Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
039: Babak Semifinal


__ADS_3

Gong tanda pertarungan dimulai pun berbunyi, Qin Yu segera melesat ke arah Lao Chan setelah saling memberi hormat satu sama lainnya.


Ini kali pertamanya Qin Yu bertarung tidak menggunakan pedangnya.


Zhu San yang penasaran dengan jurus tangan kosong gadis manis itu, segera tersenyum saat melihat jurus tapak yang digunakan oleh Qin Yu.


Dengan keistemewaan tubuhnya, jurus Tapak Bunga Es menjadi serangan yang kuat dan berbahaya.


Hawa dingin yang menyebar dari tubuh dan serangan tapaknya, membuat Lao Chan sedikit terganggu karenanya.


Selain itu, menyentuh tubuh wanita baginya adalah sebuah hal yang terlarang. Hal itu yang membuatnya lebih banyak bertahan daripada menyerang Qin Yu.


Serangan yang dilancarkan Lao Chan pun sebatas pada kaki Qin Yu, hal itu membuat pertarungan keduanya terlihat seperti dua orang yang berlatih jurus tendangan.


Menyadari lawan enggan menyerangnya, Qin Yu segera mengubah kecepatan geraknya untuk segera menjatuhkan lawan.


Ia mengerahkan tujuh puluh persen tenaga dalamnya, membuat udara dalam radius lima meter terasa sangat dingin.


Suara decak kagum penonton seketika membuncah, saat Qin Yu bergerak sangat cepat yang membuat tubuhnya seolah menghilang dari pandangan mata.


Lao Chan tentu saja terperanjat saat tiba-tiba gadis lawannya itu telah berada di depan matanya dan melepaskan serangan tapak berhawa dingin yang sangat cepat.


Lao Chan bergerak secepat yang dia mampu dan mulai melakukan serangan balik. Namun di luar dugaan Lao Chan, Jurus Tapak Bunga Es sangatlah kuat.


Gerakan Qin Yu yang lincah dan cepat, serta hawa dingin yang semakin menusuk tulang, membuat Lao Chan harus menyerah kalah setelah bertarung lebih dari dua ratus jurus.


Ini menjadi pertarungan terlama bagi Qin Yu, hal yang juga menunjukan betapa kuat jurus yang dimiliki oleh Sekte Kuil Cahaya Suci.


Biksu Fanzeng tersenyum puas melihat apa yang telah ditunjukkan oleh Lao Chan yang mampu menjaga ambisi duniawinya.


Baginya, Lao Chanlah pemenang dalam pertandingan itu, pertandingan melawan hawa nafsu dalam diri sendiri. Hal itu membuat Biksu Fanzeng semakin kagum kepada muridnya itu.


Tepuk tangan penonton bergema mengiringi langkah kedua peserta yang baru saja bertarung dengan hebat itu.


Biksu Fanzeng mengumumkan bahwa ada jeda lima belas menit untuk melanjutkan ke babak semifinal.


Dalam babak ini akan bertarung Xie Han melawan Liu Ling pada pertarungan pertama. Gao Yan melawan Qin Yu di pertarungan kedua.


Masing-masing pemenang dalam dua pertarungan ini, akan memperebutkan juara satu dan dua di babak final.

__ADS_1


Sementara mereka yang kalah akan memperebutkan juara tiga dan empat di babak final nanti.


Zhu San menghela nafas, jeda lima belas menit membuatnya ingin menemui dua orang Kakek berwajah Aneh yang kini Ia yakini adalah Guru Pertama dan Guru Keduanya.


Namun Ia memutuskan untuk memikirkan langkah selanjutnya yang akan Ia lakukan, berkait dengan niatnya untuk menjemput Ibundanya.


Setidaknya ada lima orang berkemampuan tinggi yang berada di dekat Chou Bai yang dengan jurus Tulang Lunak Otot Kenyal, mengubah penampilannya menyerupai sosok Bangsawan Zhu Han.


Untuk itu, Zhu San ingin menemui kedua gurunya dan meminta keduanya untuk membantu dirinya menyelamatkan Sang Ibunda.


Setelah itu barulah Zhu San akan melakukan rencana selanjutnya, menemukan Pedang Yinyang Sejati dan Bunga Lotus Emas untuk mengobati syaraf di kepalanya.


Namun adanya Pergerakan Aliansi Aliran Hitam membuatnya berpikir untuk menunda terlebih dulu kedua rencana itu.


Apalagi dirinya ingin sekali menemukan dan menghajar sosok yang menjadi dalang yang mengadu domba Kedua gurunya tiga tahun yang lalu.


Zhu San telah mencurigai keterlibatan Sosok Isteri bangsawan Wu Lei, Nyonya Sun Li berkait dengan surat yang dikirim ke Guru Keduanya, Lin Kai.


Namun tentunya ada pihak lain yang bekerjasama dengannya mengingat Guru pertamanya, Fu Kuan juga mendapat surat yang sama dari murid Sekte Pedang Bintang di wilayah Selatan.


Suara Biksu Fanzeng yang memanggil Xie Han Dan Liu Ling membuyarkan lamunan Zhu San, Ia pun mengarahkan pandangannya kembali ke arena.


Xie Han yang bercita-cita untuk mengabdi di Kekaisaran Liu dengan menjadi prajurit perwira, sangat antusias dalam pertarungan yang menentukan ini.


Tentu saja setelah Sang Kaisar melihat kemampuan yang dimiliki oleh Xie Han, serta jiwa kesatrianya, saat bertarung dengan Ye Ma pada babak sebelumnya.


Selain itu, Xie Han yang adalah putera Ketua Sekte Pedang Api, akan membuat sekte yang dipimpin Ayahnya itu, memberi dukungan penuh pada Pihak Kekaisaran.


Walau bukan sebuah Sekte Aliran putih yang terkuat, namun kekuatan yang dimiliki oleh Sekte Pedang Api tak bisa diremehkan begitu saja.


Dengan jumlah murid lebih dari dua ribu orang dan memiliki kemampuan bertarung di atas kemampuan tarung prajurit pada umumnya, kekuatan tempur Sekte Pedang Api sangatlah kuat.


Untuk itulah, Kaisar Liu Feng telah mengirim pesan melalui seorang pelayan untuk berbicara dengan Xie Bing, Ayah Xie Han terkait hal tersebut.


Wajah Ketua Xie Bing sendiri, terlihat ceria saat membaca pesan tersebut. Ia memang telah mendukung niat Xie Han untuk mengabdi pada Kekaisaran Liu.


Dan kini, setelah Ia mendapati bahwa Sang Kaisar menaruh harapan besar pada puteranya, sebuah kebahagiaan membersit di relung hatinya yang terdalam.


Xie Han yang belum mengetahui hal itu, terlihat bersemangat saat hendak bertarung melawan Liu Ling.

__ADS_1


Namun sesuatu terjadi di hatinya tanpa Ia rencanakan sebelumnya.


Saat Ia dan Liu Ling saling memberi salam sebelum pertarungan dimulai, senyum gadis cantik itu, membuat hatinya tiba-tiba saja dilanda badai topan yang dahsyat.


Badai indah itu membuatnya kehilangan konsentrasi dalam pertarungan yang telah dimulai itu.


Sebuah tebasan pedang yang seharusnya mudah saja untuk dihindari, nyaris saja membuat dirinya terluka.


Hal itu membuat Biksu Fanzeng pun menghentikan pertarungan, karena melihat Xie Han tidak fokus dengan pertarungannya.


“Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu, anak muda?” Pertanyaan Biksu Fanzeng membuat wajah Xie Han menjadi merah tanpa sebab yang jelas.


Ia pun menganggukkan kepalanya lalu menghela nafas yang panjang seraya memejamkan mata, meredam debaran indah di hatinya.


Para Ketua Sekte dan mereka yang pernah muda, tentu saja memahami apa yang tengah terjadi pada Xie Han.


Mereka hanya tersenyum saat melihat hal yang sangat wajar ketika seorang pemuda, terlihat salah tingkah ketika menyukai seorang gadis.


Sang Kaisar pun tersenyum lebar. Tentu saja Ia merasa senang melihat hal tersebut. Sebuah rencana indahpun terbersit dalam benaknya untuk mereka berdua.


“Maafkan saya Tetua … Sekarang saya sudah siap untuk melanjutkan pertarungan ini.”


Saat Xie Han menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan biksu Fanzeng tadi, dalam benak Liu Ling terbersit sebuah rencana dan dugaan yang ingin Ia pastikan.


Setelah mendengar jawaban pemuda tampan lawan bertarungnya itu, Liu Ling pun segera berbicara untuk pertama kalinya selama turnamen telah berlangsung.


“Han Gege … Apakah kau benar-benar telah siap?” Liu Ling sengaja menggunakan kata “Gege” di belakang nama Xie Han karena Ia memiliki rencana dengan kata-kata itu.


Ambyar sudah konsentrasi Xie Han yang baru saja Ia kumpulkan, saat mendengar panggilan yang terdengar sangat mesra di telinganya itu.


Wajahnya kembali memerah seiring detak jantungnya yang berpacu tak menentu. Suara merdu Liu Ling sangatlah membius jiwanya.


Para Ketua Sekte pun mulai tertawa melihat hal itu. Beberapa diantaranya, tiba-tiba merindukan masa muda mereka yang telah lama berlalu.


Biksu Fanzeng pun tersenyum kikuk saat mengetahui apa yang terjadi pada kedua peserta muda itu.


Tanpa sadar Ia berniat untuk menggaruk kepala, namun membatalkannya saat menyadari jika Ia tak memiliki sehelai rambutpun di bagian itu.


Wajah Liu Ling pun kini berubah merah saat menyadari jika dugaannya ternyata benar. Debaran Aneh pun mulai merasuki hatinya walau masih di lubuk yang terdangkal.

__ADS_1


“Ini mau bertarung atau mau apa sih?” Suara keras seorang penonton yang tidak sabar ingin melihat pertarungan keduanya, seketika membuat tawa semua orang meledak keras.


*****


__ADS_2