Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
146: Selangkah Lebih dekat lagi


__ADS_3

Kediaman Bangsawan Mu Bai sedang berduka, tidak ada wajah yang menunjukan keceriaan. Bahkan beberapa Pelayan Perempuan yang seusia Mu Rong, terlihat begitu sedih.


Mereka adalah pelayan yang mengenal Mu Rong sejak masih kecil, kedua orang tua mereka bekerja pada Ayah Mu Rong. Oleh Mu Rong, mereka diperlakukan sebagai temannya, walau mereka adalah anak pelayan.


Bangsawan Mu Bai mengurung diri selama satu hari satu malam. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa memenuhi pesan Sang Ayah.


Di Hari kedua Zhu San berada di Kota Baixan, Mu Bai keluar dari ruangannya dan segera memanggil Mu Dao dengan wajah yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Kemarahan yang besar pada Aliansi Aliran Hitam, membuat Mu Bai menugaskan Mu Dao untuk mencari seribu orang pendekar dan membentuk pasukan khusus selama satu bulan ke depan.


Ia berencana untuk membalas dendam kepada Bangsawan An He dan Juga Bangsawan Yin Lu. Karena Ia mengetahui keempat orang pendekar yang membunuh adiknya itu, adalah pengawal mereka berdua.


Di tempat berbeda, setelah setengah hari berbincang dengan Liu Ling dan Xie Han, Zhu San menemui Kedua gurunya yang baru selesai bermeditasi, meredam rasa sedih dan juga kemarahan atas kematian sahabatnya mereka.


Terlihat sebuah kain hitam yang terikat di lengan kiri Zhu San, sebagai tanda Ia sedang berkabung. Zhu San datang bersama Song Ruo, karena Ia berencana untuk meninggalkan Kota Baixan, kembali ke kota Songdu sore nanti.


Fu Kuan dan Lin Kai mengizinkan Zhu San kembali ke Kota Songdu yang selanjutnya berencana untuk membalas dendam setelah tujuh hari masa berkabungnya selesai.


Sore harinya, Zhu San dan Song Ruo berangkat ke Kota Songdu dengan tatapan sedih dari Bangsawan Mu Bai, yang memeluk Zhu San sangat erat, sesaat sebelum Ia pergi meninggalkan Kota kelahiran Sang Ibu.


Saat pagi di keesokan harinya, Zhu San telah tiba di kota Songdu dan membuat terkejut semua orang yang menunggunya.


“San Gege …” Bian Chi tertegun, tak bisa melanjutkan kata-katanya, saat melihat di lengan kiri Zhu San terikat Kain Hitam yang menunjukan Ia sedang berkabung atas kematian orang tuanya.


“Ruo Gege …. Apa yang telah terjadi dengan mereka?” In Xeuxu yang tiba-tiba merasa sedih, segera bertanya kepada suaminya saat Song Ruo baru saja duduk.


Air mata In Xeuxu dan Bian Chi mengalir deras, saat Song Ruo selesai dengan penjelasannya. Ju Yan dan Qin Yu yang baru saja masuk tertegun melihat Ibunya dan Bian Chi sedang menangis.


Air mata Qin Yu pun mengalir saat mengetahui kenyataan pahit yang sedang dialami oleh Zhu San. wajah Ju Yan pun terlihat sedih.

__ADS_1


***


Setelah tujuh hari sejak kematian kedua orang tuanya, Zhu San selama beberapa hari ini bermeditasi di ruangannya. Setelah hari ketujuh, barulah Ia keluar dari ruangannya.


Kain Hitam di lengan kirinya telah Ia lepas. Zhu San memutuskan menemui Song Ruo untuk berpamitan. Ia pun melangkah menuju Ke ruangan adik angkat Ayahnya.


Pagi itu, Song Ruo dan In Xeuxu bersama dengan Nenek Lin Mi dan Nenek Qin Ji sedang berbincang-bincang sambil minum teh. Mereka mengerutkan dahi saat Zhu San datang dengan raut wajah yang terlihat berbeda.


“Silakan diminum tehnya Lung’er.” In Xeuxu menuangkan teh ke dalam cawan dan memberikannya kepada Zhu San.


Sikap Keibuan yang ditunjukan oleh In Xeuxu mengingatkan Zhu San akan mendiang Ibunya. Kesedihan pun kembali terlihat di wajahnya.


Mereka berempat terdiam, sebelum akhirnya Zhu San memecahkan keheningan suasana di ruangan itu dengan kata-katanya.


“Paman Ruo, hari ini Aku akan pergi ke kota Dongyin. Aku akan pergi sendiri untuk membalas kematian Ayah dan Ibu.”


Bian Chi yang mendengar perkataan Zhu San, segera berkata setelah memberi hormat kepada yang lain dan duduk di samping Zhu San.


“San Gege … Aku akan menemanimu, Aku juga ingin membalas dendam kepada mereka.”


“Tidak Chi’er … Aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam bahaya.” Dengan cepat Zhu San menanggapi keinginan Bian Chi.


“Aku bisa menjaga diriku, Aku harus ikut!” Bian Chi tidak bisa menerima penolakan Zhu San. Cukup lama keduanya berdebat, sebelum Zhu San akhirnya mengalah dan mengizinkan Bian Chi ikut dengannya.


Song Ruo dan yang lainnya tersenyum setelah perdebatan keduanya selesai. Lalu Nenek Lin Mi berkata yang membuat Zhu San kebingungan.


“Jadi acara dua hari ke depan akan bertambah pesertanya. Hehehehe ..”


Song Ruo dan yang lainnya ikut tertawa. Sementara Ju Yan dan Qin Yu serta Bian Chi tertunduk malu.

__ADS_1


“Acara apakah itu Nenek?... Paman?” Tanya Zhu San dengan wajah kebingungan.


“Lung’er … Paman sudah memutuskan bahwa pertunanganmu dengan Yi’er, Paman batalkan demi keselamatan semua manusia. Yi’er pun telah memiliki pria lain yang juga mencintainya. Apakah Kau keberatan dengan keputusan Paman?” Tanya Song Ruo setelah melirik ke arah Ju Yan.


Zhu San tersenyum Ia mengucapkan selamat kepada Ju Yan dan Qin Yu yang akan bertunangan dua hari ke depan, Ia pun kini memahami alasan Bian Chi memaksa ikut dengannya.


“Selamat juga untuk pertunanganmu Lung’er. Kalian berempat akan bertunangan di hari yang sama.” Song Ruo melanjutkan perkataannya.


Mata Zhu San melotot lebar untuk sesaat, Ia menunduk saat memahami apa alasan Adik Angkat Ayahnya itu, yang secara tidak langsung memberi perintah kepada dirinya.


Demi menjaga kehormatan mereka berdua yang akan bepergian bersama, bertunangan adalah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh keduanya.


Dua hari kemudian, acara pertunangan keduanya dilangsungkan dengan sederhana, mengingat situasi yang tidak kondusif.


Terlihat kebahagiaan di wajah dua pasang pemuda dan pemudi, yang hari itu selangkah lebih dekat lagi untuk menjadi sepasang suami Isteri.


Keesokan harinya, Zhu San dan Bian Chi pergi meninggalkan kota Songdu menuju ke arah selatan, ke kota Dongyin yang dikuasai oleh Bangsawan Yin Lu.


Keduanya melayang di udara setelah dua ratus meter jauhnya dari gerbang selatan kota itu. Dalam perhitungan Song Ruo, dengan kecepatan melayang Zhu San, besok sore, keduanya akan tiba di kota tersebut.


Namun Zhu San dan Bian Chi tidak melayang secepat seperti saat Zhu San membawa Song Ruo ke kota Shinzu beberapa waktu lalu.


Keduanya terlihat santai dan sesekali berpegangan tangan di udara. Hati keduanya pun semakin dekat seiring berjalannya sang waktu yang datang perlahan mengikat hati keduanya dengan erat.


Dua hari kemudian, saat hari menjelang siang, keduanya telah berada di kota Dongyin. Mereka mencari kedai untuk bersantap. Saat memasuki Ruangan kedai itu, Wajah Zhu San terlihat geram. Saat Ia mengenali dua orang yang juga sedang menatap tajam ke arahnya.


“Tsao Beng dan Qiao Bun!” Zhu San berkata dengan suara yang terkejut.


******

__ADS_1


__ADS_2