
Satu minggu setelah serangan dari tiga jagoan tua itu berlalu, Zhu San terlihat tengah berbincang dengan Ju Yan yang kini telah menjadi Kaisar Qing. Keduanya berbincang di dalam ruang pribadi Ju Yan.
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, Saudara San. Ku dengar Paman Hung dan Bibi Ji akan ikut denganmu ke kota Shinzu. Benarkah itu?” Ju Yan terlihat kesal mendengar Sebutan Yang Mulia dari Zhu San setiap kali mereka bertemu.
“Benar, Ayah dan Ibu Mertua ingin bertemu dengan Ayah dan Ibuku. Ku rasa itu hal yang paling diinginkan oleh mereka.” Jawab Zhu San lalu menegak arak kualitas tinggi di depannya.
“Aku akan menugaskan lima puluh prajurit Elit Istana untuk mengawalnya. Walau sebenarnya itu tidak perlu, mengingat Beliau bersamamu, Jagoan Nomor Satu Kekaisaran Liu. Setidaknya mereka bisa mengurus Kereta Kuda.”
Ju Yan tersenyum saat berkata demikian. Hati kecilnya sedikit iri dengan Zhu San yang saat ini begitu dikenal di Kekaisaran Qing karena sepak terjangnya yang selalu membantu Kekaisaran dalam mengatasi masalah.
Nama Zhu San menjadi topik pembicaraan hangat oleh para pendekar di kekaisaran Qing hingga ke Kekaisaran Wei. Banyak yang tidak percaya jika Jin Fang dan Mou Chang bisa dikalahkan oleh seseorang yang masih belia.
Namun kenyataan tetaplah kenyataan, sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh akal pikiran sekalipun. Kematian keduanya menjadi angin segar bagi para pendekar Aliran putih di kedua Kekaisaran.
“Yan Gege, Aku ingin bertanya tentang Gunung Awan Putih di Kekaisaran Jian, Apakah Kau pernah Kesana?” Zhu San mengutarakan tujuannya menemui Ju Yan.
Ju Yan terkejut saat mengetahui Zhu San mengetahui tentang Gunung Awan Putih.”Gunung Awan Putih? Dari mana Kau tahu nama gunung yang menyimpan misteri itu?
Zhu San tersenyum kecut, Ia yang bertanya malah kini Ia yang balik ditanya. Ia lalu menjelaskan tentang permintaan suara tanpa ujud yang merupakan pemilik Tongkat Sihir.
“Gunung Awan Putih terletak di sebelah utara Kekaisaran Jian. Belum ada satu orang pun yang pernah mencapai puncaknya. Mereka selalu mendengar suara dari segala arah yang menyuruh mereka kembali.”
Ju Yan lalu melanjutkan penjelasannya setelah menghela nafas. Bahwa mereka yang mencoba untuk memaksa naik, berakhir dengan kondisi buruk sekalipun itu seorang pendekar tingkat tinggi.
Mereka akan diserang oleh sesuatu yang kasat mata. Banyak yang patah tangan atau kaki, bahkan yang masih memaksa naik akhirnya tewas terbunuh.
__ADS_1
“Rupanya ada sosok manusia abadi di Puncak Gunung Awan Putih yang memiliki kemampuan sangat tinggi. Banyak penduduk yang mengira bahwa di puncak Gunung Awan Putih bersemayam seorang Dewa. Ternyata seorang kakek yang tak mati-mati.”
Ju Yan terkekeh, sementara dahi Zhu San berkerut heran. “Manusia Abadi? Mengapa Yan Gege berkata seperti itu?”
“Karena suara itu sudah ada sejak lima ratus tahun lalu, bahkan mungkin lebih. Jika bukan dewa, berarti sesepuh itu adalah manusia abadi. Bukankah begitu?” tanya Ju Yan.
Zhu San menganggukkan kepalanya beberapa kali, membenarkan perkataan Ju Yan. Hatinya berdebar-debar karena Ia pernah mendengar tentang kemampuan seseorang yang bisa hidup abadi dari guru Long Niu.
****
Hari keberangkatan Zhu San dan yang lainnya pun tiba. Terlihat tiga kereta besar dan mewah telah siap untuk berangkat.
Lima puluh prajurit elit yang berpakaian layaknya orang biasa, telah berada di atas pelana kuda masing-masing, menunggu perintah. Seperti halnya tiga orang kusir kereta kuda mewah tersebut.
Zhu San, Bian Chi dan kedua orang tuanya berada dalam satu kereta kuda yang sama. Sementara Lu Fang, Bayangan Semu serta Komandan Pasukan di dalam kereta lain yang juga berisi barang-barang perbekalan mereka.
Terlihat Zhu San sedang dipeluk oleh Kaisar Ju Yan sedang Bian Chi dipeluk oleh Permaisuri Qin Yu “Cepatlah punya bayi, biar mereka bisa bermain bersama setelah besar nanti.”
Ucapan Qin Yu sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit itu, membuat wajah Bian Chi memerah. Zhu San pura-pura tidak mendengar hal tersebut.
Keduanya segera menaiki kereta kuda mewah itu dan melambaikan tangan, ketika kereta mulai bergerak meninggalkan kompleks Istana Kekaisaran Qing.
Rombongan itu, melalui rute tercepat yang sudah jarang dilewati, karena banyaknya terjadi perampokan melalui rute tersebut. Zhu San sengaja mengambil rute tersebut, karena berharap bisa bertemu untuk membasmi mereka semua.
Perjalanan di hari pertama dan kedua berlangsung dengan aman dan damai, demikian juga hari ke tiga dan ke empat. Namun saat di hari kelima, lebih dari seratus orang menghadang kereta mereka.
__ADS_1
“Berhenti! Keluar dari dalam kereta!” Seseorang berperawakan tinggi besar membentak dengan sangat keras. Suaranya menggema di dalam hutan yang banyak ditumbuhi pohon besar itu.
Zhu San segera melemparkan Pedang Yang ke udara, lalu jerit kematian mulai terdengar ketika Pedang itu melesat membantai para perampok hingga tidak ada satupun yang lolos.
Perjalanan dilanjutkan setelah jasad mereka di buang ke dalam jurang oleh para prajurit yang terkesima melihat pembantai itu.
Mereka semakin kagum kepada Zhu San yang keluar dari Kereta untuk meraih pedang bersimbah darah. Setelah membersihkannya, Zhu Sa memasukan kembali pedang tersebut ke dalam Cincin jiwanya.
Perjalanan dalam dua hari berikutnya tidak menemui hambatan. Di hari ke delapan mereka kembali dihadang oleh sekelompok perampok yang jumlahnya kurang dari seratus orang.
Zhu San kembali membantai mereka, Ia tidak menyisakan satu orang pun untuk hidup. Hal itu dilakukannya agar tidak terjadi masalah di depannya nanti.
Perjalan kembali dilanjutkan setelah di tunda hampir satu hari. Hal itu karena mereka tidak menemukan jurang untuk mengubur mayat-mayat para perampok.
Pada hari ke enam belas akhirnya mereka tiba di wilayah kekaisaran Liu. Dan setelah satu hari perjalanan, sore itu mereka telah berada di gerbang Kota Shinzu.
Saat Zhu San turun dari kereta kuda untuk meminta izin masuk, seluruh prajurit segera berlutut memberinya hormat, mereka pun segera membuka gerbang kota.
“Kota yang indah! Pesat sekali kemajuan kota ini dan banyak sekali perubahan yang terjadi dari terakhir kali Aku mengunjunginya.” Shi Hung berkata kepada Bian Chi.
“Kapankah Ayah terakhir kali mengunjungi Kota ini?” tanya Bian Chi saat kereta kuda mereka semakin mendekati Kediaman Bangsawan Zhu Han.
“Sekitar dua puluh hingga tiga puluh tahun yang lalu.” Ayah Bian Chi terkekeh setelah berkata demikian. Bian Chi terlihat merengut, karena dalam waktu yang selama itu, pastilah terjadi banyak perubahan.
Saat rombongan Kereta kuda itu tiba di gerbang kediaman bangsawan Zhu Han, Zhu San segera turun dari kereta. Para prajurit yang menjaga gerbang, segera berlutut salah satunya berteriak.
__ADS_1
“Tuan Muda Zhu San telah kembali!”
-----------------O---------------