
Awan hitam itu semakin kuat menarik Zhu San. Dengan perlahan namun pasti, tubuh Zhu San mulai terangkat mendekati awan yang sekarang mulai membentuk sebuah terowongan hitam.
Bian Chi kini telah tertarik dan berada di tempat dimana Zhu San berada sebelumnya. Wajah cantik itu menunjukan rasa panik yang tidak biasa dan belum pernah terlihat sebelumnya.
Ia memandang ke atasnya, dimana Zhu San sedang meronta-ronta seperti dirinya, berusaha terbebas dari daya hisap awan aneh itu.
Namun usaha keduanya sia-sia saat suara petir menggelegar dan hujan pun mulai turun dengan sangat derasnya.
Mereka berdua pun kehilangan kesadaran akibat adanya fluktuasi energi petir yang menggelegar keras seolah seperti memecahkan gendang telinga keduanya.
Selain itu adanya cahaya berwarna ungu yang melesat dan melilit tubuh mereka berdua, adalah hal lain yang membuat tubuh keduanya memasuki terowongan awan hitam itu.
“Dimana ini? Aah … Kepalaku terasa sakit.” Bian Chi membuka matanya dan yang pertama kali Ia lihat adalah dedaunan yang berada di atasnya.
“Kau Sudah bangun? Cepatlah duduk! Kakiku sudah terasa pegal sedari tadi.” Suara Zhu San terdengar dekat di telinga Bian Chi dan saat Ia menoleh, alangkah terkejutnya gadis itu.
Ia baru menyadari jika dirinya terbaring dengan kepala yang berada di pangkuan Zhu San yang tengah menyandarkan punggungnya di batang sebuah pohon besar.
Rona merah segera saja terlihat di wajah cantik Bian Chi membuat Zhu San tertegun untuk sesaat, memandang kecantikan surgawi itu.
Bian Chi segera hendak duduk, namun Ia merasakan kepalanya sangat berat untuk Ia angkat. Setelah mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, Bian Chi pun berhasil duduk dan segera beringsut menjauhi Zhu San.
Zhu San diam saja karena sedang mencoba meredam debaran aneh yang mulai merasuki hatinya.
“Di mana kita? Mengapa udara di sini terasa sangat berat?”
Bian Chi bertanya setelah Ia mengedarkan pandangannya, karena merasa ada yang aneh dengan tempat tersebut.
“Entahlah… Aku juga tak tahu, aku terbangun dan sudah berada di tempat ini dengan kau yang menindih seluruh tubuhku.” Kata Zhu San dengan santainya.
Bian Chi tentu saja terkejut mendengar hal itu, wajahnya semakin memerah membuat Zhu San menjadi gemas sendiri.
“Benarkah itu? Atau kau sedang mengada-ada untuk membuatku malu?” Bian Chi menoleh ke arah Zhu San dengan mata menatap tajam ke wajah tampan pemuda itu.
__ADS_1
Zhu San menjadi salah tingkah, Ia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bian Chi.
“San Gege … Kau tidak sedang berbohong bukan? Mengapa Kau tidak berani menatap mataku?” Bian Chi yang sedang merasa malu mala berubah menjadi berani. “Kepalang tanggung” Demikian Bian Chi berkata dalam benaknya.
Zhu San pun semakin salah tingkah, Ia tidak berani menatap Bian Chi karena takut gadis itu marah jika mengetahui apa yang terjadi saat Ia terbangun tadi.
Tubuhnya tertindih oleh tubuh Bian Chi, wajah gadis itu tepat berada di wajahnya. Sehingga saat Zhu San menggerakan sedikit wajahnya, secara tak sengaja bibir mereka pun saling bersentuhan.
Karena merasakan debaran aneh yang belum pernah Ia rasakan, Zhu San membiarkan hal itu beberapa saat untuk meredam debaran aneh itu.
Debaran itu bukannya menghilang, justru semakin lama semakin menguat dan ada hawa panas yang merasuki tubuhnya, membuat Zhu San segera mengubah posisi mereka.
Wajah Zhu San yang tengah membayangkan kejadian yang terjadi setengah jam lalu itu, seketika memerah. Hal itu membuat Bian Chi semakin curiga padanya.
“San Gege! Kenapa wajahmu memerah? Apa yang kau ceritakan tadi tidak benar bukan?” Suara Bian Chi semakin meninggi membuat Zhu San menjadi kebingungan.
“Itu benar-benar terjadi, dan maafkan aku saat tadi aku terbangun, wajahmu tepat di wajahku dan …” Zhu San terdiam. Ia memarahi dirinya yang telah kelepasan bicara.
“Dan apa?! Cepat jawab dengan jujur!” Bian Chi semakin kesal dan Ia terus memaksa Zhu San untuk mengatakan yang sebenarnya.
Bian Chi terkejut bukan kepalang, Ia hanya diam mematung, tak sadar jika jemari Zhu San sedang menyentuh bibirnya.
PLAK
Tubuh Zhu San terpental dan berguling-guling dengan pipi yang terasa panas. Hal itu karena Bian Chi menamparnya setelah gadis itu tersadar dari rasa terkejutnya.
Bian Chi berdiri dan membalikkan badannya. Saat itulah Ia merasakan jika langkah kakinya terasa sangat berat.
Bian Chi yang sedang kesal segera mengerahkan tenaga dalamnya dan mulai melangkah. Ia meninggalkan Zhu San yang sedang mengelus-elus pipi kirinya yang Ia tampar tadi.
“Huh … Perempuan memang makhluk aneh, terus bertanya dan minta dijawab jujur. Giliran dijawab jujur malah marah dan menampar.”
Zhu San menggerutu dalam benaknya sendiri seraya berdiri lalu memandang Bian Chi yang sudah berjarak tiga meter berada darinya.
__ADS_1
KYAAAA !!!
Bian Chi tiba-tiba saja berteriak dan membalikkan badannya lalu melesat ke arah Zhu San dengan tubuh yang gemetar dan wajah yang memucat.
Zhu San yang terkejut semakin terkejut saja ketika Bian Chi segera memeluk dirinya dengan tangan yang melingkar kuat di lehernya.
Untuk Zhu San merasakan teringat kembali akan peristiwa tadi, namun kali ini jauh berbeda dalam hal rasa.
“San Gege … ada .. Ular … Aku jijik melihat ular itu…” Bian Chi tersendat-sendat suaranya saat berkata kepada Zhu San.
Leher Zhu San yang sedang dipeluk erat oleh tangan Bian Chi, membuatnya agak sulit untuk berbicara, ditambah sesuatu bergerak bergerak bangkit di bagian bawah tubuhnya tanpa bisa Ia cegah.
“Ah kenapa ini? Ada apa dengan benda itu? Kenapa Ia bangkit di saat yang tidak tepat!” Zhu San yang kebingungan berkata demikian dalam benaknya. Entah apa yang mendorongnya, Zhu San pun segera memeluk pinggang Bian Chi yang masih gemetaran tubuhnya.
“Sudahlah … ular itu sudah pergi menjauh, jangan takut lagi.” Zhu San berkata sambil mengelus-elus punggung Bian Chi untuk membuatnya tenang.
Apa yang dilakukan oleh Zhu San membuahkan hasil. Tubuh Bian Chi pun mulai berkurang getarannya.
Dan kini malah tubuh Zhu San yang gemetar menahan gejolak besar yang muncul dalam tubuhnya, saat Ia menghirup aroma wangi dari leher yang berkulit seputih salju itu.
“Benarkah? San Gege … Kau tidak berbohong bukan?”Tanya Bian Chi untuk memastikannya.
“Benar … Ular itu sudah pergi menjauh. Lepaskanlah pelukanmu, Aku sudah tidak kuat lagi.”
Bian Chi dengan cepat melepaskan pelukannya dari Zhu San saat Ia tersadar telah cukup lama memeluk leher pemuda itu.
“Benar-benar pasangan yang serasi Hahaha.”
Sebuah suara mengejutkan mereka berdua, Suara seorang lelaki yang sepertinya pernah Zhu San dengar sebelumnya. Keduanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari dimana orang tersebut berada.
“Ah … Sayang … Kau mengganggu keromantisan mereka berdua saja.” Suara seorang perempuan terdengar sesaat setelah suara lelaki tersebut menghilang.
Kini Bian Chi yang tertegun, Ia sepertinya mengenali suara perempuan itu. Dan Ia segera berlutut, setelah berhasil mengingat siapa pemilik suara itu.
__ADS_1
“Hormat kepada Leluhur.”
*******