
“Penyihir Kuno Labamba dan Labimbi?!”
Gong Li berdesis saat udara kembali menjadi terang seiring dengan hilangnya Qiu Lan dan Ratu Siluman Rubah bersama kedua Penyihir yang sempat menunjukkan dirinya sebelum menghilang dengan kembali berubah menjadi asap hitam.
“Jadi mereka berdua bersembunyi di Dunia Atas rupanya.” Xian Mey berkata menanggapi ucapan Gong Li yang menganggukkan kepalanya untuk membenarkan ucapan Isteri Kedua Dewa Yao Chan itu.
Gong Li lalu memalingkan wajahnya ke arah dimana Zhu San dan Lian Li berada, lalu Ia memanggil Bian Chi untuk datang mendekat bersama Zhu San dan Lian Li.
“Dengarkan baik-baik apa yang akan Aku sampaikan kepada kalian bertiga.”
Gong Li menghela nafas panjang sebelum menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Bahwa sosok yang baru saja menggagalkan rencana mereka untuk menyegel ketiga Inti Roh Iblis Sejati adalah Penyihir Kuno Labamba dan Labimbi.
Sepasang penyihir kuno itu, memiliki sebuah Tongkat Batu Hitam yang merupakan batu terkuat di alam semesta. Kekuatan Sihir keduanya sangatlah tinggi. Hanya saja sihir mereka tidak akan bekerja pada sosok manusia bertubuh Yinyang sejati.
Untuk itu, Gong Li memerintahkan Zhu San agar menyatukan kembali Pedang Yang dan Pedang Yin menjadi Pedang Yinyang. Dengan pedang Yinyang maka kekuatan sihir mereka berhasil dikalahkan.
Gong Li juga mengatakan bahwa untuk membunuh Labamba tidak mudah. Hanya Pedang Tanpa Bilah yang bisa mengakhiri hidup Sosok Penyihir Kuno itu.
Sementara Labimbi hanya bisa dibunuh oleh Pedang Batu Tujuh Warna yang memiliki kekuatan membalikkan waktu dan teleportasi ke dimensi lain.
“Apakah Kau telah mendapatkan kedua Batu Tujuh Warna itu?” Pertanyaan dari Gong Li membuat wajah Zhu San menjadi murung.
“Kami baru mendapatkan satu Batu Tujuh Warna itu Dewi, sementara satu batu lain masih berada di tangan Dewi Kegelapan Qiu Lan.”
Wajah Gong Li terlihat kesal mendengar ucapan Zhu San itu. Kalian harus bisa mendapatkan batu tujuh warna itu secepatnya. Jika tidak, kalian akan kesulitan menghabisi Kedua penyihir Kuno itu.”
Wajah Zhu San dan Bian Chi menjadi tegang mendengar hal tersebut. Lalu Lian Li yang baru mendapat kesempatan, segera bertanya kepada Gong Li.
“Dewi … Apakah senjata Cermin Sakti itu begitu hebat sehingga Qiu Lan berusaha mati-matian agar bisa memilikinya. Berdasar informasi dari Phoenix Putih, Cermin Sakti itu berada di tangan Ratu Siluman Rubah Putih yang kini bersama mereka.”
__ADS_1
Gong Li dan ke enam Dewi lain tersentak kaget mendengar hal tersebut. Wajah ketujuh Dewi itu terlihat tegang setelah mendapat informasi dari Lian Li.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, tidak ada yang mengetahui bahwa ke tujuh Dewi itu sedang berbicara melalui telepati mereka dan mendiskusikan permasalahan tersebut.
Setelah tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat, Gong Li akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal tersebut ke pada Suami mereka dan Dewa Naga.
“Dahulu Kala Cermin Sakti adalah senjata terhebat yang dimiliki oleh Kedua Penyihir Kuno itu. Hanya Dewi Teratai Biru yang bisa menaklukkan Senjata tersebut. Mulai saat ini kalian berhati-hatilah, jangan sampai kalian bertiga terpisah satu sama lainnya.”
Setelah berkata demikian lalu Gong Li dan Keenam Dewi lainnya segera melayang dan kembali ke dalam pusara awan putih yang lubangnya semakin mengecil.
Setelah ketujuh Dewi itu menghilang dari tatapan Zhu San dan Ketiga orang lainnya, perlahan awan-awan itu berhenti berputar lalu menyebar tertiup angin. Suasana pun kembali menjadi normal sesaat kemudian.
“San Gege … Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Pertanyaan Bian Chi membuyarkan lamunan Zhu San.
“Entahlah, Aku mendapat firasat buruk setelah mendengar penjelasan Dewi Gong Li tadi. Aku pun tidak bisa merasakan pancaran energi dari Qiu Lan dari Ratu Siluman Rubah Putih itu. Kita harus segera mencari tahu keberadaan mereka berdua dan mengambil Batu Tujuh Warna.”
Zhu San lalu memutuskan untuk kembali ke Benua Awan Biru sambil mengingat serangan dari bangsa siluman dan Aliansi Kegelapan.
Saat itulah Zhu San teringat akan dua orang Penyihir yang lain anak buah Qiu Lan. Dengan menangkap kedua penyihir itu, Zhu San berharap bisa mengetahui dimana tempat tinggal Sang Penyihir Kuno, Labamba dan Labimbi.
Setelah melepas Segel pelindung Kota Qian’an, Mereka bertiga meninggalkan kota tersebut dengan jurus berpindah tempat dalam sekejap yang telah Zhu San kuasai.
Dalam hitungan detik, mereka berempat telah kembali berada di Aula Sekte Pedang Suci. Namun Suasana di aula Sekte itu terasa sunyi.
“Apa yang terjadi, mengapa tidak ada satu pun orang di Aula sekte ini?” Zhu San sedikit terkejut mendapati suasana lengang tersebut.
Keempatnya segera melesat keluar dan mendapati hanya ribuan penduduk yang tengah berjalan meninggalkan sekte Pedang Suci. Dahi Zhu San berkerut melihat hal tersebut.
Zhu San segera memanggil seorang pria yang menggunakan jubah Sekte Pedang Suci.
__ADS_1
”Pelindung, Ketua Gong Fei dan para ketua Sekte lain meninggalkan tempat ini dua jam lalu. Mereka menuju ke Ibukota Xiangqing setelah mendapat berita bahwa pasukan Aliansi kegelapan telah berada di luar tembok pagar Ibukota Kekaisaran Xiang.”
Tentu Saja Zhu San terkejut mendengar hal tersebut. Pagi tadi saat meninggalkan sekte Ini, Pasukan Aliansi Kegelapan masih berada jauh dari Ibukota Kekaisaran Xiang itu.
Selain itu para pendekar yang belum mampu melayang di udara, diperintahkan agar menjaga para penduduk yang akan diungsikan sebuah kota di wilayah selatan Benua Awan Biru
Zhu San yang tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk terhadap Guru Long Niu dan juga Ketua Gong Fei serta seluruh pendekar Aliansi Aliran Putih lainnya, memutuskan untuk segera menyusul mereka.
“Phoenix Putih, antarkan kami ke kota Xiangqing secepat yang kau bisa.”
“Siap Tuan!”
Phoenix Putih Segera mengubah wujudnya dan melesat pergi meninggalkan Sekte Pedang Suci setelah Zhu San, Bian Chi dan Lian Li berada di atas punggungnya.
Dengan kecepatannya penuhnya, Phoenix putih membawa ketiga orang itu ke arah utara wilayah Benua Awan Biru yang berada di bawah kekuasaan kekaisaran Xiang.
Setelah hampir tiga puluh menit, mereka pun akhirnya tiba di Kota Xiangqing bertepatan dengan tibanya rombongan Guru Long Niu dan ketua Gong Fei.
Melihat Zhu San datang mereka tentu saja gembira, namun kegembiraan itu berkurang saat melihat situasi kota yang telah terkepung oleh puluhan ribu pasukan musuh.
Puluhan ribu pasukan musuh itu, terdiri dari bangsa siluman, para pendekar dan puluhan ribu prajurit kekaisaran Cong He yang merupakan kekaisaran terbesar di Benua Atas.
“Guru … Syukurlah kami tidak datang terlambat.” Zhu San dan Bian Chi segera memberi hormatnya kepada Long Niu yang tersenyum bahagia mendapati kedua muridnya baik-baik saja.
Walau tadi Ia sempat khawatir saat merasakan Aura yang jauh lebih besar dari Aura Zhu San, namun Ia yakin bahwa kedua muridnya itu pasti bisa kembali dengan selamat.
“Seperti yang kau Lihat San’er, mustahil bagi Kami dan Kekaisaran Xiang bisa bertahan dari serangan sebesar ini jika kau tidak segera datang.”
-------------------------O--------------------------
__ADS_1