
BLAAAMM
Suara menggelegar terdengar dari sisi selatan Kota Jiaoxing saat serangan tiga energi itu menghantam tubuh Zhu San.
Udara berfluktuasi hebat seiring dengan berguncangnya tanah akibat tiga energi besar yang meledak sangat kuat itu.
“Hahahaha … Akhirnya Dia mati dengan tubuh berkeping-kep …”
Kata-kata itu tidak dapat diselesaikan oleh pendekar yang memegang kapak besar, setelah menyadari Zhu San telah berada di atas kepalanya sejauh sepuluh meter.
“Bagaimana bisa Ia berada di sana?!” Dengan mata melotot, pendekar kapak itu berkata dengan rasa jerih di hatinya.
Tiba-tiba Ia menjerit keras saat tubuh Zhu San menghilang dari pandangan dan telah berada di belakangnya.
DUAGH
Zhu San menendang punggung Pendekar Kapak itu hingga terpental ke udara setinggi dua puluh meter. Kapak pun terlepas dari genggaman tangannya, seiring dengan nyawanya yang melayang sesaat sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Kedua rekannya terkejut melihat hal itu dan hendak meninggalkan tempat tersebut secepat yang mereka bisa.
Namun Zhu San telah menghadang dan memberi serangan dengan jurus Tapak Naga Es yang tidak bisa lagi dihindari oleh Pendekar yang memegang Pedang itu.
Tubuhnya melayang jatuh dengan kondisi membeku. Dan sesat kemudian terdengar suara seperti sebongkah es yang pecah, saat tubuh pendekar itu hancur membentur tanah.
Pendekar yang memegang Tombak bergidik ngeri melihat apa yang terjadi pada rekannya. Ia pun melihat ke arah Zhu San dan terkesiap saat mendapati tubuh Zhu San kembali menghilang satu detik setelah Ia melihatnya.
Ia pun segera berbalik dengan menggerakkan tombaknya dan melakukan teknik sapuan. Sesuai dugaannya, Zhu San telah berada di belakangnya dan segera menahan gagang tombak yang Ia lesatkan tadi.
Tombak Pusaka warisan sang guru itu terlepas dari genggamannya, saat Zhu San menyentakkan tangannya.
Tubuh Pendekar Tombak itu, tertarik maju dan segera dihantam Zhu San dengan tinju tangan kirinya.
Tubuh Pendekar Tombak melayang jatuh dengan dada yang berlubang sebesar kepalan tangan Zhu San. Ia tewas sesaat setelah menyentuh tanah.
Melihat tiga orang pendekar pemimpin mereka tewas, sekitar dua ribu pendekar dari Aliansi Aliran Hitam segera berebut meninggalkan tempat tersebut.
Tentu saja Zhu San tidak membiarkan mereka pergi dari tempat itu sambil membawa nyawa. Ia segera mengerahkan energi ke matanya lalu memandang langit di atas mereka yang sedang berlarian.
__ADS_1
Seketika langit di atas ribuan pendekar itu berubah menjadi putih semua, seiring dengan udara yang berubah menjadi dingin.
Beberapa detik kemudian salju sebesar kepalan tangan berjumlah ribuan, mulai berjatuhan dan menimpa para pendekar yang sedang menggigil kedinginan.
Dalam sekejap lebih dari seribu orang telah tewas dengan tubuh membeku. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena sebuah cahaya berwarna ungu kemerahan, tiba-tiba melesat dari sisi sebelah timur.
Cahaya itu segera menghantam gumpalan awan putih dan membuatnya terbakar. Sehingga udara kembali normal sesaat setelah awan putih yang Zhu San ciptakan dari energi qi itu menghilang.
Dahi Zhu San berkerut saat seseorang yang menggunakan jubah dengan penutup kepala, melesat ke depannya. Zhu San memandang tajam ke arah bagian wajah yang tertutup kain itu.
“Siapa orang ini, kekuatannya hanya pada Pendekar Dewa tahap Akhir, namun Ia bisa menghancurkan gumpalan awan dari energi qi ku. Apakah Tongkatnya di tangannya itu yang menyebabkan gumpalan awan ku bisa terbakar.”
Zhu San sedang berpikir keras dengan hadirnya sosok yang menghadang dirinya itu.
Mata Zhu San melotot lebar saat melihat wajah yang dipenuhi oleh luka sayatan dari sosok pria berjubah hitam yang baru saja membuka kain penutup kepalanya.
“Kekuatanmu sangat tinggi, siapa Kau sebenarnya?”
Sosok itu bertanya yang membuat dahi Zhu San berkerut saat merasakan pancaran energi pria di depannya itu, menjadi lebih kuat dengan aura aneh yang sempat Ia rasakan tadi.
“Apakah Kau Labamba, sang Penyihir Kuno?!” Sosok Pria itu tertawa mendengar Zhu San berkata demikian. Tawanya terhenti dan Ia mendengus kesal saat menyadari sesuatu.
“Rupanya Kau muridnya Labamba dan Labimbi. Baiklah Aku akan membunuhmu agar kedua Gurumu itu keluar dari persembunyiannya.
“Lancang!”
Sosok berjubah hitam itu segera menggerakkan Tongkatnya ke udara. Ia membuat sebuah Angin Tornado besar yang berputar sangat cepat.
Udara seketika diterjang angin badai yang dahsyat. Namun Angin itu tidak membuat Zhu San bergeser sama sekali dari posisinya semula.
Pusaran Angin tornado itu segera mendekati Zhu San yang tersenyum melihat teknik ilusi itu. Ia segera menangkis tendangan Sosok berjubah Hitam yang telah melesat dan berada di belakangnya.
DUAGH
Benturan lengan Zhu San dan kaki pria berjubah hitam itu terdengar keras seiring terpentalnya tubuh pria itu sejauh sepuluh meter dengan mata yang melotot lebar.
Ia tidak menduga bahwa Zhu San bisa mengetahui teknik ilusi yang Ia buat dari Tongkat Sihir yang berasal dari Alam Semesta lain itu.
__ADS_1
“Bagaimana Dia tahu pusaran angin tornado itu hanya ilusi? Aku harus berhati-hati dengan pemuda ini?”
Pria berjubah hitam terbelalak saat tiba-tiba merasakan serangan kuat berasal dari belakang. Ia pun melompat menghindar dan sesaat kemudian Ia terkejut ketika melihat tubuh Zhu San kini ada empat orang.
“Huh! Teknik Ilusi murahan! Mana mungkin bisa mengelabui diriku.” Setelah berkata demikian ia segera memutar tongkat sihir di tangannya dengan cepat.
Asap hitam segera mengepul dari putaran tongkat itu dan sesaat kemudian menghilang berganti dengan empat wujud pria berjubah hitam itu.
Keempat sosok pria berjubah hitam itu segera melesat menyerang Zhu San, namun satu persatu sosok itu membeku dengan tubuh terbungkus es saat terkena serangan tapak naga es dari ketiga sosok duplikat Zhu San.
Sosok asli pria berjubah hitam itu kembali merasa kesal. Karena Ia salah mengira keberadaan sosok Zhu San yang asli.
“Teknik Apa yang dia gunakan itu? Mengapa tubuh duplikatnya memiliki kekuatan yang sama besar dengan sosok asli dirinya?”
Pria berjubah hitam semakin kesal setelah mendapati kenyataan yang di luar dugaannya. Hatinya mulai merasakan jerih saat melihat keempat Sosok Zhu San bersiap menyerang dirinya.
Namun Ia masih memiliki teknik sihir yang lain dan jauh lebih kuat. Hal itu menguatkan dirinya untuk kembali menyerang dengan mengalirkan energi besar ke arah Tongkatnya.
Tongkat itu kini diselimuti oleh cahaya berwarna ungu yang semakin lama semakin terang. Udara pun mulai bergetar hebat hingga tanah pun mulai berguncang yang semakin lama semakin kuat.
Guncangan itu membuat Bian Chi, Lian Li dan Phoenix Putih berhenti membantai lawan-lawan mereka yang kini hanya tinggal separuh saja.
Sementara itu, di sebuah hutan gelap yang angker di Benua Hitam, dua pasang mata segera terbuka merasakan pancaran dari energi ungu itu.
“Dasar murid bodoh, mengapa Ia harus menggunakan kekuatan Tongkat Batu Ungu secepat ini. Dengan begini Para Dewa akan mengetahui keberadaan kita di Dunia ini.”
Sosok pria yang sudah keriput dengan mata mencorong hitam, mengumpat saat melihat pada sebuah kristal dimana terlihat Zhu San dan Muridnya berada di dalam bola tersebut.
“Suamiku Labamba, lawan murid ke tiga kita ini sepertinya bukan manusia biasa. Apakah kau tidak melihat aura yang memancar dari tubuhnya?”
Tanya seorang perempuan yang tak kalah keriput dan seramnya dengan sosok pria tua yang baru saja mengumpat itu.
Sejenak kemudian mata keduanya melotot lebar saat memperhatikan Aura yang memancar dari tubuh Zhu San yang terlihat dalam Kristal Sihir itu.
“Suamiku, Chu Hong akan tewas jika terus melawan pemuda bertubuh Yinyang itu. Sihir yang kita ajarkan tidak akan bekerja sama sekali padanya.”
Pria itu terlihat marah hingga membuat wajahnya terlihat lebih seram lagi. Ia mendengus kesal saat mendapati sosok manusia bertubuh Yinyang Sejati berada di dunia yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
-------------------------O-------------------------