
Dua Jam kemudian, pertempuran besar di selatan kota Baixan berhenti. Delapan belas ribu prajurit Aliansi Aliran Hitam kini sedang berbaris rapi.
Hal itu terjadi karena tiga hal, terbunuhnya ketiga jenderal yang memimpin prajurit dari tiga kota itu dan juga tewasnya seluruh pendekar Aliansi Aliran Hitam termasuk Sun Li yang tewas di tangan Bian Chi.
Hal ketiga adalah terbakarnya tenda-tenda mereka. Tidak ada lagi perbekalan mereka yang tersisa, membuat para perwira pasukan Aliansi Aliran Hitam, memutuskan untuk menarik mundur pasukan mereka.
“apa langkah kita selanjutnya Sesepuh Zheng? Mohon petunjuk anda, Langkah Apa yang harus saya ambil sebagai jawaban untuk mereka yang ingin berdamai?”
Xie Han bertanya kepada Zheng An yang juga menjabat sebagai penasehat Kaisar itu.
Guru Liu Ling itu menghela nafas panjang, memandang dua orang Perwira yang berada delapan meter di depan mereka, diantara ribuan jasad prajurit.
Dua perwira itu datang sebagai utusan untuk mengajukan perdamaian dan menghentikan pertempuran itu. Mereka menunggu jawaban dari Xie Han selaku Panglima Perang Kekaisaran Liu.
“Jumlah prajurit mereka masih banyak, sedang prajurit kita mungkin hanya sekitar sepuluh hingga sebelas ribu orang lagi. Dan dua hingga tiga ribu orang dari golongan pendekar. Apakah menurutmu kita masih memiliki kemungkinan menang?”
Zheng An balik bertanya setelah menjelaskan situasinya. Kepala Xie Han menjadi sakit mendadak. Beruntungnya Zhu San yang berada tak jauh dari tempat itu, segera melangkah mendekati keduanya.
“Maaf Sesepuh Zheng, Saudara Han. Bolehkan Aku memberi usul?” Zhu San bertanya setibanya Ia di dekat mereka berdua. Xie Han dan Zheng An pun segera mengangguk.
Boleh dibilang, kemenangan mereka saat ini adalah karena strategi perang yang Zhu San usulkan kemarin.
“Aku dan Isteriku, Paman Tan Kuan dan Bibi Yu Mei, serta kedua guruku, akan mendatangi mereka bukan hanya sebagai utusan saja tetapi juga sebagai Algojo jika mereka menolak penawaran dari kita.”
Zhu San lalu berkata lebih lanjut setelah Xie Han memerintahkan kedua utusan itu kembali ke pasukan mereka.
Dengan suara sedikit lirih, Zhu San lalu menjelaskan rencananya kepada Zheng An dan Xie Han. Keduanya terlihat tersenyum saat Zhu San selesai menjelaskan rencananya.
Sesaat kemudian, Enam orang melayang di udara mendatangi belasan ribu prajurit yang menatap mereka dengan pandangan jerih. Xie Han dan Zheng An menunggang kuda untuk menyusul mereka.
__ADS_1
Keenamnya segera turun di hadapan sepuluh perwira yang kini menjadi pemimpin para prajurit itu. Setelah mengeluarkan Giok Lencana Panglima Perang Kekaisaran milik Xie Han, Zhu San pun segera berkata kepada mereka.
“Atas Nama Yang Mulia Kaisar Liu Feng, Kami menyampaikan penawaran penyerahan diri bagi para prajurit yang memberontak kepada Kaisar dengan bergabung menjadi prajurit Kekaisaran Liu dan bersedia patuh mengikuti aturan Kekaisaran. Jika tidak menerima penawaran ini, maka peperangan akan tetap dilanjutkan. Bagaimana?”
Sepuluh perwira itu terlihat terkejut saat mendengar perkataan Zhu San. Tiga orang di antaranya, berwajah kesal dan geram. Sementara tujuh orang perwira, terdiam memikirkan langkah mereka selanjutnya.
“Kami tidak bisa menerima penawaran itu, kami lebih memilih untuk terus berperang hingga titik darah Penghabisan.” Salah satu dari perwira itu berkata dengan suara lantang lalu memisahkan diri.
Lin Kai yang mengetahui jika mereka adalah perwira dari Kota Wuchang menjadi sangat geram. Ingin rasanya Ia memecahkan kepala ketiga perwira itu, namun Fu Kuan menahannya dengan cepat.
Xie Han yang telah tiba sesaat setelah Zhu San selesai berbicara, segera maju ke hadapan mereka semua.
“Baiklah jika begitu, bagi perwira yang ingin pasukannya selamat dari kematian, segera memisahkan diri dari mereka yang ingin tetap bertarung dengan kami!’
Xie Han berkata dengan suara lantang dan mata yang menatap tajam ke arah ketiga perwira tersebut.
Pergerakan besar segera terjadi dari belasan ribu prajurit itu, setelah para perwira mereka memberitahukan apa yang Xie Han sampaikan.
Xie Han tersenyum sebelum mengutarakan, siasat terakhir yang Zhu San katakan. Ia melangkah mendekati sepuluh ribu prajurit itu. Lalu dengan menggunakan tenaga dalamnya Ia berkata lantang.
“Apakah kalian semua bersedia patuh dan setia kepada Yang Mulia Kaisar Liu Feng?!”
“SIAP! KAMI BERSEDIA!”
Suara ribuan orang itu terdengar menggema di udara. Membuat sekelompok burung yang tengah melintas terkejut dan segera terbang lebih cepat lagi dengan wajah yang ketakutan.
“Atas Nama kaisar Liu Feng, Aku perintahkan kalian untuk membuktikan kesetiaan kalian dengan membasmi mereka yang masih berniat memberontak kepada Yang Mulia Kaisar Liu Feng!”
Xie Han berkata sambil menunjuk ke arah delapan ribu prajurit yang masih enggan menerima penawaran damai. Ia pun mencabut pedangnya.
__ADS_1
“SIAAP!”
Suara teriakan sepuluh ribu prajurit, terdengar lebih keras dari sebelumnya. Suasana menjadi tegang, saat mereka kembali mencabut pedang dan mengambil perisai yang telah mereka letakan di tanah.
Zhu San dan Bian Chi pun segera mencabut pedang mereka, Fu Kuan, Tan Kuan dan Yu Mei segera bersiap, tetapi tidak dengan Lin Kai, Ia telah melesat lebih dulu dan menerjang ke tiga perwira yang tadi menolak tunduk.
PRAK! PRAK! PRAK!
Sesaat kemudian, terdengar suara kepala pecah dari tiga orang perwira yang berasal dari kota Wuchang itu. Tendangan Kaki Baja Lin Kai membuat mereka mati tanpa harus merasakan sakit lebih lama.
“Serang!”
Zhu San berteriak memberi aba-aba!
Peperangan pun kembali berkecamuk dengan tidak sengitnya. Hal itu karena ke enam orang itu, melesat ke udara ke enam arah yang berbeda dan membunuh para prajurit yang akan kabur melarikan diri.
Kedua pedang Yin dan Yang, kini kembali menjadi benda yang berperan besar dalam membantai ribuan prajurit yang tidak bersedia takluk pada kekuasaan Kaisar Liu Feng.
Pertempuran itu berlangsung dalam waktu yang singkat, kurang dari sejam telah berakhir dengan terbunuhnya delapan ribu prajurit yang tidak mau tunduk kepada Kaisar Liu Feng.
Sementara dari sepuluh ribu orang yang bersedia tunduk, kini tersisa tujuh ribu prajurit yang sebagian terluka dalam pertempuran singkat itu.
Enam perwira yang tadi memimpin mereka, kini hanya tersisa dua orang saja, empat yang lainnya tewas dalam pertempuran itu.
Tidak ada suara hiruk pikuk kemenangan, yang ada tangis kesedihan, saat ribuan prajurit bergerak untuk membersihkan ribuan jasad yang bergelimpangan dengan aroma anyir darah yang menusuk hidung.
Peperangan yang menentukan kelangsungan Kekaisaran Liu itu, segera tersebar di kalangan penduduk kota Baixan yang tengah berada di sisi utara kota tersebut.
Mereka berencana mengungsi ke utara, jika saja pasukan Aliansi Aliran Hitam mampu menembus pertahanan Kota Baixan.
__ADS_1
Wajah cerah ditunjukan oleh Bangsawan Mu Bai dan Kaisar Liu Feng. Dengan kemenangan ini maka kedamaian akan kembali memayungi Kekaisaran Liu.
*******