
Gu Xiang semakin jerih saat melihat kematian mengenaskan yang dialami oleh Bhu Lao.
Ia pun menjadi lengah karena perhatiannya terpecah, sebuah tebasan kuat dari pedang Shang Zhu berhasil merobek perutnya.
Belum sempat Ia melompat mundur, dari sampingnya, tusukan pedang Hao Jian gagal Ia hindari.
JLEEB
Pedang Hao Jian berhasil menusuk pinggang Gu Xiang, membuat Ketua Sekte Topeng Siluman itu meraung keras.
Ia melompat mundur dengan luka yang parah di perut dan pinggangnya. Darahnya pun telah banyak keluar, membuat Gu Xiang berpikir untuk lari dari tempat tersebut.
Qin Rui yang melihat gerak-gerik Gu Xiang, segera melesat dan berada di belakangnya.
“Jangan Kau pikir bisa pergi dari sini dengan membawa nyawamu!”
Gu Xiang pun mendengus kesal. Merasa tak bisa lari dari ketiga lawan yang mengepung dirinya, Ia pun segera berbuat nekad.
Ia membalikan dirinya dan menyerang dengan sekuatnya ke arah Qin Rui yang telah bersiap dengan jurus Tapak Esnya.
Karena telah banyak kehilangan darahnya, membuat kekuatan Gu Xiang melemah, tebasan goloknya pun menjadi sangat lambat di mata Qin Rui.
Tebasan ke arah kepalanya dari arah atas itu berhasil dihindari oleh Qin Rui dengan mudah dan segera melepaskan serangan tapak ke punggung Gui Xiang.
BUGH !!!
AARGGGHH
Tubuh Gu Xiang terpental akibat serangan tapak Qin Rui. Ketua Hao Jian dan Ketua Shang Zuo dengan mudah mendaratkan serangan pada tubuh Gu Xiang.
Dua tusukan pedang, membuat Gu Xiang harus menerima kenyataan pahit jika riwayat hidupnya telah tamat hari ini.
Zhu San pun mendekati ketiga tokoh Aliran Putih itu dengan Qin Yu yang berjalan disampingnya.
“Nenek … Apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Zhu San pun bertanya setelah berada dekat dengan mereka. Walau sudah mengetahui apa yang terjadi, Zhu San tetap bertanya untuk memastikan dugaannya.
“Kami diserang dengan asap beracun yang meledak secara tiba-tiba. Beruntungnya Aku dan Yu’er berhasil menetralisir racun itu dengan cepat.”
Qin Rui melanjutkan penjelasan hingga selesai dan ternyata sesuai dengan apa yang diduga oleh Zhu San sebelumnya.
__ADS_1
“Lalu kenapa Kau menyusul kami? Apakah karena …”
Qin Rui melirik muridnya yang langsung saja tertunduk dengan semburat merah menghiasi pipinya.
“Itu karena rombongan kami juga diserang dengan cara yang sama. Lalu Aku dan kedua Guruku berpencar untuk menyusul yang lainnya. Dan Aku memilih ke arah timur karena …”
Zhu San segera menghentikan kalimatnya, Ia hanya melirik sesaat ke arah Qin Yu.
Ketiga Ketua Sekte itu hanya tersenyum melihat Zhu San yang menjadi canggung karena hampir mengatakan alasan kenapa Ia memilih Arah Timur.
“Oh Iya guru menyuruhku untuk meminta Anda Semua kembali ke kota Shangyu. Dan berkumpul di sana.”
Zhu San pun melanjutkan penjelasannya, berusaha menghindar dari tatapan menggoda dari ketiga Ketua Sekte, setelah mendengar perkataannya tadi.
“Kedua murid kami telah keracunan dan tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya lagi. Hari pun semakin gelap ada baiknya kita kembali ke kota lagi.”
Ketua Hang Zuo berkata dan meminta Qin Rui untuk menolong dan mengobati kedua muridnya.
Zhu San berhasil mengeluarkan racun di tubuh Xhu Lao dan Shang Hu, murid Sekte Rajawali merah yang dipimpin oleh Ketua Shang Zuo.
Di waktu bersamaan, Nenek Qin Rui juga telah berhasil mengeluarkan racun di tubuh kedua murid Ketua Hou Jin.
Ia pun berjanji akan menemui mereka yang akan menunggunya di sebuah kedai makan yang terdekat dengan Gerbang Istana.
Hari telah menjadi gelap saat Zhu San berada di udara untuk memeriksa jalan lain yang menuju ke arah timur wilayah Kekaisaran Liu.
Setelah melayang hingga satu kilometer di jalan berbeda dan tidak menemukan rombongan Ketua Sekte yang lainnya, Zhu San segera kembali melayang ke arah Kota Shangyu.
Zhu San tiba di atas Gerbang Istana Kekaisaran Liu, tanpa terlihat oleh satu orang prajurit pun, Zhu San lalu turun dan melangkah menuju sebuah kedai yang telah ramai oleh pelanggannya.
“San Gege … “
Zhu San menoleh dan menemukan Qin Yu tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Ia pun segera melangkah mendekati meja besar dimana tersisa dua kursi yang salah satunya kemudian di duduki oleh Zhu San.
“Bagaimana? Apakah Kau menemukan yang lainnya?”
“Nenek, Biarkan San Gege minum dulu. San Gege ini minum untukmu.”
Qin Yu berkata seraya menuangkan minum ke dalam cawan lalu memberikannya kepada Zhu San.
__ADS_1
Qin Rui dan kedua Ketua Sekte lainnya, hanya tersenyum mendengar perkataan dari Qin Yu.
Apa yang dilakukan oleh Qin Yu membuat iri ke empat pemuda lainnya. Namun mereka menyadari, jika Qin Yu sedari awal telah dekat dengan Zhu San.
“Aku tidak menemukan rombongan lainnya Nenek. Sepertinya mereka telah ditangkap Kelompok Aliran Hitam yang lain.”
Bertepatan dengan Zhu San menyelesaikan kalimatnya, Fu Kuan terlihat memasuki Kedai tersebut.
“Sesepuh Fu Silakan duduk.” Ketua Shang Zuo segera memberi hormatnya seraya berdiri.
“Terimakasih Ketua Shang, Aku kesini untuk mengajak anda semua untuk menghadap Kaisar Liu. Aku telah mengirim surat kepada Saudara Zheng An untuk menjemput kita disini.”
Fu Kuan menjawab setelah menduduki satu kursi yang tersisa. Ia pun lalu menjelaskan jika Ia telah menyelusuri ke dua jalan menuju ke wilayah barat, namun tidak menemukan kelompok Ketua Sekte yang lain.
“Guru … Apakah mereka telah ditangkap kelompok Aliran Hitam?”
“Kurasa begitu, karena Aku mencium aroma racun masih sedikit tertinggal di sana.”
Fu Kuan menjawab pertanyaan Zhu San setelah meminum secawan Air putih yang disuguhkan oleh Qin Rui.
Suasana menjadi hening setelah mereka mendengar penjelasan Fu Kuan. Lalu sosok Zheng An terlihat memasuki kedai dan berjalan ke arah mereka berada.
“Saudara Fu … Bagaimana situasinya?” Zheng An langsung bertanya kepada setibanya Ia berada di dekat Fu Kuan.
“Situasinya cukup buruk, bagaimana jika kita segera menemui Jendral Duan Li?”
Fu Kuan pun berdiri lalu berkata menjawab pertanyaan Zheng An setelah memberi hormat padanya terlebih dahulu.
Zheng An pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui perkataan Fu Kuan. Zhu San memilih tinggal di kedai untuk menunggu Guru keduanya.
Namun setelah Zhu San membayar apa yang telah mereka pesan, Lin Kai yang masih mengenakan topeng aneh di wajahnya, terlihat memasuki kedai tersebut.
Lin Kai datang bersama seorang Kakek yang wajahnya terlihat asing walau pakaiannya terasa pernah mereka lihat sebelumnya.
Bukan siapa sosok tersebut yang membuat Fu Kuan dan Zhu San terkejut, namun Pedang yang berada di tangannya.
“Pedang Bintang Merah !!”
Fu Kuan dan Zhu San berkata bersamaan saat mengenali Gagang Pedang itu. Firasat buruk segera menyelimuti benak keduanya.
*****
__ADS_1