
KWAAAKKKK
Tiba tiba Burung Phoenix berwarna perak itu, memekik sangat keras yang membuat semua orang segera menutup telinga mereka dengan tenaga dalam.
Tubuh Mou Chang yang sedang limbung akibat diterpa energi suara sekuat itu, menjadi sasaran empuk Paruh Burung Phoenix yang berukuran Raksasa.
Beruntung Jin Fang yang melihat hal itu, segera membantu Mou Chang dengan menggunakan energi dari senjata pusakanya, Tombak Kristal Merah.
Dari mata tombak yang terbuat dari kristal berwarna merah darah itu, melesat energi sangat besar yang segera menghantam kepala Burung Phoenix Raksasa.
BLAAAR
Burung Phoenix Perak itu terpental beberapa meter akibat terhantam energi dari Tombak Kristal Merah Jin Fang. Hanya saja hal itu mengejutkan Jagoan Nomor satu Aliran Hitam Kekaisaran Wei itu.
“Makhluk apa dia sebenarnya? Bagaimana dia masih bisa hidup setelah terkena serangan Tongkat Kristal Merah?”
Jin Fang berkata dalam benaknya, sambil memandang tajam ke arah burung phoenix yang telah menguasai posisi tubuhnya yang sempat oleng karena serangan energi dari tongkatnya.
Burung Phoenix itu terlihat sangat marah kepada Jin Fang dan menatapnya dengan mata yang kini telah membara seperti api. Hal itu terjadi bersamaan dengan keluarnya hawa membunuh yang sangat pekat.
Jin Fang menelan ludahnya sendiri, sementara wajah Mou Chang yang baru saja berada di dekatnya, memucat saat merasakan hawa membunuh dari burung Phoenix itu.
“Tua Bangka Fang, Kekuatannya sangat besar, sekalipun kita berdua menyerang bersamaan tetap tidak akan bisa mengalahkannya. Lebih baik kita pergi dari tempat ini.”
Jin Fang sebenarnya ingin membenarkan perkataan Mou Chang. Namun sebagai jagoan Nomor Satu Aliran Hitam, Ia merasa enggan dan malu untuk menunjukkan hal tersebut.
“Kita buat serangan pengalihan terlebih dahulu, lalu kita pergi dari tempat ini.” Jin Fang akhirnya membuang rasa malu itu, setelah melihat tubuh Burung Phoenix di depan mereka, berubah menjadi merah kehitaman.
Hawa kematian yang mencekam mengisi udara, membuat semua orang tertegun memandang makhluk berwujud burung yang memiliki kekuatan tidak manusiawi itu.
“San Gege … Apa yang harus kita lakukan?” Bian Chi yang merasa bersalah atas situasi buruk di hadapan mereka kini, bertanya kepada Zhu San melalui telepatinya.
“Kau masukan kembali Pedang Phoenix ke dalam Cincin Jiwa. Mungkin dengan ca …”. Kata Zhu San terputus oleh suara bentakan keras dari roh Burung Phoenix.
__ADS_1
“Jangan kau lakukan hal bodoh itu! Atau Aku akan membunuhmu juga!”
Bentakan itu membuat Zhu San dan Bian Chi terbelalak. Tidak menduga pembicaraan telepati mereka bisa diketahui olehnya.
Hal itu membuat Zhu San memutuskan untuk mengurung Burung Phoenix dengan formasi segel menggunakan qi yang Ia pelajari dari kitab peninggalan Guru Long Niu.
Namun niat Zhu San tertahan ketika tiba-tiba Jin Fang dan Mou Chang, berteriak keras seraya mengangkat senjata mereka masing-masing.
Dari kedua ujung senjata mereka melesat cahaya kuning dan merah darah yang segera membentuk Tongkat Bambu Kuning dan Singa bertubuh merah.
Kedua energi itu, bergerak menyerang ke arah Burung Phoenix dari dua arah yang berbeda. Melihat serangan dahsyat itu, Burung Phoenix segera mengepakkan kedua Sayapnya dan memekik keras.
Serangkum Cahaya merah kehitaman keluar dari paruhnya dan menderu sangat cepat ke arah energi berbentuk Singa Merah Merah milik Jin Fang.
Zhu San segera bergerak cepat, Ia menarik tangan Bian Chi untuk berada di dekat Pang Ou dan yang lainnya sambil membuat segel pelindung untuk melindungi mereka dan seluruh bangunan istana.
BUUUUMMM
Berbeda halnya dengan Mou Chang dan Jin Fang. Walau keduanya telah melesat menjauhi tempat tersebut selepas memberikan serangan, tubuh mereka masih terkena efek ledakan kedua energi besar itu.
Niatan pergi dari tempat tersebut, menjadi tertunda karena tiba-tiba saja Burung Phoenix yang terlihat sangat marah kepada Jin Fang, telah menghadang di depan mereka.
“Kalian berdua tidak akan kubiarkan pergi dari tempat ini!” Mata Jin Fang dan Mou Chang melotot lebar mendengar burung tersebut berbicara seolah Ia manusia.
“Lekas habisi mereka! Atau pedang ini akan ku segel kembali ke dalam Cincin Jiwa!” Bian Chi yang teringat akan janji sang Burung Phoenix, berteriak keras.
Walau kesal mendengar ancaman Bian Chi, namun Burung Phoenix itu, tidak bisa berbuat apa-apa karena Ia memang telah berjanji untuk hal itu kepadanya.
Ia lalu mulai menyerang Jin Fang dan Mou Chang dengan serangan langsung menggunakan sayap dan paruhnya. Jin Fang dan Mou Chang yang tak ingin mati konyol, melawan dengan sisa kekuatan yang mereka miliki.
Keduanya silih berganti menyerang Burung Phoenix raksasa itu dengan jurus-jurus terkuat yang mereka andalkan. Namun lawan mereka bukanlah lawan biasa.
Seandainya mereka mengetahui bagaimana sepak terjang burung Phoenix itu di masa seribu tahun lalu, mungkin mereka akan lari tunggang langgang setelah melihat wujudnya.
__ADS_1
Pertarungan ketiganya, telah terjadi lebih dari seratus kali pertukaran serangan. Keduanya mulai terdesak seiring dengan tenaga dalam mereka yang terkuras.
Gerakan mereka semakin melambat dan berkurang kekuatannya. Sementara Burung Phoenix raksasa itu, belum berkurang kecepatan maupun kekuatannya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara jeritan panjang dari Mou Chang saat tubuhnya terhantam kepakan sayap dari lawannya.
Tubuhnya yang terhempas belasan meter, kehilangan kendali sehingga tidak bisa menghindari serangan paruh burung raksasa itu.
JLEEEB
AARGGGGGHHH
Jeritan kematian Mou Chang terdengar membahana seiring dengan lepasnya nyawa tokoh tua aliran hitam Kekaisaran Wei itu. Jin Fang menelan ludahnya melihat kematian sang rekan. Ia pun melesat meninggalkan tempat itu.
Namun kecepatan melayangnya, kalah jauh dengan kecepatan yang dimiliki oleh Sang Burung Phoenix. Sehingga dalam waktu beberapa tarikan nafas, Ia telah tersusul oleh Sang Burung Phoenix.
“Jangan kau kira bisa lolos dariku!” Burung Phoenix menyerang Jin Fang dengan sangat cepat dan kuat.
Membuat tubuh tua jagoan itu berkali-kali terhempas terkena serangan dengan memuntahkan darah segar yang membasahi jubahnya.
“Aku tidak sudi mati oleh makhluk sepertimu!” Jin Fang yang merasa tak berdaya dan hanya memiliki satu harapan terakhir, memutuskan untuk menggunakan kekuatan terlarang dari gurunya.
Kekuatan yang bisa membuatnya kehilangan tenaga dalam jika saja Ia tidak berhasil mengalahkan lawannya.
Jin Fang segera memanfaatkan jeda serangan dari Burung Phoenix dengan membaca mantera seraya mengusap Cincin kepala tengkorak yang berukuran sangat kecil di jari kanannya.
Seiring selesainya mantera itu dilafalkan oleh Jin Fang, Aura kematian yang mencekam memenuhi udara. Burung Phoenix itu terkejut dan mengepakkan sayap untuk menahan laju terbangnya yang hampir mendekati Jin Fang.
Wajahnya terlihat ketakutan saat melihat asap putih menyelimuti tubuh lawan. Demikian juga dengan Zhu San dan Bian Chi yang baru tiba untuk menyusul mereka.
“Aura ini!? …” Zhu San tertegun setelah merasakan aura itu semakin menguat seiring dengan terjadinya sesuatu terhadap Jin Fang.
...-----------O---------...
__ADS_1