Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
264: Sayembara Kaisar


__ADS_3

Seribu Koin emas adalah nilai yang sangat besar bagi pendekar sekalipun. Maka setelah diumumkannya sayembara itu, ribuan pendekar berduyun-duyun mendatangi Kota Shangyu.


Namun mereka meninggalkan Ibukota Kekaisaran Liu itu dengan wajah kecewa karena gagal membuka Kotak Hitam yang tidak terkunci itu. Para pendekar tingkat tinggi pun mulai berdatangan.


Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk membuka Kotak Hitam yang sebenarnya tersegel oleh energi qi yang sangat murni milik Shen Rong, orang yang telah membuat segel tak kasat mata pada kotak itu.


Mereka semua menelan kekecewaan karena pusaka atau pun tenaga dalam yang digunakan tidak berfungsi dengan baik sehingga gagal membuka Kotak itu.


Berita tentang sayembara itu terdengar oleh Qiu Lan dan kedua abdinya. Ketiganya saat itu telah berada di perbatasan antara Kekaisaran Liu dan Kekaisaran Wei.


Telah satu minggu mereka mencari informasi tentang Senjata Pusaka seribu Benang Jiwa dan batu sebesar kepalan tangan dengan tujuh warna pelangi.


Namun mereka tidak menemukannya setelah hampir sepuluh kota dan belasan desa mereka singgahi. Di saat putus asa itulah ketiganya mendengar tentang sayembara yang dilakukan oleh Kaisar Liu Feng.


“Kotak Hitam yang tidak bisa dibuka oleh siapapun dan dengan cara apapun? Jangan-jangan ….” Qiu Lan berkata setelah menegak minuman yang mereka pesan.


“Tidak salah lagi, itu pasti kotak yang berisi pusaka Benang Seribu Jiwa!”


Phoenix Api Merah berkata dengan suara yang membuatnya kembali menjadi pusat tatapan orang-orang di dalam kedai, setelah tadi menjadi pusat perhatian, karena rambut merahnya yang terurai itu.


‘Huh! Wajah dan tubuhnya memang seksi tapi rambut merah dan suaranya yang melengking, bikin orang yang jadi suaminya mati kurus kering.”


Suara tawa dua orang, terdengar menanggapi ucapan seorang pria yang sepertinya pendekar itu. Phoenix Api Merah seketika menjadi geram mendengar percakapan dan tawa tiga orang yang mejanya berada samping meja mereka.


Setelah mendapat kedipan dari Qiu Lan, Phoenix Api Merah tersenyum lalu mengibaskan tiga jari tangannya. Dari ujung ketiga jarinya itu, melesat cahaya merah yang melesat sangat cepat ke arah ketiganya.


PRAAK PRAAK PRAAK


Tiga suara kepala pecah dan darah pun segera berhamburan di lantai, membuat seluruh pengunjung kedai itu seketika berteriak dan berebut lari keluar dari dalam kedai.


“Seenaknya saja menilai seseorang. Itu balasan buat kalian!” Phoenix Api Merah memaki-maki jasad ketiga orang kini diam tak berkutik lagi.

__ADS_1


“Sudahlah mari kita pergi Kekaisaran Liu.” Qiu Lan berdiri setelah meletakkan sebuah koin emas di meja yang mereka gunakan tadi.


Ketiganya pun segera melesat ke udara, membuat penduduk kota kecil tersebut menjadi gempar dengan apa yang baru saja mereka lakukan.


***


Telah seminggu sejak pertempuran besar terjadi di kota Hungdao. Kini suasana kekaisaran Hun kembali seperti saat dimana Kaisar sebelumnya berkuasa.


Putera Mahkota Kuang He yang berusia empat belas tahun itu, empat hari lalu dinobatkan menjadi Kaisar Hun.


Sedang Tang Yun dan Tetua Huo Long diangkat menjadi Penasehat Kekaisaran sekaligus pengawal Pribadi Sang Kaisar. Sementara Tetua Seng Kun dan Tetua He Pang diangkat menjadi jenderal dalam kemiliteran Kekaisaran Hun.


Zhu San dan Bian Chi yang pergi meninggalkan Kota Hungdao pada malam harinya, mendapat sebuah Lencana Kaisar. Lencana itu berfungsi hampir sama dengan Giok Kaisar.


Hal itu agar memudahkan Zhu San saat memasuki semua kota di Kekaisaran Hun dan mendapat perlakuan terhormat layaknya seorang Kaisar.


Sejak hari itu, nama Zhu San dan Bian Chi menjadi terkenal sekaligus menjadi Legenda bagi seluruh rakyat Kekaisaran Hun.


Kini keduanya telah memasuki wilayah kekaisaran Jian setelah empat hari melakukan perjalan melalui jalur udara di malam hari. Sedangkan siang hari mereka hanya melakukannya separuh waktu karena udara panas yang terik.


Keduanya memasuki kota dengan berjalan kaki, setelah melalui pemeriksaan di gerbang selatan kota tersebut.


Setelah berjalan beberapa waktu, mereka pun menemukan sebuah kedai besar di kota bernama Jiangyin. Kedai tersebut ramai sekali oleh para pengunjung baik dari kalangan bangsawan maupun kalangan pendekar.


Keduanya memasuki bangunan megah kedai tersebut, dimana sebuah ruangan besar berada. Setidaknya ada lima puluh meja dengan empat atau enam kursi berada di ruangan itu.


“Mari silakan Tuan dan Nyonya …” seorang pelayan menyambut Zhu San dan Bian Chi lalu mengantarkan ke sebuah meja yang masih kosong.


Setelah mencatat pesanan Zhu San dan Bian Chi, pelayan itu pergi dengan cepat untuk menyiapkan hidangan yang mereka pesan.


“Kedai ini kedai terbesar yang pernah Aku masuki.” Ucap Zhu San setelah mengedarkan pandangan matanya, menyusuri setiap sudut ruangan itu.

__ADS_1


“San Gege … apakah Kau tidak merasakan Aura yang kuat dari sudut sebelah barat?” Tanya Bian Chi dengan suara pelan.


Zhu San hanya menganggukkan kepala, karena baginya hal itu bukanlah sebuah masalah Ia tidak membuat kerusuhan di dalam kedai ini.


Selang beberapa waktu kemudian, pesanan mereka datang. Bian Chi yang telah lapar, segera menyantap hidangan itu diiringi oleh alunan musik lembut yang kembali dimainkan.


Suasana terasa damai hingga akhirnya harus terusik oleh sebuah teriakan keras.


”Lancang sekali Kau anak muda! Puteri Tuan Dang Wang telah dijodohkan dengan seorang Putera Bangsawan. Berani sekali Kau memaksa untuk menikahinya!”


Seorang pria bertubuh tegap berusia sekitar empat puluhan tahun, berdiri dengan tangan yang telah memegang gagang pedang yang tersarung di pinggangnya.


Dua orang pendekar dari pihak keamanan kedai segera datang untuk menengahi perseteruan tersebut. Namun dengan santainya Pemuda itu berdiri sambil tersenyum, seolah meremehkan ketiga pendekar di depannya.


“Jadi Kalian ingin menolak keinginanku dengan menggunakan kekerasan? Apakah kalian tidak tahu bahwa aku orang yang tidak bisa tertolak keinginannya?”


Suara pemuda itu terdengar keras karena suasana kedai menjadi hening seketika akibat suara bentakan tersebut.


Beberapa pelanggan terlihat meninggalkan meja dan keluar dari kedai setelah membayar pada kasir di dekat pintu keluar. Bian Chi pun merasa kesal karena selera makannya tiba-tiba menghilang.


“Kau pikir dirimu siapa Hah! Berani sekali berbuat keonaran di kedai yang kami jaga ini! Keluar dari kedai ini sekarang juga!”


Salah satu dari Pendekar Penjaga Keamanan Kedai, mengusir pemuda tersebut yang tetap tenang dengan senyum khasnya. “Kalian mengusirku?! Apakah Kalian tahu apa akibatnya!”


Aura membunuh yang mencekam segera memancar dari tubuh pemuda tersebut, memaksa Zhu San menoleh dan menatap pemuda yang ternyata adalah Pemilik Aura Kekuatan yang besar tadi.


Dua orang Penjaga Keamanan itu tersurut mundur merasakan hawa membunuh yang sangat kuat itu. Demikian juga dengan pendekar Pengawal Pribadi Bangsawan Dang Wang yang saat itu sedang bersama puterinya Dang Li.


Belum sempat Penjaga Keamanan itu menghilangkan rasa jerihnya, suara seorang perempuan tua terdengar membentak pemuda itu.


“Pendekar Kipas Neraka alias Pendekar Pemetik Bunga! Akhirnya Aku menemukanmu!” Seorang Nenek tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya bersama dua orang perempuan setengah baya.

__ADS_1


“Nenek Mei Lan … “ Desis Bian Chi yang ingin segera berdiri untuk menemuinya. Namun Zhu San menahan gerakan Bian Chi.


------------------------O--------------------------------


__ADS_2