
Tubuh tua Sepasang Hantu Kerempeng itu, seketika bergetar hebat saat menyadari, bahwa tenaga dalam mereka telah musnah, tanpa mereka ketahui sebelum keduanya berdiri.
“Kau … Kenapa Kau tidak membunuh kami saja? Kau tentu tahu bahwa kehilangan tenaga dalam, bagi seorang pendekar adalah hal yang lebih menyakitkan dari kematian bukan?”
Sang Kakek berkata dengan suara keras untuk menunjukkan jika dirinya sedang marah. Namun dibalik kata-katanya, tersirat adanya kepasrahan yang mendalam.
Sang Kakek segera mendekati isterinya yang kembali terduduk, setelah nenek bermata belok itu mengetahui kondisi tubuhnya sendiri.
Ada kemarahan besar dalam dirinya terhadap Zhu San, yang kini sedang tersenyum setelah mendengar perkataan suaminya.
“Sayang … Mari kita pergi. Pemuda ini tak berniat untuk membunuh kita. Kita ucapkan terimakasih padanya.”
Nenek itu terkejut mendengar suaminya berkata demikian, namun kedipan mata lelaki yang telah puluhan tahun menikahinya itu, membuatnya diam dan menuruti kata-katanya.
“Terimakasih Anak Muda, Kau membiarkan kami untuk tetap menjalani kehidupan yang lebih menyakitkan dari yang pernah Gurumu berikan dulu.”
Setelah berkata demikian, Sepasang Hantu Kerempeng itu segera berbalik dan melangkah meninggalkan Zhu San yang tersenyum tipis mendengar perkataannya.
Zhu San pun membalikan badannya dan melangkah ke arah yang berlawanan seolah hendak kembali ke tempat di mana Sektenya berada.
Ia sengaja melakukan hal itu bukan tanpa sebuah tujuan. Zhu San meyakini jika mereka berdua akan kembali ke tempat dimana Gao Yan sedang menunggu kedatangan mereka
“Sayang … Apa maksud kedipan matamu tadi? Kau tidak mungkin menggoda Aku bukan?”
Si Nenek bertanya kepada suaminya, sesaat setelah Ia melihat Zhu San telah jauh di belakang mereka berdua.
“Aku yakin, dia membiarkan kita hidup karena ingin mengetahui keberadaan Yan’er. Untuk itulah kita akan menuju ke barat dan kita akan mengambil jalan ke kiri pada persimpangan di depan nanti.”
“Begitukah? Lalu bagaimana dengan Yan’er nanti? Tentu dia akan kecewa jika ….”
Sang Nenek terdiam, Ia baru menyadari jika suaminya itu, ingin Gao Yan tidak ditemukan Oleh Zhu San. Sehingga dengan begitu, Gao Yan dapat tetap hidup.
__ADS_1
“Aku tahu Kau ingin melindungi dia, namun apakah dia nanti tidak akan mengkhawatirkan kita yang tidak juga kembali menemuinya?”
Sang Nenek kembali bertanya, Ia menatap heran pada suaminya, karena baru kali ini dirinya tidak bisa memahami pemikiran lelaki tersebut.
Sang Kakek terdiam, Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya mulai menjelaskan apa rencananya yang ada di dalam benaknya.
Ia mengatakan bahwa jika mereka pergi ke arah barat dan tidak pernah menemui Gao Yan lagi, maka Gao Yan akan menganggap mereka berdua telah mati di tangan Zhu San.
Dengan begitu, dendam Gao Yan kepada Zhu San akan semakin dalam. Dengan dendamnya itu, Ia berharap Gao Yan bertekad mempelajari jurus terhebat dari Guru mereka, Jurus Tapak Pembalik Langit.
Jurus yang pernah menggemparkan Dunia Persilatan empat Kekaisaran itu, Tidak bisa dipelajari oleh mereka berdua, karena mereka telah hilang keperjakaan dan kesuciannya.
Kedua hal itu adalah syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin mempelajari jurus hebat, yang telah hilang dari dunia persilatan sejak lima puluh tahun lalu.
“Aku hanya berharap, Yan’er masih perjaka saat ini. Dengan begitu, Ia bisa mempelajari jurus itu dan juga teknik tenaga dalam tingkat tinggi yang berada dalam satu kitab dengan jurus itu.”
Si Kakek segera mengedipkan matanya, saat menyadari jika mereka sedang diawasi oleh seseorang dari belakang mereka. Sang Nenek bermata belok itu, segera diam melihat hal itu.
Namun butuh waktu setidaknya dua minggu bagi mereka berdua, untuk bisa berada di sana. Sementara itu, Zhu San yang sedang mengintai mereka terlihat antusias saat keduanya berjalan menuju ke barat.
Ia terus mengikuti kedua tokoh dunia persilatan Kekaisaran Liu itu, hingga beberapa jam kemudian.
Dan Zhu San terkejut saat mengingat perkataan gurunya, tentang keberadaan Jurang Angin yang hanya sejauh lima kilometer saja dari bangunan Sekte mereka.
Sudah tiga jam lebih Ia mengikuti mereka berdua dari udara dengan jarak sekitar dua ratus meter dari keduanya.
Saat ini, Ia baru menyadari jika dirinya telah belasan kilometer mengikuti mereka berdua. Hal ini membuat Zhu San menjadi bimbang apakah akan meneruskan untuk membuntuti mereka atau kembali ke Sektenya.
“Apakah mereka telah keluar dari Jurang Angin dan mendiami tempat lainnya? Bagaimanapun juga Aku harus terus mengikuti mereka, Gao Yan terlalu berbahaya jika dia dibiarkan tetap hidup.”
Zhu San berkata demikian dalam benaknya, ia pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka berdua dengan cara yang berbeda.
__ADS_1
Zhu San sempat melihat ada sebuah kota kecil di depan sana. Ia pun segera melesat untuk mendahului keduanya, pada jarak seratus meter dari sisi jalan yang sedang mereka lewati.
Sesaat sebelum tiba di kota kecil itu, Zhu San mencari sebuah pohon besar. Lalu dengan menggunakan jurus Tulang Lunak Otot Kenyal Zhu San berencana mengubah wajahnya.
Sebelum melakukan hal itu, Zhu San mengingat-ingat wajah pemuda terjelek yang pernah Ia lihat beberapa waktu lalu. Dan Ia tersenyum saat berhasil mengingat nama pemuda itu.
Mo Heng, demikian nama pemuda yang Ia lihat saat menemani Ayah dan Ibunya, ketika mereka melihat-lihat suasana kota Shinzu sambil berbelanja jubah untuk Zhu San.
Zhu San pun segera bermeditasi sejenak, ia mengeluarkan sebuah batu cermin baru yang Ia beli sesaat setelah selesai membeli jubah.
Alat untuk melihat wajah sendiri itu, dia beli karena Ia menganggap ke depannya nanti, benda itu akan sangat berguna ketika Ia harus menyamar.
Zhu San lalu mulai melakukan perubahan pada wajah dan tubuhnya. Tak sampai lima menit, proses itu berhasil sesuai dengan yang Ia harapkan.
Tinggi Zhu San kini dua jengkal lebih rendah dari sebelumnya. Hal ini membuat Zhu San akan terlihat satu jengkal lebih pendek dari Qin Yu, jika saja mereka berdiri berdekatan.
Zhu San segera mengambil batu cermin dan Ia nyaris saja membuat batu itu terjatuh, saat terkejut melihat wajahnya yang ternyata lebih jelek dari wajah Mo Heng yang sebenarnya.
“Aih ini … Kenapa hidung ini jadi terlalu pesek, bibirku yang bawah juga terlalu tebal …”
Zhu San sedikit mengubah kedua bagian itu, sambil menatapnya dari batu cermin. Setelah selesai dengan bagian wajah, Zhu San pun , segera mengeluari Pedang Yinyang dan sebuah jubah berwarna kuning gelap.
Ia pun segera memotong bagian bawah Jubah itu, sepanjang satu jengkal setengah.
Setelah merasa yakin tidak ada orang yang melihat dirinya. Zhu San pun segera melepaskan jubahnya dan berganti dengan jubah yang baru Ia potong tadi.
Setelah semua persiapan selesai, Zhu San segera melesat turun dari pohon besar itu. Ia pun menunggu sepasang jagoan tua tadi dan akan mengikutinya setelah mereka memasuki kota kecil itu.
Zhu San pun tersenyum saat pada jarak seratus di sisi kirinya, Ia melihat kedua orang tua itu berjalan dengan terburu-buru untuk memasuki kota.
Zhu San masih bersantai sejenak dan Ia segera melangkah setelah melihat kedua orang itu, menghilang di balik pintu gerbang yang segera saja ditutup kembali.
__ADS_1
******