
Sehari setelah keberangkatan Zhu San ke Kota Songdu, Gerbang Barat Kota Baixan dipenuhi oleh ribuan prajurit dan ratusan pendekar.
Hal ini karena informasi yang diterima Xie Han tentang adanya rencana penyerangan belasan ribu prajurit yang dipimpin oleh Sun Li.
Dan informasi itu ternyata benar adanya, saat pagi tiba, pasukan yang Sun Li pimpin telah berjarak dua ratus meter dari Gerbang Barat Kota Baixan.
Lin Kai dan Fu Kuan juga Qin Rui, menatap heran ke arah belasan ribu prajurit Bangsawan Wu Lei dari atas Tembok Pagar Kota Baixan.
“Dengan pasukan segitu, dia berani menyerang Kota Baixan?” Fu Kuan berkata pelan seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Entah apa yang di rencanakan oleh Dewi Selaksa racun itu ….?” Lin Kai tersentak saat Ia menyebutkan kata Racun.
“Mungkinkah dia akan menggunakan racun Pelumpuh Sarafnya untuk menyerang kota? Jika iya, ini akan sangat berbahaya bagi mereka!” Fu Kuan pun tersentak.
Zheng An dan Xie Han mendatangi ketiga sesepuh dunia persilatan Kekaisaran Liu itu. Kedua nya sempat mendengar perkataan Fu Kuan dan segera bertanya mengapa Ia berkata demikian.
Xie Han segera berteriak memberi perintah kepada para prajurit untuk segera menutup mulut dan hidung mereka dengan kain saat melihat sekitar seribu pemanah dari pihak lawan, berlari mendekati benteng Kota.
Seribu orang lain yang membawa perisai besar ikut juga berlari. Masing-masing mengikuti satu orang pemanah yang berbaris dengan jarak cukup renggang antara satu sama lainnya.
Fu Kuan dan Lin Kai segera mengeluarkan Pedang mereka lalu bergerak ke arah yang berlawanan. Demikian juga dengan Qin Rui dan Tetua Zheng An.
Sementara Xie Han pun segera memerintahkan dua ribu pasukan pemanah, untuk bersiaga di tempatnya masing-masing.
Sesaat kemudian, seribuan anak panah dari pihak lawan, melesat ke arah Benteng Kota dengan ujung anak panah memiliki buntalan kecil yang berwarna putih.
Keempat sesepuh itu, segera melesat ke udara dan menebaskan energi pedang, untuk menghadang ribuan anak panah itu. Namun jumlah anak panah yang datang terlalu banyak.
Ratusan anak panah yang lain, meledak saat mengenai tembok pagar kota. Ratusan anak panah yang lain, mengenai prajurit di dalam kota yang tengah berbaris.
Dua ribu anak panah pun melesat dari arah benteng menuju ke arah pasukan dari Kota Wuchang itu, ketika Xie Han memerintahkan untuk menembak ke arah lawan.
__ADS_1
Sementara asap putih mulai menyelimuti udara Kota Wuchang. Ribuan prajurit pun berlarian menjauhi asap tersebut.
Sementara mereka yang menghisap asap putih itu, langsung tumbang dengan tubuh dan tulang yang melemas.
Melihat hal itu, Lin Kai menjadi sangat marah. Ia pun melayang ke udara dan menuju ke arah dimana pasukan pemanah berada.
Bukan hanya dua ribu pasukan itu yang terkejut melihat adanya sosok yang bisa melayang di udara.
Sun Li dan beberapa tetua Sekte Pedang Siluman, terkejut saat melihat Lin Kai telah pulih kekuatannya dan bahkan kini bisa melayang di udara.
“Nyonya bagaimana ini? Apakah kita akan tetap bertahan?” Salah satu Tetua bertanya kepada Sun Li, tepat saat Lin Kai sedang menghalau ratusan panah yang melesat ke arahnya dengan menggunakan energi pedang.
“Tentu saja kita harus segera pergi dari sini. Kita bukan lawannya. Tarik semua pasukan mundur, biarkan mereka menjadi penghambat langkah kita untuk melarikan diri.”
Setelah berkata demikian, Sun Li segera melesat dari kembali ke kota Wuchang dengan berlari menggunakan ilmu peringan tubuhnya.
Melihat hal itu, belasan ribu prajurit yang lain, juga ikut berlari ke arah yang sama. Sementara pasukan pemanah yang tengah menyerang dan juga di bantai oleh Lin Kai, terkejut melihat mereka ditinggalkan.
Ratusan orang pun tewas terkena tebasan maupun tendangan dari Lin Kai yang sudah mengamuk dengan kemarahan yang luar biasa.
Dua ribu orang itu, tak satupun yang dia biarkan hidup. Mereka semua tewas setelah setengah jam berlalu sejak kepergian Sun Li tadi.
Lin Kai segera mengambil puluhan anak panah yang ujungnya mengandung racun pelumpuh saraf itu. Walau asap putih dari racun itu memasuki pori-porinya, namun Lin Kai berhasil mengusir racun itu dengan tenaga dalamnya.
Setelah dua puluh anak panah tergenggam di tangannya, Lin Kai pun melesat ke udara. Saat itulah Ia menyadari jika tenaga dalamnya telah banyak terkuras untuk mengusir racun.
“Aah … Aku tidak bisa mengejar perempuan jahat itu, tapi setidaknya aku bisa menawan beberapa prajuritnya.”
Lin Kai segera melayang dengan menggunakan separuh tenaga dalamnya yang tersisa. Ia berhasil menyusul belasan ribu prajurit yang berlarian dan segera melemparkan beberapa anak panah ke arah depan mereka.
Setelah habis anak panah di tangannya, Lin Kai segera melesat turun dan berdiri di atas sebuah pohon yang sangat tinggi. Pohon itu berada di arah berlawanan dengan angin yang meniup asap beracun itu.
__ADS_1
Sesaat setelah asap itu menghilang, senyum Lin Kai pun terkembang. Sekitar dua atau tiga ribu prajurit yang datang, tumbang dengan tubuh yang sangat lemas.
“lumayanlah daripada lumanyun.” Lin Kai segera berlari ke arah benteng kota, yang kini telah berjarak lebih dari tiga ratus meter dari tempatnya berada.
Sesampainya di sana terdengar suara hiruk pikuk prajurit yang merayakan keberhasilan mereka seraya memandang takjub ke arah Lin Kai yang melayang ke udara untuk memasuki Benteng.
“Jenderal Han … Perintahkan lima ribu prajurit anda, untuk menangkap sekitar dua hingga tiga ribu prajurit musuh yang telah tumbang akibat racun mereka sendiri.”
Lin Kai berkata demikian dan mencari Fu Kuan serta Qin Rui. Ia pun melesat ke arah sepasang suami isteri yang tersenyum, saat melihat kedatangannya.
***
Setiap delapan jam sekali, rombongan prajurit yang dipimpin oleh Song Ruo itu beristirahat selama satu jam.
Selama waktu itu pula, Zhu San selalu menyempatkan dirinya untuk berbincang-bincang dengan Song Ruo dan Isterinya.
Terkadang Zhu San berbincang dengan Nenek Lin Mi dan Qin Ji yang kini telah mulai menjadi akrab.
Sementara Ju Yan dan Bian Chi selalu bersama Qin Yu, walau sesekali In Xeuxu mendatangi mereka bertiga.
Kebencian di hati Qin Yu kepada Bian Chi perlahan mulai berkurang. Bahkan kini Qin Yu mulai menjadi akrab dengan kedua muda-mudi dari kekaisaran Jian itu.
Bian Chi sebenarnya merasa heran, mengapa Kakak seperguruannya yang biasanya pendiam itu, kini menjadi banyak bicara, terutama saat di dalam kereta.
Selama dalam perjalanan, waktu mereka dihabiskan untuk mengobrol dan menceritakan pengalaman masing-masing.
Di sinilah keakraban ketiganya terjalin dan rasa kagum mulai mengisi hati Ju Yan maupun Qin Yu. Sementara Bian Chi yang setahun lebih tua dari Qin Yu merasa memiliki seorang adik.
Zhu San memandangi ketiganya dengan senyum tipis di bibirnya. “Sayangnya Keakraban mereka terjadi di simpang perpisahan. Karena nanti malam, rombongan ini akan tiba di Kota Songdu.”
Zhu San menghela nafas panjang, menatap ke langit yang cerah seraya berharap bahwa masalah pertunangannya itu, tidak akan menjadi masalah yang menghancurkan persaudaraan Ayahnya dan Paman Song Ruo, seandainya nanti mereka harus berpisah.
__ADS_1
*****