Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
308: Kematian Labuda


__ADS_3

Belum sempat Labuda menguasai dirinya, Kepala Ular Naga Yinyang telah kembali menyemburkan api dan salju dari mulutnya.


Terlihat wajah Labuda yang panik saat dirinya tidak bisa menghindari lagi semburan cepat dari serangan gabungan Zhu San dan Bian Chi itu.


GOAAARRRRRGGGGHHHHH


Lolongan panjang Labuda terdengar sangat keras membuat para pendekar aliran hitam yang tersisa, segera menutup telinga mereka saat merasakan sakit karena kuatnya teriakan itu.


Mata Chu Hong terbelalak lebar. Terkejut dengan apa yang terjadi pada Labuda yang tidak pernah Ia duga sebelumnya.


Sebagian tubuh makhluk kuno itu terbakar dan sebagian lagi membeku. Hal yang terlihat ganjil baginya dan semua orang itu, kini terjadi di depan matanya.


Tubuh Labuda perlahan melayang jatuh dan saat tiga meter lagi akan menyentuh tanah, sebuah bola energi besar melesat sangat cepat dan meledakkan tubuhnya.


BUM


Tubuh makhluk kuno itu meledak menjadi serpihan daging kecil dengan darah berwarna ungu yang memenuhi udara.


Tidak terlihat oleh Zhu San maupun Bian Chi bahwa kedua tanduk makhluk kuno itu, tidak hancur dan terpental dengan arah yang berlawanan lalu menancap dalam ke tanah hingga tidak terlihat oleh keduanya.


Kedua tanduk itu adalah sumber kekuatan dari Labuda yang bisa meregenerasi dirinya sendiri dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun ke depan.


Ketakutan terlihat di mata Chu Hong, Ia pun segera merapal mantera untuk membuat Asap Hitam yang segera menyelimuti dirinya agar bisa pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


Melihat hal Itu dari kejauhan, Zhu San segera berkelebat mendatanginya dan lalu menebaskan Pedang Yang ke arah Tubuh Chu Hong yang sudah terlihat seperti bayangan.


Tidak Chu Hong duga bahwa rencananya tidak berjalan sesuai keinginan, Ia berhasil meninggalkan tempat tersebut dan kembali berada di Benua Hitam, tempat dimana Kedua Gurunya berada.


Namun Chu Hong merasakan sakit yang teramat panas di bagian punggungnya. Dan ia menjerit saat perlahan tubuhnya mulai terbakar. Melihat hal itu, Labamba dan Labimbi berusaha menolong murid ketiga mereka.


Namun usaha keduanya tidak berhasil sekalipun telah mengeluarkan segenap kemampuan sihir mereka yang sangat hebat.


“Gu ..ru …”

__ADS_1


Hanya itu kata terakhir yang bisa Chu Hong ucapkan sebelum Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Kesedihan menyelimuti hati Labamba dan Labimbi diantara rasa marah mereka kepada Zhu San.


“Tidak salah lagi! Mereka adalah sepasang pendekar Yinyang Sejati yang ditakdirkan untuk menghabisi kita.”


Suara Labimbi terdengar bergetar setelah menemukan jawaban mengapa sihirnya tidak bisa menyembuhkan luka Chu Hong dan memadamkan api dari Pedang Yang.


Wajah Labamba pun terlihat tegang mendengar perkataan isterinya itu. Kedua Penyihir Kuno itu terdiam dan asik dengan pikiran kalut mereka masing-masing.


“Seandainya Cermin Sakti yang kita ciptakan dengan susah payah itu tidak hilang, mungkin kita masih memiliki kesempatan untuk bisa mengalahkan mereka.”


Perkataan Labamba membuat Labimbi menjadi sedih saat teringat senjata terkuat mereka hilang, sesaat setelah mereka tiba di dunia atas tiga ribu tahun lalu.


“Suamiku kita harus memperingatkan kedua murid kita agar segera kembali ke sini. Mereka akan binasa jika bertemu dengan kedua Pendekar Yinyang Sejati itu.”


Labamba menganggukkan kepalanya, Ia lalu membaca mantera dan membuat dua ekor burung Gagak Hitam dari dua buah batu yang Ia sinari dengan cahaya ungu dari tongkat di tangan kanannya.


Kedua Burung Gagak Hitam itu, segera melesat terbang ke udara seusai menerima perintah Labamba.


***


Dalam waktu setengah jam, belasan ribu siluman dan sekitar seribu Pendekar Aliran Hitam berhasil dihabisi tanpa sisa oleh mereka berempat.


Dengan kekuatannya, Zhu San mengangkat belasan ribu jasad siluman dan para pendekar Aliran Hitam ke udara dan lalu mengurungnya dengan bola energi yang hampir sebesar kota Jiaoxing sendiri.


Sesaat kemudian Tubuh Zhu San dan Bola raksasa itu menghilang dari pandangan mata. Membuat semua orang yang melihat itu dari balik perisai pelindung terkejut.


BLAAAMMM


Semua orang tersentak saat mendengar suara dentuman keras, sontak semuanya melihat ke udara setinggi seribu meter, dimana suara ledakan itu berasal.


Sesaat kemudian terdengar suara seperti kaca yang pecah saat udara yang berfluktuasi menghantam perisai pelindung kota Jiaoxing.


Selang beberapa detik, hujan darah segera mengguyur bagian timur Kota Jiaoxing. Dan perlahan-lahan terbentuk sebuah gunungan daging lembut bercampur darah sejauh satu kilometer dari kota tersebut.

__ADS_1


Tidak ada satupun jasad yang utuh dari ribuan siluman dan pendekar aliran hitam yang telah terbunuh oleh mereka.


“Itukah kekuatan Murid Sesepuh Long Niu? Apakah Dia dewa yang menyamar menjadi manusia?”


Feng Ku, pengawal Pribadi Kaisar Jiao Bun tidak pernah berhenti terpana melihat apa yang Zhu San lakukan sejak tiba di kota itu.


Sementara para tetua aliran putih yang tadi sempat berselisih dengan mereka, menjadi ciut saat mengetahui kekuatan yang Zhu San tunjukkan.


Zhu San segera melayang mendekati ketiga rekannya yang lain. Lalu mereka berempat melesat menemui Feng Ku yang segera berlutut mengucapkan terimakasih atas nama Kaisar Jiao Bun, karena Zhu San telah menyelamatkan Kota Jiaoxing dari kehancuran.


Zhu San menolak undangan Feng Ku untuk menjamunya di istana sekaligus bertemu dengan Kaisar Jiao Bun.


Hal itu disebabkan karena Zhu San ingin segera ke Kota Qian’an yang kabarnya telah diserang oleh Aliansi Kegelapan.


Feng Ku pun tidak bisa memaksa Zhu San, mengingat hal itu lebih penting. Ia tersenyum saat Zhu San berjanji akan mengunjungi mereka suatu waktu nanti.


Janji yang mungkin tidak bisa Zhu San tepati, karena Ia tidak mengetahui bagaimana skenario Dewa Yao Chan terhadap perjalan hidupnya.


Keempatnya segera melayang ke Arah kota Qian’an dengan menunggangi Phoenix Putih yang telah berubah wujud menjadi seekor Burung Phoenix Putih.


Dengan kecepatannya itu, Phoenix Putih bisa dengan cepat tiba di kota Qian’an. Mereka berempat merasa cemas saat satu kilometer lagi tiba di kota itu, melihat kepulan asap membumbung tinggi.


Kemarahan segera menggelegak di kepala Zhu San setelah mereka tiba di atas Kota Qian’an yang sebagian wilayahnya telah dikuasai oleh para siluman dan Pendekar Aliran Hitam.


Dari ketinggian seratus meter di atas kota itu, mereka bisa melihat bahwa Istana mulai diserbu oleh para pendekar Aliran Hitam.


Sementara berbagai jenis siluman tengah membantai para penduduk lalu memakan jasad mereka.


Asap yang berasal dari rumah yang terbakar karena semburan dari siluman kelelawar api serta serigala Api, membuat keadaan Ibukota Kekaisaran Qiang menjadi sangat kacau.


“Phoenix Putih, Kau bantu pasukan Istana Bersama Li’er. Aku dan Chi’er akan menyelamatkan penduduk kota dari para siluman itu!”


Zhu San segera membagi tugas. Dan tubuhnya segera melesat diikuti oleh Bian Chi ke arah para penduduk yang tengah diambang maut akibat serangan berbagai jenis siluman.

__ADS_1


----------------------------0---------------------------


__ADS_2