
Saat menyadari bahwa serangan Qiao Bun tidak menimbulkan efek apapun pada tubuhnya, Bian Chi menjadi lebih percaya diri akan kemampuan Zirah Mustika Yinyang di dalam tubuhnya.
Ia pun membalas serangan dengan melesatkan serangan energi dari ujung pedangnya. Seekor ular naga dengan api membara di tubuhnya, melesat sangat cepat menyerang Qiao Bun yang terlihat terkejut dengan apa yang terjadi.
Jurus terkuat yang Ia andalkan, tak mampu untuk menjatuhkan lawan. Terkejut dan rasa tak percaya dengan apa yang terjadi, membuat Pendekar dari Kekaisaran Wei itu kehilangan konsentrasinya.
BLAAAR
Energi pedang yang berbentuk ular naga itu, menembus tubuh Qiao Bun yang menjerit tertahan, sesaat sebelum tubuhnya meledak.
Suara menggelegar, membuat semua mata memandang ke arah sumber suara. Mata mereka melotot takjub pada bayangan energi ular naga, yang baru saja meledakkan tubuh Qiao Bun dan membuat pedangnya terpental.
Pedang itu jatuh ke tanah dengan suara keras. Hal yang membuat Tsao Beng terbelalak memandang kematian rekannya. Tak percaya jika itu telah terjadi.
“Lihat serangan!” Zhu San berteriak seraya melepaskan serangan berupa energi dari Jurus Tapak Elemen Es. Seekor Naga Es yang memancarkan hawa sangat dingin, menderu ke arah Tsao Beng dengan sangat cepat.
Tsao Beng melompat ke udara dan melayang menjauhi tempat tersebut. Zhu San yang telah menyadari hal tersebut, segera melesat cepat mengejarnya.
Mata Tsao Beng terbelalak, saat tiba-tiba Zhu San telah berada di depannya dan telah melepaskan serangan tapaknya.
BUGHH
Tapak Naga Es segera menghantam Tsao Beng, membuat tubuhnya terpental lebih dari sepuluh meter di udara. Saat jatuh ke tanah, tubuh Tsao Beng yang telah membeku, hancur berkeping-keping seperti sebongkah es yang pecah.
Beberapa saat kemudian, darah mengalir lambat karena juga membeku seperti halnya dengan daging tubuhnya yang berserakan.
Zhu San yang masih di udara, mengalihkan pandangannya ke arah dimana Qin Jun sang pedang siluman sedang terdesak hebat oleh Song Ruo dan In Xeuxu.
Zhu San segera melesat mendekati pertarungan itu dengan senyum lebar, saat telah berada di dekat mereka semua. Terlihat wajah Qin Jun berubah menjadi pucat, setelah melihat kedatangannya.
Kedatangan Zhu San adalah sebuah pertanda bahwa ke empat rekannya telah berhasil dikalahkan. Hal itu membuat Ciut Qin Jun.
__ADS_1
Dia telah mengerahkan seluruh jurus terkuat yang Ia miliki, namun jurus pedang dari Song Ruo yang memang telah terlatih bertahun-tahun itu bukan jurus biasa.
Jurus kombinasi menyerang dan bertahan itu, begitu terpadu dengan sangat baik, membuat Qin Jun si Pedang siluman, harus kewalahan menghadapi jurus yang baru pertama kali Ia lihat itu.
Setelah melihat kedatangan Zhu San, Qin Jun akhirnya memutuskan untuk mengerahkan satu jurus tersisa yang Ia sendiri enggan untuk menggunakannya.
Jurus itu begitu berbahaya, bukan hanya bagi lawannya saja, tetapi juga berbahaya bagi dirinya sendiri. Jurus Amukan Siluman Pedang.
“Baiklah … Kalian berdua memaksaku untuk menggunakan jurus berbahaya ini. Jangan salahkan Aku jika kalian berdua mati mengenaskan!” Di puncak rasa putus asanya, Qin Jun membentak kedua lawannya.
Ia segera mundur untuk mengambil jarak dan bersiap-siap untuk mengeluarkan Siluman Rubah penghuni Pedangnya. Sesaat kemudian, aura yang mencekam segera merembes keluar dari pedang Qin Jun.
“Paman, Bibi! … Hati-hati!” Zhu San berteriak saat merasakan kekuatan besar memenuhi udara, ketika dari ujung Pedang Qin Jun keluar cahaya keperakan.
Cahaya itu membesar dan akhirnya membentuk seekor seekor siluman rubah bermata merah, dengan tubuh sepuluh kali lebih besar dari ukuran normalnya.
“Celaka … Siluman Rubah Api Ekor Dua!” Zhu San segera melesat di hadapan Song Ruo dan In Xeuxu. Keduanya sedang terpana melihat Siluman Rubah Raksasa itu, menatap tajam ke arah mereka berdua.
Bayangan Ular Naga Air segera saja Zhu San keluarkan dari kedua tapaknya yang saling berhadapan itu. Mata Qing Jun melotot melihat betapa besarnya bayangan Naga Air itu.
Siluman Rubah tampak menggeram marah, Ia segera melesat ke arah Bayangan Ular Naga Air yang meliuk-liuk dan mulai bergerak seiring dengan gerakan tangan Zhu San.
“Lung’er hati-hatilah!”Song Ruo yang terkejut melihat gerakan Siluman Rubah itu, segera berteriak mengingat Zhu San.
Kecepatan gerak Siluman Rubah Api Ekor Dua itu bukan kecepatan yang biasa. Dalam sekejap, tubuhnya yang memancarkan api sangat panas itu, telah berada di hadapan Ular Naga Air.
Zhu San hanya tersenyum tipis melihatnya, dengan sedikit menggerakan tangannya, bayangan Ular Naga Air berhasil menghindari serangan Siluman Rubah yang menembakkan api dari mulutnya.
Siluman Rubah Api ekor Dua itu, terlihat kesal melihat serangannya hanya mengenai ruang hampa. Demikian juga dengan Qing Jun. Apalagi sesaat kemudian, Ia dikejutkan dengan apa yang Zhu San lakukan berikutnya.
Bayangan Ular Naga, tiba-tiba bergerak melilit tubuh Siluman Rubah Api dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata Qin Jun sekalipun.
__ADS_1
Terdengar Raungan Siluman Rubah Api Ekor Dua, saat tubuhnya telah terlilit oleh Bayangan Ular Naga itu. Pergulatan keduanya segera terjadi di udara.
Setelah hampir lima menit sesuatu yang luar biasa terjadi, tubuh kedua hewan itu tiba-tiba meledak sangat keras.
BLAAAM
Butiran api dan air segera terlihat, memenuhi udara. Dan saat semuanya telah selesai dengan suasana yang hening, mata Song Ruo dan In Xeuxu melotot lebar ke arah dimana Qin Jun berada.
Sesuatu yang mengenaskan terjadi pada Qing Jun. Pendekar berjuluk Pedang Siluman itu, kini tergeletak di tanah dengan leher yang tertembus patahan pedang miliknya.
Hanya Zhu San yang bisa melihat apa yang terjadi tadi. Seiring dengan tubuh Siluman Rubah Api Ekor Dua itu meledak, Pedang Siluman di tangan Qin Jun, juga ikut meledak.
Satu pecahan terbesarnya, menembus leher Qin Jun tanpa bisa dihindari olehnya. Hal yang tidak terduga sebelumnya oleh Qin Jun sendiri.
Zhu San menghela nafas lega, Ia pun segera melangkah mendekati Song Ruo dan In Xeuxu yang masih tertegun dengan apa yang baru saja mereka lihat.
“Tidak Guru!!!!! Jangan tinggalkan Kami!!!”
Saat hendak berbicara kepada keduanya, terdengar jeritan keras dari Bian Chi. Zhu San pun segera melesat, diikuti oleh Song Ruo dan In Xeuxu ke sisi kanan bangunan besar itu.
Terlihat Bian Chi sedang memeluk Sang Guru dari samping yang nafasnya telah tersengal-sengal. Sementara Ju Yan, berada di sisi yang berbeda dengan Bian Chi.
Ju Yan yang telah tersadar dari pingsannya segera di pegang bahunya oleh Sang Guru. Dengan nafas-tersengal-sengal, Lin Mi pun segera berkata kepadanya.
“Yan’er … Maafkan Guru … tidak bisa menemanimu saatnya Kau menikah nanti.”
Lin Mi terbatuk batuk setelah berkata yang membuat semua orang bersedih mendengar ucapannya. Sesaat kemudian setelah batuknya mereda, Lin Mi mengelus wajah Bian Chi.
“Chi’er … Aku tahu Kau telah menikahi San’er, patuhilah suamimu itu, selamatkan dunia dari kekejaman Ra… tu … Ke..ma …tian.” Tubuh Lin Mi terkulai lemas, seiring dengan nyawanya yang melayang.
******
__ADS_1