
Para prajurit Infanteri segera memasang tameng mereka, begitu mendengar teriakan Quan Yu. Sementara Dua Jagal Iblis dan tujuh pendekar lainnya segera bersiap menghadang serangan itu.
“Chi’er! … Sekarang!” Zhu San pun segera memberi aba-aba ketika melihat ada celah untuk menyerang para pendekar yang tengah melayang sejauh tiga puluh meter di depan mereka.
Secara bersamaan Bian Chi dan Zhu San melepaskan tombak-tombak es ke arah lawan. Sepuluh pendekar yang melayang, berjibaku untuk menghadang puluhan tombak es yang melesat ke arah mereka.
Sementara sebagian besar dari tombak es itu, melesat ke arah ribuan prajurit. Jerit kematian riuh terdengar, seiring dengan tubuh mereka yang jatuh, tewas membeku.
Luo San sempat kesal dengan rencana itu, Ia memanggil tiga orang jenderal dan segera memberi perintah untuk menyerang dengan pelontar batu api.
Setelah serangan menggunakan tombak es berhenti, Zhu San dan Bian Chi segera kembali ke atas tembok pagar. Hal itu membuat Quan Yu kesal.
Setidaknya, ada seribu orang lebih prajurit mereka yang tewas akibat serangan yang dilakukan oleh Zhu San dan Bian Chi tadi.
Saat hendak mengejar Zhu San, langkah Quan Yu terhenti. Hal itu karena sebuah batu yang membara itu, melesat satu meter di atas kepalanya. Membuatnya wajahnya terlihat sangat kesal. Entah pada siapa.
Sementara Zhu San dan kedua gurunya serta Bian Chi kembali melesat. Keempatnya melayang lima meter di depan tembok, Zhu San dan Bian Chi, segera melemparkan Pedang mereka untuk menahan laju satu buah batu api.
Lalu dengan cepat mereka, menghadang sebuah batu api lain agar tidak mengenai prajurit kota Baixan. Hal yang sama dilakukan oleh Fu Kuan dan Lin Kai.
Masing-masing diantara mereka, berhasil menghadang satu buah batu api. Dari sepuluh batu, tersisa empat batu api yang terus meluncur ke arah kota Baixan.
Dengan kecepatan yang Zhu San dan Bian Chi miliki saat ini, masing-masing dari mereka, berhasil menghancurkan sebuah batu api lain.
Dua batu api lain yang tak bisa di cegah lagi oleh Zhu San maupun Bian Chi, dengan keras menghantam dua bangunan di belakang tembok pagar.
Api pun segera membakar bangunan itu, ratusan prajurit berusaha memadamkan api. Namun Zhu San dan Bian Chi melesat dengan cepat, lalu mereka mengeluarkan Jurus Tapak Elemen Air.
__ADS_1
Air yang berasal dari tenaga dalam yang mengalir melalui kedua telapak tangan mereka, meluncur deras ke arah api di dua bangunan itu. Kurang dari tiga menit, api itu pun padam.
Aksi mereka berdua, membuat mata ribuan prajurit melotot lebar. Rasa gembira segera mereka luapkan dengan berteriak keras, mengelukan-elukan nama Zhu San.
“San’er batu api datang lagi!” Lin Kai berteriak untuk mengingatkan Zhu San dan Bian Chi. Terlihat kekesalan di wajah Zhu San.
“Chi’er … Kita maju kau hadang serangan batu, aku akan menghancurkan pelontar itu selagi para pendekar tadi berada jauh dari alat itu.”
Zhu San berkata demikian dengan telepati, saat mereka sedang melesat menghadang batu sambil menggerakan pedang masing-masing.
Kali Ini Zhu San melayang dengan sangat cepat dan dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, empat batu telah Ia hancurkan. Hal yang sama dilakukan oleh Bian Chi. Dua batu yang tersisa berhasil dihancurkan oleh Fu Kuan dan Lin Kai.
“San Gege, hati-hati!” Bian Chi mengingatkan Zhu San melalui telepatinya ketika melihat sang suami terus melaju ke depan, ke arah dimana sepuluh alat pelontar batu berada.
Zhu San terus melaju dan saat berjarak seratus meter dari Alat pelontar batu itu, terdengar teriakan dari seorang Jenderal. “Tembakan Panah!”
Ratusan anak panah yang menghadangnya, patah saat satu jengkal lagi akan mengenai tubuhnya. Akhirnya Zhu San tiba di sebuah alat pelontar batu yang bersiap untuk melontarkan batu api lagi.
Dengan Jurus Tapak Elemen Api di tangan kiri dan Jurus Tapak Elemen Angin di tangan kanan, Zhu Sah segera membakar alat pelontar batu api setinggi delapan meter itu.
Dalam sekejap api pun berkobar, belasan prajurit yang berada di dekat pelontar batu api itu, ikut tersambar oleh api yang dihembuskan angin kencang. Mereka tewas dengan tubuh yang hangus.
“Sesepuh Yu … Jika pemuda itu tidak segera kita urus, semua alat berat kita akan hancur olehnya dalam sekejap saja.” Luo San berkata dengan suara bergetar melihat aksi Zhu San yang telah membakar empat pelontar batu api.
Quan Yu mendengus kesal, tanpa berkata Ia melesat ke arah Zhu San. Rasa gengsi di hatinya lebih besar dari rasa jerihnya, membuat Ia bertekad untuk bertarung hidup dan mati melawan Zhu San.
Tepat saat Zhu San selesai membakar pelontar batu yang kelima, Quan Yu telah menghadang dirinya.
__ADS_1
“Anak muda takkan kubiarkan Kau bertindak semaumu!” Quan Yu segera melesat dengan jurus Tapak Penakluk Langit level Satu.
Zhu San hampir saja tidak berhasil menghindari serangan yang sangat cepat itu. Hal yang disebabkan karena Ia melihat lima batu api, telah terlontar dari lima pelontar yang belum Ia hancurkan.
Quan Yu menjadi bersemangat ketika melihat Zhu San hampir saja terkena serangan tapak darinya. Namun Ia segera menyadari jika itu karena Zhu San tidak fokus kepadanya.
“Chi’er, kau hancurkan lima pelontar lainnya, Aku akan mengurus orang tua yang sepertinya pendekar terkuat diantara mereka.” Zhu San berkata kepada Bian Chi, yang tengah bersiap menghadang batu yang telah melesat itu.
“San Gege! Hati-hatilah, biar Aku yang merusak kelima pelontar yang lain.” Bian Chi segera menjawabnya.
Zhu San segera melesat menjauhi Quan Yu, setelah berhasil menghindari tendangan yang sangat cepat dan kuat dari Pendekar Tua itu.
Zhu San memandang ke sekelilingnya, dan Ia segera memutuskan untuk bertarung dengan Quan Yu, di tempat yang agak jauh agar tidak ada yang mengganggunya.
Quan Yu yang kesal kembali menyerang Zhu San dengan gencar. Kali ini Zhu San tidak lagi menghindar, Ia menangkis serangan itu, sambil bergerak mundur menjauhi tempat itu.
Quan Yu yang kesal, sadar jika Zhu San sedang memancingnya untuk menjauh dari pasukan Aliansi Aliran Hitam. Ia pun menghentikan serangannya.
“Pilihlah tempat dimana kau ingin bertarung serius denganku!” Zhu San hanya tersenyum tipis mengetahui lawan telah tahu apa yang Ia rencanakan.
“Bagaimana jika kita bertarung di sebelah sana Tua Bangka!”Zhu San menunjuk ke arah barat dimana terdapat tanah yang luas tanpa harus khawatir ada yang mengganggu pertarungan mereka berdua.
Zhu San segera melesat mengikuti Quan Yu, yang telah lebih dulu melayang ke tempat yang ditunjuk olehnya tadi.
Sementara Bian Chi, Fu Kuan dan Lin Kai, berhasil menghancurkan lima batu api yang melesat ke arah Kota Baixan.
Dan Bian Chi pun segera melesat ke lima pelontar batu yang tersisa, berniat untuk menghancurkannya.
__ADS_1
******