
Wajah Wen Yi tertegun sejenak, setelah Ia melihat pedang lawan yang kini telah memancarkan api berwarna biru pada bilahnya itu.
Sementara Biksu Fanzeng terlihat ragu untuk menghentikan pertarungan antara kedua peserta turnamen.
Di sisi lain, Ia merasa gamang membiarkan kedua gadis itu bertarung. Hal itu karena Ia mengetahui kekuatan pedang di tangan gadis bernama Liu Ling.
“Biksu Fanzeng … Maafkan Aku menyela pertandingan ini, menurutku pertarungan ini akan menjadi berbahaya. Karena pedang pusaka di tangan gadis Ling, sangatlah hebat dan berbahaya jika digunakan dalam pertarungan di turnamen persahabatan ini.”
Yi Min, Ketua Sekte Bulan Sabit segera berdiri dan berkata dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Perkataan Ketua Yi Min membuat suasana menjadi hening sesaat. Biksu Fanzeng pun melihat ke arah Panitia dari pihak kekaisaran.
Jendral Duan Li yang menjadi penanggung jawab dalam turnamen ini segera melesat ke arena bersama Zheng An.
Sosok tua berumur tujuh puluh tahun lebih itu, segera memberi hormat kepada Kaisar sebelum Ia berbicara.
“Para Ketua Sekte yang terhormat, maafkan jika aku berbicara lancang di depan anda semua.”
Sosok kakek berjuluk Pendekar Tapak Sakti memberi hormat ke arah dimana para ketua Sekte berada. Setelah berkata demikian, Ia pun lalu melanjutkan kalimatnya.
“Muridku Liu Ling, selama ini melatih jurusnya selalu menggunakan Pedang Api Biru ini. Pusaka ini hanya Ia yang bisa menggunakannya karena keistemewaan pada tubuhnya yang berjenis Yang Sejati.”
Zheng An Sang Pendekar Tapak Sakti yang kekuatannya disebutkan hampir menyamai Fu Kuan itu, berhenti sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Jika dalam pertarungan persahabatan ini Ia tidak menggunakan pedang di tangannya itu, Aku hanya khawatir Ia tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya. Jika ada yang bisa memberi solusi lain, silakan.”
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya suara Zhu San memecah keheningan itu.
“Kakek Zheng An, bolehkah Aku meminjamkan salah satu pedangku untuk digunakan oleh Nona Wen Yi?”
Perkataan Zhu San membuat semua orang mengalihkan pandangan kepadanya. Zheng An menatap Zhu San dengan tajam dan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.
Sementara Kaisar Liu Feng dan Jendral Duan Li menatap Zhu San dengan tatapan yang berbeda.
Jendral Duan Li telah memberi laporan secara pribadi kepada Sang Kaisar jika Ia mencurigai Bangsawan Zhu Han terlibat dengan kelompok pendekar Aliansi Aliran Hitam.
Dan kini di hadapan keduanya, terlihat seorang pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan bangsawan itu.
__ADS_1
“Kemarilah anak muda, akan kulihat pedang yang akan kau pinjamkan itu.”
Perkataan Zheng An membuat Zhu San segera melompat tinggi ke udara dan turun dengan perlahan-lahan.
Seluruh mata yang hadir di tempat itu terlihat melotot kagum dengan ilmu peringan tubuh yang Zhu San miliki.
Bahkan Ketua Yi Min pun berdecak kagum melihat hal itu. Dirinya saat ini terkenal sebagai sosok pendekar yang memiliki Ilmu peringan tubuh terhebat di kekaisaran Liu.
Tentu saja itu setelah berita kematian Lin Kai dan Fu Kuan tersebar kurang lebih setahun yang lalu.
Hanya Ketua Xie Han dan Qin Rui yang tidak terkejut melihat hal itu, karena mereka telah mengetahui bahwa Zhu San dapat melayang di udara.
Mereka memang diminta oleh Zhu San untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.
Zhu San juga meminta mereka berdua, untuk tidak menceritakan kepada Ketua Chen Hu tentang Pedang Bintang Merah yang kini berada di tangannya.
“Anak Muda siapa namamu dan Pedang mana yang akan kau pinjamkan kepada Nona Wen Yi?” Zheng An bertanya setelah Zhu San berada dekat dengannya.
Hal itu karena Ia sendiri yang akan menunjukkan pedang tersebut kepada murid pertama Guru Fu Kuan yang juga kakak seperguruannya itu.
“Nama saya Zhu San Kek … Dan pedang yang akan kupinjamkan adalah pedang ini.”
Hal ini karena Ia menuruti perkataan Qin Rui bahwa sebaiknya, Zhu San membungkus kedua pedangnya itu.
Zhu San meraih buntalan kain berwarna biru yang berisi Pedang Bintang Merah.
Sesaat kemudian wajah yang sangat terkejut ditunjukkan oleh Zeng An dan Jendral Duan Li yang juga terkejut ketika mendengar nama Zhu San.
“Darimana Kau mendapat pedang Bintang Merah itu!!” Suara menggelegar Ketua Chen Hu yang melesat ke arena, mengejutkan semua orang, kecuali Nenek Qin Rui dan Ketua Xie Han.
Terlihat kemarahan di wajah Ketua Sekte Pedang Bintang saat mendapati pedang pusaka Gurunya, kini berada di tangan seorang pemuda yang tidak Ia kenali.
Pertanyaan yang sama juga mengisi benak para ketua sekte yang lain. Zheng An pun segera menatap Zhu San seraya berkata kepadanya.
“Anak Muda Apa hubunganmu dengan Sahabatku Fu Kuan Si Tinju Besi itu?”
Zhu San menelan ludahnya, walau Ia sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu, namun tetap saja ia hatinya bergetar melihat kemarahan Chen Hu.
__ADS_1
Namun Ia menyadari bahwa lambat laun, hal ini akan terjadi, sekarang atau pun nanti di masa depan.
“Kakak Seperguruan Chen Hu, Namaku Zhu San dan Aku adalah Murid ketiga Guru Fu Kuan sebelum Ia wafat.”
Perkataan Zhu San dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya kepada Ketua Chen Hu, membuat Ketua Sekte Pedang Bintang itu terkejut dan terjajar mundur selangkah dari tempatnya.
Namun Ia tak percaya begitu saja jika seorang pemuda yang berusia belasan tahun dan pantas menjadi anaknya itu adalah murid ketiga dari Gurunya.
Sementara Zheng An menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah mendengar perkataan Zhu San yang baginya sangat masuk akal.
Hal itu menjelaskan alasan kenapa Pedang Bintang Merah milik sahabatnya itu, bisa berada di tangan pemuda berusia belasan tahun yang kini berada di depannya.
“Aku tak percaya jika kau adalah murid Guru Fu Kuan! Senior Zheng An, Biksu Fanzeng, Jendral Duan Li, izinkan Aku menguji jurus dan kemampuan pemuda ini sejenak.”
Mendengar perkataan Ketua Chen Hu, Zheng An dan Biksu Fanzeng mengiyakan hal tersebut. Karena hal itu lumrah dilakukan di Dunia Persilatan.
Lima orang segera melangkah ke tepi arena, meninggalkan Ketua Zhen Hu dan Zhu San yang kini berada di tengah arena turnamen dan tengah bersiap untuk bertukar jurus.
“Jika Kau memang adik seperguruanku, Aku ingin kau bertarung melawanku dengan menggunakan jurus yang sama, jurus Tinju Besi.”
Chen Hu segera memasang kuda-kuda dalam jurus Tinju Besi yang telah Ia kuasai dengan tingkat penguasaan sempurna itu.
“Kakak Seperguruan, apakah hal ini perlu dilakukan?”
“Tentu saja! Karena kau telah mengaku murid Guru, maka kau harus menunjukkan jurus yang kau pelajari dari beliau! Bersiaplah anak muda!”
Chen Hu membentak Zhu San yang baru saja meletakkan buntalan pedang ke punggungnya.
“Aku bisa menunjukannya tanpa kita harus bertarung, bukankah begitu Kakak Seperguruan?”
“Benar, tapi ada sesuatu yang Aku ingin ketahui dan itu hanya bisa ku ketahui jika kita bertarung secara langsung.”
Jawaban Chen Hu membuat Zhu San tersenyum seraya melirik ke arah dua orang kakek berwajah aneh di barisan penonton.
“Aku ingin tahu apakah salah satu dari mereka akan menghentikan pertarungan ini atau tidak.”
Zhu San berkata demikian dalam benaknya.
__ADS_1
******