Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
046: Serangan Racun


__ADS_3

Seorang Kakek berpakaian layaknya seorang pengemis, tiba-tiba membuka pintu tanpa Ia menyentuhnya. Hanya mengibaskan tangannya saja.


Ia pun memasuki ruangan tanpa sedikitpun menunjukan rasa takut, bahwa mereka yang berada di dalam ruangan adalah tokoh dunia persilatan Kekaisaran Liu.


“Bujang Tua… Situasi sedang genting kau malah asyik bersama perempuan yang ingin kau …”


Perkataan sosok yang dikenali oleh Fu Kuan sebagai Dewa Seribu Wajah, terputus saat Fu Kuan membentaknya karena tak ingin perasaannya diketahui oleh Qin Rui.


“Dewa wajah Plin Plan diamlah! … Kami sedang membicarakan mengenai informasi darimu kemarin.”


Sosok Dewa Seribu Wajah hanya terkekeh saja saat mendengar dirinya diejek sebagai Dewa Plin Plan oleh Fu Kuan.


Ia yang selalu berganti-ganti wajah itu, selalu disebut Plin Plan oleh Fu Kuan sejak Dua puluh tahun mereka bersahabat.


Ia mengetahui dengan persis, bagaimana perasaan Fu Kuan terhadap Qin Rui yang kini tertunduk dengan hati berdebar-debar.


“Baguslah jika begitu, Aku kesini karena ingin bertemu dengan putera dari muridku, Kaukah yang bernama Zhu San putera dari Bangsawan Zhu Han?”


“Benar Kakek Guru … Namaku Zhu San. Terimakasih cucu sampaikan kepada Kakek karena telah menyelamatkan Ayahku.”


Zheng An sangat terkejut saat mengetahui identitas Zhu San yang sebenarnya. Raut wajahnya pun seketika berubah.


Mendapati informasi itu, membuat benak Zheng An dipenuhi pertanyaan. Karena Zhu Han adalah bangsawan yang kini akan menjadi target oleh Pihak Kekaisaran.


‘Tenanglah Tua Bangka Zheng … Nanti akan kujelaskan padamu.” Fu Kuan berkata demikian setelah melihat perubahan wajah sahabatnya itu.


Zheng An yang ingin bertanya, menjadi terdiam mendengarnya.


Ia pun mengikuti Fu Kuan yang mengajak mereka untuk segera menemui para Ketua Sekte yang sedang menunggu mereka.


Setelah Qin Rui, Fu Kuan, Lin Kai dan Zheng An meninggalkan ruangan itu. Dewa Seribu Wajah menatap lekat-lekat wajah Zhu San, lalu mengalihkan pandangan pada dua gadis cantik yang kini tengah melihat padanya.


Ia pun tersenyum sebelum berkata kepada Zhu San sedetik kemudian.


“Aku akan memeriksa luka di kepalamu itu, Gurumu memintaku untuk melihatnya serta mencari cara untuk mengobati luka itu, agar kau bisa kembali mengingat masa lalumu.”


Dewa Seribu Wajah segera menyentuh kepala Zhu San. Ia tertegun sesaat setelah selesai memeriksa luka tersebut.


“Lukamu itu memang serius, sayang sekali hanya Bunga Lotus Emas saja yang bisa menyembuhkannya.”


Dewa Seribu Wajah tertunduk lesu, Ia ingin sekali menyembuhkan Zhu San. Walau Ia mengetahui caranya, namun bahan utama yang digunakan sangatlah sulit dicari.


“San Gege … Apa yang sebenarnya terjadi padamu.” Liu Ling bertanya kepada Zhu San yang membuat dahi Dewa Seribu Wajah mengerut.


“Apakah kau tidak mengetahui luka calon suami mu ini?” Tanya Dewa Seribu wajah yang membuat Liu Ling tersenyum mendengarnya.


“Bukan Kakek … Aku adik angkat San Gege, Saudari Yu ini yang menjadi …”


“Saudari Ling jangan berkata begitu …”


Perkataan Liu Ling terputus oleh kalimat cukup pedas dari Qin Yu yang masih kesal dengan perkataan Zhu San, sesaat setelah kontrak darahnya tadi selesai.

__ADS_1


“Aku mendengar jika ada dua gadis muda dalam turnamen yang memiliki kekuatan panas dan dingin yang besar. Apakah itu kalian berdua?”


Qin Yu dan Liu Ling menjawab pertanyaan Dewa Seribu Wajah nyaris bersamaan yang hanya menganggukkan kepala mereka saat menjawab pertanyaan itu.


“Berarti kalian sudah tahu, jika kalian hanya bisa memiliki suami dengan jenis tubuh istimewa seperti yang dimiliki oleh Cucuku ini bukan?”


Lagi-lagi keduanya hanya menganggukkan kepala mereka. Wajah Qin Yu yang merona membuat Kakek Guru Zhu San itu tersenyum lebar.


Namun wajahnya berubah saat melihat raut wajah Liu Ling.


“Kenapa wajahmu menjadi sedih? Seharusnya kau senang telah bertemu cucuku ini.”


Pertanyaan Dewa Seribu Wajah membuat Zhu San akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Wajah Liu Ling sempat merona merah saat Kakak Angkatnya itu menceritakan jika dirinya mencintai sosok lain yang memiliki tubuh biasa saja.


Setelah Zhu San menyelesaikan ceritanya, Dewa Seribu Wajah tersenyum yang membuat Zhu San ingin menanyakan sesuatu, namun Ia kalah cepat dalam berkata-kata.


“Apakah yang kau cintai itu seorang laki-laki?” tanya Dewa Seribu Wajah kepada Liu Ling.


“Ih Kakek ini … Ya tentu saja laki-laki dong Kek! Masa perempuan sih!”


Liu Ling menjawab seraya menghentakkan kakinya ke lantai dengan raut wajah yang terlihat kesal.


Dewa Seribu Wajah tertegun, matanya melotot lebar melihat pemandangan di depannya.


Apa yang baru saja Ia lihat, mengingatkan dirinya akan puteri satu-satunya yang tidak Ia ketahui dimana keberadaannya kini.


Saat puterinya itu masih gadis, hal yang sering dilakukannya saat kesal adalah seperti apa yang baru saja Liu Ling lakukan.


Dari Ayahnya, Zhu San sudah mengetahui jika Kakek gurunya ini tengah dalam misi pencarian puteri tunggalnya.


Puteri hasil hubungan gelap Kakek Gurunya dengan salah satu dari empat isteri seorang bangsawan. Hal itu terjadi saat Kakek Gurunya ini masih muda.


Sementara itu, Liu Ling terkejut mendengar pertanyaan Dewa Seribu Wajah. Namun Ia pun menjawab pertanyaan Kakek itu dengan suara jelas.


“Namaku Liu Ling Kek, Ibuku bernama Hui Ying. Apakah Kakek mengenal Ibuku?”


Dahi Dewa Seribu Wajah terlihat mengerut, Ia pun mengabaikan pertanyaan Liu Ling dan terlihat asik dengan pikirannya sendiri.


“Hualing bilang nama puteriku itu … Hui An kenapa dari ke tiga puteri Si letoy Hui itu tidak ada satupun yang bernama Hui An.”


Dewa Seribu Wajah berkata demikian dalam benaknya.


Wajah dari Kakek Guru Zhu San itu, terlihat semakin menua saat mengingat perihal puterinya.


Belum sempat Zhu San menyuarakan pertanyaan yang ingin Ia sampaikan. Suara derap langkah beberapa orang mendatangi ruangan tersebut.


Fu Kuan datang bersama dengan Qin Rui dan Lin Kai serta Cheng Hu dan dua orang murid Sekte Pedang Bintang yang mengikuti Turnamen.


“Apakah kau telah selesai memeriksa keadaan muridku? Bagaimana lukanya?”

__ADS_1


Dewa Seribu Wajah hanya menggelengkan kepala sebelum Ia menjawab pertanyaan Fu Kuan.


“Benar katamu, Ia hanya bisa disembuhkan oleh Bunga Lotus Emas.”


Fu Kuan pun tersenyum tipis, lalu bertanya kepada Zhu San kemana tujuannya setelah dari kota Shangyu ini.


Zhu San pun lalu mengatakan bahwa Ia akan ke kota Sinzhu untuk menjemput Ibunya.


Untuk itu Ia meminta bantuan dari kedua gurunya itu agar membantunya melakukan hal tersebut.


Fu Kuan pun menyetujuinya. Namun Ia menyarankan Zhu San untuk mengikutinya terlebih dahulu kembali Ke Sekte Pedang Bintang.


Letak Sekte Pedang Bintang dengan Kota Shinzu tidak terlalu jauh, hanya setengah hari saja ditempuh dengan perjalanan kuda.


Zhu San pun menyetujui hal tersebut. Sore ini juga mereka akan berangkat ke wilayah selatan Kekaisaran Liu itu.


“Nenek, Yu’er … Kemanakah tujuannya setelah dari sini?”


Pertanyaan Zhu San membuat Qin Rui kebingungan, sementara wajah Qin Yu sudah terlihat sedih.


Hal itu karena Ia akan berpisah dengan Zhu San dan entah kapan mereka akan bertemu kembali.


“Kami akan ke wilayah timur terlebih dahulu, ada hal yang ingin kami selidiki di sana.”


Qin Rui dengan hati yang berat menjawab pertanyaan Zhu San. Fu Kuan pun hanya menghela nafas saat mendengar hal itu.


Setelah saling memberi pesan dan memberi salam, Qin Rui pun meninggalkan ruangan bersama Qin Yu yang wajahnya terlihat sangat sedih.


“Kau Sendiri akan kemana sahabatku Dewa Berwajah Plin Plan?”


“Aku akan tetap tinggal di kota ini, masih ada hal yang akan ku selidiki Tua Bangka Keriput.” Dewa Seribu Wajah menjawab pertanyaan Fu Kuan seraya melirik ke arah Liu Ling.


Liu Ling yang tiba-tiba saja mengingat janjinya dengan Xie Han, segera berpamitan kepada mereka semua.


Ia tak lupa berpesan kepada Zhu San agar menemui dirinya jika berkunjung kembali ke Kota Shangyu.


Setelah itu Fu Kuan, Lin Kai dan yang lainnya segera berangkat meninggalkan Istana Kekaisaran Liu.


Setelah mereka membeli kuda tambahan, maka mereka pun meninggalkan Ibukota Kekaisaran melalui Gerbang Selatan.


Setelah tiga puluh menit, enam orang yang berkuda tersebut akhirnya mengambil jalan ke kanan, saat tiba di sebuah persimpangan jalan.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu kilometer, mereka pun mulai memasuki sebuah hutan kecil yang di kanan dan kirinya ditumbuhi oleh pepohon besar.


“Berhenti ! …”


Tiba-tiba Fu Kuan dan Lin Kai berteriak nyaris bersamaan. Ke enam kuda itu pun berhenti dan di saat yang bersamaan suara belasan ledakan terdengar di dekat mereka.


Sesaat kemudian Asap putih segera memenuhi udara, tempat dimana mereka berada.


“Hati-hati!! Racun Pelumpuh Saraf!!”

__ADS_1


Lin Kai berteriak saat menyadari mereka telah di serang oleh sekelompok orang yang telah keduanya sadari keberadaannya, sesaat sebelum ledakan tersebut terjadi.


*****


__ADS_2