Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
051: Sumpah Zhu San


__ADS_3

Para pelanggan kedai yang kebanyakan penduduk biasa, terlihat tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Fu Kuan dan yang lainnya.


Fu Kuan bertanya dengan suara bergetar kepada sahabatnya, Dewa Seribu Wajah yang kini sedang dalam rupa berbeda, dari terakhir mereka bertemu.


“Darimana Kau mendapatkan Pedang itu? Cepat Katakan!”


Dewa Seribu Wajah hanya diam menelan ludahnya. Ia menatap mata sahabatnya yang kini terlihat begitu sangat marah.


Hal yang belum pernah Ia lihat selama dua puluh tahun persahabatan mereka. Hal itu membuat Dewa Seribu Wajah segera mendekati Fu Kuan.


Setelah menyerahkan Pedang Bintang Merah, Dewa Seribu Wajah meminta Fu Kuan dan Zhu San untuk mengikuti dirinya.


Ia tidak mau jika harus menceritakan Konflik Internal dalam sekte sahabatnya itu di depan ketua sekte yang lainnya.


“Cepat katakan! Mengapa Pedang Bintang Merah ini bisa berada di tanganmu?”


Fu Kuan kembali membentak Dewa Seribu Wajah saat mereka telah berada di atap sebuah bangunan tinggi.


Setelah menghela nafas sesaat, Dewa Seribu Wajah lalu menceritakan jika dirinya ingin membantu Zhu San saat tiba di Kota Shinzu nanti.


Namun saat Ia melewati jalan tersebut, Ia mencium bau anyir darah dan mencari tahu dari mana asal darah tersebut.


Saat itulah, Ia melihat apa yang dilakukan oleh Gao Yan dan kedua adiknya sehingga terus mengawasi apa yang mereka berdua lakukan.


Setelah mengambil kembali Pedang Bintang Merah, Ia pun kembali ke Kota Shangyu karena menduga Fu Kuan pasti kembali kesana.


Saat tengah berlarian di atas atap bangunan, Fu Kuan bertemu Lin Kai yang mengejarnya.


Setelah mendapati jika yang dikejarnya adalah Dewa Seribu Wajah yang telah berteman dengannya sejak dua tahun lalu, Lin Kai akhirnya mengajaknya ke kedai itu untuk menemui Fu Kuan.


Rahang Fu Kuan mengembung keras dengan mata yang berkaca-kaca. Chen Hu dan Gao Shun adalah dua murid yang sangat Ia sayangi bagai anaknya sendiri.


Sementara Zhu San mengepalkan telapak tangannya erat-erat. Selain Zhen Hu adalah kakak seperguruannya, apa yang dilakukan oleh kedua pemuda itu, sudah tidak termaafkan lagi baginya.


“Guru Aku bersumpah akan membalas kematian Kakak pertama dengan tanganku sendiri!”

__ADS_1


Fu Kuan terkejut mendengar apa yang Zhu San ucapkan.


“San’er … Gao Yan dan Gao Shan adalah putera Gao Shun, kakak seperguruan kedua mu. Bagaimana kau bisa bersumpah seperti itu?”


Walau Fu Kuan sangat marah, namun Ia tidak berencana untuk melakukan seperti apa yang telah diucapkan Zhu San tadi.


Ia pun sebenarnya setuju dengan apa yang diucapkan Zhu San, hanya saja sebagai guru, Ia tidak boleh berlaku seperti itu.


“Masalah ini kita kesampingkan terlebih dahulu, ada masalah lain yang lebih besar yang perlu kita urus.”


Fu Kuan lalu meminta Zhu San untuk mengambil jasad Chen Hu menggunakan teknik Fukai yang membuatnya bisa melayang di udara.


Setelah mengambil jasadnya itu, Fu Kuan meminta Zhu San untuk menemuinya di Kediaman Jendral Duan Li.


Zhu San segera melesat ke udara dan melayang dengan cepat ke arah selatan.


Fu Kuan pun mengajak sahabatnya kembali dimana Zheng dan yang lainnya telah menunggu mereka di depan kedai.


Tak banyak bicara, Zheng An lalu mengajak mereka memasuki Gerbang Istana.


“Maaf mengganggu Anda di malam seperti ini Jendral Duan Li… “ Zheng An segera memberi hormat dan menyampaikan kata-katanya.


Jendral Duan Li terduduk dengan wajah yang terlihat kesal, sesaat setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Fu Kuan dan yang lainnya.


Ia tidak mendapat informasi jika kelompok Aliran Hitam, memiliki rencana keji seperti yang baru saja Ia dengar.


“Baiklah Aku akan mengirim masing-masing lima ratus orang prajurit di kedua jalan itu, untuk membersihkan jalan dari mayat-mayat mereka.”


Qin Rui serta kedua Ketua Sekte yang lain serta murid-murid mereka, dipersilahkan untuk istirahat dan menempati ruangan dimana sebelumnya mereka menginap.


Jenderal Duan Li bersama Zheng An pamit pergi menghadap Kaisar untuk melaporkan peristiwa tersebut.


Sementara Fu Kuan, Lin Kai dan Dewa Seribu Wajah, segera melesat ke atas atap bangunan untuk menunggu kedatangan Zhu San yang sedang mengambil jasad Chen Hu.


“Tua bangka Fu aku turut berduka atas kematian murid pertamamu itu.”

__ADS_1


Lin Kai yang terbiasa menggoda Fu Kuan, kini merasa canggung saat harus berbicara dengan suasana dimana Fu Kuan terlihat sedang bersedih.


Sementara Dewa Seribu Wajah pun terlihat dalam kondisi yang sama. Namun Ia sedih karena teringat akan puterinya yang sedang Ia cari keberadaannya.


Lin Kai yang merasa canggung akhirnya diam dan mencoba mengingat hal sedih yang Ia alami.


Namun Ia gagal larut dalam kesedihan kedua temannya itu, membuatnya garuk-garuk kepala tak tahu harus bagaimana.


Beruntung Zhu San segera datang memanggul jasad Chen Hu yang membuat Fu Kuan meneteskan air mata saat menerima jasad muridnya itu.


“Hu’eeeeer … maafkan Gurumu yang telah pergi darimu tadi … Hu’eeer …“


Fu Kuan memeluk tubuh Chen Hu yang telah kaku dan meratapinya dengan air mata yang mengalir membasahi kulit keriput di wajah tuanya.


Ratapan Fu Kuan membuat darah Zhu San serasa mendidih, Ia pun bertekad akan membunuh orang yang telah membuat gurunya hingga bersedih seperti itu.


Setelah beberapa waktu berlalu, Lin Kai memanggul jasad Chen Hu dan segera membawanya turun saat menyadari Jenderal Duan Li dan Zheng An telah kembali.


Zheng An sangat terkejut setelah mengenali jasad Chen Hu, Fu Kuan dan Dewa Seribu Wajah pun turun dari atap, kemudian di susul oleh Zhu San.


Jenderal Duan Li pun segera memberi perintah beberapa prajurit untuk segera mengambil peti mati.


Tubuh Ketua Chen Hu pun dibaringkan dalam peti dan segera ditutup kembali setelah di lumuri oleh berbagai ramuan pengharum.


Rencananya, Fu Kuan akan membawa jasad Chen Hu esok hari ke Sekte Pedang Bintang.


Namun situasi yang sedang dia hadapi membuatnya berpikir keras apakah harus membawa jasad Chen Hu terlebih dahulu atau menyelamatkan ketua Sekte yang lain, yang mungkin saja masih hidup.


Beberapa saat kemudian, rombongan Qin Rui dan yang lainnya datang memasuki ruangan itu.


Mereka terkejut saat menemukan peti mati berada dalam ruangan tersebut. Keenam orang itu terkejut saat mengetahui siapa yang terbaring di dalam peti mati itu.


Tidak mereka duga Ketua Chen Hu telah terbunuh oleh kelompok Aliran Hitam, setidaknya itulah yang mereka ketahui saat ini.


Fu Kuan memang telah meminta Zhu San dan kedua sahabatnya, untuk merahasiakan hal penyebab kematian Chen Hu dari orang orang di dunia Persilatan Kekaisaran Liu.

__ADS_1


*****


__ADS_2