedih atas kehilangan dirimu dan adikmu. Syukurlah Kau masih hidup.”


Qin Ji berkata setelah Ia melepaskan Qin Yu dari pelukannya. Memandangi wajah itu dan berdecak kagum atas paras cantik yang bagai seorang Dewi.


“Ruo’er … waktu kita tidak banyak. Lekaslah menemui Yang Mulia Kaisar dan Bangsawan Mu Bai dan selesaikan urusanmu. Aku akan berbincang- bincang terlebih dahulu dengan Enci ku.”


“Baik Guru …”


Xie Han yang mendengar perbincangan itu, segera mendekati mereka.


“Tuan Ruo … Izinkan Aku mengantarkan Anda menemui yang mulia Kaisar.”


Song Ruo menganggukkan kepalanya. Ia pun segera melangkah mengikuti Xie Han menuju sebuah Bangunan besar lain di bagian belakang, dimana Keluarga besar Kaisar Liu Feng berada.


Qin Yu pun segera mengajak sang Ibu ke dalam ruangannya, setelah Ia memperkenalkan In Xeuxu kepada Gurunya, Qin Rui. Mereka berempat akhirnya melangkah meninggalkan halaman, menuju ruangan Qin Yu.

__ADS_1


Sementara Zhu San tercengang dan menggaruk kepalanya, saat Ia memeriksa luka dalam Guru Keduanya yang masih duduk bersila. Wajahnya yang terlihat lucu, membuat tubuh Lin Kai bergetar menahan tawa.


“Kalau menghadapi wanita, Guru Keduamu ini jagonya… Jadi saran guru, lebih baik Kau nikahi saja kedua gadis cantik itu.”


Lin Kai pun terkekeh saat Ia berkata kepada Zhu San, matanya melirik ke arah dimana Qin Ji telah hilang di balik pintu ruangan Qin Yu.


Zhu San hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia pun membantu Sang Guru berdiri sebelum akhirnya Nenek Lin Mi datang mendekati mereka.


“San’er … Orang Tua gadis Qin Yu itu telah datang bukan? Saatnya kau berbicara dengan mereka dan memutuskan bagaimana langkahmu selanjutnya.”


Lin Mi lalu mengingatkan Zhu San tentang Dewi Kematian yang telah kembali dan mereka berdua belum melakukan persiapan sama sekali untuk menghadapinya.


Zhu San hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia pun menganggukkan kepalanya yang seketika kembali sakit, saat mengingat tentang Dewi Kematian dan takdir langitnya itu.


“Nenek … Aku mohon Nenek bisa mengerti bahwa masalah ini bukan masalah tentang kami berdua, tapi juga tentang orang tua kami.”


Lin Mi mengerutkan dahinya mendengar perkataan Zhu San. Ia pun kembali berkata setelah menemukan jawaban yang tepat.


Zhu San menghela nafas panjang. Ia pun menganggukkan kepalanya. Namun Lin Kai segera mengeluarkan pendapatnya.


“Menurutku, Sebaiknya Kau nikahi saja mereka berdua. Dan masalah itu akan selesai dengan tanpa masalah bukan?”


“Selesai dengkulmu! … Dasar lelaki selalu ingin memiliki isteri lebih dari satu!” Lin Mi pun membentak Lin Kai dengan kesalnya.


Fu Kuan yang telah berada di dekat mereka, segera tertawa melihat sahabatnya menjadi ciut setelah dibentak demikian oleh Encinya.


“Apa Kau belum tahu bahwa mereka berdua akan terluka parah setelah mereka menggunakan jurus gabungan itu! Dan apakah Kau tak tahu jika mereka akan meninggal setahun kemudian!”


Suara Lin Mi yang meninggi dan kemudian menangis setelah berkata demikian membuat Fu Kuan dan Lin Kai terkejut bukan kepalang. Kaki mereka tersurut dua langkah ke belakang.


Keduanya menatap tajam ke arah Zhu San yang belum menceritakan hal tersebut kepada mereka berdua.


“San’er … Benarkah itu? Mengapa Kau tidak menceritakan kepada kami?”

__ADS_1


Zhu San hanya tertunduk, Ia menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Nenek Lin Mi tentang perkataannya tadi.


“Maafkan Aku Guru … Aku tak ingin membuat yang lainnya bersedih atas apa yang akan menimpa kami nanti. Aku Pamit dulu untuk berbicara dengan Nona Bian Chi.”


Zhu San pun melangkah pergi, meninggalkan kedua gurunya yang tertegun, mendengar apa yang baru saja Ia ucapkan.


Zhu San lalu melangkah mendekati Ju Yan dan Bian Chi. Ia lalu mengajak mereka untuk berbincang-bincang, sambil menunggu santap pagi yang sedang disiapkan.


*****


“Apa ! Yang Gege telah tewas?! Siapa yang membunuhnya?!”


Sun Li berteriak terkejut saat di pagi yang sama dengan kedatangan Song Rui di Kota Baixan. Ia menerima berita dari seorang Anggota Sekte Pedang Iblis yang menjadi mata-mata di kota Baixan.


Tubuh Isteri Bangsawan Wu Lei itu seketika bergetar hebat menahan kemarahan yang sangat besar dalam tubuhnya.


Kemarahan yang sesaat kemudian berubah menjadi rasa sedih yang mendalam, membuat perempuan berjuluk Dewi Selaksa Racun itu, tak bisa menahan laju air mengalir dari matanya.


Perempuan yang tidak lagi muda itu, untuk beberapa saat terdiam dalam tangis sedihnya. Sesaat kemudian, tatapannya berubah menjadi bengis dengan tangan yang terkepal kuat.


“Aku akan menulis surat untuk Ketua Luo San, sebaiknya kalian kirimkan secepat mungkin!” Perintah Sun Li kepada anggota Sekte Pedang Iblis yang menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Sun Li pun memasuki ruangannya. Setelah beberapa menit kemudian, Ia keluar dengan sebuah kertas yang tergulung kecil.


Ia pun menyerahkan kertas tersebut yang kemudian akan diantarkan dengan merpati Pos agar segera tiba di Kota Shangyu, dimana Dewa Tapak Api Luo San berada.


Sun Li pun segera pergi menemui suaminya. Bangsawan Wu Lei terlihat sedang memberi perintah kepada sejumlah anak buah mereka. Karena beberapa hari ke depan, rombongan itu akan berdagangan ke Kekaisaran Hun.


Bangsawan Penguasa Kota Wuchang itu, tertegun mendapat kabar jika kakak Iparnya telah tewas. Ia pun memeluk Sang Isteri untuk menenangkannya.


Bangsawan Wu Lei terlihat sangat geram mendengar berita tersebut. Ia pun bertekad untuk segera menguasai Kota Baixan dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang Ia miliki.


*****

__ADS_1


__ADS_2