
“Rong’er … Kau sudah sadar sayang?”
Perkataan lembut Zhu Han, membuat Mu Rong yang baru saja tersadar akibat totokan Rei Ji, melihat ke arah suaminya itu dengan tatapan yang penuh keheranan.
“Mengapa kini Kau bersikap lembut padaku setelah apa yang kau lakukan pada keluarga kecil kami? Mengapa tidak kau bunuh aku sekalian? Mengapa?.”
Zhu Han terkesiap mendengar perkataan Mu Rong, namun Ia menyadari apa yang menjadi sebab isterinya berkata demikian.
“Rong’er … Maafkan Aku yang gagal menjaga keluarga kita dengan benar. Maafkan Aku telah membuatmu menderita sekian lama.”
Setelah Zhu Han berkata demikian, Ia pun berusaha memeluk Mu Rong, namun Ia terkejut saat Isterinya itu, mendorong tubuhnya dengan kuat seraya membentak dirinya dengan keras.
“Jangan pernah sentuh diriku! Aku tahu Kau bukan suamiku! Jangan pura-pura bersikap seperti dirinya! Pergiii!”
Mu Rong segera membentak Zhu Han yang justru tersenyum bahagia, mendengar semua perkataan kasar Mu Rong kepadanya.
Dari perkataan Mu Rong, Ia mengetahui jika isterinya itu masih suci dan Chou Bai benar-benar tidak menyentuhnya.
Apa yang dikatakan gurunya, Pendekar Seribu Wajah ternyata adalah benar tentang kondisi kejantanan Chou Bai yang hidup segan mati pun iya.
Dan Ia sangat berterimakasih pada sang guru yang telah bersusah payah, melakukan penyelidikan terhadap Chou Bai dengan mempertaruhkan nyawanya.
Saat ini, hanya Zhu Han dan Mu Rong yang ada di dekat kuda dimana Mu Rong tadi masih tergeletak diatasnya, Saat Zhu Han datang.
Sementara Sepuluh orang pasukan Heise, berjarak sepuluh meter dari keduanya bersama beberapa prajurit yang membawa obor besar di tangan mereka.
“Rong’er … Jadi Kau sudah mengetahui jika sosok diriku yang bersamamu selama tiga tahun terakhir adalah palsu?”
Mu Rong terkesiap mendengar perkataan sosok Zhu Han yang berada di depannya. Mata Mu Rong seketika melotot lebar, saat melihat sosok di depannya, membuka sebagian jubah di atas bahu kirinya.
“Kau masih ingat bukan, bagaimana ada luka gigitan di bahu kiriku ini? Kau masih ingat sebab apa kau menggigitnya?”
Zhu Han berkata demikian dan hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Tubuh Mu Rong seketika bergetar hebat saat melihat luka di bahu Zhu Han.
Ia sangat mengenali luka itu, luka gigitan darinya yang tak kuat menahan rasa sakit di malam pertama, setelah mereka berdua menikah.
Luka Suci, begitulah mereka berdua menyebut luka di bahu Zhu Han itu.
Tanpa bicara apapun, Mu Rong segera melesat dan memeluk suaminya dengan sangat erat.
Tak ada lagi keraguan di hatinya tentang jati diri sosok yang berada di depannya setelah Ia melihat Luka Suci itu.
“Han Gege … Han Gege Syukurlah Kau masih hidup sayang. Aku sangat merindukanmu.”
__ADS_1
***
Usia Chou Bai yang telah melewati lima puluh tahun, terlarang untuk menggunakan Jurus yang bernama Jurus Darah Api itu.
Namun mendapati tenaga dalamnya berada di bawah Zhu San, mau tak mau Chou Bai menggunakan jurus yang dapat menaikkan tenaga dalam dengan cara meneteskan darahnya pada Mata Tombak Api Ungu.
Sesaat setelah tiga tetes darahnya mengalir membasahi mata tombak, Tubuh Chou Bai pun tersentak oleh aliran energi yang besar mengalir melalui tangan kanannya yang menggenggam tombak.
Chou Bai yang pernah satu kali memakai jurus ini di usia mudanya, sedikit merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu rasa ngilu akibat masuknya aliran energi itu, ke dalam otot di tubuh tuanya.
Zhu San menjadi waspada saat merasakan perubahan hawa udara semakin memanas. Ia pun meningkatkan Aliran tenaga dalam Yin sebanyak lima puluh persen ke seluruh tubuhnya.
Sambil menahan sakit, Chou Bai tersenyum dengan mata yang kini berubah warnanya menjadi ungu, sewarna dengan mata tombak di tangannya.
“Bocah! Rasakan ini!”
Chou Bai memutar-mutar mata tombaknya yang terhunus ke arah Zhu San dengan sangat cepat.
Zhu San terkesiap saat tiba-tiba melesat sangat cepat, selarik cahaya ungu ke arah dadanya dari putaran mata tombak itu.
Bilah Pedang Yinyang segera Zhu San gunakan untuk menahan hantaman Energi tombak. Hal itu membuat tubuhnya harus terjajar dua meter ke belakang.
Zhu San segera memutar pedang Yinyang, menjadi perisai yang melindunginya, dari tembakan energi mata Tombak Api ungu yang terus mencecar ke arah tubuhnya.
Setelah puluhan tembakan energi Ia lesatkan, Chou Bai pun berhenti menyerang Zhu San dengan cara itu.
Energi Chou Bai telah terkuras separuh dari semula. Tubuhnya pun merasakan sakit luar biasa yang membuatnya menjadi sangat murka, lalu mengalirkan seluruh energinya.
Ia pun segera melesat, kembali menerjang Zhu San yang bersiap dengan tusukan tombak yang bisa memanjang itu. Namun kini Zhu San salah menduganya.
Chou Bai sekuat tenaga menghantamkan mata tombaknya ke arah kepala Zhu San yang segera saja menangkisnya dengan pedang Yinyang.
TRANG
Pedang dan tombak kembali beradu, Tubuh Zhu San jatuh berlutut menahan kuatnya hantaman tombak Chou Bai. Hal itu dimanfaatkan oleh Chou Bai dengan cepat.
Ia menarik tombak dan membuatnya menjadi sependek satu meter, Ia pun segera melesatkan serangan tusukan dengan membuat tombak itu kembali menjadi sepanjang empat meter.
Laju mata tombak yang sangat cepat itu, nyaris saja terlambat untuk Zhu San hindari. Zhu San terpaksa melayang ke udara dan hal itu membuat Chou Bai terkesiap.
“Jurus tombaknya sangat bervariasi dan berbahaya sekali. Aku harus bisa merebut senjata pusaka itu.”
Zhu San segera melesat sangat cepat, membuat Chou Bai menjadi panik.
__ADS_1
Zhu San memutari tubuh Chou Bai dengan melayang sangat cepat. Hal itu membuat Chou Bai kebingungan. Tak tahu bagaimana caranya untuk menyerang Zhu San.
Udara di sekitar Chou Bai pun turun drastis, membuat nyala api di mata Tombak Api Ungu seketika mengecil. Tubuh Chou Bai pun kini mulai menggigil dan sedikit kaku.
Sebuah tusukan cepat dari Zhu San yang melayang memutari tubuh Chou Bai, gagal dihindari oleh pendekar aliran hitam dari kekaisaran Qing itu.
Ia menjerit tertahan sebelum melepaskan serangan membab1 buta ke sembarang arah.
Hal itu membuat Zhu San yang berada di belakangnya segera melesat cepat untuk menghunjamkan pedang ke punggung Chou Bai.
JLEEEB
Pedang Yinyang pun menancap di tubuh Chou Bai hingga menembus jantungnya, Tubuh Chou Bai terkulai lemas dengan jantung dan organ dalam yang membeku.
Zhu San segera mengambil Tombak Api Ungu yang terjatuh bersamaan dengan tubuh Chou Bai.
Saat memegang tombak itu, Zhu San baru menyadari adanya beberapa tombol kecil yang berada di gagang tombak.
Setelah menekan beberapa tombol, Akhirnya Tombak Api Ungu itu menjadi sepanjang satu meter saja.
Zhu San segera memasukan tombak pusaka legendaris itu ke dalam Cincin Jiwa Yinyang. Ia pun lalu menggeledah Jubah Chou Bai untuk mencari kitab jurus tombak itu.
Setelah tidak menemukan apa yang Ia cari, Zhu San lalu menebas leher Chou Bai dan meraih kepalanya dengan mencengkeram rambut panjang Chou Bai.
Para prajurit yang melihat Zhu San datang mendekati mereka sambil menenteng kepala Chou Bai, bergidik ngeri dan segera menyibak memberi jalan padanya.
Tatapan mata para prajurit terlihat sangat takut, melihat wajah tampan pemuda belasan tahun itu, menyimpan kekejian yang sungguh mengerikan.
Mereka bersyukur karena Komandan Mao Sheng telah memilih berpihak pada pemuda itu. Jika tidak, mungkin mereka pun akan mengalami hal seperti yang Chou Bai alami.
“Lung’er … Kau benar Lung'er Puteraku kan?”
Terdengar suara lemah seorang perempuan yang berlari menyambut Zhu San, seorang Ibu yang tiga tahun ini sangat Zhu San rindukan sosoknya.
“Ibu … !”
Zhu San segera menjatuhkan kepala Chou Bai dan melesat menyambut pelukan Ibunya yang terlihat sangat kurus sekali.
Mu Rong menangis dan menciumi Putera yang telah dianggap tewas tiga tahun lalu itu, rasa bahagianya teramat besar sedang tubuhnya tak mampu menahan energi itu.
Tubuh Mu Rong yang kurus akhirnya jatuh terkulai tak sadarkan diri, membuat Zhu San terkejut dan segera menggendong tubuh kurus Ibunya.
“Lung’er … Sebaiknya kita segera kembali Ke Kota untuk mengobati Ibumu.”
__ADS_1
Bangsawan Zhu Han yang segera datang saat melihat isterinya terkulai dan kembali pingsan, berkata kepada Zhu San yang segera saja menganggukkan kepalanya menyetujui kata -kata Sang Ayah.
*****