
Sesaat setelah dirinya jatuh ke dalam air, Zhu San merasakan sakit luar biasa pada bagian perutnya.
Beruntung Ia berada di bawah rimbunnya dedaunan dari dahan pohon yang jatuh menimpa dirinya tadi.
Keberuntungan yang kedua adalah, Tsao Beng dan Qiao Bun tidak mengejar dirinya. Sehingga Zhu San dapat segera mengobati luka dalam di bagian perutnya itu.
Racun Api membuat perutnya terasa sangat panas dan serasa melepuh. Zhu San pun segera mengerahkan Energi Yin yang berhawa dingin untuk meredam hawa panas di perutnya.
Butuh waktu hampir satu jam untuk Zhu San mengeluarkan seluruh racun api dalam perutnya itu dengan cara memuntahkannya.
Tenaga dalamnya pun terkuras habis yang membuat tubuh Zhu San menjadi lemas beberapa saat kemudian.
Dengan pandangan mata yang mulai berkunang-kunang, Zhu San segera meraih dahan terbesar dan membuat kepalanya berada di atas dahan tersebut.
Ia pun memeluk erat dahan pohon itu dengan sisa tenaga yang Ia punya sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap.
***
Fu Kuan menjadi resah dalam meditasinya, saat menyadari bahwa malam baru saja berganti pagi.
Ia pun melesat keluar ruangan, menemukan Lin Kai dan Pendekar Seribu Wajah sedang tergeletak dalam tidur lelapnya.
Sebuah Guci arak yang sangat besar, terlihat berada di satu bagian atap dan dua cawan kecil berada di dekatnya.
“ PENYUSUP! ADA PENYUSUP!”
Fu Kuan berteriak dengan kesal melihat mereka masih terlelap sedang matahari mulai mengintip dari cakrawala di sebelah timur wilayah Kekaisaran Liu.
Sontak Lin Kai dan Pendekar Seribu Wajah terbangun dengan wajah panik. Seraya bertanya sesuai dengan mimpi yang mereka alami.
“Apanya yang disusupi?”
“Ah Aku ketahuan rupanya.”
Fu Kuan tertegun mendengar perkataan Pendekar Seribu wajah dan Lin Kai. Tetapi sesaat kemudian, Ia tertawa lebar melihat wajah kedua rekannya yang kini sedang bengong.
Keduanya berkata setengah sadar saat terbangun secara tiba-tiba oleh teriakan Fu Kuan di dekat telinga keduanya.
Senyum kecut pun menghiasi bibir mereka saat menyadari jika mereka sedang dikerjai oleh Fu Kuan.
Namun di satu sisi mereka merasa senang, Fu Kuan tidak lagi terlihat sedih akan kematian Murid pertamanya, setelah Ia bermeditasi semalaman.
Keduanya segera bangkit setelah mengomel pendek kepada Fu Kuan, lalu melesat turun untuk membersihkan wajah mereka dengan air yang berada di dapur yang dimiliki oleh bangunan itu.
__ADS_1
“Apakah San’er belum kembali juga?”
Fu Kuan bertanya kepada Lin Kai dan Pendekar Seribu Wajah setelah mereka berdua kembali ke atas atap.
“Memang dia belum kembali?” Lin Kai balik bertanya yang membuat Fu Kuan menjadi kesal karenanya.
“Tua Bangka Peot … Kalau Dia sudah kembali aku tidak akan bertanya padamu!”
Lin Kai tertawa mendengar Fu Kuan berkata dengan wajah yang terlihat kesal.
Saat Ia hendak menjawab lebih lanjut, Lin Kai melihat sosok Qin Rui di kejauhan berjalan bersama dengan Ketua Hao Jin dan Shang Zuo.
“Aih Nenek gadis itu terlihat sangat cantik sekali, Sepertinya Ia berdandan secantik itu karena akan pergi bersamamu Tua Bangka Keriput. Hahahaha.”
Fu Kuan ingin mendengus kesal, namun Ia setuju dengan kata-kata Lin Kai tentang Qin Rui yang terlihat sangat cantik dengan berdandan seperti itu.
Jubah Biru mudanya sangat cocok dengan kulitnya yang masih terbilang halus untuk ukuran seorang nenek. Walau sedikit keriput terlihat di raut wajahnya yang telah menua.
“Kau cantik hari Ini dan Aku suka. Lain sekali dari kemarin, tak kan kubiarkan lagi Kau menghilang dari kehidupanku. ”
Fu Kuan berkata demikian tentu saja dalam hatinya, dengan sebuah tekad hingga senyumnya terkembang tanpa Ia sadari.
“EHUK EHUK”
Suara batuk Pendekar Seribu Wajah yang sengaja dibuat-buat, menyadarkan Fu Kuan dan senyum pun menghilang dari bibirnya. Berganti tatapan kesal pada sahabatnya itu.
“Selamat pagi sesepuh semuanya.” Hao Jian segera memberi hormatnya yang diikuti oleh Shang Zuo dan Qin Rui.
Setelah membalas penghormatan mereka bertiga, Fu Kuan lalu bertanya beberapa hal tentang kesiapan mereka.
Beberapa saat kemudian Jenderal Duan Li tiba dengan menaiki kuda yang di pacu dengan cepat.
Dahi keenam tokoh aliran putih itu, sedikit mengerut menatap heran ke wajah Jenderal Duan Li.
“Maaf para sesepuh, kedatangan saya mengejutkan Anda semua. Saya takut Anda telah pergi sebelum kita sempat bertemu.”
Jenderal Duan Li lalu mengeluarkan enam buah lencana yang memiliki simbol militer yang merupakan tanda bahwa mereka berenam adalah anggota intelejen dari Kekaisaran.
“Dengan lencana ini, Anda dapat memasuki kota ataupun desa tanpa pemeriksaan. Selain itu, Anda dapat meminta prajurit penjaga kota untuk melaksanakan apa yang anda perintahkan.”
Jenderal Duan Li menjelaskan manfaat dari lencana yang baru saja Ia serahkan itu.
Wajah ke enam orang itu terlihat senang mendengar perkataan Jenderal Duan Li. Lalu berpamitan setelah mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
“Katakan Cinta padanya atau Si Pendekar Seribu Wajah akan mengungkapkannya setelah Ia kembali nanti.”
Lin Kai berbisik di telinga Fu Kuan sebelum melesat ke arah utara sambil menahan tawanya. Ketua Hao Jian segera mengikuti Lin Kai di belakangnya.
Pendekar Seribu Wajah pun melesat dengan sebuah tanya dalam benaknya, saat melihat Lin Kai meliriknya setelah sahabatnya itu berbisik kepada Fu Kuan.
Fu Kuan yang sedang tertegun mendengar bisikan Lin Kai, segera dikejutkan dengan oleh pertanyaan Qin Rui.
“Saudara Fu Apakah kita akan berangkat sekarang atau nanti?”
Suara Qin Rui yang terdengar lembut di telinga Fu Kuan, segera membuatnya tergeragap.
“Baik … Eh Iya mari kita berangkat.” Suara Fu Kuan yang terdengar kikuk membuat Qin Rui tersenyum.
Setelah menitip pesan untuk Zhu San kepada Jenderal Duan Li, keduanya segera melesat ke arah barat.
Mereka memang memutuskan untuk tidak menunggang kuda karena dengan ilmu peringan tubuh mereka yang tinggi, perjalanan akan lebih mudah dilakukan.
Keduanya menyusuri jalan yang merupakan jalan terdekat menuju ke Sekte Kuil Cahaya Suci.
Saat tengah hari, keduanya telah tiba di sebuah kota kecil bernama Lidong.
Dengan menunjukan lencana dari Jenderal Duan Li, mereka mendapat keterangan dari prajurit penjaga gerbang kota tentang empat Biksu yang kemarin sore telah datang dan singgah di kota itu.
Senyum pun melebar melebar di bibir kedua Kakek dan Nenek itu setelah mendengar penjelasan tentang keempat biksu yang sedang mereka cari kabarnya.
Mengetahui mereka dalam kondisi baik-baik saja, Fu Kuan dan Qin Rui memutuskan untuk menuju ke selatan.
“Saudara Fu Bagaimana jika kita singgah dulu ke sebuah kedai, ada yang ingin kutanyakan padamu nanti.”
DEG
Jantung Fu Kuan tiba-tiba berdebar, Ia pun hanya menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Qin Rui.
Setelah mendapat penjelasan tentang kedai yang terkenal di kota itu dari prajurit penjaga, keduanya segera memasuki Kota Lidong.
Mereka dengan mudah menemukan kedai tersebut dan Qin Rui memilih sebuah meja yang berada di pojok ruangan kedai itu setelah Ia memesan makanan.
“Saudari Qin Rui apakah yang ingin engkau tanyakan?” Dengan Hati yang berdebar dan suara yang bergetar, Fu Kuan bertanya kepada Qin Rui setelah keduanya duduk.
“Aku selama ini penasaran tentang satu hal yang San’er ceritakan padaku. Ia berkata bahwa Kau dan Lin Kai telah tiada dua tahun lalu.”
Qin Rui berhenti sejenak, Lalu menjelaskan bahwa Ia tidak percaya dengan kabar yang Zhu San katakan. Ia baru percaya setelah mengatakan bahwa Zhu San sendiri yang telah mengubur jasad mereka berdua.
__ADS_1
Fu Kuan menghela nafas untuk menghapus rasa kecewa karena Qin Rui tidak bertanya tentang apa yang Ia harapkan.
*****